Kisah Cinta Anak Pesantren

Kisah Cinta Anak Pesantren
Bab 5


__ADS_3

Jam 06.30 WIB, semua santri sedang bersiap siap untuk pergi sekolah dan sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh juru masak di pesantren. Semua santri juga sudah berada di tempat makan, mereka sudah mengambil sarapan mereka masing masing.


Setelah selesai dengan sarapan, mereka langsung pada kembali ke kamar masing masing, untuk menyiapkan peralatan sekolah mereka hari ini. Begitu juga dengan ketiga santri yang selalu kemana mana bersama.


Sekarang Adibah, Azizah, dan Meira sudah siap semua, mereka tinggal pergi menuju kelas mereka. Kelas Meira dan Adibah berbeda, keduanya tidak sekelas, tapi Azizah dan Adibah sekelas.


Selama menuju kelas, mereka bertiga selalu bercanda sepanjang jalan. Sampai sewaktu waktu ada salah seorang santriwan yang menyapa Adibah, Meira dan Azizah di perbatasan antara santriwan dan santriwati, sebenarnya yang di sapa itu Adibah.


"Hai" sapa laki laki itu, kalau dilihat lihat laki laki itu juga santri baru sama seperti dirinya. Adibah dan Meira tidak menanggapi apa apa, tapi Azizah membalas sapaan hanya dengan menganggukkan kepalanya, sampai Meira pun menegur laki laki itu.


"Kalau mau sapa orang itu pake, Assalamu'alaikum, bukan hai. Ini Pesantren bukan mall. Dan satu lagi matanya jangan jelalatan, biasa aja liatnya" Azizah dan Adibah hanya menahan tawa saja, saat Meira mengoreksi santriwan yang menyapa mereka tadi.


"Udah udah Mei, ayo kita lanjut aja" ajak Azizah. Ketiga nya pun pamit dan langsung pergi dari hadapan laki laki yang menyapa tadi.


"Ehh, belum juga kenalan udah pergi aja. Tapi yang satunya galak banget tuh cewek, udah kaya harimau betina mau nerkam" kata laki laki yang di tegur oleh Meira tadi.


"Udah lah, lain kali aja kenalan lagi. Siapa tau nanti pertemuan berikutnya, aku bisa tau nama cewek yang berdiri di tengah itu. Cantik, dan keliatannya jutek banget, tapi nggak papa" ucap laki laki itu, sambil membayangkan wajah cantik Adibah.


Laki laki itu pun langsung pergi, setalah rombongan Adibah sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Dia juga berharap pertemuan kedua nanti dia bakalan tau siapa nama cewek yang dia incer.


*


*


*


"Galak banget kamu Mei, nanti kalau kamu nya galak galak sama cowok nggak laku gimana" kata Azizah, sedangkan Adibah hanya mengangguk setuju dengan perkataan Azizah.


"Sok tau kamu Zah, jodoh, maut, rezeki, itu ada di tangan Allah bukan ditangan kamu" sahut Meira dengan bangganya atas perkataan Azizah tadi.


"Tumben pinter" celetuk Adibah, Meira pun melirik ke arah Adibah dengan muka masamnya. Azizah dan Adibah tertawa saat melihat ekspresi dari Meira, saat di bilang 'Tumben Pinter' oleh Adibah tadi.


"Aish, aku pinter mah udah dari dulu kali" Meira tidak mau kalah dengan ucapan Adibah tadi, dia pun membalas perkataan Adibah.


"Mana aku tau, iya kan Zah. Kita kan baru kenal kemaren pas baru masuk sini" Meira merasa dia di bodohin oleh kedua sepupu itu, yang sedang tertawa saat melihat dirinya.


Meira pun merajuk, dia berjalan terlebih dahulu. Dia mendahului Adibah dan Azizah dengan sedikit hentakan kaki. Adibah dan Azizah merasa senang saat melihat Meira yang merasa kesal dengan ulah dirinya dan Azizah.

__ADS_1


"Yah ngambek dah tuh anak, kamu sih Dibah" Azizah pun melayalahi Adibah yang membuat Meira jadi merajuk. Adibah tidak terima di salahin oleh Azizah, dia tau kalau dia salah. Tapi kan Azizah yang notabennya sepupunya juga ikut ikutan.


Sepanjang jalan Azizah dan Adibah berdebat gara gara masalah Meira tadi. Meira yang di depan mendengat sedikit perdebatan dari kedua sepupu itu pun berbalik dan jalan ke arah Azizah dan Adibah.


