Kisah Dunia Paralel: Pasukan 99

Kisah Dunia Paralel: Pasukan 99
Obrolan di Senja Hari


__ADS_3

Di suatu tempat di bawah kerlap-kerlip bintang malam, seorang pemuda berdiri dengan gagah. Nama pemuda tersebut adalah Arya. Ia tengah memainkan jurus-jurus silat dengan penuh ketekunan, keringat mengalir deras membasahi kain seragamnya yang telah lusuh oleh waktu dan pertarungan.


Sinar rembulan menyinari wajah Arya, menciptakan bayangan misterius. Sesekali angin malam menyibakkan rambut hitam panjangnya, membuatnya tampak seperti kesatria dari kisah-kisah legenda. Senjata pendek yang disebut 'kris' bersinar di pinggangnya, menunjukkan bahwa pemuda ini bukanlah sembarang pemuda, tetapi seorang pejuang.


"Engkau masih belum cukup kencang, Arya!" seru Radin, sahabatnya yang berdiri di pinggiran, menonton dengan mata yang kritis.


Arya menghentikan gerakannya sejenak, menarik nafas panjang. "Aku tahu, Radin. Tapi, setiap hari aku berusaha memperbaiki diri. Aku harus kuat untuk negeri ini."


Radin mendekat, menepuk-nepuk bahu Arya. "Aku percaya engkau bisa. Tapi jangan lupa, kekuatan bukan hanya dari fisik, tetapi juga dari hati."


Arya mengangguk. "Terima kasih, sahabat."


Saat itu, mereka berdua duduk bersila di bawah pohon rindang, menikmati kesejukan angin malam, sambil merenungkan nasib negeri yang tengah dilanda perang. Mereka berdua, walaupun masih muda, sudah berjanji akan mempertaruhkan nyawa demi tanah leluhur.


Arya memulai, "Aku mendengar kabar yang membuat hatiku gelisah, Radin."


Radin mengangkat alisnya, "Apa itu, Arya?"


Arya menghela napas panjang, "Pada pertengahan bulan Mei yang lalu, Smissaert, orang Belanda itu, memutuskan untuk memperbaiki jalan-jalan kecil di sekitar Yogyakarta."


Radin menatap Arya, menunggu informasi selanjutnya. "Itu kan hal yang biasa. Mengapa engkau gelisah?"


Arya menjawab dengan suara berat, "Kabar yang kudengar, pembangunan jalan yang semula dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilan, kini telah dibelokkan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, mereka melewati pagar sebelah timur Tegalrejo."


Radin, yang biasanya tenang, kini memperlihatkan raut wajah yang kian serius. "Masih ada yang lebih buruk lagi, Arya?"

__ADS_1


Arya mengangguk pelan, "Di salah satu sektor, patok-patok jalan yang diletakkan oleh orang-orang kepatihan telah melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro."


Radin menggigit bibirnya, "Ini bukan hanya sekedar pembangunan jalan. Ini soal martabat dan harga diri bangsa kita. Mereka dengan sengaja menginjak-injak warisan leluhur kita."


Arya menatap mata Radin, "Kita harus memberitahu Pangeran. Ini bukan hanya soal tanah dan jalan, Radin. Ini adalah permainan Belanda untuk menantang martabat kita."


Radin mengangguk tegas, "Kita harus bersatu dan melawan. Untuk leluhur, untuk tanah Jawa."


Keduanya berdiri, menyatakan tekad mereka untuk membela tanah leluhur dengan nyawa dan darah.


Saat suasana pembicaraan semakin tegang, terdengar derap langkah lembut mendekat. Sari, dengan paras ayu dan senyuman manisnya, menghampiri keduanya sambil membawa nampan berisi makanan.


"Apa yang kalian bicarakan dengan serius sekali?" tanya Sari sambil menaruh nampan di atas tikar yang tergeletak di bawah pohon. "Kalian berdua seperti dua ksatria yang sedang merancang strategi perang."


Arya tersenyum, "Ah, Sari. Selalu saja datang di saat yang tepat. Kedatanganmu seolah mampu mendinginkan suasana hati kami yang panas."


Sari menatap keduanya dengan ekspresi serius, "Kabar apa lagi yang mereka lakukan?"


