
Sebenarnya Ari bisa menunggu sampai besok dan menyampaikannya di sekolah, atau memberitahu Tari tentang kembalinya Ata ini lewat telepon seperti rencana semula. Tapi kegembiraan yang ditahan sudah sangat menekan dada. Ari siap melemparkan diri pada risiko apa pun untuk membayar teriakannya yang teredam itu.
Ari cepat-cepat memutar balik sebelum papa Tari menyadari kehadirannya. Salah satu tetangga Tari membiarkan pohon mangganya yang tidak jauh dari pagar, tumbuh dengan kerimbunan yang mengagumkan, menciptakan kanopi gelap gulita pada sepetak jalan aspal di bawahnya. Ke petak gelap itulah Ari mengarahkan motornya. Cowok itu kemudian turun. Dia tetap berdiri di sana. Otaknya berputar keras. Dengan segera sebuah ide muncul.
Ari mengeluarkan ponsel dari salah satu saku jaket. Cukup browsing selama semenit, cowok itu mendapatkan yang apa yang dia cari dan kontak segera dilakukan. Kemudian Ari berdiri diam, menyatu dengan kegelapan sementara kedua matanya terus terarah ke rumah Tari.
Dua puluh menit kemudian yang dia tunggu datang. Ari keluar dari lindungan kanopi dan melambaikan tangan kirinya. Motor itu berhenti tepat di depannya. Ari dan si pengendara motor lalu terlibat pembicaraan dengan suara pelan. Sang pengendara motor memahami isi pembicaraan dan menerima tugas itu dengan sangat antusias. Ari menyerahkan sejumlah uang yang memang harus dia keluarkan, plus sejumlah uang lagi sebagai kompensasi atas isi pembicaraan ini.
Pengendara motor itu melanjutkan perjalanan dan Ari kembali melenyapkan diri dalam bayang-bayang. Pada detik terakhir pengendara motor itu menyelesaikan jarak pendeknya, Ari menyentuh layar ponsel. Si pengendara motor telah sampai di tujuan. Dia memarkir motor dengan posisi sesuai isi pembicaraan rahasia tadi. Sementara itu, orang di ujung sambungan telepon Ari, menjawab panggilan.
Satu kali suara di seberang mengucapkan ”Halo?”, Ari mengakhiri panggilannya tanpa menjawab. Sepersekian detik kemudian pengendara motor itu berteriak lantang, ”PIZZAAA!!!”
Teriakan itu melontarkan Tari dan Geo dari kamar masing-masing. Panggilan tanpa jawaban dari Ari tadi membuat Tari berlari keluar dengan ponsel tergenggam di tangan, seperti yang Ari harapkan.
”Siapa yang pesen pizza?” papa Tari bertanya heran.
”Aku nggak…!” seru Geo, tapi sambil tetap berlari menghampiri motor petugas pengantar pizza itu, yang terparkir tepat di depan pintu pagar.
Menyusul di belakang kedua anaknya, papa Tari berjalan dengan kening berkerut. Petugas pengantar pizza segera menggeser tubuh. Kemudian terbukti, dia melakukan tugasnya dengan brilian.
”Siapa yang pesan pizza, Mas?” tanya papa Tari, karena ternyata kedua anaknya menjawab tidak.
”Nggak ada yang pesan, Om. Tapi adik ini pernah pesan pizza. Dua kali…” Petugas delivery menunjuk ke arah Tari dengan gerakan sangat ringan, hingga hampir tidak bisa diketahui arah pasti tunjukan tangannya itu. Bisa jadi Tari. Bisa juga yang memesan pizza adalah pohon sirsak cangkokan tetangga sebelah yang tumbuh tepat di pojokan depan.
”Pernah pesan pizza. Dua kali. Dua kali juga saya terlambat nganter pesanan itu ke sini, Om. Jadi pizza gratisnya dapet dua loyang. Moto di tempat saya, ’Pesanan diantar paling lambat tiga puluh menit.’ Kalau terlambat, pelanggan akan mendapatkan hadiah berupa pizza gratis.” Petugas delivery menerangkan dengan riang, seakan-akan terlambat mengantar pesanan pizza ke pelanggan justru akan membuatnya mendapatkan bonus.
Ari membayar dengan jumlah yang cukup mahal untuk formasi yang sekarang ini terbentuk. Papa Tari dan Geo berdiri memunggunginya. Cowok pengantar pizza itu berdiri di bagian belakang motor, di dekat boks tempat menyimpan pizza. Hanya Tari satu-satunya yang berdiri menghadap ke arah Ari.