"Kalian kenapa jadi berantem sih?" tanya Meira dengan wajah bingung. Keduanya tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Meira. Mereka berdua hanya diam dan tidak dan yang membuka suara.


"Jawab nggk, kalau nggak ada yang jawab aku nggak mau jadi temen kalian berdua lagi, biarin aja" Meira mengancam Adibah dan Azizah, agar keduanya membuka suara, bukannya hanya diam.


"Zizah tuh nyalahin aku tadi, padahal dia juga ikut ikutan ngatain kamu. Tapi ini malah aku sendirian yang disalahin, kan nggak adil" akhirnya Adibah membuka suara, dan dia membela diri.


"Tapi aku nggak ngatain yang buat Mei ngambek sama kita, kan yang buat Mei ngambek emang kamu. Gara gara kata kata kamu tadi dia ngambek sama kita, ya pantes dong aku nyalahin kamu" Azizah juga membela dirinya sendiri. Dia juga tidak mau di salahin, karena ini bukan salah dia.


Meira pun tertawa saat mendengar penjelasan dari Adibah maupun Azizah. Kedua sepupu itu melihat ke arah Meira yang tertawa terbahak bahak, entah lah apa yang sedang di tertawakan oleh Meira, sehingga membuat dia tertawa.


Adibah dan Azizah kebingungan, menurut mereka berdua tidak ada yang lucu. Tapi apa yang membuat Meira jadi tertawa terbahak bahak, sudah seperti orang kemasukan jin.


"Mei, kamu baik baik aja kan. Nggak lagi kerasukan kan?" tanya Adibah dengan khawatirnya, dia takut Meira kerasukan penunggu sekitar pesantren.


"Wehh, aku baik baik aja nggak kerasukan apa pun. Aku ketawa itu , gara gara kalian berantem gara gara aku ngambek sama kalian berdua. Padahal aku nggak marah atau pun ngambek sedikit pun, aku cuman mau ngerjain kalian berdua aja kok" jelas Meira, dan setelah menjalankan itu, Meira pun kembali tertawa lagi.


Dan langsung saja menyusul kedua temannya itu, yang mereka sepertinya merajuk gara gara di kerjain olehnya. Dan Juga membuat Adibah sama Azizah perdebatan sepanjang jalan.


"Dibah, Zizah, kok aku ditinggal sih ih kalian gitu banget sama aku. Nanti kalau aku diculik gimana, kalian nggak akan punya temen kaya aku lagi loh, yang baik, cantik dan juga manis" kata Meira sambil berjalan di belakang Azizah dan Adibah yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Adibah dan Azizah hanya menjawab perkataan Meira tadi 'Botok Amat', sebab kedua nya kesal oleh kelakuan Meira yang ngerjain keduanya. Jadi Adibah maupun Azizah merasa kesal banget sama dia.


"Ihh, kalian gitu banget. Maaf lah, kan cuman bercanda" Meira meminta maaf ke Adibah dan Aziza dengan muka melasnya, agar di maafkan oleh keduanya.


Kedua orang yang dikerjai oleh Meira kesel itu, sehingga tidak ada yang menanggapi perkataan dari Meira, karena masih kesal dengan Meira. Meira terus berusaha meminta maaf ke Adibah dan Azizah.


"Maaf lah, aku kan niatnya cuman mau bercanda tadi. Maaf jangan gitu lah sama aku, ayo kita baik kan" Meira merasa bersalah dengan Adibah dan Azizah, walaupun Meira sudah minta maaf ke Adibah dan Azizah. Tapi baik Adibah maupun Azizah tidak ada satu pun yang membalas permintaan maaf Meira.


"Maaf ya, aku tadi nggak maksud loh buat bikin kamu sama Azizah berantem. Aku aja tadi nggak akan tau kalau akhirnya kamu sama Azizah bakalan berantem, aku nggak akan bercanda kaya tadi" jalas Meira sambil tertunduk selama berjalan di belakang keduanya.


"Kalau nggak mau maafin aku nggak papa, aku emang pantes nggak dapat maaf dari kamu. Ya udah makasih udah mau jadi temen aku sehari, kalian berdua itu terlalu baik buat jadi temen aku" Meira pun menyerah meminta maaf ke Azizah dan Adibah, dia lebih baik mengalah.


