
Suasana yang cukup ramai di alun-alun, banyak dari kalangan remaja dan ada juga dari pasangan yang sudah menikah. Suasana yang canggung membuat Cita dan Pras terdiam, mereka hanya melihat orang yang berlalu lalang di depan mereka. Pras pun berusaha menetralisir perasaannya sendiri.
"Cita makan yuk.", ucap pras sambil beranjak dari duduknya Dan menghadap Cita.
Cita pun mengalihkan fokusnya ke Pras yang beranjak, "mau makan apa pras? aku gk lapar . " ucap Cita malu-malu.
"apa aja yang penting makan, ya kali aku ajak anak orang jalan gak aku kasih makan." balas Pras sambil tertawa, dan pras pun menggandeng tangan Cita untuk mengajaknya makan.
mereka berhenti dipenjual sosis bakar di pedagang yang berjualan di pinggir alun-alun. Cita yang sedari tadi ditawari makan nanun menolak karna ia memang tidak lapar dan ia masih malu dengan pras. pras memesan sosis bakar 1 porsi namun sosisnya cukup banyak untuk ukuran 1 porsi dan minuman cappuccino cincau. (bukannya dia ngirit y tp memang biar agak terkesan romantis lah, hhhe)
Pras berusaha mengajaknya makan dengan menyodorkan sosis ke dekat mulut Cita, akhirnya Cita pun memakannya karena tidak enak sedari tadi menolak.
Baru Cita memakan 3 suap sosis bakar dia merasa kepedesan.
"haah pedesss." ucap Cita mukanya sudah memerah, sambil mengibas-ibaskan telapak tangan di dekat mulutnya.
"Minum ini Cita." ucap Pras sambil menyodorkan cappuccino cincau ke mulut Cita. Cita pun segera meminumnya.
Pras kemudian menambahkan kecap pada sosis dipiringnga agar lebih manis dan mengurangi pedas, agar Cita masih bisa tetap memakannya.
Tak terasa jam sudah menunjukan jam 9 malam Pras pun segera mengantar Cita ke asrama.
Setibanya mereka di depan gerbang asrama, mereka saling melempar senyum.
" udah sana masuk, udah malam nih. " ucap Pras sambil tersenyum.
"emm baiklah, aku masuk. " balas Cita, kemudian membalikkan badan dan berjalan pelan ke asrama.
Tiba-tiba Cita membalikkan badan dan masih mendapari Pras di depan gerbang yang masih melihat ke arahnya.
Cita pun tersenyum, " hati-hati di jalan kak. " ucap Cita, sambil melambaikan tangan. kemudian ia berlari masuk ke asrama.
Setelah kejadian itu mereka serving berkomunikasi via chat dan telfon, dan sesekali mereka video call. mereka menjadi lebih dekat, saling mengenal satu sama lain. Mereka meluangkan waktu masing-masing jika hari libur tiba, menyempatkan untuk bertemu.
Tak terasa 2 bulan sudah berlalu, Cita sekarang sudah kelas 9 ia sudah mulai sibuk dengan tugas sekolahnya.
Saat Cita sedang belajar di kamar asramanya terdengar hpnya berbunyi di dekat buku belajarnya.
__ADS_1
ting ting!!
Cita melirik hpnya sebentar namun mengabaikannya. Tak lama hpnya berbunyi lagi. kemudian Cita meraih hpnya dan membuka pesan tersebut.
Kak pras
gadis manis sedang apa?
Kak pras
sibuk tidak?
Cita
sedang belajar kak,
gak sibuk kok.
chat pun berlanjut. Pras mengajak Cita bertemu sepulang sekolah, pras akan menunggu digerbang sekolah Cita, karena ada yang mau pras bicarakan dengan Cita.
Tibalah hari mereka akan bertemu.
tettt tettt tetttttt
bel pun berbunyi menunjukan waktunya pulang. Cita pun memasukkan buku-bukunya dan alat tulis ke dalam tas. kemudian bergegas keluar kelas bersama sahabatnya Nasya. Sesampainya di gerbang nasya sudah di jemput untuk pulang. Cita berjalan ke tempat tunggu dekat gerbang, dilihatnya disana Pras sudah menunggu.
