
...Mata lelaki itu menatap jalan.ke lalu-lalang lalulintas ia masih tetap seperti tadi,ketika pertama kali datang ke tempat itu.bersandar di dinding kusam toko kosong itu.Menatap jalan dengan tatapan redup.Entah apa yang dipikirkannya.sudah dua batang roko ia habiskan.namun ia tak mengubah tubuhnya.Mematung tanpa gerak....
......................
seorang penjual roko di sampingnya menatapnya heran.
"apa yang kau pikirkan,Rio?
"Hidup..."
lelaki itu menjawab acuh.ia hempaskan asap roko dalam-dalam.matanya masih menatap jalanan.cuek dengan segala apa yang melintas di depannya.
"mengapa pula dengan Hidup?"
"memuakkan ..."
"maksud mu?"
"Uah, tauu apa kau tentang Hidup?"
"Lhoo, jangan sewot.kulihat sejak tadi kau melamun di situ. Aku pikir kau lagi putus sama pacarmu ....
Rio tersenyum getir.
"pacar itu berengsek tauu ..?
"Lhoo?"
"Ah, sudahlah. kau tak usah peduli aku sedang apa. yang penting aku tambah rokonya satu bungkus. nihh, uangnya!"
penjual roko itu tersenyum. ia mengambil sebungkus roko yang biasa di beli oleh Rio Ganteng. anak-anak terminal di situ menyebutnya demikian.,'padahal Rio ngerasa pas-pasan tapi gak jelek jelek amat si hehehe'.
ia memiliki sepasang mata yang redup menghanyutkan. memiliki sebentuk hidung yang tidak terlalu pesek namun lumayan bagus. Dan bentuk dada yang bidang.Banyak gadis yang suka padanya. Akan tetapi Rio selalu saja acuh. Entah mengapa. yang lebih mengherankanya lagi, lelaki muda yang suka bergaul dengan anak-anak jalanan dan terminal itu selalu mempunyai uang. Namun tak pernah pelit. Selalu mengerti kekurangan teman. "Kau mau kemana Rio?" Tanya tukang roko itu yang melihat lelaki muda itu melangkah dengan gontai, meninggalkannya.
"Biasa ..."
"Biasa kemana?"
"Ahh, kau mau tauu saja, " Desah lelaki muda itu. ia mengambil sepeda motor trailnya. Dan melambaikan tangannya kepada seorang laki-laki penjaga karcis.
......................
"Kau butuh roko ngga?"
"Kau mau kemana Rio?"
"Ya, kemana saja kaki melangkah ..."
"Ngga sekolah?"
"Lagi males, "desah anak muda itu. ia melempar sebatang roko kepada laki-laki muda penjaga karcis Bioskop itu.
"Film nya bagus, ngga?"
"Lumayan, The Conjuring ..."
"Sudah mulai?"
"Belum ..."
Rio mengamati ruang dalam. ia masuk begitu saja. Dua lelaki penjaga karcis itu hanya menggelengkan kepala saja. Namun mereka tak mencegahnya atau menegur. Mereka mengenal benar siapa Rio. Anak gendongan yang lebih suka hidup di jalanan.
"Rio ..." Seorang gadis berseragam, karyawan gedung bioskop itu menyapa.
"Hey, Rissa, apa kabar?" Rio tersenyum Ramah.
"Baik, nonton?"
"Ya, nonton pantatmu ..."
Ah, kau," desah gadis manis itu tersenyum malu-malu.
"Benar, aku memang lihat pantatmu. Coba kau menghadap kesana ..."
"Sialan, 'kau Rio. Jangan menghina, ah!"
"Eh, siapa yang menghina? Aku kagum kok sama dirimu ..."
"Bener nih?"
"Bener, " desah Rio sambil mengamati deretan kursi yang masih kosong.
"Apa yang kau kagumi pada diriku?"
"Pantatmu..."
"Sialan!"
"Rissa..."
"Ya?"
"ma'af aku gak beli karcis..."
"Kau sih kapan mau beli, Rio ?"
"Bukan begitu, soalnya aku gak niat mau nonton. Aku sedang mencari seorang kunyuk cakep. Kulihat tadi kau mengantarkan kunyuk cakep itu masuk. Mana dia?"
