Konspirasi Alam Semesta

Konspirasi Alam Semesta
Bab 6


__ADS_3

Pagi ini sungguh sangat menggigit. Entah, ini hanya perasaannya saja atau memang udara pagi ini sangat menusuk. Kelly terdiam di sudut ruang itu. Kelly mencoba mengingat semua kejadian yang menimpah dirinya semalam. Ruang yang cukup menampung dirinya. Di lengkapi dengan ranjang yang nyaman dan berbagai fasilitas yang membuat orang merasa betah untuk tetap berada pada ruang ini. Kelly mulai mengingat semuanya. Air matanya mulai mengalir. Kelly tersadar dari lamunannya saat dia mendengar samar-samar derap langkah kaki seseorang.


Tok ... Tok ... Tok ... !!


Kelly mulai bangkit dari tempat ia bersandar. Tiba-tiba kepalanya sangat sakit. “Jam berapa ini?”, batinnya. Dia melihat jam di samping ranjangnya. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Ah, sepertinya ia terlambat ke tempar kerjanya. Entahlah. Dia seperti malas untuk menuju ke sana. Lalu, terdengar ketukan pintu untuk kedua kalinya sambil memanggil namaku. “Ya, sebentar,” jawabnya sambil menahan rasa sakit di area intimnya. Kelly berusaha untuk tidak merasakan sakitnya. Perlahan Kelly berusaha untuk melangkahkan kaki. Akhirnya, ia berhasil menuju pintu itu. Kelly membukanya. Ternyata, Bibinya yang berada di balik pintu.


“Bibi,” ujar Kelly.


“Wajahmu sangat pucat, kau sakit? Bibi hanya membangunkanmu, apa kau tidak bekerja hari ini?” Bertubi-tubi pertanyaan muncul untuknya.


“Bibi, aku tidak apa-apa. Aku hanya kecapekan karena semalam aku lembur bibi, dan aku sudah izin sama Reni.” Jelas Kelly.


“Hmm ... Baiklah, kalau begitu istirahatlah sayang.” Ucap bibinya. Kelly hanya menganggukan pelan kepalanya lalu beranjak dari tempatnya menuju tempat tidur. Di pikirannya hanyalah rebahan adalah solusi yang terbaik. Air matanya tak pernah berhenti mengalir.


Jahat sekali.


Sedangkan di lain tempat. Ada sepasang mata yang terus menatap kearah area parkiran. Seperti sedang menanti seseorang.


“Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” Ujar security yang berjaga dari tadi.


“Apa Kelly Auristela sudah datang?” Tanya nya.


“Belum Tuan, sepertinya dia tidak datang. Karena jam kerja OG yaitu pukul 07.45 Tuan. Sedangkan sekarang ini sudah pukul 9 lebih.” Jelasnya.


Terdengar nafas kasar keluar dari mulutnya. “Baiklah, hubungi aku jika Kelly sudah ada.” Perintahnya.


“Baik Tuan,” dengan sedikit menunduk.


...***...


“Tuan, apa saya boleh masuk?” Suara Shi di balik pintu.

__ADS_1


“Masuklah,”


“Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai gadis yang Tuan perintahkan.” Ucapnya.


Rui yang sedari tadi fokus kearah laptop yang ada di depannya itu. Jarinya terhenti tepat di atas Keyboard.


“Katakan,” perintahnya.


“Kelly Auristela, gadis dengan usia 20 tahun. Dia adalah gadis yatim piatu. Ibu dan Ayahnya meninggal pasca kecelakaan yang menimpah mereka saat Kelly berusia dua tahun. Kemudian, paman dan bibinya yang membesarkannya dirinya. Dia juga sering di ganggu oleh pamannya. Pamannya hampir melecehkannya. Kelly sudah sering di pukul oleh bibi jika mengaduh yang tidak-tidak. Akhirnya, dia tutup mulut sampai saat ini.” Jelas Shi.


