
Hari itu melambangkan pagi yang berbeda, suasananya terasa lebih segar, memancarkan kegembiraan yang mengalir dalam setiap hembusan angin. Dalam lingkungan kamp latihan, getaran kegembiraan dan antisipasi tercampur aduk. Berita telah tersebar luas bahwa Sang Pangeran Diponegoro akan turut menyaksikan perkembangan pasukan istimewa yang tengah disiapkan. Semua prajurit, termasuk Arya, Radin, dan tentu saja, sang pemimpin Kamandana, merasakan gemuruh tegang yang melebur dengan rasa semangat.
Lapangan yang biasanya penuh dengan gemuruh langkah dan instruksi, tiba-tiba menjadi sunyi. Barisan prajurit berdiri kokoh, mengenakan seragam terbaik mereka, menantikan datangnya Sang Pangeran.
Ketika sinar matahari perlahan merayap di ufuk timur, jajaran kuda menghampiri. Di tengah kerumunan kuda-kuda gagah, tampak sosok puncak yang memimpin semuanya. Dalam pakaian yang elegan, duduk gagah di atas seekor kuda putih yang memancarkan keanggunan. Itulah Pangeran Diponegoro.
Arya dan Radin bertukar pandangan. Bagi mereka, inilah kali pertama mereka bisa melihat dengan mata kepala sendiri sosok yang telah diakui sebagai teladan bagi banyak orang Jawa. Wajah Pangeran terlihat teguh namun dipenuhi hikmat. Pandangannya yang tajam menembus ke depan, seolah-olah mengisyaratkan tekad yang tak tergoyahkan.
Ketika rombongan kuda-kuda itu tiba di tengah lapangan, Pangeran Diponegoro turun dari punggung kudanya dengan anggun. Langkahnya tegas, di sampingnya Kamandana melangkah mendekati. Mereka saling memberi hormat, lalu bercakap dalam bahasa yang tegas dan berwibawa. Prasangka prajurit terpenuhi saat melihat Pangeran menerima Kamandana dengan rasa hormat dan keberanian yang mengalir.
Arya memandangi scene ini dengan mata yang tak berkedip. Ada keanggunan dan kewibawaan dalam setiap gerak Pangeran. Bicara-bicara Kamandana dan Pangeran terdengar begitu jelas seolah terbisik di telinganya. Ini adalah panggung kehormatan yang ia saksikan, pemandangan yang tak mungkin ia lupakan.
Pangeran Diponegoro melangkah melewati barisan prajurit, memeriksa dan mengamati detail formasi serta postur mereka. Dengan langkah tegas, namun bijaksana, ia berjalan, sesekali mengangguk dalam tanda penghargaan.
Tatkala Pangeran Diponegoro berada di dekat Arya, mata mereka bertemu. Tanpa kata-kata, seolah-olah energi luar biasa mengalir di antara keduanya. Itu adalah tatapan yang menghantar pesan tak terucapkan, sebuah pengakuan akan tekad dan semangat Arya.
Inspeksi berakhir, Pangeran Diponegoro kembali ke pusat lapangan. Pidato ringkas terdengar, menyinggung pentingnya kesetiaan, keberanian, dan tekad dalam menghadapi penindasan. Kata-kata itu menyusup ke dalam hati setiap prajurit, termasuk Arya, mengilhami mereka untuk mengejar jalan perjuangan yang teguh.
Seiring dengan senja yang menjelang, Pangeran Diponegoro menyelesaikan pidatonya. Dia memberikan hormat pada Kamandana dan komandan lain, kemudian melangkah menuju kudanya yang sudah disiapkan oleh pengawalnya. Di atas punggung kuda yang gagah, Pangeran Diponegoro memancarkan martabat dan keberanian, dielilingi oleh pengawal setia yang mengayomi.
Sebelum meninggalkan lapangan, mata Pangeran Diponegoro menatap prajurit-prajurit yang hadir. Wajahnya berbicara tentang kebanggaan dan harapan. Sebuah isyarat tangan dan rombongan kuda-kuda itu mulai bergerak.
__ADS_1
Di tengah matahari yang mulai menyentuh ujung langit, dan dengan bayangan panjang pohon-pohon besar menari di permukaan lapangan, Pangeran Diponegoro meredam kudanya. Perlahan, sosoknya menjadi lebih jauh dan kabur, namun semangat yang ia tinggalkan terasa hidup dan terus menyala dalam diri prajurit-prajurit yang memantau kepergiannya.
Kamandana, dengan semangat yang tak terpadamkan, berbicara kepada para prajurit yang masih berkumpul, "Kehadiran Sang Pangeran hari ini memberi berkah pada kita. Setiap langkah, setiap gerakan, dan setiap usaha kita di lapangan latihan ini, semuanya adalah penghormatan kepada perjuangan dan tekad kita. Marilah kita bawa semangat ini dalam setiap pertempuran!"
Arya dan Radin, meskipun telah mengalami hari yang melelahkan, merasa semangat mereka menyala lebih terang. Mereka tahu, perjuangan yang sesungguhnya akan segera dimulai, dan dalam hati mereka, tekad untuk memberikan yang terbaik bagi Pangeran dan tanah Jawa semakin menguat.
