Kisah Cinta Anak Pesantren

Kisah Cinta Anak Pesantren
Bab 3


__ADS_3

Kini Adibah, Azizah, dan Meira sedang duduk di kursi panjang yang ada di taman sambil menatap langit di sore hari dengan udara yang sangat sejuk.


"Bagus ya langitnya kalau sore sore kaya gini, aku punya mimpi dari kecil ingin melihat sunset di tepian pantai bersama orang yang akan menjaga ku selamanya dia juga bisa menerima aku dengan apa adanya" kata Adibah sambil memandang langit dan tersenyum.


Azizah dan Meira menjadi pendengar yang baik saat Adibah bercerita tentang ke inginannya.


"Tapi aku rasa tidak akan mungkin tercapai mimpi ku itu" Adibah putus asa, karena dia merasa itu semua tidak akan mungkin terjadi pada dirinya.


"Kenapa gitu Dibah?" tanya Meira. Adibah tersenyum dan tertunduk, karena dia tidak pernah merasakan yang namanya cinta dan bahkan saat dia menyukai seseorang, pasti orang itu menjauh dari Adibah.


"Entah kenapa, aku pernah menyukai seorang laki laki yang bernama Maxime, waktu aku kelas VllI SMP. Tapi laki laki yang aku suka itu adalah kakak kelas ku, dia waktu itu duduk di bangku SMP kelas IX. Entah kenapa laki laki itu selalu saja menjauh dari ku saat aku ingin kenal dekat dengannya. Dia selalu saja menghindar dari ku" jelas Adibah sambil menunduk.


Azizah dan Meira pun memberikan Adibah kekuatan, mereka berdua jadi kasihan melihat Adibah seperti ini. Azizah dan Meira berfikir kenapa laki laki tidak ada yang mau sama Adibah, bukan tidak mau sih. Tapi lebih ke menjauh dan menghindar dari Adibah.


' Apa kurang nya dari Adibah, cantik? kalau masalah itu, tidak usah diragukan lagi. Adibah adalah gadis yang sangat cantik dan Adibah juga menggunakan hijab. Baik hati? Adibah juga baik hati, dia selalu membantu orang yang sedang ke susahan ' ucap Azizah dalam hati, Azizah berfikir sambil menepuk nepuk pundak Adibah.


' Apa lagi coba yang kurang dari Adibah? apa mereka takut dengan kelakuan nakal dan jahilnya Adibah? itu sangat bisa jadi ' Azizah pun berfikir bahwa mungkin para laki laki yang Adibah suka, takut dengan kelakuan nakal dan jahil Adibah.


"Sudah lah Dibah, ayo kita masuk saja udah mau maghrib ini. Kita siap siap buat ke musholla, ayo cuci muka mu dulu ke toilet sana" Adibah hanya mengangguk dan langsung pergi menuju toilet untuk mencuci muka, agar mata sebab Adibah tidak terlalu terlihat.


Selama perjalanan Adibah selalu saja murung, dia seperti tidak ada gaira hidup, apa lagi saat mengingat laki laki yang bernama Maxime adalah orang pertama yang bisa membuat hati Adibah berdetek tak karuan.


Dengan ketidak fokusan Adibah sepanjang jalan, tiba tiba saja dia tidak sengaja menabrak orang yang sedang berjalan dan ingin pergi menuju musholla untuk shalat maghrib berjamaah.


"Awww, kalau jalan itu hati hati" bukannya orang yang ditabrak Adibah yang marah, ini malah sebaliknya Adibah yang marah marah ke orang itu. Orang yang ditabrak Adibah merasa sedikit kesal, aturan dia yang marah ke Adibah tapi ini malah Adibah yang marah marah ke dia.


"Kenapa jadi kamu yang marah, aturan kan saya yang marah ke kamu?" tanya laki laki yang Adibah tabrak.


"Gimana saya nggak marah, kan kamu yang nabrak saya, bukan saya yang nabrak kamu" ucap Adibah dengan nada kesal nya. Laki laki yang ditabrak Adibah mulai kesal dengan kelakuan Adibah.