"Siapa, Rio?"
"Cewe ..."
"Hiya, cewe. Di sini lebih dari seratus cewe. maksudku namanya?"
"Ngga tauu..."
"Kau belum mengenalnya?"
Belum, eh, maksudku baru ingin mengenalnya ..."
__ADS_1
"pakai apa datangnya?"
"Fortuner..."
"Yang hitam itu?"
"Kalau gak salah. Waktu turun, ia memakai kacamata hitam. sendiri, tanpa teman. Sebetulnya ia menantiku. Di mana dia Rissa ?"
"Nanti dulu, menantimu atau kau yang sengaja menantinya?"
"Terserah kau bilang apa. Aku penasaran. Sudah tiga kali ini kulihat dia sendiri nonton di gedung bioskop ini. Kau tauu dimana dia duduk ?"
"Pakai kaos T'sert, kan? Pakai blue jeans?"
"Tepat ..."
"Tuhh, sendiri di sana , " kata Rissa sambil menunjuk suatu tempat di mana seorang gadis duduk dengan tenang. ia menatap layar perak yang benar-benar masih putih, karena memang belum main. Lampu juga masih menyala. Di belakang gadis itu tampak beberapa laki-laki. juga di depannya. Taa ada yang mengawasinya. Siapa dia?
Rio melangkah meninggalkan Rissa,
"Biasa, kalau sudah dapat, lupa ..."
"Ahh, ma'af, Rissa. Hati ini memang lagi penasaran. Kutinggal kau, ya?"
Rissa hanya tersenyum getir. Gadis itu menatap Rio dengan mata redup. Ada sesuatu yang jatuh di kedalaman hatinya. Entah apa namanya. Hanya ia sendiri yang merasakan.Dan sesuatu itu, menimbulkan nyeri yang begitu menggigit hatinya. itu saja. Rio yang memang selalu bersikap acuh itu tenang melangkah. ia memang jarang punya perhatian khusus terhadap perempuan. Entah mengapa. Sampai kemudian, berturut-turut ia melihat cewe manis seperti kucing kecil yang imut dan menggemaskan itu memasuki gedung bioskop itu. Semula ia melihat sebagai sesuatu yang biasa. Tanpa ada getar apapun di hatinya. Kedua, ada sedikit rasa heran. kini yang ketiga, ia menjadi penasaran. Karena ia melihat sendiri, gadis itu selalu turun dari mobilnya, tanpa pengawal. Sendiri. Dan memang itu terjadi beberapa hari ini. Mungkin ia memang penghuni kota ini yang paling baru. Rio terus melangkah ke tempat gadis itu duduk.
"Boleh aku duduk di samping kamu?" Tanya Rio lembut. Gadis itu hanya melirik, sesaat ia terbelalak. Lelaki itu tampak acuh , tetapi butuh. ia diam saja. Melanjut kan menikmati kacang kulit yang tadi sempat di belinya.
"Boleh...?"
"Ini tempat dudukku, silakan!"
"Maksudku, apakah aku mengganggu kamu?"
"Engga, asal kamu diam saja di situ ...!"
Rio tersenyum. ia duduk di dekat gadis itu. Sesaat ia menghirup aroma wangi parfum yang mahal. ia menarik nafas panjang. Taa biasanya ia begitu memperhatikan seorang gadis. karena sejak ia ditinggal begitu saja oleh Berna, hatinya tak pernah cair oleh sentuhan lembut sapa seorang gadis. Semuanya melintas seperti angin lalu saja.
Tak ada yang mengerti, mengapa Rio selalu dingin. Tapi ya, itulah, penampilannya yang sembarangan itu, selalu saja menarik perhatian gadis-gadis cantik.
"Mana temanmu?"
"Kamu tanya siapa?"
"Waduhh,,,,,,,ya tanya ke kamu lahh...!
"Temanku ?"
"Ya..."
"Di rumah , " desah gadis itu acuh.
" Maksudku, kamu lihat sendiri sore ini?"
"Siapa bilang, kamu gak lihat mereka? Dan kamu ini mau lihat atau engga?"
