Ketika Cinta Tetap Buta

Ketika Cinta Tetap Buta
Ch# 4. Renungan II


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu hampir tak ada kabar dari Larry, bahkan Dika tak tau kemana keberadaannya. Namun tersiar pula kabar tentang sebuah restoran pinggiran kota yang sedang naik daun.


Awalnya restoran ini adalah restoran biasa sampai akhirnya restoran ini di beli oleh seseorang pengusaha restoran di pusat kota.


Saat di ketahui ternyata di beli oleh seorang kebangsaan Belanda yang juga mempunyai beberapa cabang restoran di Indonesia bernama Thomas Karel, Ayahnya Larry.


Tentu untuk penggila kuliner hal ini pasti menarik minat, apalagi katanya hidangannya sangat lezat, tak terkecuali Dika yang sudah lebih dulu tau, bilamana restoran ini berjarak tak jauh dari rumah tempat tinggalnya.


Larry Karel menjadi Manager sekaligus Koki di restoran itu, karena pengalamannya tentang dunia masak memasak sangat baik maka tak heran dalam waktu singkat banyak yang datang berkunjung karena masakannya, banyak juga yang telah menjadi pelanggan tetap, tentunya demi diskon harga yang di terapkan untuk member. Inilah salah satu strategi pasar keluarga Karel.


Biasanya setiap Sabtu sehabis mengamen kian kemari menjelajahi pusat kota dengan biolanya, Dika tak lantas langsung mendatangi restoran pinggiran kota itu melainkan mengunjungi sebuah rumah jompo.


Sudah kebiasaannya setiap akhir pekan menyempatkan untuk berkunjung kesana hanya untuk menemui seseorang.


Sampai suatu hari, kala hujan deras menimpa hampir seluruh kota Djakarta, cahaya putih kebiruan disusul suara menggelegar menakutkan, pasti membuat hampir semua orang jeri akan kuasa tuhan. Maka pantaslah bagi sebagian orang akan senantiasa tunduk dan berserah diri.


Di sana di rumah jompo yang bertuliskan Bina Bhakti Negara di plang yang cukup indah terpajang. Terlihatlah secarik suasana duka dan haru masih membekas sebelum datang kilat menyambar-nyambar yang menambah menggetarkan hati.


Pun terlihat juga ada beberapa wajah layu menitikkan air mata seolah masih tak rela akan apa yang terjadi. Tampak jugalah sebabnya, seorang telah kaku pucat dan tak bernafas digiring menuju pembaringannya, tubuhnya terbalut kain putih bersih terikat tali namun masih menyisakan wajah yang pucat mengeras.

__ADS_1


Tampak elok sekali muka itu yang tersungging senyuman bahagia dan bangga meskipun kapas telah menyumpal pada kedua lubang hidung dan telinganya. Seorang wanita paruh baya telah menjemput ajalnya dengan damai dan tentram.


Ada seorang yang bermuka sangat muram, dingin teramat dingin meliputi hati seolah ingin berteriak sekuat tenaga untuk terbebas dari belenggunya. Tampak sekali dialah orang yang sangat-sangat terpukul dan menderita akan kehilangan ini.


Orang itu adalah Dika Dwistira, dan yang terbujur kaku tiada lain adalah Ibunya. Ibu yang membesarkannya, yang berjuang tiada rintang agar dia dapat menempuh pendidikan tinggi dan berkehidupan yang bahagia, maka dapat terbayang betapa luluh lantaknya perasaan seorang anak yang sudah sejak lama Yatim itu telah menjadi Yatim Piatu.


Sungguh sukar dibayangkan pada saat itu adalah pengalaman kehilangan terbesar dalam hidupnya. Kehilangan Ibu yang mengorbankan dirinya tinggal di panti jompo hanya karena tak mau merepotkan anaknya, itulah alasan yang baru dia ketahui adanya.


Mau tak mau Dika harus menelan kecewa pada dirinya sendiri bahwa saat itu dirinya merasa menjadi orang yang tidak berguna, benar-benar tidak berguna.


