KENANGAN TERINDAH

KENANGAN TERINDAH
Episode 4


__ADS_3

Rini menatap adiknya yang asyik main game di ponselnya. Berpikir kembali, apakah ia harus mengatakannya pada Nada perihal rapat tadi siang itu, tapi ia tak ingin membuat saudaranya prihatin.


Menarik nafasnya panjang, "Nada" panggilnya. Nada mendongak lalu menatap kakaknya, "ya kak Rini"


"Hmm ini perihal rapat tadi" Nada menaruh ponselnya sembarangan, lalu mengangguk, "oh iya kenapa memangnya?"


"Begini sekolah kamu menambah biaya ujian kenaikan kelas menjadi dua kali lipat" ucap Rini langsung to the point. Nada melebarkan matanya sambil menganga. Ia langsung saja berdiri dari duduknya, "gila tu sekolah. Mau minta di bakar"


Rini mendengus bosan, "mulut doang"


Gadis itu terkekeh geli dengan ucapan kakaknya sambil menganggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian ia kembali memasang wajah jengkelnya, "kenapa bisa begitu kak?"


"Iya biasalah namanya juga sekolah yayasan"


"Kalau tau begini mending aku gak masuk sekolah itu" dumelnya, "kenapa sih kakak malah masukin aku di sekolah elite itu"


Rini memajukan tubuhnya, lalu meneong kepala adiknya itu, "eh goblok. Kita masukin kamu ke sekolah itu karna kita mampu membiyayai sekolah kamu, tapi hanya saja kenaikan biaya tidak bertepatan dengan keadaan yang baik. Dan gak mungkin kan kalau kita gak bisa membiyayai sekolah kamu terus memaksakan kamu sekolah di situ. Bisa-bisa kamu di tendang karna gak bayar uang sekolah"


"Yaudah kalau gitu telvon aja papa. Bilang aku butuh uang" wajah Rini seketika suram, ia menatap Nada dengan sedih.


"Nada coba kamu pikir deh. Beberapa hari yang lalu papa baru aja ngirim uang sekolah sama uang untuk kebutuhan kamu yang hampir 3 juta. Dan sekarang kamu mau minta kirim uang lagi. Kamu gak kasihan sama papa yang banting tulang nyariin uang buat biaya sekolah kamu"


Nada menunduk sedih, kenapa ia baru menyadarinya yah. Sebagai anak yang pengertian ia harus mengerti keadaan. Ia tak boleh mengatakan ini kepada ayahnya. Karna pasti ayahnya akan lebih bekerja keras untuk dirinya, dan ia tak ingin ayahnya sakit hanya karna terlalu bekerja keras untuk dirinya.


"Gak bisa yah pembayarannya di tunda sampai beberapa minggu gitu. Supaya aku bisa berusaha nyariin uang" Rini menatap adiknya dengan sedih. Pasti sulit berada di posisi Nada. Dimana ia harus membutuhkan pendidikan tapi keadaan tidak mendukung. Kalau saja suaminya gajian di pertengahan bulan ia bisa langsung membayarnya, tapi suaminya gajian di tanggal tua, ditambah lagi beberapa hari yang lalu keluarga suaminya meminjam uang untuk pembayaran biaya rumah sakit saudaranya.


"Bisa sih ditunda, tapi ujian kenaikan kelas kamu juga ditunda"


Nada menghembuskan nafasnya kasar, "kalau gitu berarti aku harus bekerja"


Rini meliriknya sejenak, "aku sih gak masalah, tapi yang jadi masalahnya itu kamu. Kalau ujian tiba akan sulit untuk kamu membagi waktu untuk belajar dan bekerja"


Nada mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang, "kalau gitu aku berhent...." tak sempat ia melanjutkan ucapannya karna Rini sudah lebih dahulu menghadiahi jitakan dijidatnya.


"Aww sakit" ringisnya tak lupa mengelus-ngelus jidatnya yang berdenyut.


"Kamu gila yah mau berhenti sekolah.." Nada menatap kakaknya sambil melongo, "siapa yang mau berhenti sekolah?" tanyanya bingung.


"Kamu.."


"Gak kok. Lawong aku mau bilang kalau aku mau berhenti beli kuota. Supaya irit dikit" Rini langsung saja sweatdrop mendengar tuturan kesal adiknya. Sepertinya ia terlalu terbawa dengan suasana, sampai tak mendengar lanjutan ucapan adiknya, dan malah menjitaknya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Oh maaf.. Aku pikir"


Gadis itu memutar matanya bosan, "ee dasar emak-emak kompleks" gumamnya pelan ,sangat pelan. Takut jika terlalu besar suaranya akan didengar kakaknya dan berakhir ia harus membersihkan seluruh penjuru rumah.


