
Rio terlalu banyak minum. Hingga keseimbangannya goyah. Alivia dengan cepat membawa laki-laki muda itu ke dalam mobilnya, sebelum bertambah parah keadaan laki-laki itu. ia terus melarikan mobil itu ke kota barat. Disana ia memasuki sebuah vila. Dan menyewa tempat itu. Dengan susah payah Alivia membawa Rio masuk kedalam kamar apartemen yang di sewanya.
"Kamu terlalu banyak minum Rio, " desah gadis itu getir.
Rio tersenyum pahit.
"Hidup memang menyakitkan Alivia. Benar katamu kemarin ..."
"Ah, lupakan itu, " desah Alivia. ia menyusut bening yang mengembang. Masih di ingatnya Rio memeluknya begitu hangat dan ketat. Seakan gak mau kehilangannya. Tapi laki-laki gak mau lagi membicarakan keadaan mereka. ia diam terus, suara-suara di lantai bar di ubah dengan irama yang menggetarkan. Setelah itu Rio mengajaknya duduk. Dan memesan tiga botol anggur. ia terkejut. Tapi gak mencoba buat mencegah Rio meminumnya. Bahkan ia menemaninya, meski hanya ia habiskan gak lebih seperempat gelas. Sementara lelaki muda itu menghabiskan lebih dari dua botol. Lebih dari apa yang di harapkan.
"Kamu tentu kecewa dengan kenyataan seperti ini bukan?"
"Kamu tau hatiku....
"Ya, aku merasakannya, " desah laki-laki itu. Tubuhnya terlihat begitu lemah. Pengaruh alkohol masih menguasainya. Akan tetapi ia mendengar jelas perkataan Alivia. Sehingga pikirannya yang pusing tetap saja menerima dengan baik apa yang terdengar.
"Ma'afkan aku ..."
"Kamu akan pulang malam ini?"
Mata Rio meredup. ia merebahkan kepalanya di bantal yang empuk itu.
Alivia menggeleng. ia tersenyum sendu. Kemudian melangkah ke wastafel yang ada di ruangan itu. Mencuci mukanya. Dan membersihkan dengan handuk tergantung di ruang itu.
"Mereka gak akan mencariku. Aku bukan anak kecil lagi. Kamu tau berapa usiaku sekarang, Rio? hampir dua puluh tiga ..."
"Usia bukan ukuran kedewasaan, " desah Rio. ia memejamkan matanya.
membiarkan Alivia mengompres mukanya dengan handuk itu.
"Kamu pikir aku masih anak-anak?"
"Aku gak mengatakan begitu..."
"Lantas kamu nilai apa aku?"
"Kamu?"
"Ya ..."
Rio membuka matanya. Dan sepasang matanya membentur telaga bening yang indah itu. Yang berkerjap menatapnya. ia merengkuh gadis itu dalam pelukannya. ia mencium keningnya.
"Usia bukan suatu ukuran kedewasaan. Akan tetapi kamu lebih dari pada semua itu. Aku tau saat seperti ini yang kamu inginkan. Lepas dari segala kemelut dunia. Bukankah begitu?"
"Tapi tetap saja. Aku gak bisa lari dari kenyataan ...." " Gak perlu lari dari kenyataan itu. kamu hadapi saja semua dengan tenang. Hidup memang harus begitu bukan? Kamu lihatlah, dalam diskotik bar tadi aku hampir gak kuat memikirkan kenyataan yang terlalu pahit bagiku. Keadaan keluargaku yang nyaris berantakan. Dan kamu sia-sia yang kuharapkan. Tapi toh tetap saja, kenyataan harus kuhadapi, bukan?" Alivia memejamkan matanya. ia mengusap dada Rio yang bidang.
"Aku mencintaimu Rio ..."
"Kamu telah mengatakannya tiga kali, " desah laki-laki itu sambil tersenyum sendu. ia sendiri mengusap rambut Alivia yang lurus hitam. ia mencubit bentuk hidung bagus itu. Mengusap sepasang bibir lembut yang begitu menawan. Hati Alivia bergetar hebat di perlakukan seperti itu. ia tanpa sadar mengecup dada Rio yang terbuka.
"Peluk aku Rio!"
Laki-laki itu kembali tersenyum sendu. Tapi ia melakukan apa yang diminta Alivia. ia bahkan mencium bibir itu dengan hangat. Mengulumnya dengan segala kemesraan yang pernah dimilikinya. Oo, indahnya kerinduan yang berlabuh ini. Betapa lembutnya. Desis kedua insan itu.
"Alivia ..."
"Ya?"
"Kenapa kita gak menyatu?"
"Aku ingin itu Rio. Aku ingin itu. Kita menyatu dalam sebuah rumah tangga. Oo, betapa indahnya, dengan anak-anak mungil di samping kita. Ah, aku dapat bayangkan hari-hari yang hangat itu. Tapi ..."
