
"Aaaaaaaa, kenapa sih jadi kaya gini. Ustadz yang sok ke gantengan itu bikin orang emosi aja" Adibah menghentakkan kakinya ke tanah sambil marah marah.
"AKU BENCI USTADZ ZAKIIIIII, AAAAAAAA" teriak Adibah sekuat kuat nya. Adibah mulai detik itu juga mengaggap Ustadz Zaki adalah musuh nya.
*
*
*
Tepat pada waktu 20 menit, Adibah menyelesaikan hukuman nya yang diberikan oleh Ustadz Zaki. Dia merasa pinggang nya terasa ingin patah menjadi dua bagian.
"Huft, akhirnya selesai juga. Gara gara Ustadz sok ganteng, pinggang ku rasanya mau patah" Adibah masih saja menggerutu kesal gara gara hukuman yang diberikan oleh Ustadz Zaki.
"Oh iya, aku harus segara kelapangan, kan tadi disuruh nemuin Ustadz sok ganteng itu dilapangan, kalau hukumannya udah selesai" kata Adibah. Dia pun bergegas menuju lapangan sebelum Ustadz zaki mengeluarkan tanduknya.
Adibah berlari menuju lapangan dengan tenaga sisanya. Saat Adibah sudah sampai di lapangan dia tidak melihat keberadaan Ustadz Zaki. Adibah pun duduk ditengah lapangan tanpa penutup kepala sama sekali, dia membiarkan panasnya sinar matahari mengenai kepalanya, tapi untungnya Adibah menggunakan hijab dan jangan lupa nafasnya yang saling berbalapan.
"Huft capek juga, mana aku belum sempet makan tadi saat istirahat. Keburu di panggil sama Ustadz sok ganteng itu" ucap Adibah dengan pelan dan sambil mengibas ngibaskan tangannya ke arah wajah dia.
"Oh iya, si Zizah kemana juga ya. Makanan aku kan ada di dia, mana sekarang haus sama laper lagi" tanpa disadari Adibah, sedari tadi dia berbicara sendiri pun terdengar oleh Ustadz Zaki. Ustadz Zaki tadi sedikit merasa kesal saat nama nya disebut sebagai Ustadz sok ganteng.
Tapi Ustadz Zaki juga merasa kasihan dengan Adibah yang kehausan dan kelaparan. Jadi Ustadz pun pergi sebentar, untuk membelikan Adibah roti dan air mineral dingin. Sebenarnya Ustadz Zaki tadi berada tidak jauh dari lapangan, tapi Adibahnya saja yang tidak melihat keberadaan Ustadz Zaki.
Saat Ustadz Zaki ingin memanggil Adibah, dia tidak sengaja mendengar ucapan Adibah dari dia yang memaki maki Ustadz Zaki hingga lapar dan belum sempat sama sekali tadi makan dan minum saat istirahat, karena keburu Adibah dipanggil.
Tidak lama kemudian Ustadz Zaki datang membawakan air mineral dan dua bungkus roti untuk Adibah. Ustadz Zaki pun menyodorkan itu semua arah Adibah.
Adibah terkejut saat ada air mineral dingin dan dua buah bungkus roti di hadapannya. Adibah merasa sangat senang sekali dengan muka cerianya, Tapi saat Adibah mendongakkan kepalanya dan melihat siapa orang yang memberikannya makanan dan minuman.
Tiba tiba saja wajah yang awalnya bahagia dan senang, kini berubah jadi wajah kesal, benci, tidak suka sama orang yang memberikannya itu semua.
"Nih ambil buat kamu. Kamu pasti lapar dan haus habis menyiram semua tanaman sayuran" Ustadz Zaki pun mengulurkan roti dan air mineral ke arah Adibah.
"Tidak usah, saya tidak lapar dan haus sama sekali Ustadz. Ambil saja buat Ustadz" Adibah menolak roti dan air mineral yang diberikan oleh Ustadz Zaki, walaupun sebenarnya dia ingin sekali makan roti dan air mineral yang dingin. Terlihat sangat segar sekali.
Dan saat Adibah menolak, tiba tiba saja suara perut Adibah berbunyi. Pertanda dia sangat lapar, Ustadz Zaki pun menahan tawa saat mendengar bunyi perut Adibah. Adibah merasa malu, tapi semua rasa malu itu tidak ia perlihatkan ke Ustadz Zaki.
Tapi rasa egois Adibah lebih besar dibandingkan rasa laparnya. Walaupun dia sudah ketahuan menahan lapar, tapi tetap saja Adibah membuat raut wajah biasa aja, seperti orang yang tidak menahan rasa lapar.