"Adibah" saat panggilan nama itu keluar dari mulut laki laki yang Adibah tabrak itu, tiba tiba saja Adibah ingat bahwa itu adalah suara dari Ustadz Zaki.


"Heheheh Ustadz, maaf Ustadz saya mau ke toilet dulu mau cuci muka" pamit Adibah, saat Adibah ingin pergi tiba tiba saja Ustadz Zaki memanggilnya dan dengan reflek Adibah berhenti.

__ADS_1


"Awas jangan salah masuk toilet lagi" setelah mengucapkan itu, Ustadz Zaki pun langsung pergi menuju musholla untuk menunaikan ibadah shalat maghrib berjamaah.


Adibah yang mendengar kata kata Ustadz Zaki tadi merasa kesal, dan rasanya dia ingin melempar Ustadz Zaki dengan batu dan sendal.


"Ya Allah, kalau bukan dia Ustadz aku. Udah ku lempar batu sama sendal ku ke muka dia" kata Adibah.


"Sabar Dibah sabar, kamu harus sabar untuk menghadapi Ustadz sok ganteng itu. Tunggu aja Ustadz pembalasan ku nanti" kata Adibah.


Adibah pun langsung pergi ke toilet untuk mencuci muka dan setelah selesai mencuci muka dia kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil mukenah miliknya lalu pergi ke musholla bareng sama Azizah dan Meira.


Selama perjalanan menuju musholla mereka bercerita banyak hal dan ada sedikit tawa dan canda yang dibuat oleh Meira dan Adibah. Tidak terasa kini Adibah, Azizah, dan Meira sudah sampai di musholla.


Mereka pun langsung masuk dan mengambil barisan nomor 2 sebagai tempat shalat mereka. saat mereka sudah sampai dan duduk, Azan maghrib pun berkumandang.


Adibah takjub saat mendengar kumandang Adzan yang sangat indah, dia baru kali ini mendengar kumandang Adzan yang bisa membuat dia merinding saat mendengarnya.


"Indah sekali suara kumandang Adzan nya, siapa sih yang Adzan bangus banget. Masyaallah" Adibah bertanya ke Azizah dan Meira.


"Mana ku tau Dibah, coba kamu liat sendiri" ujar Azizah. Adibah pun langsung berdiri dan melihat siapa yang mengumandangkan Adzan sebagus itu, tapi pada saat Adibah ingin melihat siapa yang Adzan malah di tutupi oleh tubuh salah seorang santriwan.


"Aku nggak bisa liat orangnya Zah, Mei" ulangnya lagi, saat dia sudah duduk di tengah tengah Azizah dan Meira. Tapi sekarang Meira yang berdiri untuk melihat siapa orangnya.


Meira pun berdiri dan ingin melihat siapa orangnya. Saat dia sudah berdiri, kebetulan sekali orangnya berbaik menghadap ke arah belakang. Betapa terkejunya Meira saat melihat orang yang mengumandangkan Adzan yabg sangat indah dan merdu.


"Masyaallah, betapa indahnya ciptaan mu itu" kata Meira, Azizah dan Adibah jadi penasaran siapa orang itu. Setelah puas menatap wajah tampan orang itu, Meira pun kembali duduk di sebelah kiri Adibah.


"Ya Allah, tau nggak siapa orangnya?" tanya Meira ke Azizah dan Azizah. Adibah dan Azizah menggeleng kan kepala mereka, yang berarti mereka tidak tau.


"Ihh si Mei mah, kenapa jadi kamu yang nanya" ucap Adibah dengan sedikit kesel. Meira hanya cengengesan saat dengar protesan Adibah.


"Hehehehe, yang Adzan tadi itu Ustadz Zaki. Masyaallah gantengnya bikin kaum hawa mau milikin dia" kata Meira dengan histeris. Ekspresi Adibah berubah saat tau siapa orang yang mengumandangkan Adzan hingga seindah itu.


