
Dunia sudah tidak baik-baik saja sejak berabad-abad lamanya, ketakutan akan teror makhluk mengerikan seolah menjadi peringatan bahwa tidak akan ada lagi tempat yang aman dan tentram di sudut manapun.
Bayang-bayang akan kematian mencekam, menarik orang-orang pada kepasrahan akan takdir di kemudian hari.
Tapi itu hanya perwujudan bagi mereka yang melihat kejadian dengan kasat mata atau ketika hal itu mengintai mereka. Nyatanya banyak dari orang-orang tidak tau jika mereka dalam bahaya besar.
Seolah tertutup semua inderanya, mereka mengatakan jika itu hanya legenda yang dibuat-buat agar anak-anak tidak berkeliaran pada malam hari atau orang pergi ketempat berbahaya seorang diri karena banyak sekali tindak kejahatan dan hewan buas yang lapar.
Ya begitulah kenyataannya, siapa yang menyangka ketika mulut mereka terbuka lebar saat daging anak-anak mereka atau bahkan bagian tubuh mereka sendiri sedang di cabik-cabik dan di kunyah. Dalam hati mereka menjerit, menyesalkan atas ketidakpercayaan pada kenyataan yang sudah diceritakan berulang-ulang.
* * *
Dulu puncak bukit ini adalah tempat berdo'a bagi mereka yang percaya pada dewa. kemudian orang-orang meninggalkan kepercayaannya dan berpaling kepada hasrat duniawi dan jadilah puncak bukit ini hanya pusara tua yang peot.
Ada bangunan tua seperti gubuk tapi terbuat dari kayu-kayu bagus sebagai pondasi dan dindingnya, halamannya luas dan ada gazebo yang cukup untuk menampung banyak orang.
Bangunan itu menggambarkan jika dulu tempat ini disinggahi banyak orang tapi sekarang hanya terlihat seorang petapa tua yang duduk di bale bambu kecil yang hanya pas menopang pantat.
Kepulan asap di helaan nafasnya tebal sampai menutupi wajahnya, membuktikan jika udara di atas bukit sore itu sangat dingin. akan tetapi pandangannya jelih saat suara dari kejauhan menjelaskan bayangan samar seperti ada dua orang yang mendekat.
Petapa itu berdiri dengan santainya tapi tatapan matanya tetap awas, takutnya yang mendekat malah sesuatu yang berbahaya seperti yang pernah dia lihat sebelum-sebelumnya.
Rasa awasnya seketika menurun diganti dengan rasa cemas membuat langkahnya cepat memburu kearah dua orang anak muda, yang satu anak laki-laki berusia sekitar 15 tahun dan yang satu seorang anak perempuan berusia sekitar 20 tahun.
Keduanya tampak kelelahan dan butuh untuk segera diistirahatkan, tapi rasa cemas dan khawatir petapa tua itu ditujukan pada sang kakak yang pucat pasi dan terluka cukup serius di hampir semua bagian tubuhnya.
__ADS_1
Sang petapa cepat mengambil satu lengan sang kakak dan memapahnya "Cepatlah kita bawa dia kedalam."
Akhirnya kedua kakak beradik itu tanpa sepatah katapun segera mengikuti iringan sang petapa, tampak raut wajah lega meskipun masih sangat cemas terukir di wajah sang adik.
"Kakek tolonglah selamatkan kakak ku, aku mohon selamatkan kakak" hanya itu yang keluar dari mulutnya sebelum dia jatuh terkapar dan pingsan, mungkin habis kelelahan menempuh jarak yang jauh sambil ketakutan.
* * *
Petapa tua itu bukan seorang tabib, tapi dia cukup mahir melakukan pengobatan. Dia merawat kedua kakak beradik itu sudah lebih dari seminggu.
Sang kakak belum juga sadar sejak hari dimana dia juga pingsan karena menahan sakit yang luar biasa pada luka di perutnya, itu luka yang paling parah.
Sementara sang adik tersadar pada keesokan harinya sejak kalimat terakhirnya pada sang petapa tua. Tapi semenjak itu juga sang adik tidak pernah bicara ataupun menceritakan mengenai apa yang sudah menimpa mereka.
