Kugenggam Rasa

Kugenggam Rasa
Enam


__ADS_3

Anastasia menghentikan mobilnya setelah Rio menyentuh lengan perempuan cantik itu. Mereka berhenti pada sebuah halaman dekat rumah. Rio menarik nafas panjang. ia membuka pintu mobil itu. Dihalaman rumah itu, terlihat motor masi berada di sana, basah karena semalam kota itu diguyur hujan. Tapi kenapa gak ada satu manusiapun yang memasukkannya ke garasi? Sialan, brengsek! Laki-laki itu memaki-maki sendiri. Beruntung, gak ada tangan jail mengambil atau merusak motor itu. Beruntung sekali.


"Rumahmu?"


"Ya, mau singgah?"


Anastasia melirik jam tangannya. Sepertinya ia menarik nafas panjang.


"Setengah jam lagi aku harus menjemput anakku. Ma'af, aku harus pulang sekarang. Lain kali tentu aku akan singgah kerumah ini. Oh, ya jangan lupa besok sore ya, ya?"


"Masak aja yang enak ...! hemm, apa mau diajarin desis Rio. ia hanya tersenyum lembut.


"Tentu, buatmu akan kubuatkan masakan yang paling istimewa, " kata Anastasia sambil tersenyum. Hatinya yang tadi sempat meredup, kini berbunga-bunga kembali.


"Terima kasih Nana ...."


"Lain kali kita akan berbicara lebih banyak lagi Rio ...!"


Lelaki itu tersenyum sendu. ia mengamati mobil itu memutar. Dan menghilang di jalan yang berbelok sebelah sana. Hatinya kembali merasa sepi yang panjang. Bayangkan wajah Alivia kembali muncul di kelopak matanya. Begitu sulitnya membenamkan bayangan-bayangan wajah itu di ketiadaan.


Kemudian ia mengamati rumah yang sederhana itu. Entah kenapa ia merasakan sunyi yang menggigit. Rumah itu terlihat begitu sepi. Seperti gak ada kegiatan kehidupan di sana.


"Yoo ..."


Sebuah suara tersendat di belakangnya. Mumun, Sepupu yang masih muda dan begitu mengerti perasaannya itu menegurnya. Wajahnya terlihat begitu murung. perempuan kampung yang mendekati usia dua puluh enam tapi belum menikah itu terlihat begitu kusut.


"Ada kejadian apa. Mun?"


"Mama dan papa ..."


"Ada apa dengan dua orang itu?"


"Mereka sedang kepengadilan Yo." Desah gadis itu. Mumun memang keliatan agak tua, kalau di banding dengan usianya. Mungkin karena kehidupan yang kurang menyenangkan. Sejak keluarganya terlibat masalah di kampung dan lari kesini, ia harus bekerja membantu keluarganya. Menyembunyikan diri sebagai pembantu di tempat Rio. Dan lelaki muda itu sudah menyarankan agar Mumun menikah. Tetapi sepupu yang selalu bersikap lembut itu tertawa.


"Ada apa di pengadilan" Rio meruncingkan matanya.


"mengajuka gugatan cerai ...."


"Ah, Mun yang bener?"


"Ya yoo ..."


"Dunia memang mendekati kiamat Mun. Kamu sendiri kenapa berada di luar sini? Tanya Rio sambil melangkah keteras. ia menghempaskan pahanya begitu saja. karena melihat pintu masih terkunci.


Semuanya pada pergi ...."


"Pergi kemana?"


"Gak tau Yoo ..."


"Oo, biarin aja Mun. Mungkin mereka memang udah gak menganggap aku anak. Lantas kemana kunci rumah ini?"


"Aku bawa Yoo ..."


"Lho, kenapa motorku gak dimasukin dalam garasi?"


"Aku kira, kamu membutuhkannya malam itu.


Jadi ya, aku hanya menjaganya aja Yoo. gak berani masukin kedalam garasi. Takut jatoh Yoo, " kata gadis sepupunya itu.


"Ah, kamu ada-ada aja. Jadi mereka dirumah ini mau bercerai ya Mun?"


Tanya Rio datar. Tanpa ekspresi. Namun sebetulnya hatinya mengeluh. Hancur dan sakit. Rumah tangga keluarganya memang benar-benar sudah parah. Dan ini adalah ******* dari semua itu.


"Ya, Yoo, " desah sepupu yang sebetulnya berwajah manis itu.


"Dunia kejam ya Mun?"


"Maksudnya Yoo?"


"Ya, begini ini. keluarga baik-baik, dicerai beraikan begitu saja. Akukan masih butuh mereka, Mun. masih butuh orang tua tapi mereka seperti gak peduli, '' kata Rio getir. Sebetulnya ia bicara biasa-biasa aja. Akan tetapi karena nyeri itu begitu merejam perasaannya, maka hatinya terasa begitu pilu. itu membuat matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba ia merasa hidup sendiri di muka bumi ini. Satu-satu orang-orang yang pernah dekat dengan hidupnya, pergi dan berlalu, Oo, kalutnya perjalanan panjang ini. Getirnya.