Sambil menunjuk-nunjuk gambar-gambar di lembaran brosur yang dipegangnya di tangan kiri, cowok petugas delivery order itu mengoceh dengan heboh. Seakan-akan produk pizzanya adalah produk yang amat langka dan satu-satunya di dunia, karena topping-nya dibuat dari daging ikan yang hidup di kedalaman delapan ribu meter. Dan untuk membuat topping super duper istimewa seperti itu, diperlukan peralatan menyelam supercanggih plus korban jiwa dari para penyelam. Karena laut dalam, seperti juga Puncak Everest, adalah ruang ganas di bumi.
Demi alasan kesopanan, karena rezeki nomplok berupa dua loyang pizza ukuran jumbo, papa Tari mendengarkan dengan tekun. Geo ikut mendengarkan sambil mengunyah dengan lahap. Sambil menceritakan produknya dengan heboh, sesaat tadi petugas delivery order itu membuka salah satu kotak lalu dengan ramah menawari Geo mengambil potongan terbesar supaya anak SD itu tidak berkomentar apalagi bertanya. Dan yang terpenting, agar perhatiannya total teralihkan.
Tari, yang sejak tadi menatap petugas itu dengan kening berkerut, sudah akan membuka mulut untuk mengatakan pasti telah terjadi kesalahan. Karena dia bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir kali memesan pizza dari kedai itu. Apalagi sampai dua kali. Belum sempat dia bicara, sepasang mata yang terus mengawasi dari kegelapan segera bertindak.
Ponsel yang tergenggam di tangan kiri Tari mengeluarkan ringtone. Sebuah pesan singkat masuk. Dari Ari. Cepat-cepat dibukanya pesan itu.
Dngrin aja dlivry man ngomong apa. Liat ke arah jam 12.
Tari mendongak, tapi dia tidak melihat apa pun di posisi lurus pandangannya. Ari keluar dari perlindungan kanopi. Tari terperanjat. Buru-buru dia mengatupkan kembali mulutnya yang sempat ternganga. Lalu perlahan dia bergerak menjauhi motor.
Pergerakan itu jelas sangat disadari oleh cowok pengantar pizza itu, karena cara dia menerangkan produk pizzanya menjadi semakin berapi-api. Dibanding rayuan kepada calon pelanggan agar tertarik membeli dagangannya, cara dia bicara lebih mirip provokator yang terlalu bersemangat menghasut massa agar ikut demonstrasi.
Bahkan untuk membuat fokus tatapan papa Tari hanya tertuju pada satu titik, pengantar pizza itu sengaja menunjuk-nunjuk salah satu gambar di brosur. Produk terbaru. Very recommended! Dan lagi-lagi, hanya satu-satunya di dunia!
Geo ikut menyimak dengan serius. Dengan kedua kaki berjinjit, dia menjulurkan kepala untuk melihat brosur, antusias memandangi gambar pizza dengan topping yang membuat liur menetes. Apalagi sebelumnya, sesaat setelah dia menelan potongan pizza terakhirnya, dengan sigap sang pengantar pizza membuka kotak pizza yang lain.
Mengabaikan jantungnya yang mendetakkan ketakutan, Tari berlari ke arah siluet tinggi yang dibayangi kegelapan itu.
”Lo gila!” bisiknya tegang, begitu sampai di depan Ari.
”Lo tau, gue selalu gila,” Ari membalas bisikan itu. Tangannya menyusup ke salah satu saku depan jaket hitamnya dan mengeluarkan ponsel yang tersingkir hanya dalam waktu dua minggu. Dia letakkan ponsel itu di telapak tangan Tari yang kosong.
__ADS_1
”Cuma mau ngasih ini.”
Tari terpana. Dia langsung teringat percakapan yang tak sengaja dia dengar saat berjalan kaki menyusuri trotoar menuju sekolah. Tiga cewek yang sepertinya kelas dua belas, berjalan beriringan di depannya. Mereka sibuk menggosipkan Ari dan ponsel barunya.
”Padahal iklannya baru aja nongol. Dia udah punya.” Cewek yang berjalan di tengah berdecak-decak sambil menggeleng-geleng.
”Keren banget emang tuh hape.” Cewek yang berjalan paling kiri mengucapkannya dengan penuh rasa iri. ”Kalo gue bilang bokap gue, pengin punya hape kayak gitu, pasti gue bakalan langsung disuruh istigfar banyak-banyak.”
”Iyalah. Harganya gila,” temannya yang berjalan di paling kanan merespons.
