Kugenggam Rasa

Kugenggam Rasa
Lima


__ADS_3

Rio. Terbangun ia melihat di sampingnya sudah ada segelas kopi. Akan tetapi Alivia gak ada si situ. Sementara tubuhnya berselimut hangat. Kemana gadis itu? Dengan malas laki muda itu memegang gelas berisi air kopi itu. Juga di sampingnya terlihat sarapan pagi yang tida lagi mengepulkan asap. Kening lelaki itu mengerut. ia memegang piring itu. Sudah gak hangat lagi. Sudah lama. iseng-iseng ia melirik jam tangannya. Sudah pukul delapan pagi. Kemana Alivia? Tanpa sadar matanya melihat sepucuk kertas di atas bufet sebelah kiri. ia melihat tulisan itu begitu rapih. ia mengenal benar tulisan Alivia. Gadis itu tentu telah pergi. Tanpa sadar ia menarik nafas panjang. ia lihat dan membaca kertas itu.


Rio kamu terlalu letih dan terlihat pulas tidur. Aku tau kamu terlalu letih setelah semalam kamu gak tidur. Menemaniku berbincang. Meski suasana sendu, akan tetapi aku merasakan malam tadi begitu indah. Tanpa Noda katamu. Dan itulah keindahan yang kutemukan. Keindahan yang sebenarnya. Rio,


Aku menjadi malu sendiri dengan diri ini. Betapapun katatamu benar. Aku gak pantas memaksamu untuk melakukan hal yang sebenarnya gak pantas. Kamu benar, hidup memang hanya seperangkat kekecewaan. Dan biarlah, aku melangkah meninggalkanmu, setelah subuh tadi kutemukan kedamai'an di sela nafasmu. Kita gak mungkin menyatu. Biarlah aku nanti kelak gak bahagia. Tapi aku memang harus pulang. Harus menemui calon suamiku. Biarlah apa yang kumiliki menjadi hak dan milik suamiku, meski aku gak pernah mencintainya.


Rio, Semula aku berharap, kamu mau memberikan kehangatan yang lebih. Hidupku selama ini begitu gersang. Begitu tandus. Kamu berhak mempertahankan kehadiranmu. Dan biarlah aku membuang kecewa ini begitu saja. Aku pergi Rio, dengan membawa berbagai perasaan: malu, sedih, gembira, bahagia dan entah apalagi. Namun begitu aku yakin benar, kamu sebetulnya begitu menyayangiku, hanya gak ada keberanian untukmu buat melangkah.


Rio,


Mungkin benar kata orang, Cinta memang gak harus menyatu. Dan aku gak mungkin mempersatukan perasaanmu dalam dekapanku. Biarlah keindahan itu menjadi kenangan yang manis. Tanpa noda katamu, aku senang mendengar kata-kata itu. Namun sekaligus sedih. Kenapa? Mungkin karena kamu kelak akan menemukan aku sudah gak sesegar ini lagi.


Sudah menjadi kembang yang layu.


Sudah menjadi kembang yang kering. Kehilangan kesegarannya. Dan saat itu, kamu tentu sudah memiliki penggantiku yang baik.


Ah, Rio. Selamat tinggal, mungkin hidup bagi kita gak lebih sebuah cerita masa lalu. Semoga kamu mengenangnya. Semoga kamu gak melupakan aku.


Ma'afkan aku.


Kekasihmu.


Alivia.


Rio geleng-geleng kepala. Oo, perempuan.


Begitu sulitnya memahamimu. Desis laki-laki itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang hilang dari kedalaman hatinya. Entah apa namanya.


Rio melangkah ke wastafel. mencuci mukanya. Dan menikmati sarapan yang sudah dingin itu. Kemudian menuju kassa apartemen itu. ia menanyakan sesuatu kepada petugas di sana. Akan tetapi dengan senyum penuh pengertian, petugas itu menjelaskan.


"Semua sudah beres mas, Mas ..."


"Kapan Alivia meninggalkan apartemen ini?"


"Maksud anda teman tidur anda?" petugas itu tersenyum simpul.


