Kisah Dunia Paralel: Pasukan 99

Kisah Dunia Paralel: Pasukan 99
Latihan Pertama


__ADS_3

Di tengah ladang latihan yang sering kali berisik, saat itu tampak sunyi. Suara riak air dan desiran angin yang berhembus perlahan mengisi ruang. Di tepi sungai yang lebar dengan arus yang deras, Kamandana berdiri dengan kehadiran yang memancarkan otoritas.


Arya serta sekumpulan prajurit lainnya berdiri di tepian, mengamati aliran sungai yang tampaknya menantang. Walau sebagian besar dari mereka sudah terbiasa dengan elemen air, berenang di sungai dengan arus sekuat ini tetap menjadi tantangan yang baru.


"Demi prajurit!" seru Kamandana, suaranya menggelegar. "Pada hari ini, latihan akan berfokus pada daya tahan dan kelenturan dalam air. Ingatlah, pertempuran tak hanya berlangsung di tanah. Air bisa jadi teman atau musuh kita."


Para prajurit mendengarkan dengan saksama.


"Kalian akan menyeberangi sungai ini dan kembali ke titik awal. Jangan sampai arus menghanyutkan kalian terlalu jauh. Gunakan tenaga dengan bijaksana dan jaga stamina kalian," kata Kamandana memberikan instruksi.


Tak perlu disuruh dua kali, para prajurit segera memulai persiapan. Arya mengambil napas dalam-dalam, mengingat teknik pernapasan yang dia pelajari dalam latihan silat.


Saat aba-aba diberikan, para prajurit melangkah ke dalam air. Air yang awalnya dingin meresap ke tubuh mereka, namun dengan gerakan yang cepat, tubuh mereka segera terasa hangat. Arya fokus pada teknik berenangnya, memastikan bahwa setiap gerakan dilakukan dengan efisiensi. Di sekitarnya, beberapa prajurit tampak kesulitan melawan arus, sementara yang lain berenang seperti ikan dalam air.


Dari kejauhan, Sari memandang dengan cemas, menahan napas setiap kali melihat prajurit terseret oleh arus. Namun, dengan kolaborasi yang erat dan semangat bantuan, banyak dari mereka berhasil menavigasi tantangan air ini.


Setelah usaha yang berat, satu per satu prajurit kembali ke tepi sungai, wajah-wajah mereka penuh kepuasan dan nafas terengah-engah. Arya, hampir habis tenaga, akhirnya mencapai tepi dan duduk dengan tubuh yang basah. Radin, yang telah tiba lebih awal, memberikan pukulan ringan di punggung Arya dengan rasa bangga.


Kamandana berjalan di antara prajurit-prajuritnya, memberikan pujian dan nasihat. "Kekompakan dan kerjasama adalah inti kemenangan kita," ujarnya. "Hari ini, kalian telah membuktikan bahwa kita mampu menghadapi segala tantangan jika kita bersatu."


Dengan matahari yang merosot di langit, latihan hari itu berakhir dengan rasa puas dan ikatan yang lebih erat di antara prajurit Pasukan Sembilan Puluh Sembilan.


Keesokan harinya, pagi masih menyajikan udara yang sejuk ketika Kamandana memanggil para prajurit untuk berkumpul. Dengan nada tegas, ia menyampaikan bahwa latihan hari ini akan berbeda dari sebelumnya. "Kita akan membagi kalian menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing terdiri dari sembilan orang. Tiap kelompok harus saling memahami, melindungi, dan melengkapi satu sama lain. Ingatlah, dalam peperangan, kebersamaan dan kesatuan adalah kekuatan kita yang paling besar."

__ADS_1


Arya menemukan dirinya bersama Radin dan tujuh prajurit lainnya. Mereka membentuk lingkaran, saling memperkenalkan diri dan berdiskusi tentang keahlian masing-masing. Setiap kelompok diberi tugas dan rintangan berbeda. Arya dan timnya ditugaskan untuk menaklukkan medan berbukit dan hutan belantara, dengan tujuan merebut bendera yang ditempatkan di puncak bukit oleh pelatih.


Ketika misi dimulai, mereka bergerak dengan cepat dan hati-hati. Dalam perjalanan, mereka dihadapkan pada berbagai rintangan. Beberapa anggota tim, termasuk Radin, memiliki kemampuan untuk mendeteksi perangkap. Sementara itu, Arya, dengan keahliannya dalam silat, mengajarkan cara bergerak diam-diam tanpa meninggalkan jejak.


Setelah melewati hutan belantara yang lebat, mereka sampai di kaki bukit. Salah satu anggota tim yang ahli dalam pendakian memimpin jalan, sementara yang lainnya membantu anggota yang kesulitan. Setiap langkah dihitung dengan cermat, setiap tangan yang membantu teman adalah bukti kesatuan mereka.


Akhirnya, setelah beberapa jam perjuangan, mereka berhasil mencapai puncak dan merebut bendera. Namun, misi belum selesai. Mereka harus kembali ke titik awal dengan selamat sambil menjaga agar bendera tetap utuh.


Dalam perjalanan pulang, mereka dihadapkan pada tantangan yang lebih berat. Kelompok lain yang ditugaskan untuk menghadang mereka muncul, berusaha merebut bendera dari tangan Arya dan timnya. Namun, dengan kerja sama yang kuat dan strategi yang bijaksana, Arya dan timnya berhasil mengatasi setiap hambatan dan kembali dengan selamat ke titik awal.