”Coba gue jadi ceweknya Ari ya. Gue bisa minta beliin hape yang sama kayak dia punya. Pasti dibeliin. Tuh cowok kan duitnya nggak keitung.” Cewek yang berjalan di tengah mendesahkan khayalannya yang ketinggian itu. ”Eh, jangan-jangan si Tari hapenya sama. Kayak gitu juga. Kita cari tau yuk?”
Saat itu juga Tari melambatkan langkah dan menciptakan jarak sejauh mungkin dari ketiga cewek itu. Dia tidak mau ketiganya tahu dia mendengar percakapan mereka. Sejak itu Tari juga berhati-hati, mengeluarkan ponsel hanya jika benar-benar perlu.
Dan sekarang ponsel yang menimbulkan iri banyak orang itu berada di telapak tangannya. Ari punya ponsel baru sejak dua minggu yang lalu, karena dia tidak suka ponsel yang susah tergenggam dalam lima jari.
”Untuk apa?” Tari masih memandangi ponsel di tangannya dengan mulut ternganga.
”Untuk nelepon atau ditelepon. Lo pasti tau itu gunanya hape, kan?”
”Maksud gue…”
Kata-kata Tari terhenti. Ari meraih kedua tangannya dan menariknya ke dalam lindungan bayang-bayang. Cowok itu lalu membungkuk di hadapannya. Kedua mata hitam itu kini sejajar dengan matanya. Menyala seperti suar di tengah pekatnya badai.
Banyak yang ingin disampaikan, tapi Ari tidak berhasil menemukan kata yang sanggup dengan tepat mewakilkan. Akhirnya dia memilih bungkam. Gantinya, dia menatap Tari dengan keseluruhan kata yang tidak terucapkan itu.
Jalan panjang yang ditempuhnya untuk terus mencari dua orang terpenting dalam hidupnya yang pernah hilang. Rintangan-rintangan yang mematahkan. Keputusasaan yang dia tutupi dari mata semua orang. Kesepian yang kerap menaklukkannya tanpa belas kasihan.
”Dia pulang…”
Tari mendengar bisikan itu bersamaan dengan dua lengan yang terulur kemudian menggulungnya dalam pelukan. Memberinya hanya detak jantung Ari untuk semua yang bisa dia dengar, dan dua lengan melintang di punggung untuk semua yang bisa dia rasakan pada kali pertama.
Ketika apa yang tak sanggup dikatakan itu menekannya dari dalam, Ari mencoba meleburkan keberadaan cewek di pelukannya agar sepenuhnya menjadi bagian dari keberadaannya sendiri. Berharap rasa yang terbungkam itu akhirnya terpahami. Untuk kata yang tepat yang tidak pernah bisa ditemukan.
Menyertai kebahagiaan Ari, kedua sahabatnya tersenyum lebar di hadapan laptop dan lembar-lembar tugas sekolah untuk esok hari. Tapi di satu tempat yang lain, kebahagiaan Ari itu tidak mampu menyelesaikan jarak apalagi sampai di tujuan. Tari masih berada dalam posisi yang sama seperti saat dia masuk kamar, lama setelah Ari dan pengantar pizza itu pergi. Duduk terdiam di salah satu sisi tempat tidur, fokus pandangan Tari seolah hilang ditelan petak-petak lantai.
Ponsel yang membuat iri itu tergenggam dalam kedua tangannya, hanya sempat memberikan beberapa detik hysteria sebelum lenyap seketika saat Ari mengatakan bahwa ponsel itu hadiah untuk kembalinya Ata.
Ingatan tentang pertemuan terakhirnya dengan Ata membuat Tari melihat kabar bahagia itu sebagaimana wujud aslinya. Sebuah dinding yang sangat transparan dan rendah. Begitu mudah dilompati. Begitu mudah retak. Apa pun yang berada di belakangnya terlihat jelas bahkan sampai detail terkecil.
Hanya hal-hal yang menyedihkan…
Keesokan harinya, begitu bel istirahat pertama berbunyi, Ari segera keluar kelas. Sambil menuju area koridor yang sepi, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ada nomor terakhir yang harus dikontaknya berkaitan dengan kembalinya saudara kembarnya ke Jakarta. Sengaja Ari mengontak dari sekolah. Jika kabar baik itu tidak disambutnya dengan baik, sudah pasti keberadaan Ata akan melecut kemarahan orang itu.
Sesaat setelah kontak yang dilakukan Ari sampai di tujuan, sebuah ketukan pelan di pintu membuat papa Ari menghentikan kesibukannya memeriksa setumpuk berkas. Tak lama sekretarisnya masuk dengan selembar map di tangan.
