
Pada awalnya Dika sama dengan laki-laki pengagum paras Delina yang lain, membuat kotak surat di depan rumah megah keluarga Kaswarman penuh di setiap harinya. Tapi terkadang bukannya di bawa masuk, malah di bawa pembantu rumah itu ke halaman belakang untuk di bakar atas permintaan Delina.
Ya siapa yang seperti tidak mempunyai pekerjaan lain selain membacakan semua surat yang berisi sanjungan-sanjungan, syair-syair, puisi-puisi cinta dan lagu-lagu, pastinya menguras tenaga dan hanya akan membuang-buang waktu.
Seakan tak habis akal semua laki-laki itu untuk membuat sang permata pinggiran kota itu terkesan, berbagai cara dan berbagai trik di kerahkan sampai keluarlah kartu AS (harta benda, barang berharga dan perhiasan permata) itu pun tak luput untuk mempersenjatai diri mereka yang sudah tergila-gila, namun tak satu pun yang berlaku nilai untuk Delina.
..
Suatu ketika, dikala malam telah menyisakan sekelebat angin dingin, hanya kecangkir kopi hangat yang membuat Delina terjaga. Sambil membaca buku kesukaannya, Delina merasa tidak terusik sama sekali dengan suara nyaring jangkrik, mata nya yang teramat indah dengan bulu mata lentik itu terus fokus ke arah bacaan seolah dunia milik dia sendiri.
Di kamarnya di lantai dua, di depan jendela yang terbuka, terlihatlah ke arah luar bayangan samar pepohonan kebun belakang seolah tidak cukup terang di sinari oleh rembulan, namun penuh yakin akan sangat indah terlihat di kala terang.
Tampak juga ayunan kayu berwarna putih kini pun samar di bayang-bayangi oleh bayangan dedaunan pohon yang cukup rindang. Kebun yang cukup luas di bentengi tembok itu bagai hiburan tersendiri untuk Si Tuan Rumah.
Masalah keamanan rumah gedong ini tentu di jaga ketat oleh satpam, tapi meski tak dijagapun siapa yang mau cari urusan dengan keluarga terpandang pembesar pusat kota ini. Kaswarman sendiri adalah seorang pembesar yang paling di segani dan di hormati karena jasanya sangat banyak, tak jarang dia ikut hadir keacara-acara warga sekitar atau sekedar memberikan sumbangsih untuk pembangunan fasilitas umum di sana.
__ADS_1
Namun sedikit berbeda dengan orang gila yang sedikitpun tak ada peduli bahaya meskipun harus menerjang badai dan mendaki puncak gunung tertinggi, pantang menyurutkan langkah untuk mencapai tujuannya.
Di tembok Selatan tepatnya dari arah ayunan putih di taman belakang terdengar nyaring suara gesekan biola mengalun indah. Sesekali mengeluarkan suara berdecit kuat seolah sengaja memancing serigala keluar dari sarangnya. Namun tetap saja mau bagaimanapun itu suara alunan biola yang sangat indah.
Di tempat Dinda berada suara itu tak ayalnya hanya suara yang lembut dan samar namun tetap bisa di nikmati jika di dengar dengan seksama di tambah keadaan yang sunyi lengang diiringi nyanyian jangkrik membuat suara itu cukup terdengar dengan jelas.
'Oh indah sekali, nada ini begitu asing namun begitu indahnya, siapakah gerangan yang memainkannya' Delina membatin penuh dengan kekaguman.
Diletakkannya buku bacaan di atas meja di sebelah cangkir kopinya. Seolah terhipnotis segera dia beranjak menuju kesumber suara, dituruninya anak tangga dengan langkah tak sabar, sesekali berjalan sesekali berlarian kecil agar dapat segera sampai kesana.
Saat sudah dekat, suara biola itu memang telah hilang sama sekali. Ada rasa kecewa namun tetap juga dia melangkah kemari, di periksanya sekitar untuk setidaknya memastikan namun sia-sia harus kembali bertemu dengan kecewa, tiada sesiapapun dan suara apapun, tersisa hanya lengang dan sepi.
Di periksa sekali lagi ke segala arah sampai terpati pandangnya ke arah ayunan putih yang remang-remang itu. Untung dia anak pemberani yang tak takut hantu maka tak sampai gelisah sama sekali melihat ayunan putih itu bergoyang sendiri, didekatinya namun langlahnya tak gentar. 'hantu gentayangan mana yang bermain biola seindah itu.' fikirnya.
'Hah sepucuk surat! pasti dari si pemain biola misterius itu' Delina kembali membatin setelah mengambil sepucuk surat di atas ayunan putih.
__ADS_1
"Nona kenapa berada di luar malam-malam seperti ini?" seorang satpam penjaga datang tiba-tiba mengagetkan Delina.
"Ah.. itu anu anu tadi aku kira melihat kucingku si putih, nampaknya aku salah melihat, aku akan kembali ke kamar" Delina memberi alasan sambil menyembunyikan surat di belakang punggungnya.
"Baik nona, kalau begitu saya akan lanjutkan penjagaan" Si satpam langsung permisi untuk kembali bertugas berkeliling rumah.
Delina segera kembali menuju kekamarnya takut Ibu tak menemukan dia disana, sambil sesekali membatin dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar Delina terus melangkah.
Sesampai di kamar dia merebah kasur lantas langsung membuka surat dan membaca isi surat dari pemain biola misterius itu. Sesekali senyum tersungging, sesekali sedikit melotot takjub selama dia membaca seksama dan berulang-ulang.
Isi surat (Sungai kecil yang mengalir itu adakah bermuara dihatimu? sebab pada alirnya ku layarkan sepotong rindu.)
Tersungging senyumnya setelah membaca bait isi surat itu, tiada daya apapun jua selain mengandai jauh ke awang-awang.
Delina tak pernah merasa seperti ini sebelumnya yang terlentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan suara biola yang mengalun indah membangkitkan gelora di jiwanya.
__ADS_1
Hingga cukup lama lah Delina terjaga sampai akhirnya terlelap dengan senyum yang masih tersungging. Aih sungguh senyumnya sangat manis kala itu.