Ia kembali memasang wajah sedihnya, "kakak aku harus gimana?"


"Kamu pikir cuma kamu aja stress, aku juga"


Keduanya terdiam, mulai memikirkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini. Rini mengetuk-ngetuk jidatnya dengan jari telunjuk. Beda dengan adiknya yang malah keluar masuk kamar mandi.


"Nada?" Nada menghentikan langkahnya, menatap kakaknya dengan penuh tanya.


"Sepertinya hanya ini jalan satu-satunya" ucap Rini.


Gadis itu memiringkan kepalanya, "maksud kak Rini?"


Rini menarik nafasnya panjang, "kamu harus menerima perjodohan itu"


Nada terdiam sambil memikirkan ucapan kakaknya. Entah apa yang harus ia pilih. Apakah menolaknya atau menerimanya.


"Kak.."


Nada menatap Rini dengan wajah memelas. Rini memalingkan wajahnya, sedikit tak tega melihat wajah adiknya. Ia pun berdiri lalu berjalan keluar.


"Kak Rini?" Rini menghentikan langkahnya, lalu meliriknya, "kenapa?"


Nada menutup matanya, "iya aku akan terima" Rini langsung saja berbalik lalu mendekatinya. Ia mengguncang-guncang bahu Nada, "kamu serius. Kenapa cepat sekali. Masih ada waktu beberapa hari untuk berpikir Nada"


"Kak. Aku gak boleh bersikap egois. Jika aku hanya memikirkan diri sendiri banyak yang akan menderita, jadi aku lebih baik menerima perjodohan ini. Lagi pula Denal keliatan baik kok" Rini tersenyum bangga dengan sikap dewasa adiknya. Ia menepuk-nepuk pundak Nada, "dan sepertinya Denal itu ganteng loh"


Nada memutar matanya bosan, "emang dia ganteng" ucapnya, "dan ingat kakak udah punya suami, tau diri dikit"


Rini tertawa keras dengan ucapan blak-blakan adiknya. Sepertinya gadis itu tak menyaring terlebih dahulu kata-katanya dan langsung saja berucap.


"Iya iya.. Dan tunggu kakak ipar pulang kerja kita ke Rumah Denal yah"


"Ih gak kakak aja. Aku malas keluar rumah"


"Yaudah" ucapnya dan langsung pergi. Nada hanya mengangkat bahu tak peduli dengan kepergian kakaknya. Pasti ngerumpi, batinnya.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Nada menduduki dirinya di sofa ruang tamu. Baru saja ia selesai mandi dan sekarang memakai baju tidur berwarna pink , serta handuk yang masih membungkus rambutnya yang basah.


Ia mendumel kesal, kakaknya pergi dengan suami dan anaknya ke rumah Denal untuk membicarakan masalah perjodohan itu, dan malah meninggalkannya sendiri di rumah tanpa ada makanan.


"Gak ada uang, gak ada makanan, plus gak ada kuota" ia menggeleng-gelengkan kepalanya, stres dengan dirinya sendiri, "tinggal tunggu tenggelam"


Mendongak kepalanya, menatap pintu yang ditutup itu diketuk dari luar. Mengenyit bingung, siapa lagi yang datang, batinnya.


Ia berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Menggeram kesal melihat siapa yang mengganggu acara tenggelamnya. "Setan. Ngapain lo?"


Denal tersenyum miring, "kasar banget jadi cewek" lalu mengangkat kantong plastik sedang di hadapan Nada, "apa ni?" tanya gadis itu.


"Nasi goreng" gadis itu tanpa berpikir panjang langsung saja mengambil kantong tersebut, "makasih" gumamnya lalu berjalan ke dalam meninggalkan Denal yang masih berdiri di depan pintu. Tak berapa lama gadis itu kembali dengan piring dan sendok. Ia menatap heran Denal yang berdiri diam di depan pintu, "kenapa masih di situ?"


"Lo gak nyuruh masuk" Nada menggaruk-garuk pipinya lalu tertawa geli, "yaudah masuk aja kalau gitu. Silahkan"


Denal melangkah dengan bosan lalu menduduki dirinya di sofa. Ia membuka jaketnya dan menaruhnya di atas meja. Melirik sejenak gadis yang sedang asyik makan itu, "lo kelaparan?" Nada mengangguk tak bersuara. Toh ia sedang makan.


"Kalau lo butuh apa-apa tinggal bilang sama gue. Selagi gue bisa pasti gue penuhin kok" Nada menghentikan acara makannya, lalu menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit diartikan, "kenapa harus bilang sama lo?"


"Karna sekarang lo pacar gue" gadis itu baru saja akan membantah, tapi tak jadi. Karna ia teringat akan keputusannya beberapa saat lalu. Ia pun mengangguk, "iya gue mengerti"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2