
Hari-hari damai akan mulai terkenang ketika masalah berlarut datang...
Akan mulai di impikan ketika kesengsaraan terus menghujam...
Akan terus dirindukan...
Ohh akan terus dirindukan...
✍️
......
Setiap hari matahari selalu tersenyum dan bulan pun tak mau kalah sumeringah indah, memang karena hujan sudah lama tak mau beranjak dari singgahsana nyamannya, di antara kapas-kapas terbang berwarna putih di kala siang dan abu-abu di kala malam.
Ah kini aku bercerita untuk keadaan di sana di sebuah Kota di Indonesia, Kota yang direpresentasikan oleh kebudayaan Batavia. Tepat di pinggiran Kota Djakarta di Bulan Juni di saat gelap berhiaskan jutaan gemerlapan cahaya yang indah telah sempurna menutupi merah yang biasa mencoreng muka langit sore di hampir setiap harinya.
Hampir tak ada keramaian di jalan-jalan yang sering terlihat banyak orang berlalu lalang. Jeritan-jeritan para pedagang, tangisan anak kecil, tertawaan pria paruh baya pemenang permainan catur, gurauan orang-orang yang suka bergosip sambil makan camilan dan rentetan kegiatan lain yang selalu meramaikan hari, kini hampir menyisakan lengang di sepanjang jalan.
Angin dingin berhembus lebih kencang, mencekam, membuat asap di setiap hembusan-hembusan nafas, cerobong-cerobong asap rumah dan restoran-restoran yang menyuguhkan makan malam yang hangat.
Rupanya bergelora semangat para muda yang rupawan maupun yang jelita, persenjataan masing-masing mereka telah lengkap sejak sore tadi. Dompet terisi uang, tubuh beraroma memabukkan, perhiasan mentereng, pakaian elegan penuh keagungan dan solek ria mengihias pada wajah dengan senyum menggoda yang telah di pelajari dari cermin yang berjasa.
Kini coba kita lihat siapakah kaum lanjut usia yang mau cepat-cepat menemui tuhannya padahal bermandi dosa. Mereka pasti memutuskan untuk berdiam dirumahnya yang nyaman. Alih-alih menyerukan do'a pada Tuhannya mengharap agar esok dapat hidup panjang dengan tenang.
Di sebuah restoran beruliskan La Paradise. Sebuah restoran pinggiran kota bukan kenamaan untuk kelas orang Kota tapi layak di kunjungi karena berdesign klasik lengkap iringan musik Instrument karya komponis terkenal di Pusat Kota. Sungguh tak ada lagi yang serupa tempat ini di pinggiran Kota Djakarta manapun. Tempat para muda pinggiran kota penuh hasrat cinta saling memandang sambil saling memuji mengutarakan isi hati.
__ADS_1
"Saya pesan sebotol Anggur terbaik dan menu utamanya" Seorang pemuda belasteran berdarah Indonesia dan Belanda memesan kepada seorang pelayan.
Dengan ringkas sang pelayan memberi hormat dan segera pergi untuk menyiapkan pesanan.
Tak lama dia datang dan meletakkan sebotol anggur dan menu utama berupa daging cincang dengan bumbu-bumbu rempah spesial rahasia restoran.
"Ini tip untukmu..."
"Oh.. terimakasih tuan"
Itu adalah makanan porsi kecil yang biasa menemaninya lebih dari seorang kekasih. setiap Sabtu malam Pemuda ini selalu terlihat di restoran dengan posisi duduk di tempat yang sama. Pemuda yang sangat mudah dikenali karena selalu ditemani sebuah biola unik lengkap dengan alat geseknya yang tak kalah unik karena ukirannya.
Dia adalah seniman jalanan di pusat kota. Mudah di ingat dengan perawakan tinggi dan gagah, memiliki air muka yang tenang namun tersimpan kecerdasan yang sulit terlukiskan, hidung mancung khas orang barat, tatapan mata yang dapat membius siapapun yang melihatnya dan tentu begitu manis dikala tersenyum. Oh sudah barang tentu dia sungguh tampan di usianya yang menginjak 25 tahun itu.
Dia anak tunggal yang di besarkan sendirian oleh Ibunya yang berdarah Belanda setelah sepeningggalan ayahnya. Berkat kerja keras sang ibu, dia berkesempatan berkuliah di salah satu Universitas Seni di Belanda mendalami seni musik, namun setelah kelulusannya dia dibawa pindah ke Indonesia dan kini musik lah yang menghidupinya.