Saat pangeran sudah meninggalkan tempat itu, seolah-olah sebuah awan gelap menyelimuti pikiran Arya. Dia merasakan dunia berputar pelan, layaknya ia tengah terombang-ambing di lautan gelap kebingungan. Tiba-tiba, di tengah kekacauan batinnya, gambaran tak terduga merebak dalam pandangannya.
Sebuah sosok yang terasa begitu akrab muncul dalam benaknya. Wajah itu—mirip sekali dengannya sendiri, namun seakan terlahir dari alam pikiran yang berbeda. Seolah-olah seutas tali terjalin di antara dunia-dunia tak terlihat, menghubungkan kisah-kisah yang tak terduga.
Kesadaran Arya berputar seperti gurun pasir yang dipenuhi angin berkecamuk. Lapangan latihan dan suara riuh rendah di sekitarnya tiba-tiba menjauh, seakan lenyap dalam gelap. Ia terbenam dalam keheningan yang gelap dan samar, seperti merenung dalam dasar pikiran yang tak terjamah.
Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah cahaya samar mulai muncul. Seakan-akan ia menerobos jarak dan waktu, membawanya melintasi batas-batas realitas yang dikenalnya. Ia melihat bangunan megah yang menjulang tinggi, diterangi oleh sorotan cahaya berkilauan. Kendaraan-kendaraan aneh berlalu lalang tanpa suara, dan jalan-jalan dipenuhi dengan hiruk-pikuk modernitas yang asing.
Keduanya saling menatap, mata mereka mengandung kebingungan yang sama. Pertemuan ini, seperti menyentuh simpul tak terlihat dalam jalinan waktu dan ruang. Arya mencebikkan alisnya, mencoba menyusuri lorong-lorong pikiran yang menghubungkan mereka.
"Apa... apa maksud semua ini?" bisiknya pada sosok itu, meskipun suara tak terucap.
Pemuda itu menggeleng, matanya mencerminkan kebingungan yang mendalam. Ia juga mencoba mengurai benang-benang tak kasat mata yang mengikat mereka berdua.
Arya, dengan penuh keraguan, berkata, "Siapa kamu?"
__ADS_1
Pemuda itu menyunggingkan senyum kecil, lalu mulai berbicara dengan suara yang seperti menyeberang ruang dan waktu, "Aku juga Arya. Tapi aku berasal dari tempat yang berbeda, dunia lain yang mungkin tidak pernah kau bayangkan."
Arya merasa seakan-akan ia terjatuh ke dalam pusaran waktu yang tak terbatas, menabrak tembok-tembok realitas yang tak terlihat. Pikirannya berputar cepat, mencoba merangkai makna dari kata-kata pemuda itu.
"2023? Jakarta?" gumam Arya, terheran-heran.
Pemuda itu mengangguk, dan dalam detik-detik itu, seolah-olah dunia yang tak terlihat sedang mengalir di antara mereka. Arya mengerti bahwa mereka berasal dari waktu dan dimensi yang berbeda, tetapi apa yang sebenarnya tengah terjadi masih jauh dari pemahamannya.
Sebelum mereka dapat menjelajah lebih jauh dalam percakapan ini, perasaan tarikan kuat menggenggam Arya dengan erat. Sensasi seolah-olah dirinya sedang dihela kembali ke dunianya sendiri.
Cahaya yang memancar tiba-tiba meredup, gambaran aneh itu pun perlahan-lahan memudar. Arya kembali berada di lapangan latihan, di tengah kerumunan teman-temannya yang bingung dan cemas. Radin berlari mendekatinya, menopang tubuh Arya yang hampir ambruk.
"Arya! Apa yang terjadi padamu?" seru Radin, wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
Arya meraba-raba keadaannya, mencoba merangkai ingatan-ingatan yang terputus dalam pikirannya. Ia mencoba menjelaskan apa yang baru saja ia alami, namun sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat.
"Aku melihat sesuatu, Radin. Seseorang yang mirip dengan aku, dari dunia yang berbeda," kata Arya dengan suara serak.
Terdengar bisikan-bisikan kebingungan di antara para prajurit di sekitarnya. Mereka saling berpandangan, mencoba mencari pemahaman atas apa yang baru saja terjadi. Namun, dalam hati Arya, ada keyakinan bahwa ini bukanlah akhir dari perjalanan misteriusnya. Ada ikatan yang tak terlihat, dan ia merasa panggilan dari balik jendela-jendela yang tersembunyi dalam kejadian-kejadian aneh ini.
Radin, dengan pandangan yang penuh pertimbangan, bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi, Arya? Bisakah kau menjelaskan?"
__ADS_1
Arya menatap mata sahabatnya dengan penuh tekad, "Aku tahu ini sulit dipercaya, Radin. Tapi aku merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada kita melalui pengalaman ini."
Radin mengangguk, seakan merasa bahwa ini adalah titik awal dari perjalanan yang lebih besar dan tak terduga. Dalam kedamaian yang melingkupi mereka berdua, mereka merenungkan arti dari pertemuan dan pengalaman aneh yang baru saja mereka alami. Sesuatu yang jauh di luar pemahaman manusia sedang bergerak, dan Arya siap menghadapinya dengan tekad yang teguh