
"Eh gue yang galak kenapa lo yang sewot" lelaki itu tak menjawab, ia malah membuka helmnya lalu mengacak-acak rambutnya.
Nada menatapnya dengan kaget. Itukan lelaki yang beberapa hari datang ke rumah bersama dengan kedua orang tuanya untuk menjodohkan dirinya dengan lelaki itu. Apa yang dilakukannya.
Ia menunjuknya, "lo.. Donal ngapain disini?"
Denal menatapnya sinis, "Denal bukan Donal, lo pikir gue bebek"
Nada meringis, "ah iya iya terserah gue" ucapnya, "ngapain lo disini?"
"Jemput lo?" gadis itu menunjuk dirinya sendiri, "gue? Gue gak salah denger kan"
"Gak. Ayo cepetan buruan naik. Gue bukan ojek online"
"Ehh gue gak mau"
"Jual mahal banget jadi cewek. Udah buruan ah"
Nada memasang wajah sangarnya, "kok lo maksa?"
Delan menelan ludahnya ketika melihat wajah gadis itu, "nya-nyantai aja kali. Gue gak maksa"
Nada mengangguk lalu menaruh tangan kirinya di pinggang, sedang tangan kanannya di tunjukan kesana-kemari, memberi kode kepada lelaki itu untuk pergi.
"Beneran nih gue pergi" ucap Denal sambil memakai helmnya.
Nada mengangguk sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Denal menatapnya dari balik helm dengan bingung, "lo ngapain sih?"
"Ah bukan urusan lo" lalu mendorong lelaki itu, "udah pergi sana, gue gak mau pulang bareng lo"
Lelaki itu mendengus dan langsung pergi meninggalkan gadis itu. Dasar gadis aneh, udah baik mau dianterin malah nolak, pake ngusir-ngusir segala lagi. Batin Denal kesal.
Nada kembali duduk di batu tersebut. Menepuk-nepuk pipi tembemnya dengan pelan. Sudah jam segini, tapi Risan belum juga datang, entah kemana lelaki itu perdi atau mungkinkah ia lupa.?
Gadis itu menghembuskan nafasnya berat, "lama banget sih"
"Kalau tau begini mending gue pulang sama Denal aja tadi" ujarnya pelan, "eh gak-gak, gue gak boleh percaya begitu saja sama Denal. Mungkin aja kan dia punya niat lain sama gue"
Gadis itu menatap tanah dengan pandangan kosong. Ia pun memutuskan untuk berdiri dari duduknya, "apa gue jalan pelan-pelan aja dulu yah? Siapa tau ketemu sama Risan di jalan" ia mengangguk dengan jawabannya sendiri dan mulai berjalan dengan gontai. Untungnya hari mulai sore matahari tak terlalu menyengat. Ditambah lagi ia menggunakan jaket jadi kulitnya tak akan hangus karna terkena cahaya matahari yang berlebihan.
"Baru setengah jalan gue uu..." ucapnya terhenti ketika mendengar suara seseorang.
"Naik" Nada menatap seseorang tersebut yang ternyata Denal. Ia mengernyitkan alisnya bingung, kenapa lelaki itu ada disini, kan tadi dia sudah pergi.
"A-apa?" Denal mengangkat kaca helmnya, "gue bilang naik"
"Gue gak..."
"Naik Nada. Lo keras kepala banget sih"
__ADS_1
"I-iya gue naik" ucapnya bosan, lalu naik ke atas motor sport lelaki itu. Ia duduk menyamping, toh tak mungkin ia akan duduk seperti umumnya disaat menggunakan rok, bisa-bisa pahanya diluar semua.
Suasana canggung, Nada hanya diam sambil memegang tas lelaki itu. Jujur selama ia hidup 15 tahun ini, baru pertama kali naik motor sport kawasaki. Jadi kesannya kayak gimana gitu. Ditambah lagi tubuhnya berasa akan jatuh.
"Peluk aja kalau lo takut jatuh" Nada menatapnya kesal lalu memukul bahu lelaki itu, "dalam mimpi lo"
Denal terkikik geli melihat raut kesal gadis itu dari spion motornya, "lo tadi nungguin siapa?"
"Temen gue"
"Cewek atau cowok?" Nada mengetuk helmnya, "kepo banget sih lo" lelaki itu memutar matanya bosan, "jangan-jangan lo ini monster yah"
"Apa lo bilang?"
"Malas gue replay. Capek ngomong"
Nada menggigit bibir bawahnya, ia lalu kembali teringat akan sesuatu yang membuatnya terus berpikir keras belakangan ini.
"Mm Denal" Denal menatapnya sejenak dari spion, "hmm?"
"Lo kenal gue dari siapa? Dan kenapa lo maksain orang tua lo untuk ngejodohin lo sama gue?"