"Kalau aja aku tau kejadiannya bakalan jadi kaya gini, aku nggak akan ngerjain kalian berdua. Sekali lagi terimakasih udah mau jadi temen ku, aku merasa bahagia deket kalian berdua. Oh iya, nanti aku juga mau nelpon Papa sama Mama aku, buat jemput aku. Aku minta pindah pondok pesantren sama mereka" Meira pun mengambil keputusan untuk pindah pondok pesantren.

__ADS_1


Tiba tiba saja Adibah dan Azizah berhenti berjalan, saat mendengar bahwa Meira akan pindah pondok pesantren. Azizah dan Meira juga ada rasa bersalah terhadap Meira.


"Nanti kalau aku udah pindah kalian harus yang akur ya, jangan terlalu banyak berantem. Kalian harus jaga diri kalian baik baik, makannya harus tepat waktu" tidak terusan buliran bening keluar dari pelupuk mata Meira.


"Walaupun kita baru kenal sehari, tapi aku merasa kita udah kenal bertahun tahun. Adibah inget kalau sendalnya ilang, cari yang bener hehehe, zizah, tolong jagain Adibah ya. Kalau dia nakal nggak mau makan, marahin aja biar dia mau makan, jangan sampai dia nggak makan" kata Meira.


"Adibah, kamu juga harus jagain Azizah, jangan sampai ada yang buat Azizah nangis. Kalau ada cowok yang membuat Azizah nangis, kamu hajar aja cowok itu" tambah Meira, sebelum dia kembali ke kamarnya.


Azizah dan Adibah pun nangis, saat mendengar Meira berpamitan ke merek berdua. Keduanya berjalan ke arah Meira yang sedang berdiri sambil tertunduk, saat Meira ingin di peluk Azizah dan Adibah, Meira malah berlutut di kaki keduanya.


"Aku minta maaf, aku tadi niat cuman bercanda aja kok, nggak ada maksud buat bikin kalian berdua berantem. Aku minta maaf banget" Azizah dan Adibah terkejut saat Meira bersujud di kaki Azizah dan Adibah.


"Hei Mei, ayo berdiri jangan kaya gini. Udah jangan nangis, aku mohon kamu jangan pindah juga Mei, ayo kita baik kan. Jangan nangis lagi" ucap Adibah yang membantu Meira berdiri, juga sembari mengelap air mata Meira.


"Mei aku mohon jangan pindah, kami yang seharusnya minta maaf ke kamu, karena kami juga salah tadi. Please jangan pindah ya Mei, kita kan udah kata keluarga sendiri" Azizah juga ikut membujuk Meira agar tidak pindah.


"Aku minta maaf, aku emang nggak pantes buat jadi temen kalian berdua" ucapnya lagi, sambil sesegukan Meira masih meminta maaf ke Adibah dan Azizah.


"Udah ah Mei mah gitu, ya udah jangan pindah Mei, ayo masuk ke kelas. Bentar lagi masuk" kata Adibah, soalnya dia tidak mau Meira pindah pondok pesantren.


Meira hanya nurut saja, sepanjang jalan Adibah selalu membuat lelucon agar Meira tertawa, tapi sedikit pun Meira tidak tertawa, dan dia hanya tersenyum saja. Adibah dan Azizah pun mengantarkan Meira ke kelasnya.


"Nah udah sampai deh, masuk sana. Nanti pas istirahat kita berdua kesini lagi, semangat belajarnya. Bye Mei Mei" Adibah dan Azizah pun berpamitan ke Meira. Meira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya juga tersenyum.


iya


Adibah dan Azizah pun pergi dari kelas Meira menuju kelas mereka berdua. Sepanjang jalan Adibah dan Azizah khawatir kalau Meira akan benar benar pindah dari pondok pesantren Al-Hidayatul Qur'an.


Sepanjang jalan mereka berdua memikirkan masalah Meira yang akan pindah, sampai tidak terasa sebenarnya mereka sudah duduk di bangku masing masing. Adibah dan Azizah tidak sadar dengan itu.


Dan jam pelajar pertama di hari pertama pun dimulai, semua santri baru di suruh oleh Ustadzah untuk berkenalan ke depan kelas.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalin jejak dengan cara like, rat🌟5, komentar, vote, dan satu lagi biar nggak ketinggalan update untuk bab selanjutnya. Tambahin ke list favorit cerita kalian.


Bye bye sampai ketemu di Bab selanjutnya👋

__ADS_1


__ADS_2