
Sepanjang jalan mereka berdua memikirkan masalah Meira yang akan pindah, sampai tidak terasa sebenarnya mereka sudah duduk di bangku masing masing, tapi Adibah dan Azizah tidak sadar dengan hal itu.
Dan jam pelajar pertama di hari pertama pun dimulai, semua santri baru di suruh oleh Ustadzah untuk berkenalan ke depan kelas.
2 jam sudah berlalu, dan sekaranglah waktunya untuk semua para santri istirahat, satu per satu santri keluar dari kelas mereka masing masing untuk, ada yang bermain, cerita cerita, belajar, dan masih banyak lagi.
Sedangkan Adibah dan Azizah mereka pergi menuju kelas Meira, mereka harus berusaha membujuk Meira agar tidak pindah ke pondok pesantren yang lain, sebab mereka akan merasa bersalah banget, kalau Meira sampai pindah ke pondok pesantren lain.
Adibah dan akan merasakan kehilangan dan juga kesedihan jika Meir benar benar akan pindah pondok pesantren. Menurut Adibah dan Azizah, Meira adalah teman yang paling baik, walaupun mereka baru sehari kenal. Jadi Adibah dan Azizah akan terus membujuk Meira bagaimanapun caranya.
"Zah, gimana kalau si Mei bakalan kekeh mau pindah ke pondok pesantren lain, dan gimana kalau dia juga nggak mau temenan sama kita lagi" kata Adibah dengan murung, mereka bercerita sambil menuju ke kelas Meira.
"Semoga aja nggak ya, kita juga salah disini" sahut Azizah sambil menggenggam tangan Adibah yang terasa dingin. Mereka berdua terus berjalan, dan tidak lama mereka sampai di kelas Meira, langsung saja Adibah dan Azizah masuk ke kelas Meira, juga berjalan menuju bangku Meira.
"Hai Mei, gimana pelajaran pertama hari ini?" tanya Adibah yang sudah duduk di bangku sebelah Meira berada, sedangkan Azizah dia menarik kursi atau bangku yang ada di dekat bangku Meira.
Meira tersenyum ke arah Adibah dan Azizah yang ada di sebelah dia.
"Alhamdulillah menyenangkan" Meira hanya menanggapi pertanyaan Adibah dengan singkat. Adibah pun ikut tersenyum, sebenarnya Adibah merasa bahwa Meira tidak seperti Meira yang kemarin, dimana dia selalu ceria.
"Mei emm, kamu marah ya sama aku dan Zizah? kita berdua disini mau minta maaf sama kamu Mei" Adibah dan Azizah meminta maaf ke Meira, dan keduanya juga akan membujuk Meira agar tidak pindah.
"Aku nggak marah kok sama kalian berdua, dan kalian nggak perlu minta maaf ke aku, karena disini aku yang salah, bukan kalian berdua. Jadi nggak perlu minta maaf ya" Adibah dan Azizah yang mendengar penjelasan Meira merasa sangat bersalah.
"Ini bukan salah kamu sendiri kok Mei, aku dan Azizah juga salah dalam masalah ini" jelas Adibah sambil memegang tangan Meira. Mereka pun berpelukan seperti teletubbies😅.
"Jangan sedih lagi, senyum dong. Lagian aku sama Adibah nggak marah sama kamu kok, ayo senyum dong jangan sedih" Azizah membujuk Meira agar mau tersenyum dan tidak sedih lagi memikirkan masalah tadi.
Akhirnya Meira pun tersenyum kembali setelah mendengar penjelasan dari Adibah dan Azizah.
"Mei, kamu tetap mau pindah pondok pesantren?" tanya Adibah dengan degup jantung yang berdebar dengan cepat dan juga ditambah dengan perasaan yang tidak karuan, yang sudah menjadi campur aduk.
__ADS_1
"Soal itu masih aku pikirin, sepertinya aku bakalan tetap pindah ke pondok pesantren lain deh, kalian jangan sedih. Aku pindah juga ada alasan lain, tapi ini nggak ada sangkut pautnya sama masalah kita tadi kok" kata Meira dengan senyum khas dirinya.
"Kalau bukan masalah tadi, terus masalah apa yang sampai membuat kamu mau pindah dari pondok pesantren ini? " tanya Adibah dengan rasa penasarannya yang besar.
"Aku harus ikut Papi dan Mami ku pindah ke kota lain, karena Papi ku dipindahin tugasnya ke kotak Bandung. Dan aku akan ikut mereka kesana juga, ini pun Papi ku ngasih kabarnya mendadak pas tengah malam" jelas Meira dengan senyum tapi terlihat dari tatapan matanya ada kesedihan.
"Jadi aku harus ikut pindah, dan nyari pondok pesantren di daerah Bandung, aku nggak bisa apa apa lagi, walaupun aku nggak mau ikut. Tapi kata Papi kalau aku disini pasti Papi sama Mami ku jarang bakalan jenguk aku kesini, soalnya kan jaraknya sangat jauh" tambah Meira lagi.
"Mei, baru juga sehari kita jadi temen, masa kamu harus pindah sih. Kalau bisa kamu nggak usah pindah Mei, aku merasa seneng punya temen kaya kamu" bulir bening pun keluar dari pelupuk mata ketiga gadis cantik itu.
"Kan masih banyak yang lain, kalian berdua bisa nyari temen yang lain. Masa cuman aku sih jadi temen kamu" kata Meira, dengan melihat Adibah dan Azizah dengan cara bergantian.
