
Di sudut Goa Selarong, Radin mendekati Arya dengan ekspresi serius. "Arya," katanya sambil membuka genggaman tangannya, "Ketika kendaraan aneh itu muncul, aku menemukan ini di tanah."
Arya mendekat dan menatap apa yang ada di tangan Radin. Sebuah objek logam kecil, berkilau, dengan bentuk yang sangat asing bagi mereka. Objek tersebut memiliki bentuk bulat dengan permukaan datar di satu sisi, dan di sisi lainnya terdapat lambang atau tulisan yang tidak mereka kenali.
Arya memegang benda tersebut, memeriksa dengan teliti. "Ini terbuat dari logam, tetapi tidak seperti besi atau perak yang biasa kita kenali. Dan lihat tulisannya, apa ini?"
Radin mengangguk. "Aku juga tidak tahu. Tapi aku rasa ini mungkin berasal dari kendaraan aneh tadi. Mungkin ini adalah kunci atau petunjuk tentang asal-usulnya."
Kedua pemuda itu terdiam, merenungkan kemungkinan yang ada. Kejadian misterius tersebut menambah lapisan teka-teki dalam perang yang sudah rumit.
"Paman Kamandana harus melihat ini," Arya akhirnya berkata.
Radin mengangguk setuju. "Ya, kita harus memberitahunya. Mungkin dia atau seseorang lain di kamp ini bisa mengenali apa ini atau setidaknya memberikan kita petunjuk."
Mereka berdua berjalan mendekati Kamandana, dengan harapan bahwa benda kecil tersebut mungkin akan membawa jawaban atau setidaknya memberikan sedikit pencerahan mengenai kejadian aneh yang baru saja mereka alami.
Dalam kedamaian yang sementara di Goa Selarong, Arya mencari kesempatan untuk berbicara dengan pamannya. Arya menemukan Kamandana sedang memeriksa peta wilayah di sebuah meja batu yang diterangi oleh cahaya lilin.
__ADS_1
"Paman," Arya memulai percakapannya dengan ragu, "Ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Sebuah kejadian aneh saat pertempuran kemarin."
Kamandana menaikkan pandangannya, menatap Arya dengan tatapan yang penuh ketajaman namun penuh perhatian. "Apa yang terjadi, Arya?"
Dengan napas dalam-dalam, Arya mulai menceritakan pengalaman misteriusnya. "Saat pertempuran memuncak, dua prajurit Belanda bersiap menembakku. Tiba-tiba, sebuah kendaraan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya muncul dari kekosongan dan menabrak mereka. Kendaraan itu mirip kereta tanpa kuda, Paman, tetapi bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Dan segera setelah itu, kendaraan itu menghilang seolah-olah tidak pernah ada."
Wajah Kamandana menjadi tegang, mencerna informasi yang baru saja dia dengar. "Kendaraan tanpa kuda? Apakah seperti gerobak atau pedati?"
Arya menggeleng. "Tidak, Paman. Lebih seperti sebuah kotak besar dengan roda. Dan saat itu muncul, ada bau aneh dan suara mesin yang berdengung."
Kamandana mengusap dagunya, berpikir keras. "Ini sangat aneh, Arya. Dalam perjalanan hidupku, aku belum pernah mendengar atau melihat hal semacam itu. Mungkin, ada kekuatan lain yang bermain di sini. Kekuatan yang melampaui pemahaman kita."
Kamandana menarik napas dalam-dalam. "Kita harus selalu waspada, Arya. Tapi juga ingat, ada banyak misteri di dunia ini yang belum kita mengerti. Yang penting sekarang adalah kita harus fokus pada perjuangan kita. Tentang kendaraan aneh itu, kita bicarakan nanti lagi."
Arya mengangguk, mengambil pelajaran dari kebijaksanaan pamannya. Meskipun kejadian itu mengusik pikirannya, dia tahu bahwa perjuangan mereka terhadap penjajah adalah prioritas utama.
Pangeran Diponegoro memilih Goa Selarong, yang berlokasi di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai markas utamanya. Dia menetap di goa bagian barat yang dikenal dengan nama Goa Kakung, sementara Raden Ayu Retnaningsih (selir yang tetap setia bersama Pangeran setelah kematian kedua istrinya) dan pengikutnya mendiami Goa Putri di bagian timur. Sebuah pasukan berjumlah 99 orang ditempatkan untuk melindungi Goa Putri.