Hari-hari berikutnya Dika lewati dengan hampa, sudah beberapa hari dia tidak ngamen dan melakukan aktivitas seperti biasa, hanya merebah kasur. Selera makannya pun tidak ada, membuat badannya kurus dan beberapa kali jatuh sakit.


Segala renungan telah terjamah, namun tak satupun yang mampu meningkatkan semangat gairah hidupnya meskipun dia tau bahwa kehidupan harus terus berjalan.


Bagi manusia yang tak kuat imannya dan tak memiliki keteguhan hati untuk bertahan maka pilihan pertama adalah satu-satunya jalan terbaik.


Tapi Dika yang masih kuat hati dan tajam tekadnya itu tentu hal pertama tak akan mungkin di lakukannya, maka setiap harinya dihabiskan dengan merenung dan merenung tentang alasan untuk kelangsungan hidupnya.


Suatu ketika saat sekian kalinya dia merenung, Dika memutuskan untuk mengunjungi restoran pinggiran kota itu, dia ingin kembali menemui Larry disana sekedar berbincang namun pula berharap dapat mengurangi sedikit dukanya. Ketika sudah disana, di sebuah kursi biasa dia duduk tampak telinganya menangkap sebuah percakapan menarik.

__ADS_1


"Maestro itu sangat tampan dan gagah adanya, tentu jika dia mau mempersunting ku aih... maka tak setindak pun aku akan menolak" Seorang gadis berkata, gerakan tubuhnya seolah membuat penekanan pada kata-katanya itu, nampak mukanya memerah saking semangatnya membuat Dika berkerut kening untuk mempertajam pendengarannya.


"Hahaha tak ku sangka fikiran mu cukup dangkal. ahh aku yakin kau pasti tak tau bagaimana perangai dia yang sesungguhnya iya kan?" Ejek salah seorang temannya.


Lantas dia menyambung "Memang ku akui permainan biolanya sungguh indah dan membuat ku sangat kagum, namun tak terbayang dibalik bakatnya itu perangainya sangat bertolak belakang"


"Ahh aku tak percaya, buktinya lihat saja banyak gadis yang mengagumi dirinya"


"Ya sudah jika kau tidak mau percaya, dengan sendirinya kau akan menggenggam kecewa, tentu saat itu terjadi aku akan tertawa hahaha" Katanya sambil benar-benar tertawa.


Percakapan terus berlanjut, namun membuat tanda tanya, siapakah mereka? keduanya tak lain adalah Dinda dan Delina, dua sahabat yang sering terlihat di restoran beberapa minggu belakangan.


Ya kala dua dara muda perempuan itu bekumpul maka sebelum langit runtuhpun maka tak akan habis perkara bisa di bincangkan, pula seolah lupa dimanakah bumi sedang di pijak.


Obrolan demi obrolan, tawa demi tawa dan ejek demi ejek terus berlangsung hingga berbuntut panjang, namun hal itu bukan malah menjemukan tapi justru menarik minat para pendengar tak terkecuali Dika.


Dika terus memperhatikan, ekspresinya berubah mengikuti dinamika obrolan Dinda dan Delina. Entah atas alasan apa percakapan seperti itu tidak membosankan malah menyenangkannya, apakah dikarenakan sambil dia mendengar sambil memperhatikan paras Delina yang seperti dewi surga itu? tentu hanya Dika dan Tuhan yang tau.


Yang jelas hari itu kedukaan Dika seolah sedikit berkurang, jelas sekali nampak dari wajahnya apabila lamat-lamat di perhatikan, rupanya kali ini bukan hanya perkara obrolan tapi oleh perkara lain yang melibatkan perasaan.

__ADS_1


Isi hati seorang insan siapakah yang mampu menerka. Yang jelas, hari itu pintu hati Dika telah di ketuk entah sadar ataupun tidak. Hati yang selama itu terbelenggu duka akhirnya menemukan secerca harapan akan kebebasan.


Kebebasan seperti apa? pun tiada yang mampu menerka, karena sejatinya cinta dalam bentuk hasrat ingin memiliki tiada ubahnya menambah banyak belenggu. Insan akan di perbudak nafsu yang akan mendatangkan penderitaan. Itukah yang di katakan cinta buta??? silahkan di jawab dalam hati.


__ADS_2