Berengsek! Hari Rio mendongkol. Akan tetapi ia tersenyum getir juga.


"Ya ...."


"Sejak jam lima tadi!"


Rio menarik nafas panjang. Kemudian meninggalkan tempat itu. Melangkah ke jalan raya. Menyusuri trotoar dengan lesu. Pagi memang cerah. Akan tetapi hampir gak ada kekuatan bagi dirinya untuk melangkah. Bayangan wajah lembut milik Alivia, yang semalam menangis di dadanya, masih membekas. Kalau benar dia akan menikah, maka selamat jalan kucing gemas. Cinta memang gak harus saling memiliki. Tapi kalau itu hanya seperangkat permainan dari seorang perempuan yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, maka berengseklah cinta!


Lelaki muda itu menendang kerikil yang ada di depannya. Dan kerikil yang mendekati kerakal itu meluncur dengan keras. Dan tanpa disuruh membentur dengan keras kaca sebuah mobil. Dan kaca itu retak, meski gak pecah. Benturan itu cukup mengagetkan pengemudinya. Tentu saja perempuan cantik yang ada di dalamnya, terperanjat setengah mati. ia langsung menginjak pedal rem persis di depan Rio melangkah. Dengan marah, gadis itu membuka pintu mobil. Dan membuka kacamata. Akan tetapi sebelum ia memaki laki-laki muda dengan wajah kusam itu. ia justru terpanah melihat wajah berkarismatik yang seraya di kenalnya itu. Begitu juga Rio. ia terpaku.


"kamu ....?


"Apakah kamu yang pernah aku kenal?" Rio dengan tenang menatap gadis itu dengan senyum sendu. Sementara itu perempuan cantik yang tadi berkaca pinggang itu, meluruskan tangannya.


"Kamu Rio?"


"Kalau gak salah Mba ...."


"Yaampun, apa yang barusan kamu lakukan terhadap mobilku?"


"Ma'afkan aku. Gak kusengaja. Perasaanku lagi kacau. Kerikil itu kutandang begitu aja. Gak sengaja terpental ke depan kaca mobilmu. Rusak, biarlah kuganti nanti ....!"


"Untung aku mengenalmu, kalau enggak, aku sudah menamparmu!"


Rio tersenyum getir.


"Lakukanlah ....!"


"Gak jadi, "desah gadis itu.


"Kenapa?"


Perempuan cantik itu tertawa kecil.


"Hai, enggak lucu kan, kalau tiba-tiba aku menuntutmu untuk mengganti kacaku yang retak, sementara sudahlama aku mencari alamatmu?"


"Kamu cari alamatku?"


"Kamu masih ingat pertemuan kita?"


"Ya, dikereta api, bukan?"


"Kamu ingat namaku?"


"Anastasia N ...."


"Syukurlah kalau kamu masih ingat, " desah perempuan cantik itu gembira. ia menyuruh Rio masuk kedalam mobilnya. Lelaki itu tanpa gairah memasuki mobil itu. Baru disadarinya kalau kaca depan itu benar-benar retak. ia menyesalinya.


"Ma'afkan aku, Na!"


"Kaca itu?"


"Ya,...."


"Lupakanlah, besok juga bersih lagi. Aku tau, ada sesuatu yang membuat kamu seperti sedang direjam galau. Baru putus dengan pacar?"


Rio tersenyum getir.


"Diam berarti ya...."


"Kamu dari mana?" Tanya Rio tanpa peduli kata-kata perempuan cantik itu. ia mengamati jalanan dengan pandangan kosong. Entah mengapa dirasakannya perjalanan itu begitu hambar. Bayangan wajah Alivia begitu bergayut


di kelopak matanya. Bayangan wajah cantik yang sendu itu begitu merejam perasaanya.


"Sikecil dulu?"


"Ya, kini ia sudah TK. Ah, berapa lama kita gak pernah ketemu Rio?"


"Hampir tiga tahun ..."


"Kamu benar, anakku sekarang hampir empat tahun. Dulu baru berumur satu tahun, tatkala aku berhasil melepaskan diri dari sese orang yang mengurungku dengan segala kekejamannya ...."