"Tidak papa, ambil saja ini untuk mu Adibah, saya tau kalau kamu itu sedari tadi menahan lapar. Tadi aja bunyi suara perut nya kan?" kata Ustadz Zaki.
"Itu karena perut saya sendang tidak baik baik saja sekali Ustadz" Adibah membantah bahwa dia sedang menahan lapar sedari di panggil sampai dia selesai menjalankan hukuman yang diberikan oleh Ustadz Zaki, karena kesalahannya.
__ADS_1
"Adibah ambil roti sama air mineral ini, cepet Adibah. Ini perintah dan termasuk hukuman buat kamu, kamu saya hukum untuk memakan ini juga atau kamu harus menyapu seluruh lapangan ini sendirian dengan menggunakan sikat gigi" Ustadz Zaki pun mengancam Adibah, agar dia mau mengambil roti dan air mineralnya.
' Mana ada hukuman dikasih makanan dan disuruh makan, baru kali ini aku liat hukuman disuruh makan, kalau nggak aku ambil. Masa iya aku harus nyapu lapangan pake sikat gigi, kapan selesainya coba. Emang nih Ustadz suka banget bikin aku emosi sama naik darah ' Adibah menggerutu di dalam hati. Dia sebenarnya merasa heran dengan sikap Ustadz Zaki, dia berfikir apakah Ustadz Zaki memiliki kepribadian ganda atau bagaimana.
Adibah masih belum mengambil roti dan air mineral yang berada di tangan Ustadz Zaki.
"Ini ambil cepet ambil rotinya Nur Adibah Hilya. Atau kamu mau saya tambahin lagi hukuman, yaitu menyapu lapangan ini dengan menggunakan sikat gigi?" Ustadz Zaki mengancam Adibah agar dia mengambil roti dan air mineral.
"Iya iya, sabar napa. Di roti ini nggak Ustadz kasih racun kan?" tanya Adibah dengan memicingkan sebelah matanya dan menatap curiga ke arah Ustadz Zaki.
"Ya Allah nih anak nggak percayaan amat, mana mungkin saya racunin kamu Siti Adibah" Ustadz Zaki pun mengelus dadanya karena tingkah Adibah. Adibah merasa kesal dengan nama nya di ubah jadi Siti.
"Ustadz Zaki yang ganteng dan terhormat, nama saya itu Nur Adibah Hilya. Bukan Siti Adibah paham?" Adibah pun membenarkan namanya. Ustadz Zaki pun menahan tawanya, saat melihat ekspresi Adibah yang kesal.
"Cepetan makan, kalau kamu keracunan paling nanti tinggal dibawa kerumah sakit aja atau klinik" ucap Ustadz Zaki dengan santai nya dan duduk disebelah kiri Adibah dengan jarak kurang lebih 3 meter.
Saat Adibah ingin memasukan rotinya kedalam mulut, tiba tiba saja langsung berhenti saat mendengar ucapan Ustadz Zaki.
"Nah kan, aku yakin makanan ini pasti udah dimasukin racun sama Ustadz. Jujur aja deh" ucap Adibah dengan kesal.
"Maaf, saya cuman bercanda Adibah. Ya sudah makan gih rotinya, kalau kamu kenapa kenapa setelah makan roti yang saya kasih ke kamu, saya yang akan tanggung jawab" jelas Ustadz Zaki.
Karena sudah menahan lapar sedari tadi. Adibah pun langsung melahap roti itu dengan cepat tanpa jeda, sehingga itu membuat dia tersedak. Dikarenakan makan terlalu cepat.
"Udah tau" jawab Adibah dengan cuek dan jutek. Adibah sebenarnya merasa malu dengan cara dia makan, yang sudah seperti orang dikejar guguk.
"Ya sudah lanjut aja makannya, saya mau ke ruangan saya dulu" Ustadz Zaki pun pamit. Adibah menjawab seperti biasa hanya berdehem saja dan langsung melanjutkan makannya.
*
*
*
Sekarang Adibah sudah balik ke asrama putri dan dia langsung saja masuk kedalam kamarnya. Adibah di asrama sekamar dengan sepupunya Azizah dan Meira teman baru Azizah dan Adibah.
Meira dan Aziza terkejut saat melihat baju Adibah yang basah banget kaya orang habis hujan hujanan, tapi Adibah bukan mandi hujan, melainkan dia mandi keringet.
"Ya ampun Dibah baju mu basah banget, udah kaya orang habis mandi ujan ujanan" ucap Meira. Aziza pun mengambilkan Adibah handuk dan tidak lupa mereka mengipas ngipas Adibah dengan benda di sekitar.
