
Di sana, di tempat yang sama di setiap sabtu malam. Mulut membungkam, detak jantung tak beraturan, perasaan tak tentram yang tak pernah di rasa sebelumnya, seperti banyak serangga yang menggelitiki seluruh tubuh dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Dika tampak mati kutu tanpa bisa berbuat suatu apapun, hanya dapat memperhatikan dari kejauhan seolah ada sesuatu yang menahannya untuk berbuat sesuatu.
Tiba-tiba langkah seseorang memecah keributan yang terjadi. Semua mata tertuju pada satu tempat yang kini telah berdiri dengan gagah.
Seorang tampan rupawan, wajahnya seperti tercetak sempurna, mata yang terlihat tajam namun indah berkilau, hidung mancung dengan kumis tipis di bawahnya, senyum yang begitu mempesona, bentuk rahang yang kokoh di tutupi bulu tipis menambah kesempurnaan seorang laki-laki berusia 24 tahun itu, potongan pakaian kemeja hitam lengan di gulung dengan jeans biru langit tampak ringkas namun rapi dan enak di pandang.
"Wahh tampan sekali dia, pertama kali nya ke sini sudah seberuntung ini" kata salah seorang gadis pelanggan restoran.
Bagi yang tak kenal dia pasti mainnya kurang jauh, siapa pula yang tak kenal dia adalah anak dari Eric Martutula pembesar di pusat kota, rekan dari Kaswarman ayahnya Delina. Namanya Roy Martutula atau kerap di sapa Roy.
Suasana restoran yang barusan cukup ramai tidak tenang sekarang hampir senyap, hanya satu atau dua dara muda perempuan saja yang masih sesekali bergumam mengagungkan sosok Roy. Maklum, dara muda perempuan memang jarang sekali yang mau mempertontonkan kebinalannya dimuka umum.
"Ahh ternyata dia lagi, apa pula kedendaknya kali ini" gerutu Delina.
Roy mendekat kemari saraya berkata dengan tersenyum takzim "Wahai cantik, kenapa kau datang kesini tapi tak mengajakku?"
"Kenapa pula aku harus mengajakmu dan apa pula urusanmu datang kesini?" tukas Delina melenggong.
"Ayahmu menitipkanmu kepadaku agar aku senantiasa menjagamu, maka sepatutnya aku selalu disisimu bukan begitu?"
"Dijaga olehmu? aku bisa menjaga diriku sendiri tidak perlu kau terlalu repot bukan?"
__ADS_1
"Oh kenapa begitu galak..." senyum Roy menggoda "Tapi aku suka itu"
Sudah sejak lama Delina mengenal pribadi Roy. Pada awalnya Delina suka berteman dengannya karena dia adalah pribadi yang cukup baik, namun lambat laun sering kali Delina seolah merasa di kekang dan suka di atur. Taulah, dara muda perempuan mana yang suka di perlakukan sedemikian.
"Seharusnya kau ikut aku ke acara amal malam ini, bukankah ayahmu sudah berpesan?" Kata Roy masih mempertahankan senyuman diwajahnya.
"Aku tidak tertarik acara membosankan semacam itu."
"Oh jadi kau berani menentang ayah mu begitu?!"
"Itukah kepandaian mu? suka memaksa seseorang dengan menjual kelemahannya!" tampak geram sekali kali ini Delina.
Sering kali Delina dipaksa menuruti kemauan Roy, tentunya hal ini karena ayah Delina sangat mempercayainya. Delina sering kali mengadu tentang Roy pada ayah dan ibunya tapi mereka hanya maklum karena Delina masih terbilang muda dan suka kebebasan sehingga keterangannya masih di anggap wajar.
"Kalau begitu ayo Dinda, aku sudah capek mau pulang!" Sambil menarik tangan Dinda.
Kali ini Roy tidak mengejar atau melakukan apapun. Dia tau watak Delina jadi tidak ingin bertindak lebih jauh. Segera saja dia pun juga beranjak pergi untuk menghadiri acara malam amal sendirian.