"Tapi kamu sekarang terlihat begitu berubah, Nana, " desah Rio.


"Kamu benar, kenyataan yang selalu menyakitkan membuat aku ingin lepas dari semua itu. Tapi justru itulah yang menyeretku kedalam perjalananku kali ini. Oh, ya. Aku baca cerita DOGMA yang kamu buat. itu ceritaku bukan, meski disana sini kamu telah mengubahnya?


"Ya ..."


"Tokoh Sumi terlalu sederhana, " desah Anastasia.


"Kuambil dari kesan pertama aku melihatmu..."


kata Rio datar.


"Aku ingin menanyakan alamatmu tapi malu ..."

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum getir.


"Kamu mau kemana, Na?"


"Kamu ...?"


"Pulang, " desah laki-laki itu.


"Di mana rumahmu?"


"Boja ...."


"Kota kecil yang sejuk itu?"


"kamu pernah kesana?"


"Ya, setahun yang lalu..."


"Kemana?"


"Mencoba membuang kemelut. Kunikmati alam yang cantik di sana. Bersama anakku. Aku gak tau kalau kamu tinggal di situ ..."


"Itulah negriku, " ucap lelaki itu lirih.


"Daerah yang tenang Rio. Tapi, hei, kamu sepagi ini sudah akan melangkah pulang. Darimana sebetulnya kamu?"


"Begadang, " acuh saja lelaki itu menjawab.


"Dan mukamu kusam. Kamu tentu telah mengalami kekecewaan, bukan?"


Lelaki itu tersenyum getir.


"Kecewa adalah bagian dari perjalanan hidup manusia. Gak perlu di permasalahkan. Oh, ya.


Turunkan aku di terminal tugu itu ..."


"Mau kemana?"


"Pulang ..."


"Biar kuantar, sekalian aku kenal rumahmu, "


ucap perempuan cantik itu. ia tersenyum lembut kepada laki-laki itu. Pertemuan yang gak pernah di duganya itu benar-benar menggembirakan dirinya.


"Aku merepotkanmu , " desah laki-laki muda itu sendu.


"Siapa bilang?"


"Aku ...."


"Ah, enggak, " desah Nana. Anastasia N.


"Suamimu akan mencarimu, " ucap laki-laki muda itu kembali.


"Jangan kawatir. Aku sudah bercerai tiga tahun yang lalu. Sekarang aku terlalu takut untuk berumah tangga kembali, sebelum aku benar-benar tau tentang laki-laki itu ..."


"Kamu bekerja?"


"Maksudmu dalam mengatasi hidup ini?"


"Ya ...."


"Aku bekerja. Aku gak ingin tergantung pada laki-laki, " ucap Nana. lirih. Ada desir nyeri melintas di ulu hati. Bola matanya yang bagus berkerjap sesaat. Namun ia secepatnya memintas perasaan sendu itu. Mengusirnya. ia gak ingin pertemuan yang manis ini terganggu perasaan sentimental.


Nana tertawa kecil.


"Sepertinya memang begitu, " desah perempuan itu.


"Turunkan aku di terminal itu Nana ....!"


"Biarlah aku antar kamu pulang, " ucap perempuan itu.


"Bagaimana dengan anakmu?"


Perempuan itu melirik jam tangannya.


"Baru jam delapan lebih sedikit. Masih ada dua jam untuk menjemputnya kembali. Kurasa cukup untuk mengantarmu sampai di depan rumah, bukan?"


"Kamu akan letih..."


"Apalah artinya keletihan itu, dibandingkan dengan pertemuan ini?"


"Aku merepotkanmu ..."


"Siapa bilang?"


Rio terdiam. ia mengamati wajah itu. gak sepolos dulu lagi. Kini sepertinya Nana tau benar menata dirinya. Tau benar wajah cantiknya. Dan kini, ia sepertinya hidup serba kecukupan. Sungguh berubah banyak, dari ketika ia melihat perempuan itu dengan wajah kuyu memangku anaknya duduk di depannya di kereta api. Siapa sangka perjalanan waktu akan mengubah hidup manusia?"