Suasana restoran yang semula tenang kini sedikit bergemuruh. Laksana bulan purnama yang turun langsung kedepan pintu restoran, menjelma sebagai tontonan indah yang mempesonakan mata untuk berpaling dari hidangan di atas meja. Para muda laki-laki semua berseru seirama gelora di jiwa.
"Lihat disana" salah satu berseru sambil menoleh kearah pintu masuk.
"Oh... sungguh cantik tidak kepalang, andaikan Tsunami datang pun aku tidak akan menyesal datang kesini" kata salah seorang lainnya.
Dia adalah primadona, mutiara terindah di pinggiran kota. Bernama Delina Kaswarman anak pembesar pusat kota Kaswarman Purdirawan dari Istri keduanya bernama Sri Sujatmi.
Sejak lahir dia sudah tinggal di pinggir kota Djakarta, tepatnya di satu-satunya rumah yang paling gedong di sana bersama ibu, satu saudara laki-laki kandungnya Raka Purdirawan yang saat ini berusia 18 tahun dan beberapa orang pembantu.
__ADS_1
Hari ini dia memakai gaun hitam. Oh kecantikannya sukar dilukiskan, agaknya kalau di gambarkan dengan sesuatu yang paling indah sekalipun seolah akan membuat cacat dirinya. Memang, belum ada yang sanggup untuk berpaling daripadanya karena sungguh mutiara pun sukar menganggap diri yang paling indah apabila mempunyai nyawa jika di bandingkan dengan keelokan paras dara muda perempuan 21 tahun itu.
Suasana yang semula tenang kini mulai gelisah, muda perempuan mana yang tahan dengan komat kamit mantra penuh sanjungan oleh muda laki-laki tambatan hati justru malah tertuju pada dara perempuan yang baru saja datang itu.
Nampak air muka Delina berseri-seri seperti orang yang habis memenangkan lotre, agaknya kondisi hatinya hari ini nampak sedang baik karena sangat sulit di temui di hari-hari lainnya.
Delina menghampiri sebuah meja yang berada dekat dengan bar "Wah wah lihat... kau selalu membawa kejutan di setiap kehadiranmu, sungguh aku iri sekali wahai nona hihi" Goda seorang gadis sebaya Delina.
"Huhh... siapa peduli dengan mereka, aku sudah terbiasa dengan itu." Ekspresi Delina seketika berubah, matanya disipitkan dan mulut di muncungkan namun tak mengurangi kecantikannya.
Dia adalah Dinda sahabat dekat Delina. Dia cantik meskipun sukar jika untuk di bandingkan dengan Delina. Dia bertubuh tinggi, langsing dan ideal, berambut hitam panjang, bermata indah dengan hiasan bulu mata lentik, hidung mancung (standar pribumi), bibir tidak terlalu tebal namun cukup memikat, ranum seperti buah seri masak di hiasi gigi-gigi putih terawat.
"Ku lihat hari ini kau nampak bahagia sekali Delina, hayo... ceritakanlah pengalaman berhargamu, seperti yang sebelum- sebelumnya hhi" Terkekeh Dinda kali ini diiringi dengan tawanya yang khas.
Kembali muncung bibir Delina "Uhh bukan apa-apa, aku hanya menunggu jawaban dari tantangan ku untuk Sang Pengagum Rahasia, hari ini mari kita melihat siapakah dirinya yang telah menggugah hatiku dengan tulisan syair dan lagu-lagu nya yang indah itu!" oh senyum yang begitu manis itu lagi-lagi tersungging.
"Bukankah sudah beberapa kali kau menggenggam kecewa, kenapa kali ini kau sangat yakin dia akan muncul?"
"Oh kau tidak akan percaya, aku telah mengancamnya. Kita lihat saja apakah dia seberani itu menolak permintaanku" Delina meneguk seloki miras kadar rendah sehabis mengatakannya, itu minuman Dinda.
"Oh rupanya pengalaman telah merubah mu dari si gadis tidak berdaya menjadi rubah kecil yang tengil ya haha" Untuk kesekian kalinya Dinda terkekeh dan kali ini sangat puas dia menggoda sahabatnya itu.
Di tengah perbincangan yang jenaka itu sepasang mata terlihat memperhatikan dari jauh. Air mukanya sekilas nampak tenang namun sayangnya tak berhasil sempurna menutupi kegelisahan di hatinya.
Pemuda itu berkali-kali menguatkan hati bersiap untuk sesuatu yang akan sedikit berbeda. Dia yang terbiasa dengan pembawaan tenang dan tidak mudah terganggu kini turun moralnya, pucat pasi menghiasi wajah tampannya itu.
__ADS_1