Arya kemudian menceritakan kembali tentang rencana pembangunan jalan oleh Smissaert yang melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. Sari mendengar dengan seksama, raut wajahnya menunjukkan keprihatinan yang mendalam.


"Ini bukan lagi masalah tanah atau jalan saja," ujar Sari pelan, "Ini menyangkut harga diri kita sebagai bangsa. Bagaimana bisa mereka dengan seenaknya melanggar kesucian makam leluhur kita?"


Radin menambahkan, "Itulah mengapa kami merasa perlu untuk berbicara. Ada banyak hal yang harus kita lakukan."


Sari kemudian membuka tutup nampan yang ia bawa, menampakkan nasi dengan lauk pauk yang menggugah selera. "Sebelum kalian berbicara lebih jauh, makanlah dulu. Tubuh yang lelah dan pikiran yang tegang tak akan membawa keputusan yang baik."

__ADS_1


Arya dan Radin mengambil piring makanan yang disajikan Sari dengan rasa syukur. Mereka makan bersama, merenungkan langkah-langkah yang harus diambil di tengah situasi yang semakin rumit. Namun, hadirnya Sari memberikan ketenangan tersendiri bagi keduanya, sebuah kekuatan yang muncul dari kebersamaan dan rasa cinta tanah air.


Sementara mereka makan, Radin menatap Arya dan Sari bergantian dengan senyum nakal di wajahnya. Suasana yang sebelumnya tegang mulai berubah ketika Radin memulai godaannya.


"Tahu tidak, Arya," mulai Radin sambil menikmati makanannya. "Makanan yang dibuat Sari ini sepertinya ada rasa khusus saat kau makan. Mungkin ada tambahan bumbu kasih sayang untuk seseorang, ya?" Radin mengedipkan mata kepada Sari yang langsung memerah.


Arya terkekeh pelan, mencoba mengabaikan gurauan Radin. "Setiap masakan yang dibuat dengan tulus pasti memiliki rasa khusus, Radin."


Sari mencubit lengan Radin pelan, berusaha menutupi rona merah di pipinya. "Hentikan godaanmu, Radin. Aku hanya ingin memastikan kalian berdua makan dengan baik."


Namun Radin, yang dikenal sebagai pribadi yang suka menggoda, tidak berhenti di situ. "Oh, tentu saja, Sari. Tapi, mengapa hanya Arya yang kau berikan sendoknya lebih dulu? Adakah sesuatu yang ingin kau sampaikan padanya?"


Arya menatap Radin dengan tatapan pura-pura kesal, "Cukup, Radin. Jangan mengganggu Sari."


Sari tertawa pelan, menghibur keduanya, "Baiklah, kalian berdua. Sudahlah, jangan bertengkar. Kita semua di sini untuk satu tujuan yang sama, bukan?"


Radin mengangkat tangan dalam gestur menyerah, "Baiklah, aku menyerah. Tapi Arya, ingatlah, hati seorang gadis adalah bunga yang perlu kau rawat dengan hati-hati."


Arya menghela nafas, menatap Sari dengan rasa syukur. Meski terganggu oleh godaan Radin, ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Radin dan Sari di sisinya di tengah perjuangan yang begitu berat.


Sore itu, istana Pangeran Diponegoro tampak sibuk. Udara tegang mengisi setiap sudut ruangan. Di salah satu ruangan yang luas dengan dinding berornamen khas Jawa, Pangeran Diponegoro tengah berbicara dengan Kamanda, paman Arya. Kamanda dikenal sebagai prajurit senior yang tangguh, keahliannya dalam strategi perang diakui oleh banyak orang.


Pangeran Diponegoro menatap Kamanda dengan mata tajam, "Kamanda, tugas berat menanti kita. Aku ingin engkau membentuk pasukan khusus. Pasukan yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga rohaniah."


Kamanda mengangguk perlahan, "Apa yang Pangeran inginkan?"

__ADS_1


Pangeran Diponegoro berdiri, menghampiri jendela yang menghadap ke arah gunung Merapi, "Sebuah pasukan berjumlah 99 orang, Kamanda. Lambang dari Asmaul Husna, nama-nama indah Allah. Setiap prajurit dalam pasukan ini harus memiliki kekuatan spiritual yang mendalam. Mereka harus menjadi pelindung tanah ini, bukan hanya dengan kekuatan senjata, tetapi juga dengan doa dan keimanan."


__ADS_2