Kamandana, yang mengamati dari kejauhan, mengangguk puas. "Kesatuan kalian dalam tim menjadi contoh bagi semua. Kalian telah membuktikan bahwa dengan kerja sama yang erat, kita dapat mengatasi segala tantangan," ujarnya dengan bangga.


Prajurit merayakan keberhasilan mereka dengan sorakan. Mereka telah memetik pelajaran berharga tentang pentingnya kebersamaan dan saling percaya dalam sebuah tim.


Setelah latihan selesai, Arya merasa tubuhnya lelah dan kotor. Bersama beberapa rekan prajurit, ia memutuskan untuk membersihkan diri di tepi sungai yang terletak dekat dengan lapangan latihan. Air sungai yang jernih dan sejuk seperti menawarkan kedamaian pada tubuh yang letih.


Wajah sang ayah tampak tenang, bersinar dalam cahaya yang magis. Matanya menatap Arya dengan penuh cinta dan kebanggaan. Meskipun suara tak terdengar, Arya merasa seolah mendengar pesan yang ayahnya hendak sampaikan melalui getaran hati.


Tiba-tiba, hembusan angin lembut datang, mengusik permukaan air dan menghilangkan bayangan tersebut. Arya terkejut dan mundur beberapa langkah, hatinya berdebar kencang. Perasaan campur aduk antara keterkejutan, rindu, dan kebingungan.


Radin, yang mendekati Arya, bertanya, "Apa yang terjadi, Arya?"


Dengan napas terengah-engah, Arya menjawab, "Aku... melihat wajah ayahku di air, Radin. Seperti ada pesan yang ingin ia sampaikan padaku."

__ADS_1


Radin mendekati Arya, meletakkan tangan di bahu sahabatnya itu, "Mungkin ini pertanda. Mungkin roh ayahmu ingin memberikan dukungan dan pesan untukmu."


Arya mengangguk perlahan, "Aku merasa dia bangga padaku, namun juga ingin memberikan peringatan."


Keduanya duduk di tepi sungai, merenung. Meskipun peristiwa itu sulit dijelaskan, Arya merasa ada makna mendalam di baliknya. Ia merasa lebih dekat dengan ayahnya dan lebih kuat dalam menghadapi setiap ujian mendatang.


Di lapangan latihan yang luas, para prajurit dengan semangat melatih keterampilan pedang mereka. Matahari terik memberi semangat pada setiap gerakan yang tajam dan cepat. Tanah halus lapangan terangkat oleh langkah-langkah mereka yang berlari kencang.


Arya dan Radin, yang telah dikenal sebagai prajurit paling mahir, memutuskan untuk berlatih berduel. Dalam seragam latihan mereka yang melekat di tubuh, keduanya saling membungkukkan badan sebagai tanda hormat sebelum memulai. Pedang-pedang mereka beradu dengan gerakan yang cepat dan mantap, tiap tusukan dan goresan disertai dengan keahlian dan pertahanan yang kuat.


Namun, dalam momen yang tak terduga, sebuah kesalahan terjadi. Saat Radin mencoba teknik serangan baru yang belum lama ia pelajari, ia kehilangan keseimbangan sesaat. Pedangnya, yang semestinya bergerak ke samping, malah meluncur ke arah dada Arya.


Arya, terkejut, berusaha menghindar. Namun, pedang Radin menyerempet lengan Arya, meninggalkan luka yang dalam. Darah segar mulai mengalir, membasahi lengan dan pakaian Arya yang basah. Rasa sakit menusuk dan ia tak mampu menahan diri untuk tidak terjatuh.


Dengan rasa terkejut dan cemas, Radin menjatuhkan pedangnya dan berlari mendekati Arya. "Arya! Maafkan aku! Aku tak bermaksud seperti ini!"


Beberapa prajurit yang lain juga segera mendekat, membantu Arya yang berusaha bangkit sambil meraih lengan yang berdarah. Sari, yang menyaksikan dari jauh, segera mendatangi dengan membawa sepotong kain putih untuk menahan pendarahan luka Arya.


Arya, meski merasa sakit, mencoba tersenyum pada Radin. "Ini kecelakaan, Radin. Aku tahu kau tak bermaksud begitu."


Radin, dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, menatap Arya dengan penuh penyesalan. "Aku terlalu gegabah, Arya. Aku harus lebih berhati-hati."


Kamandana mendekat dan memeriksa luka Arya. "Ini perlu dijahit," ucapnya tegas. "Insiden seperti ini mengingatkan kita semua bahwa seni bela diri membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Jangan biarkan emosi atau kesombongan mengambil alih."

__ADS_1


Radin mengangguk dengan perasaan bersalah yang dalam. Arya, dengan tenaga yang tersisa, menepuk bahu Radin. "Aku baik-baik saja, Radin. Ini adalah pelajaran untuk kita semua."


Arya dibawa ke pos perawatan untuk mendapatkan pertolongan. Meski luka ini akan meninggalkan bekas, insiden ini meningkatkan ikatan persaudaraan di antara mereka dan memberi pelajaran penting tentang pentingnya konsentrasi dan kehati-hatian dalam latihan.


__ADS_2