"Udah jangan sedih sedihan lagi, hari ini kita buat hari sangat bahagia dan penuh kenangan yang nggak akan bisa dilupakan" ucap Azizah, baik untuk Meira, Adibah dan dirinya agar tidak membuat satu hari ini dengan kesedihan kesedihan.
Adibah dan Meira mengacungkan jempol ke arah Azizah dengan penuh semangat, dan kini waktunya para santri untuk kembali masuk kedalam kelas masing masing, karena jam sudah menunjukan waktunya masuk untuk pelajaran berikutnya.
Adibah dan Azizah berpamitan kepada Meira untuk masuk kedalam kelas mereka, sebab sebentar lagi Ustadz dan Ustadzah akan masuk kedalam masing masing kelas yang akan mereka ajar.
"Mei, aku sama Zizah masuk kelas dulu ya, semangat belajarnya" Adibah dan Azizah menyemangatkan Meira untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
*
*
*
Kini semua santri sudah pulang dari sekolah, saat dalam perjalanan menuju asrama, mereka bertiga kembali melalui jalan dimana ada seorang santriwan yang tadi pagi menyapa ketiganya tapi lebih tepatnya menyapa Adibah.
Selama perjalanan menuju asrama mereka baik baik saja, tapi tiba tiba saat melalui jalan perbatasan antara asrama putri dan asrama putra, ada seorang santriwan yang tadi menyapa mereka saat akan pergi ke sedang duduk di pos, seperti sedang menunggu seseorang.
"Assalamu'alaikum para bidadari surga, baru pulang sekolah ya?" laki laki itu memberi salam ke pada ketiganya, entah lah mungkin dia memberi salam karena sudah di tegur oleh Meira tadi pagi, makanya dia memberi salam bukan sapaan seperti tadi pagi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, iya kita bertiga baru saja pulang sekolah. Emangnya kamu sendiri nggak sekolah?" tanya Azizah dengan sopan, sedangkan Adibah hanya menjawab salam laki laki itu dengan senyum, setelah itu dia tidak bertanya apa apa lagi selain diam, begitu juga dengan Meira. Tapi Meira menatap laki laki itu dengan tatapan sinis.
"Baru pulang juga, aku disini lagi nunggu bidadari surga yang tadi pagi lewat sini, dan mungkin ini keberuntungan ku bisa ketemu lagi sama bidadari surga yang sangat cantik" ucap laki laki itu dengan senyum manis, saat dia akan mengeluarkan kata kata dari mulut manisnya keluar.
Tiba tiba saja datang Ustadz Zaki di dari arah belakang santriwan itu.
"Btw nama kalian siapa?" tanya laki laki itu, karena dia belum menyadari adanya Ustadz Zaki dibelakang dia sedang menyedekapkan tangannya di dada.
"Nama aku Azizah Safitri" jawab Azizah, dia sebenarnya ingin pergi, tapi dia tidak enak hati dengan Ustadz Zaki kalau dia asal pergi saja dari hadapan dia.
"Nama aku Nur Adibah Hilya" jawab Adibah dengan sekenannya saja, setelah itu dia kembali diam tidak bersuara.
"Nama ku Mira Zakaria" kata Meira sudah dengan senyum, karena dibelakang ada Ustadz Zaki, tidak mungkin kalau dia menjawab dengan jutek dan cuek.
"Nama yang cantik, seperti orangnya cantik" ucap laki laki itu dengan senyum, mata laki laki itu tidak pernah menatap ke arah lain, melaikan selalu menatap ke arah Adibah.
Ustadz Zaki yang selalu mengikuti tatapan mata santriwan yang mengajak ketiga santriwati itu berkenalan dan ngobrol ngobrol.
"khemm, udah kenalannya?" tanya Ustadz Zaki, santriwan itu pun langsung berbalik dan menatap Ustadz Zaki dengan cengar cengir.
"Udah Ustadz, kalau sudah balik ke kamar kalian masing masing, sekarang" semuanya pun kembali ke kamar masing masing. Tapi saat Adibah akan jalan, Ustadz Zaki menyuruhnya berhenti.
"Tunggu Adibah" panggil Ustadz Zaki, Adibah pun berhenti dan menatap ke arah Ustadz Zaki dengan menaikan sebelah alisnya seakan dia bertanya ada apa.
"iya ada apa?" tanya Adibah dengan muka datarnya sambil menatap Ustadz Zaki, Ustadz Zaki pun tersenyum ke arah Adibah. Adibah makin bingung menatap Ustadz Zaki dengan anehnya.
"Jangan terlalu dekat dengan laki laki itu, kamu harus bisa jaga jarak dengan dia" kata Ustadz Zaki, setelah mengatakan itu, Ustadz Zaki pun langsung pergi begitu saja dari hadapan Adibah.
"Orang aneh" kata Adibah, dan dia pun meninggalkan tempat itu, untuk menuju kamarnya pasti Azizah dan Meira hampir sampai ke kamar, sedangkan dia baru pergi menuju kamar. Kalau saja tadi Ustadz Zaki tidak menyetopkannya dan berkata hal hal aneh kaya tadi, dia juga sudah hampir sampai kamar dan bisa rebahan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak dengan cara like, rat🌟5, komentar, vote, dan satu lagi biar nggak ketinggalan update untuk bab selanjutnya. Tambahin ke list favorit cerita kalian.
Bye bye sampai ketemu di Bab selanjutnya👋