
Setelah membuat kopi. Kelly pun mengantarkan keruang Presdir. Ada rasa kekhawatiran di hatinya. Semoga saja, Presdir yang biasanya orang-orang katakan itu gak benar. Kelly pernah mendengar, bahwa Presdir yang mempunya perusahaan tempat di mana ia bekerja terbilang cukup galak, semua karyawan tidak berani menatapnya. Di tambah lagi jika melakukan kesalahan. Dia akan langsung di pecat.
Jantung Kelly berirama dengan detakkan yang lebih cepat saat menelusuri koridor kantor menuju ruang Presdir. Semoga saja, karyawan di sini itu salah.
Tok ... Tok ... Tok !!
Ketukan di balik pintu, tapi sepertinya tidak ada yang menyahut. Dengan memberanikan diri. Kelly masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata memang benar, tidak ada orang. Kenapa ruangan ini kosong? Kemana pemiliknya? . Bathin Kelly.
Meletakkan kopi yang berada di nampan yang ia bawah. Melihat di sekeliling ruangan itu. Tampak rapi, namun buku-buka yang berada di raknya tampak berdebu. Apa tidak ada Office lain yang membersihkan ruangan ini?
Kelly meraih kain lap yang ada di pinggangnya. Merapikan tatanan buku. Membersihkan debu-debu yang menempel. Tampaknya sangat asik saat dia melakukannya. Lupa, bahwa ini adalah ruangan Presdir dan tanpa izin memasukkinya.
Dengan asiknya. Kelly pun bernyanya lagu kesukaannya. Dia menyukai lagu-lagu pop yang berbahasa Inggris. Tapi dia tidak tahu cara pengucapannya. Yang terdengar hanyalah, Na na na na.
Saat sedang asik bernyanyi. Ada sebuah mata yang memperhatikannya. Berani sekali dia memasuki ruanganku tanpa izin!
“Sedang apa kau di sini?” Ucapnya mengagetkan Kelly. Kelly langsung berbalik badan kearah sumber suara itu.
“Sa-saya membawahkan kopi untuk pak Presdir. Tapi sepertinya dia tidak ada di ruangannya. Saya terpesona untuk membersihkan rak buku itu, apa anda melihat di mana pak Presdir?” Tutur Kelly.
Rui mengernyitkan alisnya. Ternyata ada juga karyawan yang bekerja di perusahaannya tanpa mengenal dirinya. Rui memperhatikan gadis itu yang berdiri di depannya dengan saksama. Dari bawah kaki hingga sampai kekepala. Gadis itu nampak tertunduk. Hatinya bertanya-tanya. Sudah dua kali ia bertemu dengan orang yang ada di hadapannya itu. Pertama di lift, dan kedua di ruangan pak Presdir. Memangnya dia siapa?
Mencoba mendongakkan kembali kepalanya, “pak, apa bapak tahu di mana pak Presdir? Ah, atau jangan-jangan anda bapak Presdir?” Tanya Kelly dengan menaikkan alis kanannya.
“Bukan,” katanya dengan wajah datar.
__ADS_1
Ah, ternyata dia bukan Presdirnya. Syukurlah.
“Kalau begitu saya permisi dulu pak, itu kopi buat pak Presdir.” Menunjuk kearah kopi lalu mengambil langkah seribu setelah menerima anggukkan kepala dari Rui.
“Tunggu,”
Aduh apa lagi? Kelly membalikkan badannya.
“Siapa namamu?” Tanyanya.
“Saya Kelly Auristela pak,” jawab Kelly.
“Kau boleh pergi,” ucapnya.
Sedangkan Rui. Rui memperhatikan rak buku yang ada di ruangannya itu. Baru kali ini, ada seorang Office Girl yang membersihkan ruangannya tanpa marah. Biasanya, dia akan ngamuk lalu menyuruhnya keluar.
Di tatapnya tatanan buku dengan susunan yang rapi dan teratur. Lalu kembali menatap kopi yang di bawahkan oleh OG tadi.
Di teguknya kopi itu dengan pelan. Sebentar lagi pernikahannya dengan Ansel akan terlaksana. Bisa di katakan, sisa satu minggu lagi. Selama ini, mereka saling menerima perasaan karena di jodohkan. Awalnya Rui menolak, namun karena tekanan dari Ayahnya. Dia pun merima tawaran pernikahan itu. Lambat laung, paksaan itu berubah menjadi rasa suka.
Sedangkan di ruangan lain. ~
“Apa kau sudah melihat wajah tampan pak Presdir?” Tanya Reni, rekan kerja Kelly.
Kelly hanya menggelengkan kepalanya. Yang ia pikirkan adalah, siapa laki-laki itu? Laki-laki yang ia temui sudah dua kali. Tampan, tapi wajahnya tanpa ekspresi. Wajah itu tampak kaku. Kelly kembali membayangkan wajah itu.
__ADS_1
“Ah, kau payah. Padahal, dia idaman semua orang. Hanya saja, dia galak.” Bisik Reni.
Kelly buyar dalam lamunan saat mendengar kata galak. Dan melototi Reni yang ada di hadapannya itu.
“Aku serius,” bisiknya lagi.
Kemudian, dering ponsel terdengar di balik tas milik Kelly. Kelly segera mencari ponselnya. Wajahnya tersenyum saat melihat nama yang tertera di balik layar ponselnya.
“Ya halo?” Ucap Kelly.
“Saya kamu kemana saja?” Nada manja Kelly.
“Maafkan aku, aku benar-benar sibuk sampai lupa mengabarimu. Akhir-akhirnya jadwalku sangat padat. Lain kali jika ada waktu, aku akan mengajakmu makan. Oke?” Ucapnya.
“Baiklah, aku memaafkanmu.”
Setelah sepuluh menit melepaskan rindu, walau hanya dengan suara. Hati Kelly merasa senang. Sudah seminggu lebih pacarnya itu tidak menghubungi dirinya.
“Ah, aku lupa bilang padanya kalau aku sudah bekerja.” Ucap Kelly dengan wajah cemberut.
......***......
“Shi, coba kau cari informasi mengenai gadis yang tak sengaja masuk kedalam lift pribadiku.” Perintahnya.
“Baik tuan,” Shi berlalu keluar dari ruangannya. Dia begitu sangat terburu-buru saat mendapat panggilan dari Bosnya itu. Namun apa? Dirinya hanya di suruh mencari informasi dari gadis yang tidak jelas.
__ADS_1