"Rio garuk-garuk kepala. menghadapi gadis aneh ini, ia memang seperti kehilangan cara. Namun ia dengan tenang mengambil roko. Dan menyulutnya sebatang. Menghempaskan asapnya kuat-kuat.
"Ehh..."
"kamu gak baca tulisan itu ?"
"Yang mana?"
"Tuhh..."
Rio mengedarkan matanya, mengikuti telunjuk jemari lentik itu. ia memang melihat sebentuk kalimat mungil. DILARANG MEROKO! ia tersenyum sendiri. ia matikan puntung roko yang masih panjang itu. Kemudian sisanya ia masukkan ke dalam kantongnya dengan tenang.
"Kamu sendiri suka ngeroko?" Tanya Rio cuek. "Suka..."
Kembali Rio terbelalak. Waduhhh, benarkah itu?
Gadis macam apa dia?
"Kamu kaget?"
"Tentu saja..."
"Aku sering meroko, jika aku sedang kalut. Atau melihat bioskop seperti ini, jika hatiku resah, " gadis itu tersenyum getir. Rio mengamatinya. ia melihat keramahan itu. Sebetulnya dia bukan tipe perempuan sombong. itu iya melihat dari sinar mata yang ramah.
"kamu sering mengalami kekalutan?"
Gadis itu mengangguk.
"Boleh aku tau, macam apakah?"
"Taa ada gunanya aku ceritakan padamu ..."
"Mengapa?"
"Tida apa-apa. Hanya sekedar aku taa ingin kamu ikut tenggelam dalam cerita sedih kehidupanku. Ahh, sudahlah, jangan banyak tanya. Lihat di layar perak itu. kita taa usah berbicara tentang kehidupan ...!
Rio justru penasaran.
"Kamu anehh..."
"Kamu juga aneh, " desah gadis itu.
"Apa yang aneh pada diriku?"
"Ngapain setiap jam begini kamu berdiri di depan toko itu? Mematung kaya seorang filsuf yang sedang mencari bahan pemikiran?"
"Aku menunggu kedatanganmu ..."
"Jawabanmu terasa aneh di telingaku , " desah gadis itu.
"Kamu boleh gak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Sejak kulihat kamu memasuki gedung bioskop ini, aku menjadi tertarik tentang kehadiranmu. Aku mengerti kamu pasti gadis baru di kota ini..."
"Mengapa kamu berfikir begitu?"
__ADS_1
"Ini kota kecil neng. Dan aku mengenal benar kota ini. Aku belum pernah melihatmu sebelum ini, " desis Rio. ia tersenyum.
Gadis itu tertawa kecil.
"Kamu cukup cerdas. Aku memang penduduk baru kotamu ..."
"Nahh, gak ada buruknya aku mengenalmu, bukan?"
"Apakah begitu penting, buatmu?"
"Tentu saja. Nama Rio..."
"Satrio SA, bukan?"
"Hei, kamu tau nama kebesaranku?"
yah, Angkatan ketiga? wakil engine perancang?
"Ehh ...?
Rio menatap gadis di sampingnya yang tersenyum simpul ini. ia taa mengerti dari mana gadis itu tauu identitasnya Untuk kesekian kalinya ia menggaruk kepalanya yang tida gatal. Sementara lampu ruangan itu mulai padam.
"Kamu tau semua itu?"
"Uhh, kamu tau semua tentang diriku?"
"Lebih dari apa yang kamu bayangkan ..."
"Siapakah kamu?"
Gadis itu tertawa kembali. Sementara Film mulai beraksi di layar perak. Rio menangkap sederetan gigi yang putih dan rajin. Dari gelap tampak begitu jelas. Diam-diam lelaki muda itu mengagumi gadis yang masih diam di sampingnya itu.
Lelaki muda itu menarik nafas panjang. ia mendengar jelas desah itu. Sejenak ia mengamati gadis yang begitu jelas mengetahui identitasnya tanpa ia mengerti siapa sebetulnya gadis itu.
"Mengapa kamu diam?"
"Kamu seakan seperti sudah mengenal diriku lama?"
Gadis yang mungkin berusia dua puluh tahun
itu tertawa manis.