"Udah nggak papa Zizah, Mei. Aku ini juga mau mandi dulu, gerah banget" Adibah menyetopkan Meira dan Azizah agar tidak mengipaskan Adibah lagi.
"Dibah kamu udah makan belum?" tanya Azizah ke sepupunya itu. Adibah hanya menganggukkan kepala, pertanda ia sudah makan.
__ADS_1
"Kamu makan apa Dibah?" tanya Azizah lagi dengan sedikit cemas dan khawatir, sebab Adibah memiliki penyakit magh kronis. Jadi Azizah tidak mau terjadi apa apa sama Adibah.
"Makan roti dua bungkus sama air mineral doang, tapi masih laper aku Zizah" jawab Adibah dengan santai. Azizah sedikit kesel sama Adibah yang makan suka asal asalan.
"Ya udah sana kamu mandi duluan, nanti aku buatin makanan buat kamu" Adibah pun langsung pergi menuru kamar mandi, sedangkan Azizah dan Meira membuatkan Adibah makanan.
Sekitar 10 menit kemudian, Adibah pun sudah selesai mandi dan makanan untuk Adibah juga sudah selesai dan sudah di siapkan oleh Azizah dan Meira.
"Wahh, wangi banget masakannya. Bikin aku tambah laper banget" Adibah memuji masakan Azizah dan juga Meira, yang memang kelihatannya sangat sederhana. Tapi itu sangat menggugah selera nya.
"Ya udah cepet sini makan" ucap Azizah. Adibah pun mendekat ke arah makanan dan dia mulai melahap makanan yang dibuat oleh Azizah dan Meira saat Adibah sedang mandi tadi.
"Kan bener tebakan aku, ini sangat enak sekali" Adibah sangat suka masakan dari Azizah dan Meira. Azizah dan Meira tersenyum saat melihat Adibah makan dengan begitu lahap nya.
Adibah pun kembali fokus ke makanannya.
"Dibah kamu tadi kenapa dipanggil? tanya Azizah yang merasa penasaran, kenapa Adibah dipanggil ke ruangan para Ustadz dan Ustadzah.
Adibah masih lanjut makan dan belum sama sekali menjawab pertanyaan dari Azizah. Tidak ada percakapan lagi setelah pertanyaan Azizah yang belum dijawab oleh Adibah. Setelah Adibah menyelesaikan makannya, Adibah pun menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Azizah.
"Aku dihukum" ujar Adibah setelah dia selesai minum dan makan
"Kok bisa kamu dihukum Dibah, kamu buat masalah apa sih emangnya?" Azizah sudah mendebak dari awal Adibah di panggil untuk di suruh pergi ke sumber suara tadi.
"Kamu inget nggak pada saat kita keliling terus aku ilang itu ternyata aku ke toilet?" tanya Adibah balik, dan bukannya dia menjawab pertanyaan Azizah. Azizah pun membenarkan ucapan Adibah.
"Sebenernya pas ke toilet itu, aku salah masuk toilet. Aku bukannya masuk ke toilet perempuan malah masuk ke toilet laki laki" jelas Adibah, sambil cengengesan ngeselin.
"Ya ampun Adibah, kamu emang nggk liat liat dulu atau kamu sengaja sih?" Azizah merasa kesal dengan kelakuan Adibah. Meira menahan tawa saat mendengar penjelasan Adibah dengan muka yang ngeselin dan membuat Azizah kesal.
"Aku mah tadi lagi bodo amat aja, soalnya udah kebelet banget untuk buang air kecil. Jadi aku cari toilet yang posisinya paling deket sama aku, nah kebetulan toilet yang salah aku masukin itu lebih deket sama aku" dan penjelasan Adibah kali ini sontak membuat tawa Meira pecah dan sudah tidak tertahankan lagi.
"Pantesan kamu dihukum Adibah, terus kamu dikasih hukuman apa tadi sama Ustadz yang manggil kamu?" tanya Azizah lagi.
"Padahal aku udah minta maaf loh, tapi masih aja dihukum sama tuh Ustadz. Ngeselin banget kan tuh Ustadz sok ganteng" Rasa kesal Adibah pun kembali muncul, saat mengingat Ustadz Zaki yang selalu bikin Adibah kesal.
"Udah udah jangan bahas Ustadz itu lagi, ayo sekarang kita ke taman aja sambil liat liat" Adibah pun mengajak Azizah dan Meira ke taman untuk melihat indahnya sore hari dan sejuknya udara saat sore hari.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalin jejak dengan cara like, rat🌟5, komentar, vote, dan satu lagi biar nggak ketinggalan update untuk bab selanjutnya. Tambahin ke list favorit cerita kalian.
Bye bye, sampai ketemu lagi di bab selanjutnya👋
__ADS_1