
Kelly menuju ruang Presdir dengan langkah kaki yang cepat dan perasaan gelisah. Ada apa ini? Tidak seperti biasa.
Tok ... Tok ... Tok !!
Kelly mengetuk pintu itu, tapi sepertinya tidak ada jawaban. “Tuan, saya masuk ya.” Membuka perlahan pintu itu.
Kelly begitu terkejut melihat Presdir Rex Company tergeletak di lantai. Melihat di sekeliling ruangan itu tampak kacau. Seperti kapal pecah. Kelly memejamkan matanya. Rasanya, Tuhan menambah jam time pekerjaannya karena melihat isi ruangan Bosnya itu.
Berjalan kearah laki-laki itu yang sudah memejamkan matanya. Kepalanya bersadar di kursi miliknya. Dan tangan kirinya memegang botol. Sedangkan tangan kanannya nampaknya berdarah.
“Tuan, ada apa dengan anda?” Saat Kelly memegang wajah itu. Dia tampak terkejut, bukankah laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah laki-laki yang sudah dua kali ia temui?
“Astaga, apa yang Tuan lakukan di sini? Kalau pak Presdir sampai tahu anda mengacaukan ruangannya. Tamatlah riwayat anda.” Menggeleng-geleng tidak percaya dan menyilangkan kedua tangannya.
“Baiklah, karena aku orang baik. Aku akan membantu anda merapikan ruangan ini agar anda tidak kena marah.” Ucap Kelly lalu beranjak membersihkan ruangan itu.
Meraih beberapa buku yang tergeletak. Lalu menyapu beberapa pecahan kaca yang sangat banyak. Entah berapa botol yang sudah ia lempar.
Saat sedang sibuk membersihkan meja dan menata dengan sangat rapi. Kelly memungut laptop yang terjatuh, “ah, sayang sekali. Benda ini sangat mahal pastinya.”
Saat sedang asik bergumam dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Kelly terkejut dan masih diam di posisinya. Kemudian Rui membenamkan wajahnya keleher Kelly. Membuat Kelly tersontak kaget dan menyiku kearah belakang untuk perlawanan dirinya.
“Tuan, apa yang anda lakukan.” Kelly sangat panik dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
__ADS_1
Rui tidak memperdulikan itu. Dia terus menatap wajah gadis yang ada di hadapannya. Melangkah maju membuat Kelly semakin mundur dan sudah bersandar di tembok. Panik dan gelisah sudah bercampur menjadi satu.
“Kau sudah mengkhianati hatiku,” dengan gertakan membuat Kelly tambah panik.
“Mengkhianati seperti apa Tuan? Anda salah orang.”
Saat ingin melarikan diri. Rui dengan cepat menarik lengan Kelly lalu menghempaskan tubuh Kelly ke sofa.
“Jangan lalukan ini Tuan, aku mohon.” Dengan wajah yang sudah pucat dan air mata yang sudah mengalir.
“Oh, kau harus membayar semua.” Bentaknya lalu menindih tubuh Kelly.
“Tapi ... ” Belum menyelesaikan perlawanannya. Rui sudah ******* bibir Kelly dengan sangat kasar. Kelly masih tetap menutup rapat bibirnya. Membuat Rui tambah semangat lalu menggigit bibir atas milik Kelly supaya terbuka.
Memukul dada bidang milik Rui sepertinya tidak berguna lagi baginya. Air matanya terus mengalir. Makin deras. Tapi sayangnya, Rui tidak memperdulikan itu. Karena Kelly tetap tidak membuka mulutnya. Rui langsung menelusuri lekuk leher milik Kelly.
Tangannya menyusup masuk kedalam baju Kelly, melepaskan pengait pagar yang menutupi dua bukit kembar itu. Tuhan, tolong aku. Siapapun yang berada diluar, aku mohon tolong aku. Air matanya makin menderas.
Dengan nafsu yang memburu, Rui melonggarkan celananya. Agar ularnya yang sudah dari tadi tegang bisa masuk ke dalam gua yang ada di hadapannya. Bibirnya masih mengisap satu bukit kembar itu, sedangkan tangannya memainkan bukit kembar sebelahnya.