Alivia menghentikan bicaranya. ia menyusut matanya yang mengembang. Menerawang langit-langit kamar apartemen itu. Hatinya begitu sakit melihat kenyataan itu. ia gak mungkin menyatu dengan Rio. Di rumah ayahnya yang murka. Dan bukan itu saja, tentu ayahnya akan mengembalikan semua modal. Atau bahkan menjual perusahaan itu kepada Hani kembali. iya tau benar hati ayahnya yang keras. Tanpa sadar ia mengeluh lirih.
"Tapi apa?"
"Ah, sudahlah. Kenapa kita bicarakan itu. Hanya akan membuat hatiku terluka. Peluklah aku Rio, dan perlakukanlah aku sebagaimana kamu ingin memperlakukan seorang calon istri..."
"Kamu ...?
Rio tercekat. Dalam peningnya ia berusaha bangkit. Dan menatap bola mata yang begitu tulus itu. ia menemukan sesuatu kemesraan. Tapi mengapa begitu nekat.
__ADS_1
"Kalau kamu tidur, tidurlah di sampingku. Gak perlu kita lakukan hal itu bukan? Aku menyayangimu. Aku gak ingin merusaknya ..."
"Taukah kamu esok hari aku sudah meninggalkanmu?"
"Kemana?"
"Pulang ..."
"ke Nganjuk?"
Alivia menggigit bibirnya. Matanya sembab. Oo, luka itu, apa namanya? Mengapa terlihat begitu menggigit? Rio menarik nafas panjang. Pening dikepala akibat terlalu banyak minum tadi, berangsur mulai memudar. ia kini begitu jelas menatap wajah luruh itu. Menarik kepalanya. Dan membenamkan dalam pelukan dadanya.
"Ma'afkan aku Alivia. aku suka kedatanganmu. Suka kerinduan yang kamu berikan untukku. Suka kelembutan yang kamu berikan untukku. Tapi aku gak mungkin lakukan yang satu itu buatmu ..."
"Aku ingin memberikannya padamu, gak kepada orang lain, " Desah Alivia getir. ia menarik nafas panjang. merasakan kehangatan dada bidang itu. Merasakan kehangatan yang begitu ia rindukan selama ini.
"Jangan ..."
"Kamu akan menyesal Rio, lusa atau entah kapan, aku tentu telah menjadi istri orang lain, " desis Alivia di dada yang bidang itu.
"Aku tau, " getir sekali suara Rio. Lelaki muda itu menarik nafas sedih.
"Dan kita gak mungkin lagi ketemu...."
"Aku tau...."
"Kamu?"
"Aku sayang kamu. Tapi gak bisa kulakukan itu terhadapmu. Berikan itu kepada lelaki yang bakal menjadi suamimu. Dialah yang berhak atas mahkota itu. Jangan kepadaku....!
"kamu gak mencintaiku?"
"Siapa bilang?"
"Kenapa gak kamu lakukan itu terhadapmu.
Aku begitu mengharapkannya. Aku begitu merindukannya. Oo, Rio. Apakah kamu menilaiku gadis murahan? Apakah kamu menilaiku gadis yang mudah menyerahkan segalanya?"
"Aku gak pernah menilaimu seburuk itu. Justru aku menghargaimu itulah, aku gak mau berbuat se enakku. Kamu mengerti Alivia?"
"Aku mengharapkannya ..."
"Suamimu akan terkejut kelak!"
"Biarkan saja. Biarkan saja, toh dia juga pernah punya istri. Toh dia juga pernah memiliki seorang anak. ia juga bukan lelaki bersih. Aku tau itu. Biarlah ia mengerti, bahwa apa yang kumiliki gak cukup berharga untuk menjadi miliknya. Meski tubuhku ada di sampingnya..."
Rio menggeleng.
"Jangan kamu teruskan Liv. itu gak baik. Aku laki-laki. Aku bisa melakukan itu pada gadis yang lain. Tapi aku gak bisa ngelakuin itu ke kamu. Aku menyayangimu itu masalahnya...."
"Kamu pernah lakukan itu kepada yang lain?"
"Aku bukan lelaki bersih...."
"Tapi kenapa gak kamu lakuin itu sama aku?"
"Aku menyayangimu, " desis Rio getir.
"Kamu munafik!"
"Kamu boleh mencaciku...."
Alivia menangis. ia menatap langit-langit kamar itu. Oo, begitu hampanya. Jauh ia memburu laki-laki. Berharap Rio mau memetik bunga nya itu. Berharap laki-laki yang dicintainya itulah yang akan memperoleh satu-satunya benda yang paling berharga yang sekarang menjadi miliknya. ia menelungkupkan wajahnya. Bahunya tersenggal-senggal. Nyeri itu begitu rejam perasa'anya. Dengan demikian ia harus menyerahkan kesucian itu pada lelaki lain yang melamarnya itu? Ah, aku masih muda. Tidakkah berhak memperoleh sedikit kebahagiaan?
"Alivia...."