Tidak terasa sejak tadi dari kejauhan, ada sepasang mata yang tajam seolah ingin menembus jantung Roy. Rasa panas, dongkol dan marah di hatinya membuat perasaan yang sebelumnya sirna sama sekali. Ada sedikit keberanian, namun hanya takut salah jalan, tapi sedikit saja tadi Roy melakukan sesuatu yang tidak tak pantas, maka sebagai laki-laki tentu dia akan bertindak.
Meskipun kejadian itu membuat dia marah, tapi setidaknya dia sedikit bersyukur karena dengan begitu tantangan dari Delina tidak perlu di lakukannya.
Namun juga rasa sesal, setidaknya tadi ada sedikit peluang meskipun hanya menjadi pahlawan kesiangan, tapi itulah kesempatan agar membuatnya selangkah lebih dekat mengungkap identitasnya sebagai pemain biola misterius.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, ya siapa yang akan mengerti jalan fikiran seorang berjiwa seni. Baginya akan terasa konyol dan tak akan menarik apabila langsung tiba-tiba muncul mengungkap identitasnya sehingga kacaulah fikirannya ketika tantangan yang di berikan Delina dirasakan sebagai ancaman. Sungguh itulah salah satu sifat Dika yang unik.
. . .
Matahari timbul dari Ufuk Timur, melambai seolah hendak mengucapkan selamat pagi pada penghuni Kota Djakarta yang ramai bising oleh aktivitas dan kepadatan kendaraan.
"Hoammm... tubuhku terasa sakit semua". pukul 06:17 Dika baru saja terbangun dari tidur nya yang singkat waktu.
Bagaimana tidak singkat tidurnya karena baru tadi subuh Dika pulang kerumah. Setelah kepulangan Delina nampaknya tidak ada hal menarik lagi di restoran itu. Namun Dika tidak langsung pulang kerumah melainkan berjalan-jalan dulu menyusuri Pinggiran Kota Djakarta. Dia merenungi beberapa hal yang sangat sulit dia lupakan.
Dari renungannya tampak terlihat ekspresi tersenyum, terkadang sangat tersiksa dan kadang seolah hampa. Terbayang waktu pertamakali datang ke Indonesia banyak sekali yang di lalui, hal-hal yang tak terduga, hal-hal menarik dan hal yang sangat di sesali.
Sejak kepulangannya ke Indonesia 3 tahun lalu, Dika di tahun pertamanya disibukkan dengan aktivitas kerja di Pabrik Roti di pusat kota. Namun karena tak mau menyianyiakan bakatnya bekerja di tempat itu terlalu lama, lantas tepat satu tahun bekerja, dia memutuskan untuk mengundurkan diri.
Uang tabungan yang di kumpulkan dia belikan sebuah biola yang sengaja di pesan dari Belanda. Dengan bantuan sahabat karibnya disana, Dika mampu membeli sebuah biola yang saat ini selalu dia bawa kemanapun dan kapanpun, kecuali ketika dia hendak ke toilet atau ke kamar mandi.
Maka hari-hari berikutnya Dika memutuskan untuk menjadi pengamen jalanan di pusat kota dan dari sinilah dia bisa memenuhi kebutuhannya selama di Indonesia sampai sekarang.
Dika sangat suka kuliner bahkan mempunyai selera yang cukup tinggi soal makanan, tidak jarang dia kerap terlihat di beberapa restoran di pusat kota. Tentunya tak setiap hari karena dia harus menyisihkan uangnya terlebih dahulu barulah mampu untuk membeli sejumlah makanan yang cukup merogoh kocek itu, maklum seluruh yang dia kunjungi adalah restoran ternama di pusat kota.
Sampai suatu hari dia bertemu dengan salah seorang kerabatnya dari Belanda bernama Larry Karel, Larry merupakan lulusan salah satu universitas tataboga di Belanda. Di ketahui Larry merupakan koki di salah satu restoran ternama di pusat kota.
Perbincangan antara seorang gemar makan dan gemar masak tentu akan sangat menarik dan membuat antusiasme satu sama lain. Dengan begitu mereka sering bertemu di disela-sela kosong kesibukan, walau tak jarang hanya sekedar ngobrol biasa. Sampai suatu saat Larry Karel tak lagi bekerja di restoran pusat kota itu.
__ADS_1