
Empat tahun waktu normal dalam menepuh jenjang pendidikan strata satu (S1), merupakan suatu perjuangan yang mungkin cukup menguras batin, tenaga dan pikiran untung nya aku bisa menyelesaikan nya 3 setengah tahun sihh . Kisah ketika kita sebagai seorang mahasiswa sudah datang ke kampus namun pengajarnya tidak datang sama sekali, merupakan momen yang mungkin akan selalu dikenang. Disitulah bagian batin dan tenaga seorang mahasiswa diuji. Kisah ketika sang pengajar memberikan tugas rangkuman yang bukan main banyak lembarannya atau tugas mengerjakan soal bukan main beranak nomornya, merupakan momen yang mungkin akan menjadi topik pembahasan yang menarik ketika berkumpul bersama kawan-kawan dalam sebuah acara yang sederhana. Berbagai sudut pandang pikiran akan menanggapinya dengan berbeda-beda. Namun semua memiliki satu sudut pandang yang sama, yaitu semua ingin berwisuda.
Wisuda merupakan suatu momen dimana acara resmi seorang pelajar atau seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya pada suatu jenjang pendidikan tertentu dan memperoleh suatu gelar tertentu. Pada momen inilah puncak rasa haru setiap pelajar atau mahasiswa. Rasa haru dan suka cita bercampur aduk satu sama lain. Tentunya bagi orang tua, ibu dan ayah yang memiliki rasa bangga kepada anak-anaknya, berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan sebaik-baiknya. Orang tua menitipkan amanat secara tidak langsung kepada anak-anaknya untuk menjadi seorang yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat luas, salah satunya melalui pendidikan. Inilah makna tersembunyi dari sebuah kata "wisuda".
Perjalanan tidak terhenti cukup sampai pagelaran wisuda selesai. Masih ada perjalanan selanjutnya untuk menyambung tali cerita dalam kehidupan. Setelah wisuda barulah kehidupan dimulai. Pelajaran selama masa sekolah SMA akan diteruskan kepada jenjang Perguruan Tinggi. Pelajaran selama di Perguruan Tinggi (masa kuliah), apakah akan diteruskan kepada jenjang kehidupan selanjutnya dalam konteks berinteraksi sosial? Mungkin tidak akan sepenuhnya diterapkan. Namun proses bagaimana diri menjalani masa perkuliahan, proses bagaimana diri membangun sebuah pemikiran pada masa perkuliahan, proses bagaimana diri membentuk kepekaan batin pada masa perkuliahan, proses bagaimana diri membentuk tanggung jawab pada masa perkuliahan, itu semua akan teraplikasikan kepada kehidupan yang sebenarnya.
Semua proses itu tersampul oleh satu kata yaitu "kemampuan" atau soft skill. Selama mengemban masa pendidikan kuliah, kemampuan atau soft skill apa yang telah dimiliki oleh setiap lulusan pada jenjang pendidikan tertentu. Karena dengan adanya suatu kemampuan (soft skill) akan sangat memberikan nilai tambah pada setiap individu untuk menjalani aktivitas selanjutnya.
Apakah ingin melanjutkan tingkat pendidikan selanjutnya? Atau ingin bekerja atau membuat usaha sendiri? Pilihan itu ada pada diri kita masing-masing untuk menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama.
setalah wisuda ibu dan bapak balik lagi ke Bandung ,saya mengikuti jejak Riani untuk menggunakan surat keterangan lulus, untuk mencari pekerjaan.
Mulai deh saya bikin berbagai surat lamaran, liat lowongan di koran Jawa Pos setiap hari Sabtu, which is kalau Sabtu iklan lowongan lebih banyak.
Sayangnya, entah karena nggak jujur ke ibu, sampai sebulanan setelah wisuda, sama sekali nggak ada panggilan atau kabar dari surat lamaran yang saya kirimkan.
Sampai akhirnya aku menyerah, dan nurut kata ibu, untuk pulang ke Bandung.
Udah deh, semua barang aku packing, dan beberapa barang, karena terlalu berat, jadi aku titipin di teman aku Riani, yang lainnya aku kasih ke teman-teman kos saja.
Di hari yang ditentukan, berpisahlah aku dengan sahabat aku Riani dan teman-teman, sambil nangis-nangis .
Sampai di Bandung, ibu menyuruh aku untuk ke rumah tante, dan oleh tante serta om, aku disuruh melamar kerja jadi dosen aja di universitas swasta yang ada di sana, sambil menunggu waktu test CPNS yang memang udah ada 'bagiannya.
Meski kesal karena i hate mengajar, pergi juga aku menemui rektornya, atas perintah om.
Ajaibnya, aku diterima dong, hanya karena alasan aku lulusan sarjana dari Jawa, hahaha.
