KENANGAN TERINDAH

KENANGAN TERINDAH
Episode 6


__ADS_3

DI lantai dua rumah mewahnya, di balkon depan kamar tidur, Ari duduk bersila di kursi panjang yang terbuat dari besi tempa. Cowok itu menunduk. Kedua matanya tertuju pada layar tablet yang ditopang kedua kakinya yang terlipat.


Blog seseorang yang pernah berada di dalam perut Gua Esa’ala, di Papua Nugini, dengan dokumentasi foto-foto spektakuler, mengisap perhatian Ari sepenuhnya. Hingga ketika ponsel yang dia letakkan di meja tepat di sebelah kanan kursi panjang itu meneriakkan panggilan masuk, memutus konsentrasinya. Dia langsung mendesis kesal.


Diliriknya alat komunikasi itu dengan malas, siap mengakhiri panggilan itu tanpa menciptakan kontak. Hal yang dilakukannya setiap hari, dengan jengkel, terhadap delapan puluh persen panggilan masuk. Tapi satu nama yang muncul di layar membuat cowok itu serta-merta menyambar ponselnya, seolah-olah benda itu bisa lenyap dalam sekejap.


”Maaa!?” serunya seketika.


”Ari sehat?” Di seberang, suara yang sempat menghilang lama itu bertanya lembut.


”Sehat, Ma…”


”Udah makan?”


”Udah, Ma. Ari udah makan. Tadi pulang sekolah.”


”Jangan keseringan makan makanan yang nggak sehat ya, Ri. Burger, kentang goreng, dan semacamnya itu.”


”Nggak, Ma. Tadi Ari makan di warteg.”


”Warteg?” Di ujung sambungan, kening Mama sontak berkerut. Jawaban Ari jelas membuatnya kaget.


Ari tertawa pelan.


”Iya, Ma. Warteg. Tapi tampilan makanannya kayak di hotel gitu. Tuh warteg sekarang jadi tempat wajib. Nggak gaul kalo belum ke sana.”


”Oh. Sama siapa?”

__ADS_1


”Sendiri.” Ari menjawab apa adanya. Ridho dan Oji tidak selalu bisa menemani, dan dia memang telah memutuskan untuk mulai belajar menerima kondisi hidupnya. Jadi, kedua sahabatnya itu tidak harus selalu menemaninya.


Jawaban pendek dan lugas, yang diberikan Ari tanpa maksud apa pun karena memang seperti itulah keadaannya, seketika menghancurkan hati sang bunda. Seberapa sering Matahari yang direnggut paksa darinya ini pergi sendirian? Bertahun-tahun pertanyaan itu benar-benar mengirisnya dengan cara yang bahkan bisa dia rasakan bagai ujung pisau yang mengiris jantungnya.


Mama cepat-cepat menghapus air matanya dan menjauhkan ponsel saat diam-diam membersit hidung.


”Sebentar lagi Ari nggak sendirian lagi kok. Mama sama Ata kan mau pindah ke Jakarta. Ata mau sekolah di Jakarta lagi. Di sekolah Ari.”


Ari sontak membeku. Tablet di tangannya terlepas tanpa sadar dan tak ayal terjun bebas menghantam lantai.


Ini benar-benar di luar dugaan. Saat Mama dan Ata ke Jakarta beberapa waktu lalu dan setiap kali Mama meneleponnya, sedikit pun tidak ada indikasi ini akan terjadi. Hingga di alam bawah sadar Ari terbentuk kesimpulan. Jika dia ingin bertemu Mama dan Ata, satu-satunya jalan adalah terbang ke Malang. Nggak ada cara lain.


Di ujung sambungan, Mama bisa merasakan gelombang emosi yang bergolak akibat ucapannya barusan, meskipun keheningan itu berjarak seribu kilometer darinya. Informasi yang dia berikan sudah pasti sangat mengagetkan putranya yang hanya pernah dilihatnya satu kali selama sembilan tahun mereka terpisah. Tapi ini hal pertama yang—dia bersumpah—akan langsung dia lakukan begitu putranya yang hilang itu ditemukan, yaitu menyatukannya kembali dengan saudara kembarnya.


”Ma…” Akhirnya Ari bersuara, serak dan seperti tercekik di tenggorokan. Tapi mendadak dia membungkam mulutnya lagi, membatalkan niatnya untuk mengatakan: Tolong jangan tiba-tiba nggak ada. Tolong jangan pergi begitu aja, hilang, dan nggak pernah bisa ditemukan.


”Ari mau nanya apa?” Itu suara terlembut yang pernah Ari dengar dari bibir mamanya. Tapi cowok itu memilih membunuh sisa kalimatnya lalu melemparnya keluar dari ketakutannya. Dia tidak ingin ucapannya menjadi pertanda.


”Sebentar lagi.”


”Kok Mama nggak pernah cerita?”


”Mama sengaja nggak cerita. Ata juga Mama larang untuk ngasih tau Ari. Surprise. Untuk anak Mama yang bertaun-taun nggak Mama lihat. Nggak Mama urus juga…”


Ari bisa mendengar, dengan sangat jelas, suara Mama bergetar. Setelah berpesan dengan terburu-buru agar Ari menjaga kesehatan dan jangan sampai telat makan, Mama pun mengakhiri pembicaraan.


