
Jam tua di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 08:00 pagi, Matahari pagi setengah jalan merangkak keluar dan lebih tinggi.
Dika sudah sejak tadi beranjak dari tempat tidurnya, rutinitas pagi seperti biasa dia jalani dengan malas, suara radio mengisi setiap sudut rumah yang minimalis itu.
Rasa kantuk kini masih membekas di raut wajahnya, ingin sekali rasanya Dika kembali merebah kasurnya yang nyaman meskipun sekarang sedang berantakan. Namun dirinya masih ada janji, janji pada biola kesayangan untuk membawanya keliling pusat kota mencari sedikit peruntungan.
. .
Pagi itu keadaan sebuah taman di pusat kota cukup ramai, maklum hari libur banyak para pendatang berlalu lalang dengan berjalan kaki dan ada juga yang bersepeda menikmati suasana pagi yang sejuk karena pepohonan yang cukup rindang disana.
Dika sudah siap diposisi dengan berpegang pada biolanya, rasa kantuknya sekarang berganti dengan semangat yang menyala-nyala, alunan biola yang indah menghipnotis setiap pengunjung yang lewat. Sesekali mereka bertepuk tangan dan sesekali bersahut ria menikmati permainan yang luarbiasa indah itu. Untuk kesekian kalinya kantung uang yang dika bawa kembali terisi.
Entah sudah berapa lagu yang Dika mainkan tapi tak mengurangi antusias orang yang datang kemari untuk menonton, oh tentu saja kantung uangnya kini bertambah gemuk.
Matahari semakin tinggi, hawa panas mulai menyengat, untung saja posisi Dika berada di bawah pohon yang rindang dan teduh membuatnya tak terganggu sama sekali dengan sengatannya. Namun, rasa haus dan lapar sudah sejak tadi menyerang, membuat Dika harus menyudahi permainannya.
Setelah semua orang bubar Dika langsung menghitung uang di kantung sembari tersenyum membayangkan makanan apa yang pantas untuk mengganjal perutnya siang ini.
Tak disangka ada sekitar 3400 rupiah 8 perak disana, jumlah yang sangat-sangat banyak dari hari-hari sebelumnya, senyumnya tersungging sangat lebar sekarang.
Dika mampir ke salah satu kedai yang cukup ramai pengunjung, tempat favoritnya ketika lapar dan dahaga menyerang setelah lelahnya mengamen.
Dia sudah duduk di salah satu kursi, ada sebuah meja yang cukup panjang dengan di alasi kain tipis berwarna hitam dihadapannya. Setiap kursinya sudah terisi, suasana disana sangat ramai karena obrolan para pengunjung.
"Ya ya betul, disana pasti akan ramai sekali, tiket nya baru saja kemarin di jual tapi sekarang sudah habis tak tersisa" Beberapa pengunjung yang semuanya laki-laki berada duduk di samping Dika sedang asik mengobrol.
Terlihat dari setelan pakaian dasar bagus yang dikenakan, mereka menampilkan mode pekerja kantoran yang terkesan cukup eksekutif, lumayan membingungkan jika mereka mau makan di tempat seperti ini.
"Wah harusnya kau beritahu kami lebih awal agar kita kebagian tiketnya! sekarang mau bagaimana? tak cukup berasa hanya mendengarkan radio saja." protes temannya.
__ADS_1
"Tenang saja, kebetulan saudara ku seorang calo, aku sudah menitip beberapa tiket, tapi kalian harus membayar lebih untuknya" Kata salah seorang yang kelihatan paling cerdas diantara mereka.
"Wahh wahh saudaramu itu memang seorang berotak bisnis, pantas saja hidupnya enak"
"Hey.. kau tak perlu memujinya, itu semua ideku"
Sampai sini semua temannya terbelalak.
"Huh dasar licik, masa dengan teman sendiri kau masih minta bayaran lebih"
"Ah kalian ini seharusnya berterimakasih tiketnya masih ada yang menjual" Obrolan mereka masih terus berlanjut dan semakin memanas.
