
Saat matahari yang mulai tenggelam menjadi saksi. Arya, yang tengah memimpin patroli bersama Radin, tiba-tiba merasa kakinya melemas, pandangannya kabur. Dunia di sekitarnya seolah berputar, dan ia merasa seperti tenggelam dalam lautan kegelapan yang tak berujung. Tapi di tengah kegelapan itu, muncul secercah cahaya, dan dari cahaya itu muncul sosok Arya, tapi bukan Arya yang dia kenali.
Sosok itu tampak mirip dengannya, namun berpakaian berbeda dan mata yang lebih tajam. Wajahnya tenang, namun memiliki aura kuat yang menarik perhatian. Arya merasa seperti ditarik ke dalam mata sosok itu. Dalam pandangan singkat dan intens, sosok tersebut berkata dengan suara yang menggema dalam pikiran Arya: "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; "sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati".
Arya terkesiap. Kata-kata itu membangkitkan kekuatan dalam dirinya, memberikan semangat baru. Seolah-olah ia diberi pesan tentang arti perjuangan dan keberanian yang sejati. Meskipun tidak memahami sepenuhnya pesan dari sosok Arya versi lain itu, dia merasa diberi energi baru.
Radin, yang melihat Arya berhenti dan tampak linglung, mendekatinya dengan cemas. "Arya, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?"
Arya, masih berusaha mengumpulkan pikirannya, memandang Radin dan berkata, "Aku... aku melihat sesuatu, Radin. Seperti... pesan dari diriku sendiri, tapi dari tempat yang jauh dan berbeda."
Radin tampak bingung namun khawatir. "Kita harus kembali. Mungkin kau kelelahan atau butuh istirahat."
Namun, Arya merasa berbeda. Ia merasa lebih kuat dan bertekad, seakan pesan dari sosok lain itu memberinya kepercayaan diri dan semangat baru untuk terus berjuang.
Di ruang pertemuan, cahaya lampu minyak memancar lembut, menyoroti wajah Kamandana yang tampak serius. Dari balik jendela, angin malam menyusup masuk, membuat tirai bambu bergerak-gerak halus. Radin dan Arya duduk di hadapannya, mengungkapkan peristiwa yang baru saja mereka alami.
Mendengar pertanyaan Arya, Kamandana terdiam sejenak. Tangannya bermain-main dengan keris pusakanya yang berukir naga. Matanya yang berkerut mencoba mengingat.
Setelah beberapa saat, ia berkata, "Sadumuk bathuk... Kau pasti mendengar kata-kata itu dalam kondisi tertentu, bukan?"
__ADS_1
Arya mengangguk. "Ya, Paman. Saat saya patroli tadi. Saya melihat diri saya sendiri, tapi dari tempat yang lain. Entah mengapa saya merasa kata-kata itu penting."
Kamandana menghela nafas, "Sadumuk bathuk menggambarkan sebuah konsep tentang keteguhan hati. Kata-kata itu bisa diartikan sebagai 'batu teguh'. Sementara 'sanyari bumi ditohi tekan pati' artinya berjuang untuk tanah air sampai akhir hayat. Ini menggambarkan keberanian dan kesetiaan seseorang dalam melindungi tanah leluhurnya, sampai tarikan nafas terakhir."
Mata Arya berbinar mendengar penjelasan Kamandana. "Jadi, apakah ini pertanda atau pesan, Paman?"
Kamandana tersenyum tipis, "Bisa jadi. Dalam peperangan ini, kita butuh keberanian dan kesetiaan. Mungkin leluhur kita, atau entitas lain, memberimu pesan agar kita semua tetap teguh dan setia pada tanah Jawa."
Radin menepuk pundak Arya, "Ternyata kau punya pertanda khusus, Arya. Kita harus bersiap dengan lebih kuat lagi."
Kamandana menatap Arya dengan penuh harap, "Kau telah diberkahi dengan pertanda. Gunakanlah itu sebagai pedoman dalam setiap langkahmu, Arya."
Kamandana, dengan wibawa yang mengalir dari setiap kata dan tatapannya, berdiri tegak dari kursinya. Cahaya senja menyapu ruangan melalui celah-celah jendela, menerangi raut wajahnya yang penuh pengalaman dan bijaksana. Arya dan Radin, duduk dengan sikap yang tegak dan penuh penghormatan, memperlihatkan rasa hormat yang tulus terhadap sang elder.