Gadis itu bangkit. Dan menatap dengan nanar wajah laki-laki muda yang begitu dirindukannya itu.
"Aku akan datang kerumah. Menjelaskan hubungan kita. Atau biarlah aku temui laki-laki itu. Menjelaskan semuanya. Mudah-mudahan mengerti, " desa Rio. ia menarik nafas panjang.
Alivia menggeleng.
__ADS_1
"Gak mungkin....."
"Akan kucoba, " desah Rio.
"Jangan Rio, itu berarti kamu akan menampar muka papaku" kata Alivia dengan sungguh-sungguh.
"Lantas apa yang kamu inginkan sebetulnya?"
"Aku mencintaimu ...."
"Aku tau, " desis laki-laki muda itu lirih.
"Aku mengharapkan kehangatanmu ...."
"Setelah itu?"
"Akan kuingat kenangan itu sepanjang hidup ku ..."
"Hari-harimu akan hampa, Alivia. Kamu gak akan bisa sepenuhnya memberikan kehidupanmu pada laki-laki yang menjadi suamimu. itu gak baik buatmu sendiri. Kamu sama aja membohongi diri sendiri. Bagaimana kalau nanti tumbuh benih yang kemudian lahir menjadi anakmu? Bukankah ia darah dagingmu juga, meski bercampur dengan darah laki-laki lain yang gak kamu sukai, tapi kamu gak bisa mengelak kalau sebagian di antaranya darah dagingmu. Sikapmu bukan saja menyiksa dirimu sendiri, tetapi juga pasanganmu, anak-anakmu. Kamu gak pernah memberikan ketulusan itu pada mereka...."
Alivia tercenung. Dua gulir jatuh begitu saja.
"Aku bingung ..."
"Sebaiknya kamu mantaplah dalam melangkah.
Kalau memang kita berjodoh, tentu kita akan bertemu lagi ..."
Alivia menggigit bibirnya.
"Kamu tentu kecewa sekali , " desah gadis itu. Rio tersenyum. ia mencium kening Alivia . Dan gadis itu memejamkan matanya. Menikmati satu kebahagiaanya g ganjil. Sepenggal kenangan indah yang mungkin besok pagi hanya mewujud sebuah cerita masa lalu. Oo, hidup. Mengapa yang kucinta mesti jauh. Dan mengapa yang tida justru harus menjadi suamiku? Desis gadis itu.
"Alivia ...."
"Ya?"
"Kekecewaan itu hanya seperangkat cerita kehidupan. Aku tau hatimu pilu dengan kenyataan itu. Akan tetapi lebih menyakitkan kalau aku justru merusak pager ayu dirimu tanpa menjadi suamimu ..."
"Tapi kamu sendiri pernah melakukan hubungan intim, bukan?"
"Usiaku sudah dua puluh tuju. Aku sendiri terlambat masuk sekolah lagi setelah merantau di belantaranya pulau-pulau metropolitan. Kamu tau, macam apakah pergaulanku di setiap wilayah. itulah sebabnya kusesali langkahku yang pernah terjerumus. Kusesali bagian hidupku yang pernah hitam itu.
Dan aku sedang berusaha memeranginya.
jangan kamu paksa aku mengulangi jg hal-hal yang pernah meracuni hidupku. Aku sedang berusaha untuk menghindari dan melupakan lembaran hitam masa laluku ..."
"Kami tega ..."
"Jangan salah paham. Justru itulah aku kemudian menjadi begitu menyayangimu. Aku gak ingin merusakmu. Biarlah kehadiranmu menjadi bagian terindah dalam hari-hariku.Tanpa ada noda, "
ucap Rio sambil mengusap rambut itu penuh dengan keasihan. Penuh dengan kelembutan.
"Dengan demikian kamu kecewakan aku, " getir sekali suara Alivia.
"Aku tau, ma'afkan aku Alivia. Namun percayalah, aku tetap menyayangimu. Kecuali jika kamu siap menjadi istriku. Aku gak mau pertemuan kita dibaui ***** yang gak pasti ...."
"Apakah aku harus mengorbankan keluargaku?"
"Enggak, jangan kamu korbankan kamu dan keluargamu. Biarlah kecewa itu ada dalam kehidupan kita. Aku akan berusaha untuk mendapatkan kamu. Tapi tentu saja enggak mengecewakan kedua orang tuamu. Akan tetapi, jika memang itu gak mungkin, melangkah ke dalam rumah tanggamu dengan damai. Aku gak akan mengganggumu . Justru aku berdo'a untuk kebahagiaanmu...."
"Aku gak mungkin bahagia, " desah Alivia.
"Datanglah padaku kalau semua sudah selesai," desah Rio.
"Kamu menungguku?"
Rio tersenyum sendu. Alivia menjatuhkan kepalanya di dada lelaki itu. Memejamkan matanya. Membuang segala kemelut. Membuang segala nyeri. Oo, pilunya hari. Desis hati gadis malang itu. Matanya sembab.***
...****************...
......................
__ADS_1
...----------------...