
Pasukan 99, dengan seragam khas mereka yang dihiasi oleh simbol-simbol dari Asmaul Husna, berbaris rapi keluar dari Goa Selarong. Pada hari itu, tugas mereka bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga untuk menggalang dana yang sangat diperlukan dalam perang yang mereka jalani. Mereka berjalan dengan postur tegap dan penuh semangat juang yang tak kenal lelah, membawa dengan mereka tekad untuk memerdekakan tanah air mereka.
Desa-desa yang mereka lalui menyambut kedatangan Pasukan 99 dengan hangat. Meskipun mayoritas penduduk hidup dalam kemiskinan, mereka dengan senang hati memberikan apa yang mereka bisa untuk mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro dan pasukannya. Seonggok beras, telur ayam, sayuran segar, dan beberapa potong kain hasil tenunan tangan mereka diberikan dengan tulus kepada para prajurit yang melintas. Walaupun sederhana, sumbangan ini sangat berarti dan dihargai oleh Pasukan 99.
Namun, ketika mereka tiba di daerah yang dihuni oleh golongan priyayi, sumbangan yang diberikan jauh lebih berharga. Emas, perak, dan beberapa barang antik yang memiliki nilai sejarah diserahkan kepada pasukan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro. Priyayi-priyayi ini menyadari pentingnya perlawanan ini dan dengan sukarela memberikan harta mereka untuk mendukung perang kemerdekaan.
Pasukan 99 tidak hanya mengumpulkan bahan makanan dan harta berharga, tetapi juga mengumpulkan semangat dan dukungan rakyat jelata maupun bangsawan. Setiap sumbangan yang mereka terima menjadi tanda bahwa perjuangan mereka dihargai dan bahwa seluruh masyarakat bersatu dalam tekad untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka.
Arya dan Radin duduk di depan sebuah rumah besar milik salah satu priyayi terkemuka di desa itu. Seorang laki-laki berpakaian adat dengan blangkon di kepalanya mendekat, memberikan sebuah karung kecil yang berisi koin emas. "Ini sumbangan dari keluargaku, semoga membantu perjuangan kita melawan penjajah," kata priyayi tersebut dengan mata berbinar.
Radin mengangguk, "Terima kasih, Tuan. Semoga Tuhan membalas kebaikan keluarga Tuan."
Mereka berdua sedang berpatroli di pinggiran desa saat mendengar teriakan lemah seorang wanita tua. Arya dan Radin segera menghampiri sumber suara itu dan menemukan seorang nenek yang tampaknya jatuh dan tak bisa bangkit.
Wanita tua itu, yang bernama Mbah Siti, jatuh saat sedang mencari kayu bakar di hutan. Kakinya terpeleset di batu basah dan mengalami luka serta memar. Meskipun luka yang diderita tidak begitu parah, namun berat badan dan usianya yang sudah tua membuatnya kesulitan untuk berdiri sendiri.
Arya segera mengangkat Mbah Siti dengan lembut, memapahnya untuk berdiri, sementara Radin mengambil ikat pinggang kain yang dikenakan Mbah Siti dan mengikatkannya di kakinya yang terluka sebagai penyangga sementara.
"Tidak usah repot-repot, Nak," kata Mbah Siti dengan senyum lemah. "Sudah sering ini terjadi. Hanya saja, biasanya ada anak-anak desa yang membantu."
__ADS_1
Arya membalas dengan senyum hangat, "Kami ada di sini untuk membantu, Mbah. Bukankah itu tugas kami sebagai prajurit pasukan 99, untuk melindungi dan melayani masyarakat?"
Dengan hati-hati, Arya dan Radin membantu Mbah Siti pulang ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari lokasi jatuhnya. Setibanya di rumah, mereka melihat beberapa anak kecil yang tampaknya adalah cucu-cucu Mbah Siti sedang bermain di halaman. Melihat nenek mereka datang dengan dibantu dua prajurit, mereka segera berlarian ke arah mereka dengan ekspresi cemas.
"Terima kasih, Nak," ucap Mbah Siti lagi saat Arya dan Radin menurunkannya di kursi rotan di teras rumah. "Semoga Allah membalas budi baik kalian."
Radin mengangguk, "Kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan, Mbah. Jangan sungkan jika membutuhkan bantuan lagi."
