KENANGAN TERINDAH

KENANGAN TERINDAH
Episode 1


__ADS_3

Nada, gadis sederhana dengan sejuta kemisteriannya.Tubuhnya mungil dengan kulit putih langsat. Sangat mudah bergaul, tapi satu yang tak bisa ia gauli, yaitu seseorang yang entah akan atau tidak akan menjadi pacarnya.


Selama ia hidup 15 tahun ini, belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun, hanya sebatas PDKT (Pernah Dekat Namun Terlupakan) miris kan?. Sekarang ini ia duduk dibangku Smk kls 10, sebentar lagi akan naik kelas 11 dan menginjak umur 16 tahun.


Gadis ini berasal dari Bitung, Sulawesi Utara, lahir juga disana. Tapi sesuatu hal yang mengharuskannya untuk bersekolah di Palu, Sulawesi Tengah. Tinggal bersama dengan kakak tertuanya.


Semuanya terasa membingungkan, batinnya. Gadis itu terus berjalan sambil memikirkan mimpinya kemarin siang. Di dalam mimpi itu ia mempunyai seorang pacar, tetapi wajah lelaki itu tidak jelas. Hanya mata dan hidungnya saja yang terlihat, itu pun samar-samar.


Nada terus melenggang dengan kesal sambil membawa kantong plastik yang berisikan mie dan telur. Ia heran dengan kakaknya Rini. Motor di rumah ada dua, tapi masih saja menyuruhnya ke warung berjalan kaki. Tidak jauh sih jaraknya, tapi malunya itu loh, dilirik-lirik lelaki tampan yang lewat. Mau ditaruh dimana wajah imutnya itu?.


"Nada lo gak perlu mikirin mimpi itu. Itu cuma mimpi, oke mimpi" gerutu gadis itu, kesal pada dirinya yang terlalu memikirkan mimpinya.


Ia menghentikan langkah tepat di depan pintu rumah. Mengernyit heran ketika melihat tiga orang tamu yang asyik berbicara dengan kedua kakaknya. Nada berpikir itu mungkin saudara kakak iparnya Jundry yang datang berkunjung. Ia menunduk sambil berjalan ke dalam, tak lupa memberikan senyum kepada tiga orang tersebut. Setelahnya, diletakan belanjaanya di atas meja makan, dan langsung masuk ke kamar.

__ADS_1


Sedikit heran ketika mengingat diantara tiga tamu tadi ada seorang lelaki tampan yang sepertinya seumuran dengannya. Gadis itu kemudian mendengus tak peduli, toh bukan urusannya. Lalu mengambil ponsel dan membuka aplikasi *******, kemudian mulai membaca cerita favoritnya.


"Nada..." teriakan terdengar dari luar, itu kakaknya Rini.


Nada memanyunkan bibirnya kesal. Pasti kakaknya akan menyuruhnya lagi ke warung. Tak puas-puas kah ia membuat adiknya menderita.


Gadis itu pun berjalan keluar, "ya ka Rini?" Rini menatapnya sambil memberi kode untuk mendekatinya. Nada mendekat dengan bingung. Rini lalu menyuruhnya untuk duduk, gadis itu tak membantah, ia duduk sambil menunduk. Selama ada tamu yang datang, ia tak pernah bergabung kecuali itu temannya. Karna ia lebih memilih berkurung dalam kamar dengan ponsel kesayangannya.


"Begini Nada" Nada mengangkat kepalanya ketika mendengar suara bapak-bapak yang baru saja menyebut namanya, "kami datang kemari untuk menjodohkan kamu dengan putra kami"


Nada kembali menatap bapak tersebut, "pak a-anu, aku gak kenal sama anak bapak, begitu juga dengan keluarga bapak. Jadi ke-kenapa tiba-tiba sekali"


Gadis itu mengancungkan jari telunjuknya ke atas, seperti menemukan ide "oh atau bapak salah alamat, apa disini banyak anak perempuan seumuran aku. Di-di sana ada si kembar Dela Deli, mungkin mereka. Ya ya bapak salah alamat"

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruangan tersebut melongo, ketika mendengar ucapan antusias gadis itu. Kelihatan sekali bahwa dia berencana lari dari kenyataan dan malah menjual nama anak tetangga.


"Tidak nak" membuka suara lagi, tapi bukan bapak tadi melainkan seorang wanita paruh baya disampingnya yang Nada yakini kalau itu istri dari bapak tadi, "kami tidak salah, lagi pula yang mengantar kami kesini adalah anak kami" Nada menggulirkan tatapannya, menatap wajah lelaki tersebut. Asing sekali, batinnya.


"Oh atau mungkin anak ibu yang salah alamat, aku disini orang baru" lelaki tampan dengan rambut ala lelaki-lelaki keren personil F4 di meteor garden itu menggeleng, ia menatap Nada, "gak ma, aku gak salah, ini benar tempat tinggalnya. Dan dia benar orangnya" ucapnya sambil menunjuk Nada.


Nada menunjuk dirinya sendiri, lalu menggeleng, "gue gak kenal sama lo" gadis itu mulai kesal, terlihat dari perempatan yang sudah timbul dijidatnya yang sedikit tertutup oleh poni tipisnya.


"Baiklah tak perlu bertengkar" itu kakak iparnya Jundry yang berucap.


Nada kembali menunduk sopan, ia mulai melafaskan doa dalam hati, semoga ini hanyalah cerita belaka. Ia tak ingin menikah di umur yang masih 15 tahun, itu terlaku muda sekali. Dirinya bahkan belum lulus, belum turun prakering, belum mempunyai pekerjaan, belum membahagiakan orang tuanya dan belum belum belum semuanya. Ya allah katakan padanya bahwa ini hanyalah mimpi.


Gadis itu terlalu sibuk dengan dunianya, sampai melupakan bahwa keluarga itu sudah banyak berbicara dengan kedua kakaknya.

__ADS_1


"Jadi Nada bagaimana?"


__ADS_2