Dan Adibah hanya berOria saja, tidak ada tanggapan lain selain O. Tidak seperti awal tadi saat ia belum tahu siapa orang yang mengumandangkan Adzan, yang dimana Adibah super depuer heboh.

__ADS_1


"Cuman O doang tanggapan kamu Dibah?" tanya Meira, dia berfikir mungkin dia salah pendengaran saat tau tanggapan Adibah cuman berOria saja, dab tidak lagi histeris kaya orang kesurupan.


"Iya, udah ayo siap siap bentar lagi shalat maghrib nya udah mau dimulai" Adibah mengalihkan pembicaraan dari Meira yang masih heran dengan dirinya yang tiba tiba berubah.


Meira hanya menganggukkan kepala. Mereka bertiga pun langsung bersiap siap untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaahnya. Dan yang jadi Imam nya tidak lain dan tidak bukan, itu adalah Ustadz Zaki.


Mereka semua pun shalat dengan khusyuk nya. Setelah selesai shalat maghrib semua santri kembali ke kamarnya masing masing, tapi pada saat Adibah mau mengambil sendalnya, tiba tiba saja sendal milik Adibah hilang entah kemana.


"Ayo Dibah" Azizah pun memanggil Adibah, dan mengajak Adibah untuk cepet kembali ke kamar milik mereka bertiga. Adibah masih kebingungan mencari sendal milik nya.


"Kalian duluan saja, aku masih nyari sendal ku. Mungkin sendalnya ada di pojok sebelah sana, nanti aku menyusul" Adibah menyuruh Aziazah dan Meira untuk kembali terlebih dahulu ke kamar mereka. Azizah dan Meira hanya mengangguk.


"Ya Allah, kemana lagi sendal punya ku. Perasaan tadi aku naro tuh sendal ada di pojok deket pot bunga ini, tapi kok sekarang nggak ada ya. Masa iya ada yang nyolong sendal punya ku" ucap Adibah sambil mencari sendalnya di sela sela pot tanaman.


"Kenapa belum kembali ke kamar?" tanya Ustadz Zaki, saat ia ingin kembali ke kamarnya. Adibah pun berhenti sejenak, dan melihat Ustadz Zaki. Setelah itu, dia melanjutkan lagi mencari sendalnya.


"Kamu sedang mencari apa Adibah?" tanya Ustadz Zaki lagi, tapi Adibah tidak ada niat untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Ustadz Zaki. Adibah hanya bungkam dan fokus mencari keberadaan sendalnya.


"Adibah kamu denger nggal sih, dari tadi saya nanya ke kamu?" Ustadz Zaki mulai sedikit kesal dengan Adibah. Adibah pun langsung berhenti dan melihat ke arah Ustadz Zaki.


"Saya lagi nyari sendal saya, puas?" Adibah mulai terbawa emosi. Kemudian dia pun melanjutkan mencari sendalnya lagi.


"Udah stop jangan di cari lagi, nih lebih baik kamu pake sendal saya saja. Dari pada nyari nyari, tapi ujung ujungnya nggk ketemu sama aja boong" Adibah tidak menanggapi ucapan Ustadz Zaki.


"Adibah, ya Allah. Masih aja nyari sendal, kamu lebih baik pake sendal saya saja Adibah, kamu paham nggak sih?" kata Ustadz Zaki.


"Nggak usah Ustadz, saya nyeker aja ke kamar. Saya permisi dulu Ustadz, Assalamu'alaikum" Adibah pun dengan terpaksa kembali ke kamarnya tidak menggunakan sendal sama sekali.


"Wa'alaikumsalam" jawab Ustadz Zaki. Sebenernya Ustadz Zaki heran dengan sikap Adibah, dia merasa bahwa Adibah sangat membenci dirinya. Entah apa salah dia sampai Adibah membencinya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalin jejak dengan cara like, rat🌟5, komentar, vote, dan satu lagi biar nggak ketinggalan update untuk bab selanjutnya. Tambahin ke list favorit cerita kalian.

__ADS_1


Bye bye sampai ketemu di Bab selanjutnya👋


__ADS_2