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Anastasia tiba-tiba. Pertanyaan itu mengagetkan lelaki muda itu. ia tergagap sesaat. Namun kemudian Rio mampu menguasai perasaannya. ia mencoba tersenyum. Meski nyaris gagal.


"Kamu ..."


"Ada sesuatu yang aneh?"


"Tentu saja...."


Anastasia tertawa kecil. Namun kemudian wajahnya murung.


"Bagaimana menurutmu?"


"Maksudmu?"


"Banyak perubahan terjadi padamu, " desah lelaki itu jujur.


Nana menarik nafas panjang. ia tetap menginjak pedal gas dengan teratur. Mobil itu mulai menanjak naik. Melewati silayur indah. kemudian ke selatan.


"Kamu benar, banyak perubahan terjadi terhadapku. Kamu gak akan melihat Nana yang polos seperti dulu lagi. Kamu gak akan melihat semua itu...."


"Bukan itu maksudku. Kamu makin cantik, "


kata Rio datar.


"Jangan terlalu memuji. Kamu akan kecewa menemukan kenyataan yang gak pernah kamu harapkan. Aku bukan Nana yang dulu. Aku adalah Anastasia yang penuh dengan lumpur kehidupan, " ucap perempuan cantik itu murung.


"Maksudmu?"


Anastasia menarik nafas dalam-dalam.


"Kepalsuan hidup membuat aku begitu muak untuk mengungkapkan kembali. Tapi aku suka dengan pertanyaanmu itu. Entah mengapa, sejak pertemuan kita dulu, aku merasa begitu dekat denganmu, meski pada kenyataan'nya kita gak pernah ketemu setelah itu. Tapi namamu selalu aku ingat ...."


"Ada yang ingin kamu bicarakan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kamu ada waktu untuk kita?"


"Maksudmu?"


"Gimana kalau kita ketemuan di suatu tempat?"


"Penting....?"


Anastasia tersenyum sendu.


"Gak begitu penting, tapi aku ingin sekali berbincang denganmu, itupun jika kamu menyukai pertemuan kita, " kata perempuan itu lirih.


"Oke, kapan kamu mengajakku?"


"Besok malam?"


"Dimana?"


Anastasia memberikan sebuah kartu alamat.


"Aku punya sebuah apartemen. Agak kecil di sudut kota ini. Datang besok sore jam tujuh.


Aku suka kalau kamu mau datang, " kata Anastasia.


ia tetap memandang jauh kedepan.


"Kamu sepertinya sudah menemukan jalan hidupmu ...."


"Nanti akan tau segalanya, " desah perempuan itu. ia menarik nafas panjang. Ada sesuatu yang membuat hatinya begitu kecewa. perhatian Rio gak sehangat dulu, waktu dalam perjalanan di kreta api waktu itu. Lelaki itu begitu tulus memberikan perhatian. Bahkan mengantarkan pelang kembali ke rumahnya. Meski ia menolak untuk menyebutkan alamatnya, tetapi Rio tetap begitu hangat. itulah yang menggetarkan perasaanya. Untuk pertama kali ia jatuh hati pada lelaki. Akan tetapi pada waktu itu dia gak berani buat mengungkapkan perasaanya.


"Kamu tadi sepertinya begitu marah Rio, kenappa?"


"Entahlah, pagi tadi aku begitu kecewa..."


"Pasti ada penyebabnya, bukan?"


"Boleh Kutauu. Aku senang jika kamu mau terbuka. Seenggaknya kita bisa jadi sahabat yang baik, bukan? Meski kita ini sebenarnya gak lagi pantas seperti anak remaja lagi ..."


"Seorang gadis, " desah lelaki muda itu getir.


"Boleh kutau namanya?"


"Alivia ...."


"Nama yang asing bagiku. Akan tetapi tentu begitu berarti bagimu, bukan?"


Terbukti kamu begitu kecewa ...."