"Dua tahun Rio..."
"Heri...?"
"Kamu tentu ingat sahabatmu yang jauh, bukan?"
"Aku punya banyak sahabat. Tapi rasanya aku belum pernah melihatmu?"
Rio menjadi bingung sendiri. Tiga hari yang lalu , tatkala gak sengaja ia melihat gadis itu memasuki pelataran gedung bioskop ini. rasanya ia memang sudah mengenal gadis itu. Tapi di mana? Apalagi tatkala gak sengaja mata mereka saling berbenturan. Seperti ada getaran di hatinya. Namun saat itu iya gak bergerak. ia tetap berdiri di depan toko kosong itu. Menghabiskan roko hampir setengah batang. kakinya memang hampir kejang. Berdiri terpaku di tempat itu sampai dua jam kemudian, gadis itu keluar lagi dari pintu gedung bioskop itu. Dan gak sengaja tersenyum kepadanya ini membuat hatinya penasaran. Lalu sore harinya. Jam yang sama. ia melihat kembali cewe yang sama. Sendiri lagi. Memasuki gedung bioskop yang sama. Untuk kedua kalinya mata mereka saling berbenturan. Kali ini Rio merasakan getaran hatinya semakin hebat. Namun ia masih bertahan untuk tetap tidak memasuki gedung bioskop itu. Dan hari ini, untuk ketiga kalinya ia memang dibuat penasaran oleh kehadiran gadis itu.
"Hei, kamu melamun?"
Rio tersenyum gugup. ia gak begitu yakin kalau sudah mengenal gadis itu. ia menarik nafas panjang. Berusaha menerawang jauh. Berusaha menyimak kembali hari-hari yang lalu, siapa tauu dalam Bayangan ia menemukan wajah gadis itu. Namun usahanya terasa sia-sia.
"apa yang sedang kamu fikirkan?" Desah gadis itu.
"Kau..."
"Ada yang aneh?"
"Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?"
"Belum.....?"
"Nahh, mengapa kau hafal benar tentang diriku?"
Gadis itu tertawa manis.
"Aku menyimpan fotomu..."
"Hei, kapan aku mengirimnya?"
"Dua tahun yang lalu....."
"Ahh....?"
"Aku taa menyangka kalau "Satrio SA begitu sombong, " desah gadis itu tampak menyimpang kekecewaan. ia menarik nafas panjang. Dilayar perak Clint Eastwood, sedang melangkah di antara trotoar lebar Los angeles. Mengejar dengan langkah hebat buruan
"Ahh, aku mengerti...."
"Kalau gak ingat sahabat penamu yang dari kota kembang?"
"Astaga, jadi kamu?"
"Akulah sahabat penamu itu...."
"Ahh, ma'af Liv, Aku benar-benar gak mengenalmu, " desah Rio. ia genggam jemari tangga itu.
Gadis itu hanya tertawa kecil saja.
"Kamu ingat nama Alivia juga...."
"Aku gak mungkin ngelupain nama itu? Sayang kamu menghilang setahun yang lalu. Maksudku, dua pesanku gak pernah kamu bales!"
"Aku mengikuti program belajar ke luar negri..."
"Pantas. Aku seperti kehilangan jejakmu, " desah Rio.
"Aku telah memesan kedua Kakaku untuk tida membalas surat dan pesan dari mu, " ucap gadis itu. ia menarik nafas panjang. Ada sesuatu yang membuat mukanya tiba-tiba menjadi murung. Dalam temaram sinar proyektor, Rio menangkap kesenduan di wajah itu.
"Boleh aku tau, mengapa?"
"Ada sebuah kejadian yang mungkin mengecewakan dirimu ..."
Rio terhenyak. ia seperti mendengar jerit lirih dari kedalaman hati gadis itu. ia ta tau, mengapa. Tapi ia dapat merasakan luka yang panjang.*-
...****************...
__ADS_1
......................
beberapa kali gagal terbit setiap kali bikin cerita mungkin bahasanya agak kasar dan masih banyak kekurangan lainnya, belum terlalu paham. sedikit demi sedikit mulai aga paham ,memang gak gampang ngegabungin kenyataan sama khayalan.