Hari itu masih pagi, kabut tipis yang dingin masih menyelimuti puncak bukit dan memang seperti biasanya sang petapa sejak pagi buta sudah duduk di bale bambu yang menopang pantat itu.
Hawa bukit tak terlalu dingin pagi itu, jadi memakai pakaian tipis pun tidak jadi persoalan, itu juga karena pakaian sang petapa masih berada di jemuran, tak bisa kering karena seminggu ini cuaca selalu dingin.
Pintu berderit, terlihat seseorang yang membukanya. Itu adalah sang adik, dia keluar dengan terburu-buru.
Langkahnya gontai tapi pasti, keringat dingin menghiasi wajah polosnya yang tampan dan tergurat perasaan bersalah yang entah apa maksudnya, tapi akan segera terjawab.
Dia mengedepani sang petapa dan langsung bersujud "Kakek petapa maaf, seharusnya aku langsung menceritakan apa yang terjadi kemarin, tapi aku takut malah akan merepotkanmu."
Sang petapa tersenyum hangat sekaligus menyelidiki wajah pemuda itu yang memerah setelah bangkit dari sujudnya "Kemarilah.. Nah apa yang ingin anak ceritakan."
__ADS_1
Lantas sang pemuda menggenggam telapak tangannya, sambil tergagap dia menceritakan dengan rinci kejadian yang menimpa mereka.
Seiring waktu, nafasnya mulai teratur sambil menceritakan kronologi yang sebenarnya. Tak seperti anak usianya saat bercerita, pemuda ini sangat pintar dalam memilih kata, membangun cerita ringkas dan jelas seperti seorang pencerita yang berpengalaman, itu cukup untuk membuktikan jika dia cukup cerdas dan suka membaca.
Dari ceritanya, dia dan kakaknya berasal dari desa yang jauh bernama Desa Bendung, desa kecil yang dikelilingi oleh bendungan pemasok air untuk kota besar yang tak jauh dari desa itu.
Awalnya desa itu tentram dan damai sampai pada pagi buta, rumahnya di serang oleh makhluk yang mengerikan. Dia menggambarkan dengan jelas seperti apa makhluk itu, tampilan tubuhnya seperti manusia biasa pada umumnya tapi kulitnya pucat seperti mayat, matanya merah menyala dalam kegelapan dengan pupil sedikit berwarna keemasan, rahangnya lebar tidak normal dengan semua gigi depan yang tajam.
Ayah ibunya mati dengan tragis di depan matanya oleh makhluk itu, sementara sang kakak terluka parah demi melindungi dirinya.
Mereka berteriak meminta pertolongan, makhluk itu secara ajaib menghilang setelah teriakan keduanya, tapi tak seorangpun yang datang sampai matahari terbit.
Ketakutan yang mendalam memaksa mereka tetap pada posisinya, berpelukan. Tapi setelah mereda barulah dia memberanikan diri untuk memeriksa keadaan sementara kakaknya tertunduk pucat kehilangan banyak darah.
Potongan jasad ayah ibunya yang tergeletak di genangan darah membuatnya ingin muntah, tapi tak ada lagi tangis, semua sudah terkuras selama ketakutan dalam pelukan kakaknya.
Sang petapa tidak menyela tapi raut wajahnya memerah, nafasnya mulai memburu dari waktu kewaktu.
Pemuda itu memeriksa keadaan desa, tapi desa itu sudah tak ubahnya seperti kuburan, sepi dan lengang di semua sudut, dia tidak tau apakah para warga mati atau sudah kabur.
Dia tidak berani memeriksa lebih jauh, atau lebih tepatnya dia sadar jika kakaknya kehilangan banyak darah.
Dari yang pernah dibacanya, jika makhluk hidup mengeluarkan banyak darah maka hidupnya sedang terancam, maka di tutupnya luka kakaknya dengan kain atau apapun yang bisa mengehentikan pendarahan itu.
Mereka berjalan selama 8 jam mencari pertolongan di desa terdekat, tapi seperti tak menemukan kehidupan dimanapun, tapi jika ke kota mereka tidak memiliki uang untuk biaya pengobatan. Seperti kehabisan akal mereka terus saja berjalan berharap menemukan orang yang bisa menolong sampai berakhir di puncak bukit ini.
__ADS_1