__ADS_1
Pasukan 99 berdiri teguh di sekitar Goa Putri, dengan mata yang selalu waspada dan telinga yang terus mendengarkan gerakan halus apapun. Arya dan Radin dipilih untuk memimpin pasukan di bagian depan goa, menjaga pintu masuk. Di sekitar mereka, hamparan alam pedesaan dan hutan mengelilingi area tersebut, menyediakan perlindungan alami dan juga tantangan bagi mereka yang datang dengan maksud jahat.
Tak jauh dari mereka, pohon-pohon besar dan lebat meneduhkan goa tersebut, menciptakan atmosfer yang hening dan sunyi. Gemericik air dari aliran sungai kecil di dekat goa menambah ketenangan suasana. Namun, dibalik ketenangan tersebut, setiap prajurit memahami tanggung jawab besar yang mereka emban. Mereka tahu bahwa keselamatan Raden Ayu Retnaningsih dan pengiringnya bergantung pada kewaspadaan mereka.
Di tengah keheningan, Arya menghampiri Radin, "Kita harus selalu waspada. Goa Putri ini memiliki arti khusus bagi Pangeran. Keselamatan Raden Ayu Retnaningsih menjadi prioritas utama."
Radin menatap Arya dengan tatapan tegas, "Aku paham, Arya. Tidak ada yang akan mendekati goa ini selama kita berada di sini. Kita akan mempertahankannya dengan nyawa kita."
Hari berganti malam, dan gelap mulai menyelimuti kawasan tersebut. Api unggun dinyalakan di sekitar goa untuk memberi cahaya dan juga mengusir dingin. Terdengar seruling dari salah satu prajurit, menciptakan alunan musik yang menenangkan namun juga penuh semangat.
Namun di tengah keheningan malam, sebuah isyarat diberikan oleh salah satu prajurit yang berjaga di pos terjauh. Terlihat gerakan tidak jauh dari sana. Pasukan 99 dengan cepat bersiap, mempersiapkan diri untuk kemungkinan serangan yang akan datang. Arya dan Radin mengambil posisi, mengatur strategi pertahanan, dengan harapan dapat menangkis setiap ancaman yang datang demi melindungi goa dan orang-orang yang berada di dalamnya.
Sebuah langkah halus memecah keheningan pagi di Goa Putri. Cahaya pagi yang masih lembut memantulkan kilau emas dari pakaian yang dikenakan seorang wanita. Dari balik tirai goa, muncullah Raden Ayu Retnaningsih, selir yang paling setia menemani Pangeran Diponegoro.
Dalam gaun Jawa tradisional yang mempesona, berwarna keemasan dengan bordiran halus, Raden Ayu tampak anggun dan megah. Rambutnya yang panjang terurai indah ke punggung, didekorasi dengan mahkota kecil dan berbagai perhiasan yang menambah kemegahannya. Matanya yang dalam menunjukkan kebijaksanaan dan kekuatan, sementara bibirnya yang merah alami menambah aura misterius dari seorang wanita yang telah melihat banyak hal dalam hidupnya.
Arya, yang sedang berpatroli di dekat pintu masuk goa, terhenti langkahnya. Ia terpesona, tidak hanya oleh keindahan fisik Raden Ayu tetapi juga oleh aura kekuatan dan martabat yang ia pancarkan. Di sisi lain, Radin yang berdiri di sebelah Arya, juga tampak terpaku. Mereka berdua, meskipun terbiasa dengan berbagai keindahan alam dan seni, belum pernah melihat keanggunan yang demikian mempesona.
__ADS_1
Raden Ayu, dengan langkah lembutnya, berjalan mendekati tepi goa, melihat ke arah matahari yang mulai naik. Sesekali ia mengangkat tangannya, memperbaiki selendang yang melingkar di lehernya. Wajahnya tampak tenang, seakan seluruh dunia berhenti sejenak untuk menghormatinya.
Arya dan Radin, masih dalam kekagumannya, saling pandang. Mereka berdua menyadari bahwa tugas mereka bukan hanya melindungi Goa Putri, tetapi juga seorang putri yang benar-benar berharga bagi Pangeran dan bagi seluruh kerajaan. Keanggunan Raden Ayu Retnaningsih membangkitkan tekad baru dalam diri mereka untuk melindungi dengan sepenuh hati.