Beberapa saat setelah sambungan telepon berakhir, Ari limbung dengan kedua tangan menggenggam erat birai balkon. Ini kabar bahagia, tapi tubuhnya menggigil mendengarnya.

__ADS_1


Sembilan tahun terlalu panjang dan dia memiliki terlalu banyak pertempuran yang berakhir dengan kekalahan. Tak terhitung semangat baru yang terus berusaha dia lecutkan. Tak terbilang keterpurukan yang dia alami ketika semangat itu tak mampu dipertahankan dan akhirnya padam.


Dia takut ini bukan kenyataan. Dia takut ini hanyalah ilusi dari kekalahannya.


Tidak ada yang tahu, tidak juga Ridho dan Oji, bahwa Ari telah berkali-kali berdiri di tubir jurang dengan semangat yang compang-camping. Ketika Ari mampu berdiri kembali bermenit-menit kemudian, meskipun kedua matanya tertutup selapis bening air mata, tawa mencoba muncul bersama senyum di bibirnya.


Karena berita tak terduga itu, Ari luruh ke lantai. Punggung telanjangnya bersandar pada pilar-pilar balkon yang cantik namun dingin menggigit. Dengan perasaan ringan dia menyambar ponsel yang tanpa dia sadari dia biarkan meluncur dari genggaman dan tergeletak di lantai, di samping tablet yang sekarang layarnya menghitam.


Dengan gerakan tidak sabar Ari menyentuh sebuah nama di layar ponselnya. Belum sempat orang di seberang mengucapkan halo, cowok itu sudah berseru keras. ”Dho, Ata mau sekolah di Jakarta lagi!” kemudian langsung ditutupnya telepon. Di ujung sambungan, Ridho yang terinterupsi dari keseriusannya mengerjakan tugas-tugas sekolah untuk besok, cuma sempat ternganga lebar.


Oji sedikit beruntung. Dia sempat mengatakan halo sebelum sedetik kemudian teriakan Ari membuatnya langsung menjauhkan ponsel dari telinga. Begitu ponsel dia dekatkan lagi, kontak telah diputus.


”Ngomong apa sih Ari tadi?” gumamnya bingung. Segera cowok itu mengontak balik. Tapi sampai usaha yang kelima, panggilannya tidak diacuhkan. Akhirnya Oji mengontak Ridho. Info pendek yang jelas-jelas disampaikan Ridho dalam kondisi masih dibelit ketersimaan, saat itu juga menyeret Oji ke dalam ketersimaan yang sama.


”Lo serius? Tadi Ari ngomong Ata mau pindah sekolah ke Jakarta lagi?”


”Kalo gue nggak salah denger, iya. Tadi Ari ngomong gitu.”


”Oh!”


Ari baru saja akan menyentuh nama ketiga saat mendadak dia menghentikan gerakannya. Untuk seseorang yang dia temukan pada saat dirinya nyaris berlutut dan menyerahkan segalanya pada keputusasaan, dia tidak akan meneriakkan kabar bahagia ini melalui telepon seluler.


Ari bergegas masuk kamar kemudian membuka lemari pakaian dan menyambar kaus pertama yang tertangkap mata. Sambil mengenakan kaus itu dia berjalan keluar kamar menuju lemari kayu besar di ruang utama lantai dua. Ada beberapa laci pada lemari itu.


Ari menarik salah satu laci. Itu laci khusus tempat dia menyingkirkan semua gadget yang sudah tidak ingin lagi dia gunakan. Penghuni terbaru adalah satu unit ponsel yang baru dia singkirkan dua minggu lalu, setelah digunakan dalam waktu yang juga hanya dua minggu, hanya karena Ari kurang menyukai ponsel yang tidak tergenggam dalam lima jari dan tidak tertampung dalam saku depan celana jinsnya.


Setelah memasukkan ponsel penghuni laci yang terbaru itu ke saku depan celana jins, Ari melangkah cepat menuju tangga. Dia menuruni anak tangga dua-dua, menyambar jaket hitamnya di salah satu sofa di ruang tamu, dan dua menit kemudian cowok itu telah melajukan motor hitamnya menuju pintu gerbang kompleks.

__ADS_1


Jika mama Tari selama ini bersikap ramah, Papa Tari adalah tipikal hampir semua ayah di seluruh belahan bumi yang merasa anak perempuannya masih di bawah umur untuk punya pacar.


Sial untuk kedatangan Ari kali ini, karena papa Tari-lah yang sedang berada di teras, duduk menunduk, membaca lembaran kertas di tangannya. Sementara mama Tari tidak terlihat sama sekali. Ari pernah sekali menekan bel dan yang muncul adalah papa Tari. Satu kali pertemuan dan cukup bagi Ari mengetahui bahwa kisah hidupnya tidak cukup tragis dan masih jauh dari meremukkan hati untuk bisa mendapatkan izin bertemu Tari


__ADS_2