"Ya, nama yang begitu berarti. Akan tetapi ia telah menjadi milik orang lain. ia gak berani buat keluar dari lingkaran toxic yang membelitnya. ia lebih memilih bersamanya meskipun itu toxic, hanya karena orang tuanya mempunyai hutang dan berhutang budi itu. ia gak berdaya apa-apa. Datang padaku hanya untuk sekedar melepas rindu setelah sekian lama gak pernah ketemu. Hanya itu. Gak terjadi apa-apa. Kemudian dia menghilang tanpa kutau kemana sebenarnya dia pergi ...."


"Gak pamit?"


"Hanya meninggalkan sebuah pesan dan kesan, " desah lelaki itu muram.


"Dia mencintaimu?"


"Entahlah...


"Mungkin ada sesuatu yang dipertimbangkannya, " desah Anastasia. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasakan nyeri. Padahal tadi ia begitu gembira disaat menemui laki-laki yang pernah begitu sering hadir dalam khayal dan mimpi-mimpinya itu. Mungkinkah karena hati lelaki itu telah terisi oleh gadis yang lain? Mungkinkah itu? Oo, mengapa begitu mengecewakan kenyataan itu, mengapa?


"Ya, mungkin. Tapi apapun yang dilakukannya. Sikapnya begitu mengecewakanku. Atau mungkin ini memang permainan hidup yang sebenarnya. Ah, ma'af kalau aku mengajakmu terlibat dalam kesedihanku ....!


"Aku senang mendengarnya. Aku senang kamu mau terbuka untukku, " kata perempuan cantik itu.


"Oke, lupakan itu. Biarlah menjadi bagian dari masa laluku. Kamu sendiri ada acara apa besok sore?"


"Gak ada apa-apa, aku hanya ingin merayakan pertemuan kita yang semula gak pernah kubayangkan itu. Apakah kamu keberatan?'


"Enggak ..."


"Kamu sepertinya kurang gembira dengan pertemuan kita?"


"Itulah, justru ketika hatiku sedang begitu sakit, kenapa kita harus ketemu. Tapi sekali lagi, Aku senang bertemu kembali denganmu,


"Kata Rio lembut. Sejenak ia mampu melupakan kekecewaan hatinya.


"Benarkah itu?"


"Sungguh ...."


"Aku senang mendengar itu Rio. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal di hatiku.


Apakah kamu bisa menjawabnya?"


"Apa itu?"


"Apa aku masih berhak mengenalmu?"


"Kenapa enggak?"


"Mungkin aku sudah terlalu tua untuk menjadi teman baikmu?"


"Berapa umurmu?"


"Bukan umur, tetapi aku telah mempunyai anak satu ..."


Rio tertawa. Begitu keras. Hingga membuat Anastasia menghentikan mobilnya ke tepi. saat itu mereka telah berada di tepian hutan karet yang sejuk di kawasan kali Mas.


"Apa yang kamu tertawaan ?"


"Maksudmu?"


"Ucapanmu seakan begitu takut tua ...."


"Aku memang merasa begitu. Kamu percaya dalam seusiaku aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya?"


"Hei, benarkah itu?"


"Kamu boleh gak percaya Rio. Dalam usiaku yang hampir dua puluh lima ini, aku baru jatuh hati pada seorang lelaki. itupun kusimpan dalam dalam. Karena setelah perjumpaan pertama itu, gak pernah ketemu lagi. Dan sejak itu aku hanya mampu menyimpan kerinduan-kerinduan ini ...."


"Oo, kasihannya kamu ....!


"Ah, kamu. Ternyata masih suka menggoda, "


kata Anastasia sambil mencubit lengan Rio. Dan lelaki itu menjerit kecil. Namun kemudian tertawa senang. Sejenak bayang wajah Alivia pudar oleh kesenangan yang tiba-tiba muncul . Rio merasakan betapa Anastasia begitu manja mencubitnya. Dulu ia gak berani melakukan itu.


"Kamu sekarang berani menggoda laki-laki Nana?"


Perempuan cantik itu tersentak. Tiba-tiba ia menunduk. Mukanya menjadi murung. Ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi rasa nyeri di hatinya. Entah apa namanya. Namun dadanya terasa begitu sakit. Entahlah ...!*


...****************...

__ADS_1


......................


...----------------...


__ADS_2