Kelly tidak bisa apa-apa, entah kenapa pikirannya menolak tapi dia juga seperti menikmatinya. Kini, ular itu semakin menjadi-jadi dan siap melepaskan bisanya. Dengan sangat hati-hati, dia mendorong dengan kuat ular itu agar masuk kedalam rumah barunya.
Kelly menjarit kesakitan. Tapi Rui tetap mendorong dengan kuat ularnya agar lebih dalam lagi. Mendiamkan beberapa menit. Lalu mengobrak-abrik isi gua itu. Hingga mencapai di mana sih gua siap memuntahkan yang tertahan di dalam. Dengan bersamaan. Si ular pun memuntahkan bisanya. Rui melihat Kelly dengan mata yang sembab tanpa terasa, mata itu terpejam. Mungkin lelah. Rui ikut berbaring di sampingnya.
__ADS_1
Malam itu malam yang sangat panas, malam yang tidak akan pernah Kelly lupakan dalam seumur hidupnya. “Kau adalah milikku,” begitu bisiknya yang membuat Kelly tetap diam dan hanya air mata yang menemaninya.
Tubuh Kelly menggeliat. Matanya terbuka melirik kearah jarum jam. Sudah pukul satu dini pagi. Tubuhnya merasa tertimpah beban berat, dia melirik kebawah, ada tangan yang memeluknya. Tubuh ternyata sudah polos tanpa selesai kain pun. Kelly merasakan area intimnya begitu sakit.
Bangun dan memungit pakaiannya. Bajunya tampak sobek. Karena tidak ada pilihan lain. Dia pun memakai kemeja Rui. Setelah memakai pakaian. Ia berjalan sempoyongan dengan sangat pelan. Sakit sekali. Hanya itu yang terdengar dari mulutnya.
Dengan jalan tertatih. Kelly harus bisa pulang kerumahnya. Bibi dan pamannya pasti sangat khawatir terhadap dirinya.
Selama perjalanan di atas motor kesayangannya. Tak henti-hentinya dia menangis mengutuki kebodohannya yang tidak bisa memberontak lebih keras lagi. Sekarang apa? Nasi sudah menjadi bubur.
...***...
Pagi sudah menyambut. Tampaknya matahari masih malu-malu memperlihatkan cahayanya. Kelly pulang dan masuk rumahnya melalui jendela kamarnya. Sedangkan di lain tempat. Tampaknya tubuh berkulit putih bersih itu menggeliat.
Rui bangun dan menyandarkan kepalanya ke sofa. Melirik kearah jam. Jam menunjukkan pukul enam pagi. Melihat di sekelilingnya. Mengingat apa yang terjadi padanya. Kenapa dia bisa berada di kantornya? Terdiam sejenak lalu memejamkan matanya.
Kemdian matanya terbuka saat mengingat semua kejadian yang ia lakukan. “Gadis itu?” Gumamnya.
“Astaga, bodoh-bodoh.” Dia meremas kasar wajahnya.
“Apa yang sudah aku lakukan?” Kembali memejamkan matanya. Dia ingat, bagaimana dia emosi saat tahu bahwa Ansel mempermainkannya. Dan gadis itu, dia memaksa gadis itu berhubungan badan dengannya. Dan dia melakukannya secara kasar. Membuka mata dan melirik kesamping. Terlihat ada noda darah di sofa itu. Lagi-lagi di mengutuki kebodohannya.
Berdiri, memperbaiki celananya. Dan saat ingin memungut kemejanya. “Di mana kemejaku?” Gumamnya.
__ADS_1
Yang tersisa adalah baju gadis yang bekerja sebagai OG itu. Rui meraih baju itu, melihat nama yang tertera di pakai itu. “Kelly Auristela?” Gumamnya. Dia mengingat-ingat nama itu, sepertinya seseorang pernah menyebut nama itu.
“Astaga, ternyata dia?” Rui mengingat siapa gadis yang bernama Kelly Auristela itu.