Ia melanjutkan, "Pertama-tama, selalu ingat bahwa kita berjuang bukan atas dasar kebencian, tetapi atas dasar cinta pada tanah air dan rakyat. Jangan pernah biarkan amarah dan dendam mempengaruhi jiwa kalian. Kehatian hanya akan merusak pikiran dan menghalangi jalan menuju kebijaksanaan."
Kamandana mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Kedua, tetaplah adil dalam semua tindakanmu. Di medan perang, mungkin kita dihadapkan pada situasi sulit yang membutuhkan keputusan berat. Namun, jangan lupakan untuk selalu mengedepankan prinsip keadilan dalam setiap langkahmu."
Suara Kamandana terdengar semakin dalam, "Ketiga, jangan meremehkan musuh, namun jangan juga takut kepada mereka. Pelajari dan hargai kekuatan musuh, tetapi juga jadilah yakin bahwa kita memiliki kapabilitas untuk mengatasi segala rintangan."
__ADS_1
Pandangannya tajam ketika ia menambahkan, suaranya seperti desiran angin malam, "Dan yang terakhir, percayalah pada dirimu sendiri dan pada rekan-rekanmu. Kebersamaan adalah aset paling berharga kita. Melalui persatuan, kita akan menemukan kekuatan untuk menghadapi segala tantangan."
Selesai dengan wejangan itu, Kamandana kembali duduk. Suasana ruangan terasa tenang, hanya diselingi oleh hembusan angin lembut yang masuk dari luar. Arya dan Radin merenungkan kata-kata yang baru saja diucapkan, meresapi setiap nasihat yang diiringi oleh nafas bijaksana sang paman.
Arya dan Radin duduk bersama, merenungkan kata-kata bijak yang baru saja mereka dengar dari Kamandana. Mereka merasa terinspirasi dan penuh semangat untuk memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin dan anggota pasukan 99.
Arya merenung sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kamandana benar. Keadilan adalah landasan utama perjuangan kita. Di tengah kerasnya medan perang, kita tidak boleh kehilangan nilai-nilai kita. Kita akan menunjukkan kepada musuh bahwa kita adalah kekuatan yang berdiri teguh dengan prinsip-prinsip yang kuat."
Radin menambahkan, "Kita juga harus selalu berhati-hati dan mempersiapkan diri dengan baik. Tidak ada yang boleh diremehkan, tetapi kita tidak boleh merasa takut. Dengan pemahaman yang baik tentang musuh dan kepercayaan pada kemampuan kita sendiri, kita akan mampu menghadapi segala rintangan."
Mata mereka saling berpandangan, saling memahami bahwa tugas yang dihadapi tidaklah mudah. Namun, mereka memiliki keyakinan satu sama lain dan dukungan dari pasukan 99, yang telah menjadi satu keluarga dalam perjuangan ini.
"Arya, Radin," kata Kamandana dengan suara yang tetap tajam, "Saya tahu kalian berdua akan melakukan yang terbaik. Ingatlah wejangan ini saat kalian berada di medan perang. Bersama, kita akan mencapai kemenangan yang kita impikan."
Arya dan Radin menatap Kamandana dengan rasa hormat yang mendalam. Kata-kata bijak dari pemimpin tua ini mengingatkan mereka akan betapa pentingnya persatuan dalam perjuangan mereka. Mereka tahu bahwa tugas yang diemban tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk semua yang mereka cintai dan bagi masa depan tanah air mereka.
"Dengan tekad yang bulat, kami akan menjalankan tugas ini," jawab Arya dengan penuh semangat. "Kami tidak akan pernah melupakan kata-kata bijakmu, Kamandana. Bersama-sama, kita akan menghadapi setiap ujian dan pengorbanan yang mungkin kita temui, dan kita akan mencapai kemenangan yang kita impikan."
Radin mengangguk setuju. "Kami adalah satu keluarga dalam perjuangan ini, dan kami akan saling mendukung. Kami percaya bahwa dengan persatuan dan keyakinan kita, tidak ada yang tidak mungkin."
__ADS_1
Kamandana tersenyum puas. "Baiklah, sekarang mari kita bersiap-siap. Waktu untuk tindakan sudah tiba. Ingatlah, setiap langkah yang kalian ambil di medan perang adalah langkah menuju kemerdekaan. Bersama, kita akan menulis sejarah yang akan dikenang oleh generasi mendatang."
Mereka semua berdiri, merasa semangat dan tekad mereka semakin kuat. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka akan sulit, tetapi dengan persatuan dan semangat yang mereka miliki, mereka siap menghadapinya. Dalam ketenangan ruangan itu, mereka merasa seperti pahlawan yang siap memimpin perjuangan besar untuk kebebasan dan keadilan.