Pras pun tersenyum melihat Cita mendekat kearahnya. Pras memakaikan helm untuk Cita.
"ya ampun kenapa aku deg-degan gini, gk enak banget pengen pulang aja rasanya". ucap Cita dalam hati.
Pras membawa Cita ke alun-alun Kota, setibanya disana mereka duduk di dekat taman bunga. Cita hanya diam, melirik ke arah pras pun tak berani karena perasaannya sedang tak karuan.
"ta, ada sesuatu yang mau aku bicarakan." ucap pras dengan suara pelan.
Ucapan pras membuyarkan lamunan Cita, Cita yang terkejut reflek menoleh kearah pras.
" hemm, mau bicara apa kak?" Tanya Cita.
__ADS_1
Pras yang mungkin agak gugup, berusaha menetralkan perasaannya, ia menghembuskan nafas keras sebelum memulai bicaranya.
" Cita, aku sudah lama mengagumimu sebelum aku lulus kelas 9, aku diam-diam mempwrhatikan mu dari jauh, namun aku dulu merasa kamu belum mengerti hal-hal tentang cinta kamu masih gadis yang polos, aku urungkan niatku untuk mendekatimu, semakin lama aku semakin kagum, setiap kali aku melihatmu dadaku berdebar aku merasa bahagia disaat melihat senyummu. Pada awalnya aku tak menyadari perasaan itu, sampai suatu hari aku menyadari bahwa aku menyukaimu. Namun saat itu sudah dekat di hari perpisahan kelulusanku, aku bertekat untuk mendekatimu dengan meminta kontakmu, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan." ucap Pras, dengan pandangan lurus kedepan tanpa menatap Cita.
Cita hanya menundukan wajahnya, semakin dada Cita berdebar mukanya sudah merah menahan malu.
Tak lama Pras memandang ke arah Cita, dilihatnya gadis itu menunduk dengan wajah yang sudah merah seperti tomat.
bwahahaha...
Pras tertawa melihat Cita yang sedang menahan malu. ia juga berusaha memecahkan keheningan.
Cita yang tadinya menunduk saja kaget mendengar Pras yang tiba-tiba tertawa, ia melihat pras yang tawanya sudah mulai reda.
"kakak kenapa ketawa?" Tanya Cita, sambil menatap Pras dengan heran.
"kamu lucu Cita manis, pipimu merah seperti tomat." ucap pras sambil tersenyum.
reflek Cita menutup muka dengan kedua telapak tangannya. " iiih kakak jangan ketawain aku. " ucap Cita.
"iya Cita manis, sudah jangan tutup wajah imutmu itu, tak usah malu kita kan sudah sering bertemu." ucap Pras, sambil memegang tangan Cita dan menarik pelan agar tak memutupi wajahnya lagi.
di genggamnya kedua tangan Cita, pras dengan wajah serius, Cita yang masih saja menundukkan kepala.
"Cita, aku sayang sama kamu, mau gak kamu jadi pacar aku? " Tanya Pras dengan menatap Cita.
dalam hati Cita, " aduuh kenapa mendadak sih, bingung aku tuh. tapi disisi lain aku senang banget."
"Cita." panggil pras untuk menyadarkan Cita yang sedari tadi tak menjawab.
Cita pun menoleh ke adah pras, mata mereka saling bertemu.
"mau gak jadi pacar aku?" Tanya pras dengan suara pelan.
Cita mengganggukan kepalanya pelan, pipinya pun memerah lagi.
pras merasa bahagia dengan jawaban Cita ia pun tersenyum, dia gemas melihat Cita pipinya memerah lagi. tiba- tiba pras mencium pipi Cita.
__ADS_1
Cup
Cita terkejut dengan perlakuan pras mata indahnya membulat.