Dan aku diminta menunggu sampai mahasiswa masuk, dan kebagian mengajar sebagai asisten dosen di mata kuliah Teknik Pengendalian Proyek yaaa walaupun jurusan ku sedikit lari. Langsung heboh deh beberapa teman aku di Bandung, karena beberapa mahasiswanya ya teman-teman aku ketika STM.
__ADS_1
Nggak puas menyuruh aku melakukan hal yang aku nggak suka, om dan tante juga menyuruh Aku melamar jadi guru di STM, sekali lagi aku nurut, berangkatlah aku ke STM, dan ajaib..
aku diterima jadi asisten guru di mata pelajaran konstruksi batu.
aku sempat ikutan mengajar sekitar 2-3 kali,aku bahkan malas masuk sekolah,dan mengabaikan telpon dari guru dan kepala sekolah.aku kesal semua kemudahan itu rasanya tidak sesuai dengan aku banget.aku gak suka ngajar puncaknya aku ngambek,dan ibu dengan sangat terpaksa membolehkan aku untuk kembali ke Yogyakarta.
Betapa bahagianya aku, meski bete juga.
Karena setelah sampai di Yogyakarta, ibarat aku memulai semuanya dari nol.
aku nggak punya kos-kosan lagi, terpaksa menginap di kos teman aku.
Lalu aku kembali menemukan kos yang gak jauh dari kos teman aku Riani,mulai lagi menata kehidupan.Setelah masalah kos selesai, aku mulai mengumpulkan info lowongan kerja sebanyak mungkin.
Dari yang awalnya cuman fokus di bidang teknik sipil saja, lalu akhirnya aku mendapatkan panggilang test dan interview pertama aku.
aku ingat banget, saat itu di perusahan kecil yang berkantor di jalan Bali or sekitarnya (kalau nggak salah), aku datang tepat waktu, mengerjakan semua test dengan tepat waktu, hingga interview dengan gemetaran.
Dari yang kantornya di sebuah rumah sederhana, sampai di perkantoran yang sebelumnya, aku hanya memandangi gedungnya dari luar saja.
Iya,aku jadi berkesempatan bisa masuk di banyak gedung perkantoran, gara-gara sering mendapatkan panggilan test dan interview kerja.
Sampai akhirnya aku inisiatif sendiri, bikin lamaran dan dianter ke proyek- proyek yang sedang dikerjakan, aku ingat betul saat itu aku mengantarkan sendiri ke proyek pembangunan gedung Yogyakarta.
Hasilnya, keesokan harinya aku dapat sms dan telpon berkali-kali, dari orang yang iseng ngajak kenalan.
Dugaan aku, surat lamaran tersebut, nggak diserahkan ke pimpinannya, malah dibuka sama satpamnya, atau pekerja lainnya, hiks.
Saat itu sudah berbulan-bulan setelah pertama kali melamar kerjaan di mana- mana, sama sekali belum ada kabar membahagiakan, daaaannn... ibu aku sudah berhenti mengirimkan uang ke aku.
__ADS_1
Mama kesal, karena saya nggak mau nurut, jadi PNS di Buton saja, terlebih memang 'jatah' saya jadi PNS sudah disiapkan dengan susah payah.
FYI lagi, saat itu memang, penerimaan PNS belum seperti sekarang yang lebih terbuka, dulu mah hanya yang punya koneksi dan uang yang bisa punya kesempatan besar untuk jadi PNS.
Tidak terasa, waktu terus berlalu, hari berganti, minggu dan bulanpun demikian.
Dan nggak terasa lagi, aku sudah menganggur setahunan dong.
Ya ampuunn!
Sampai suatu siang, aku menerima panggilan interview, aku datang dengan malas-malasan, terlebih setelah melihat kantornya biasa saja.
Pengalaman aku setelah setahun interview sana sini, kantor seperti itu hanya mau menggaji karyawan dengan gaji sedikit, tapi maunya karyawan bisa semua hal.
Ajaibnya, aku sama sekali nggak mengerjakan test tulis di situ, hanya langsung menemui pemiliknya, nanya- nanya ini itu layaknya interview biasanya, sampai akhirnya dijelasin mengenai fasilitas di sana.
Bahwa di sana dapat makan siang, tapi enggak uang transport.
SAYA DITERIMA! FINALLY!
Dan gajinya?
Bikin aku lalu nangis gulung-gulung di malam harinya.Aku kesal, dilema.Butuh waktu setahunan aku bersabar dan tetap semangat, demi mendapatkan kerjaan, tapi 'cuman' dikasih kerjaan dengan segitu?
Bahkan, buat bayar kebutuhan pribadi hampir nggak cukup.
Tapi setelah aku puas nangis, sambil ditemani Riani keliling kota Yogyakarta, toh hari Seninnya, aku datang juga buat kerja.
Mencoba menerima jalan yang diberikan Yang Maha kuasa.
__ADS_1
Toh juga aku menunggu setahun demi bisa bekerja dan digaji.