Mereka pun berpamitan dan melanjutkan patroli mereka. Meski tugas mereka sebagai prajurit adalah bertempur, namun kebaikan kecil seperti ini membuktikan bahwa tugas sejati mereka adalah melayani dan melindungi masyarakat yang mereka cintai.
Saat matahari mulai condong ke barat, Arya dan Radin mengambil jalur melalui ladang padi yang hijau dan sejuk. Di tengah keheningan sore yang damai, dari kejauhan tampak sosok perempuan dengan rambut panjang terurai, sedang berjalan memikul keranjang berisi sayuran yang baru dipetik. Sinar matahari sore menyoroti wajahnya, membuat kulitnya berkilauan dengan kehangatan.
Arya mengenali sosok itu dengan cepat. "Sari!" serunya dengan senyum cerah.
Sari menoleh dan tersenyum, wajahnya memerah seakan disiram matahari sore. "Arya, Radin! Apa kabar? Sedang patroli ya?"
"Ya, kami sedang berpatroli di desa," jawab Arya. "Tapi, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu biasanya di rumah saat seperti ini?"
Sari menunjukkan keranjang berisi sayuran yang dipikulnya. "Hari ini panen sayuran di ladang Ayah. Aku membantu mengumpulkan dan membawanya ke pasar besok."
__ADS_1
Radin mengedipkan mata, "Seharusnya kamu meminta bantuan kepada prajurit tangguh seperti kami, bukan berkerja sendirian."
Sari tertawa, "Ah, aku tahu kalian berdua sibuk. Lagipula, aku bisa mengurusnya sendiri." Dia berhenti sejenak, menatap Arya dengan pandangan yang lembut. "Tapi aku senang kalian datang. Aku selalu khawatir saat mendengar ada pertempuran."
Arya menatap mata Sari, "Kami akan baik-baik saja, Sari. Kami dilatih untuk itu."
Sari mengangguk, "Aku tahu. Tapi tetap saja, berhati-hatilah."
Mereka bertiga berbicara sejenak, menikmati kebersamaan di tengah pekerjaan dan tugas yang menuntut. Setelah beberapa saat, Arya dan Radin melanjutkan patroli mereka, sementara Sari kembali ke rumah dengan keranjang sayurannya.
Arya, Radin, dan Sari melanjutkan percakapannya sejenak, menikmati momen berharga di tengah-tengah pekerjaan dan tugas yang mereka jalani. Mereka tertawa, berbicara tentang kenangan masa kecil, dan berbagi cerita tentang peristiwa terbaru dalam hidup mereka. Walaupun hanya sebentar, pertemuan ini membawa kedamaian dan kebahagiaan di tengah ketegangan yang mereka hadapi dalam perjuangan mereka.
Setelah beberapa saat, Arya dan Radin harus melanjutkan patroli mereka. Mereka tahu bahwa tugas mereka sebagai pemimpin pasukan membutuhkan dedikasi penuh, tetapi pertemuan ini memberikan energi tambahan untuk menghadapi tantangan yang ada.
Sari menggandeng keranjang sayurannya dan tersenyum sambil melihat mereka berdua pergi. "Berhati-hatilah di luar sana," ucapnya sekali lagi.
Arya melirik Sari dengan senyum hangat. "Kami akan kembali dengan selamat, Sari. Terima kasih karena selalu ada untuk kami."
Radin menambahkan, "Kamu adalah sumber kekuatan kami, Sari. Kami tidak akan pernah melupakan itu."
__ADS_1
Sari mengangguk, dan dengan hati yang hangat, mereka berpisah untuk sementara waktu. Arya dan Radin melanjutkan patroli mereka dengan semangat yang baru, sedangkan Sari kembali ke rumahnya dengan perasaan lega, mengetahui bahwa orang-orang yang dia cintai selalu berusaha untuk menjaga satu sama lain dalam perjuangan mereka.
Saat matahari mulai tenggelam, pasukan 99 kembali ke Goa Selarong dengan hati penuh rasa syukur. Mereka berhasil mengumpulkan cukup banyak sumbangan, baik dalam bentuk uang maupun barang-barang lainnya. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah semangat dan dukungan masyarakat yang semakin membara untuk mendukung perjuangan mereka melawan Belanda.