”Ari di line dua, Pak,” ucap wanita itu sambil meletakkan map di meja laki-laki yang selama lima tahun terakhir menjadi atasannya.
Papa Ari mendongak. Sesaat dia menatap sekretarisnya itu sebelum kemudian meraih gagang telepon di depannya dan menekan angka dua. Sang sekretaris pun meninggalkan ruangan.
”Kenapa nggak langsung ke ponsel Papa?” tanyanya.
__ADS_1
”Ponsel Papa nggak aktif,” Ari menjawab dengan nada tak peduli.
”Oh iya.” Laki-laki itu tersadar. ”Sebentar lagi Papa ada rapat penting. Jadi ponsel sengaja Papa matikan.”
”Ari cuma sebentar kok, Pa. Nggak bakal ngeganggu rapat penting Papa deh.”
Ucapan dingin sang anak membuat laki-laki itu menghela napas.
”Bukan begitu maksud Papa. Papa lupa kalau Papa matiin ponsel,” dia menerangkan dengan sabar. Ari tak bereaksi. ”Ada apa?” tanya Papa kemudian.
Ari tidak langsung menjawab. Ini kemenangan yang benar-benar telak dan dia suka menunda mengatakannya demi memaksimalkan ledakannya.
”Ari… ada apa?”
”Ada kabar mengharukan, Pa.” Ari tidak bisa menahan senyum kemenangannya.
”Apa?”
”Papa pasti nangis deh dengernya. Ari aja nangis waktu denger.”
”Apa itu?” Di ujung sambungan, Papa menahan sabar. Masih ada setumpuk berkas yang harus dipelajari dan dia hampir kehabisan waktu.
”Ata mau sekolah di Jakarta lagi. Di sekolah Ari.”
”Apa!?” Seketika punggung Papa menegak. ”Kamu bilang apa?”
”Ata… mau… sekolah… di… Jakarta… lagi…” Ari mengulangi. Sengaja memenggal kalimatnya kata per kata agar berita yang sudah pasti mengagetkan papanya ini bisa memberikan efek yang lebih menghantam lagi.
”Siapa yang… Kata siapa?” Harapan Ari terkabul. Suara Papa langsung berubah tegang. Keterkejutan yang amat sangat itu bahkan tertangkap jelas dalam suaranya. Momen yang sangat langka, karena selama ini Papa selalu tenang dan jarang memperlihatkan emosi. Orang paling dingin sedunia.
”Kata Mama. Semalam,” Ari menjawab dengan kalem. ”Udah ya, Pa. Ari juga ada urusan penting nih.”
”Ari! Tunggu! Papa be—!”
Dengan puas Ari memutus sambungan. Membungkam sisa seruan Papa. Selalu menyenangkan jika bisa merasa menang melawan laki-laki itu.
Ari telah memutus pembicaraan, tapi berita yang dibawanya membuat sang papa tetap duduk di tempat dengan punggung tegak.
Tak bisa dimungkiri, info itu mengagetkan. Sangat mengagetkan. Seketika semua meeting penting yang akan dilaksanakan hari ini jadi terlihat tidak penting sama sekali dan setumpuk berkas mendesak yang harus dipelajari tak lagi terlihat perlu untuk sekadar disentuh apalagi sampai harus dicermati.
Ditekannya salah satu tombol pada pesawat telepon di depannya. Tak lama pintu ruang kerjanya diketuk pelan dan sekretarisnya melangkah masuk.
”Iya, Pak?”
”Batalkan semua meeting hari ini,” perintah Papa. ”Lalu hubungi Pak Cokro. Minta dia menemui saya di tempat biasa. Siang ini juga.”
”Baik, Pak,” sang sekretaris menjawab patuh.
Begitu ruangan kembali sepi, pandangan Papa tertancap pada dinding kosong di depan meja kerjanya. Dia bukannya tidak tahu anak laki-lakinya yang lain dan sang mama datang ke Jakarta belum lama berselang. Dia bukannya tidak tahu rekonsiliasi itu telah terjadi tanpa dirinya.
Dia juga bukannya tidak tahu di mana keberadaan keduanya. Dia hanya ingin membuat semua orang mengira dirinya tidak tahu. Dia tahu di mana keduanya selama ini. Sejak keduanya diminta untuk keluar rumah, sembilan tahun lalu, hingga hari ini.
__ADS_1
Dia tahu semuanya. Amat sangat tahu!