“Berani sekali dia,” dengan nada mengerikan dan tatapan yang tajam.


“Tuan, jika saya boleh tahu. Untuk apa Tuan melakukan ini?” Tanya Shi.


“Semalam, aku, aku tidak sengaja menyentuhnya.” Ucapnya dengan terbata dan dengan nada berat.


Shi membulatkan dua matanya saat mendengar pengakuan Tuannya. Dia paham betul dengan ucapan Tuannya itu. Walaupun hanya sekedar kode atau isyarat.


“Aku tidak punya pilihan. Ansel meninggalkanku, dia tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Jadi aku memutuskan untuk menikahi Kelly saja.” Jelasnya.


What?


“Bagaiamana dengan Tuan Rex?” Tanya Shi.


“Aku akan menjelaskannya pada pak tua itu, kau tenang saja.” Shi hanya menganggukkan kepalanya.


“Sekarang aku minta, kau memanggil dia kemari.” Perintahnya.


“Baik Tuan, saya permisi.” Rui hanya menganggukan pelan kepalanya.


Shi berjalan menuju ruang Office.

__ADS_1


“Hana,” panggilnya.


“Iya Tuan?” Ya, nama Senior itu adalah Hana.


“Apakah Kelly ada di sini?” Tanya Shi.


“Tidak Tuan, dia tadi izin ke Reni. Kalau dia sedang sakit. Jadi, dia tidak datang bekerja hari ini.” Jelas Hana.


Shi hanya membalikkan tubuh. Dirinya tidak jauh beda dengan Tuannya. Sama-sama kaku dan datar. Shi kembali keruangan Tuannya.


“Tuan, nona Kelly tidak masuk bekerja hari ini.” Ujar Shi.


“Kenapa?” Tanya nya dengan mata melotot.


“Kata Hana, dia sedang sakit.”


Rui tertunduk, “kau boleh keluar Shi.”


“Baik Tuan,”


Rui masih berpikir. Apa karena aku dia sakit? Gara-gara aku dia sakit. Bagaiamana sekarang kondisinya? Aku terkasar padanya semalam. Aku bahkan tidak melihatnya pergi dariku.


...***...


Setelah membersihkan dirinya. Kelly masih tetap berbaring. Menatap langit-langit kamar. Sesekali hatinya mengaduh. Apa yang sudah terjadi padanya? Kenapa harus dirinya? Belum kering pipi itu, air matanya kembali terjatuh.


Sedangkan Rui. Dia memutuskan pulang lebih awal ke Apartemennya. Shi yang memegang kemudi. Rui hanya menatap keluar kearah jendela. Membayangkan air mata gadis itu semalam yang ia mangsa bagaikan hewan yang sedang kelaparan.


Sesampai di Apartemennya. Dia menyuruh Shi kembali ke kantor untuk menghandel semuanya. Memasuki Apartemen itu yang nampak menyedihkan. Tak ada suara, sepi. Bahkan teman di ajak ngobrol pun tak ada. Terakhir kali Ansel datang ke Apartemennya. Memasakkan dirinya nasi goreng. Berpikir sejenak, bahwa Ansel lah yang akan menjadi teman hidupnya. Tapi ternyata dia salah menanggapi rasa perhatian itu.


Masuk kekamar. Terlihat di atas rajangnya baju yang ia bawah dari kantornya. Dia meraih baju itu, lalu mencium aromanya. Masih tercium wangi parfum yang begitu enak. Membaringkan tubuhnya. Tangannya masih memegang baju itu. Tatapannya tak henti dari baju yang ia pegang. Tanpa terasa, air matanya mengalir. Untuk pertama kalinya ia merasa bersalah melakukan hal itu.

__ADS_1


Andai saja Kelly bukanlah wanita baik-baik. Mungkin dia akan memberikannya uang yang banyak. Bagaimana kabarnya sekarang? Rui langsung mencium baju itu lalu memeluknya. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.


__ADS_2