Dika yang memperhatikan cukup penasaran dengan apa yang dia dengar, setidaknya dia mau tau acara seperti apa yang begitu membuat antusias orang-orang ini.
Akhirnya dia membuka suara "Mohon maaf tuan, boleh saya tau acara apa itu?" Dika bertanya kepada salah seorang diantara mereka dengan suara setengah berbisik agar tidak merusak suasana obrolan mereka, tapi dapat di dengar jelas olehnya.
Mata Dika seketika terlihat berbinar seperti bintang yang berpendar, tidak melanjutkan pertanyaan ataupun mengacuhkan mereka.
Dika tenggelam dalam imajinasinya, imajinasi yang tak tau mengapa terlintas secara kasat mata. Dia mulai memikirkan berbagai hal.
Pertama dia ingin membeli 2 tiket, yang satu untuknya dan satunya entah untuk siapa. Kedua dia ingin menulis sebuah surat entah tertuju pada siapa.
Matahari semakin tinggi dan semakin terik saja, setelah habis dengan santap siangnya Dika sudah nyelonong keluar kedai dengan penuh semangat.
Sebelumnya dia sudah meminta pada orang yang duduk di sampingnya tadi agar memesankan 2 lembar tiket untuknya seraya memberikan uang sedikit berlebih untuk memastikan bahwa Dika akan menemuinya besok di tempat dan jam yang sama.
. . .
"Kenapa kamu pulang sendirian semalam, bukankah seharusnya kamu bersama Roy?" Sri Sujatmi bertanya setelah meletakkan makanan di atas meja.
__ADS_1
Delina sejak tadi duduk di depan meja makan seraya mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya.
Mendengar pertanyaan itu, hilang sudah nafsu dahaga dan lapar yang sebelumnya dia rasakan. Sejak tadi menunggu disana bukan pertanyaan seperti itu yang siap Delina dengar.
"Ibu.. apa harus kita bahas sepagi ini...lagi? apakah tidak bosan setiap kali harus nama Roy Roy Roy yang kita bahas seperti tak ada topik lain saja!"
"Anak ini... ibu bukannya mau ikut campur, tapi jika saja ayahmu tau hal ini, bisa repot sendiri kamu nantinya"
Sang ibu baru saja duduk di meja makan, sengaja berhadapan dengan anaknya itu agar lebih enak mengobrol.
"Nah terus kalau ibu tak tau duduk perkaranya, bisa apa ibu jika mau membela anak kesayangan ibu ini?"
"Ibu tak usah khawatir, aku sudah kebal ocehan ayah, paling juga kalau ayah marah, aku masuk kamar lama sedikit sudah reda juga amarahnya" Delina berkata sambil menyendok sarapannya.
"Ya sudah, ibu tidak mau terlibat ya..."
Akhirnya kedua ibu anak itu sarapan dengan hanya berdiam, tidak melanjutkan bahasan sampai sarapan selesai.
Suasana cukup sepi pagi itu karena si bungsu tidak nimbrung di meja makan. Apalagi kerjaannya hari libur begini selain tidur sepanjang hari, capek katanya karena hari lain padat kegiatan.
Delina yang sudah selesai sarapan langsung membantu ibunya merapikan meja makan, bahkan berinisiatif untuk membantu mencucikan piring dan gelas kotor.
Melihat itu, ibunya mengangkat alis seolah tak percaya "Eh tumben sekali, sudah jadi anak baik rupanya hhe.."
"Memangnya selama ini ibu menyelundupkan anak seorang kriminal?" jawab Delina sambil tersenyum.
"Hahaha kamu ini bisa saja kalau menjawab, persis seperti ayahmu"
"Enak saja, jangan samakan aku dengan ayah, setidaknya aku akan lebih setia dengan satu orang"
__ADS_1