"Oh itu" gumamnya, "gue gak bisa jawab, sebelum lo terimah perjodohan itu"
"Ih gak akan" lelaki itu mengangguk-anggukan kepalanya, "yaudah, silahkan merasa penasaran"
"Siapa yang penasaran, gue cuma nanya aja kok" bantah gadis itu, padahal sebanarnya ia juga sangat penasaran.
Keduanya kembali terdiam. Fokus dengan urusan masing-masing. Nada menggerutu dalam hati, kenapa rasanya tempat tinggalnya sangat jauh. Padahal kalau temannya yang lain mengantarnya pulang tak pernah selama ini.
Denal mengambil ponselnya dari saku celana. Lalu memberikannya kepada gadis yang asyik melamun di belakangnya. Nada menatap ponsel mahal itu dengan bingung, "kenapa?"
"Pegangin" Nada pun mengambilnya, tanpa ada niat melihat-lihat isi dari ponsel itu.
"Simpan nomor hp lo disitu"
"Gak mau" lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan gadis yang sangat keras kepala itu.
"Lo udah kayak selebriti aja. Udah ah buruan simpan"
Nada memanyunkan bibirnya kesal, "hmm iya-iya. Dasar pemaksa"
"Apa polanya?"
"N" Nada menarikan jarinya dengan lihai di layar ponsel tersebut.
"Salah"
"N besar bodoh bukan n kecil"
"Iya pintar" ucapnya kesal dan membuka pola ponsel tersebut, setelahnya ia mulai menulis nomor ponselnya lalu menyimpannya.
__ADS_1
"Lo tulis apa namanya?" Nada tersenyum manis, "si imut"
Denal hanya mengangguk-angguk, tak ingin membantah ataupun mengejek gadis itu, karna ujung-ujungnya pasti ia akan terkena semprotan kemarahan monster imut itu.
"Pola lo gampang banget. Gak takut di bobol orang"
"Makanya nyuruh orang tua lo, namain lo dengan huruf dengan yang susah seperti Q" Nada mengernyit bingung, "apa hubungannya?"
"Lemot. N itu inisial nama lo. Nada"
"Eh kenapa nama gue?"
Denal mendengus, "gue gak habis pikir, kenapa cewek sepintar lo bisa lemot mikirin hal yang semudah ini"
"Ehhh..."
"Gue pakai inisial nama lo, karna lo spesial"
Nada menunduk dengan kikuk. Ia tersenyum canggung, mendengar pernyataan lelaki itu. Sebegitu spesial kah Nada sampai inisial namanya saja dibuatkan sebagai pola ponsel.
"Hmm coba lo perhatikan baik-baik walpaper utama layar gue"
Gadis itu mengikuti ucapannya. Sedikit kaget ketika melihat wajahnya yang ada di layar tersebut. Kenapa ia baru sadar yah. Dan tunggu, ini kan fotonya ketiduran dengan baju tidurnya berwarna kuning. Perasaan ia tak pernah mengaploud foto itu, selain dikirimkan di grup facebooknya. Itu pun dikirimnya karna diminta temannya untuk mengirim foto-foto kocak.
"Lo dapet dari mana foto ini. Perasaan gue gak pernah aploud di facebook"
"Gue kan udah bilang sebelumnya. Gue gak akan jawab sebelum lo terimah perjodohan itu"
Nada hanya merespon dengan gumaman asal. Ia harus mencari tahu tentang lelaki itu. Dan sepertinya Denal banyak mengetahui tentang dirinya, aneh sekali. Padahal ia tak mengenal lelaki itu, melihatnya sekali pun tak pernah.
Terlalu tenggelam dalam pikirannya, sampai tak menyadari motor telah berhenti di depan rumahnya. Sedikit tersentak ketika lelaki itu meneriakinya.
"Nada" teriak Denal yang sudah kesekian kali. Tapi gadis itu masih asyik melamun.
Nada tersentak lalu menatapnya kesal, "gak usah teriak-teriak gitu. Lo udah kayak anak kambing minta susu aja" ucapnya sambil turun dari motor.
Denal terkikik geli mendengar ucapan blak-blakan gadis itu, "iya, gue anaknya lo ibunya berarti"
Gadis itu menunjuknya tajam, "lo ngatain gue kambing?"
Denal menatapnya lembut sambil tersenyum lebar. Ia menggelengkan kepalanya, "gak. Gue yang kambing"
"Bagus deh kalau lo ngaku" ujarnya datar lalu berbalik dan langsung saja berjalan ke dekat pintu rumahnya, tanpa mengucapkan terimah kasih.
"Eh monster" Nada membalikan tubuhnya dengan kesal, "iya iya terimah kasih. Udah ah pulang sana" Denal tersenyum melihat wajah kesal gadis itu. Dan setelahnya ia langsung meleset pergi dengan motornya.
.
.
.
__ADS_1
.
.