"Yoo ..."


"Ya, Mun?"


"Mau aku buatin minuman?"


"Enggak usah Mun. Oh, ya. Ambilin air dingin aja!"


"Udah makan Yoo?"


"Udahh ..."


"Kalau boleh, biarlah aku disini dulu memasakkan buat kamu sampai mama dan papa kembali. Gimana Yo?"


"Aku gak bisa ngasih kamu apa-apa Mun ..."


"Enggak usah ngasih apa-apa juga gak papa Yoo. Mama ninggalin uang buat kamu. Dan itu di titipin sama aku..."


"Berapa Mun?"


" tiga juta Yoo ....."


Rio menarik nafas berat.


"Apakah mereka akan pergi lama?"


"Enggak tau Yoo ...."


"Orang-orang tua yang kembali menjadi anak kecil, " desis laki-laki itu lirih. Hampir seperti hembusan angin. Akan tetapi cukup didengar oleh sepupu yang setia itu. Gadis manis yang selama ini lebih suka mengurung diri di dapur itu menarik nafas panjang. ia merasakan ke getiran macam apa yang sedang merejam anak muda itu.


" Ini uangnya Yoo ....''


..."Buat kamu aja Mun, aku gak membutuhkan !"...


"Mama udah ngasih aku uang jajan Yoo....!


"Hemm, itu buat ngirim sodara kamu aja di kampung. Bilang aja sama mama, udah dikasi'in ke aku gitu. tapi uang itu pake aja buat ngirim kekampung ...!

__ADS_1


"Tapi Yoo ...!


"Enggak usah takut. gak bakal ada yang tau. kalau kamu bilang sudah di kasi'in ke aku, maka akupun akan bilang sudah kuterima. Aku juga masih punya uang Mun. Pakai aja untuk keperluan keluargamu. Hanya saja kuminta, kamu tetap tinggal di rumah ini hari ini. Aku ingin tidur. Nanti siang masakin yang enak, ya?"


"Ya, Yoo..."


"Mun ...."


"Ya, Yoo ?"


"Mama sama papa rumah ini pesan apa ?"


"Pesan kalau Rio pulang, enggak perlu cari mereka. Kalau ingin ketemu, ya di tempat kerja mereka aja Yoo. Mereka menunggu kamu disana. Kalau kamu perlu uang kamu di suruh kesana. Tempat tinggal ini untuk kamu, kata mereka. Mama sama papa udah punya tempat tinggal sendiri-sendiri ...!"


"Hadehh !!"


Geram sekali hati Rio. Akan tetapi ia gak berbuat apa-apa. Orang tuanya agaknya sudah mempersiapkan sedemikian rupa untuk perceraian itu. Dan anehnya ia gak tau sama sekali rencana-rencana gila itu. Kalau benar tempat ini untuknya. Buat apa tempat ini? Jangankan merawatnya? Untuk membersihkannya saja sudah melelahkan. Gerutu Rio dalam hati. Namun ia hanya menarik nafas panjang ...


"Apa Yoo ?"


"Ah, sudahlah Mun. Tolong ambilin air dingin itu!"


sepupu itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Mengambil air dingin dari dalam kulkas. ia juga mengambil satu kaleng biskuit. Dan membawanya keluar. Memberikan kepada sodara mudanya yang baik itu.


"Aku belanja dulu Yoo ..."


"Ada uang belanja, gak?"


"Pakai uang ini Yoo ..."


"Enggak usah banyak-banyak. Uang itu manfa'atkan untuk keluargamu, "


kata laki-laki itu. ia mengambil gelas dan menuangkan air dingin itu.


Kemudian meminumnya hingga habis.


"Ya, Yoo ...."


"Ehh, Mun ...."


"Ia, Yoo ?"


"Kapan kamu nikah?"


Sepupu yang manis itu menunduk. Wajahnya berubah menjadi murung.


"Lahh, kenapa diam ?"


"Adik aku masih banyak Yoo ..."


"Aku tau, tapi usiamu sudah lebih dari cukup lahh, yakan? Dan kamu sudah cukup kenyang bekerja. Se'enggaknya kamu punya cukup tabungan untuk hari pernikahan. Dan wajahmu jugak enggak jelek. Tentu kalau kamu mau, banyak lelaki yang akan melamarmu ..."


"Aku udah tua Yoo, enggak laku. " desis perempuan itu polos.


"Siapa bilang? Aku tau kamu menolak lamaran dua lelaki. Kenapa?


Tentu ada lelaki lain yang telah mengisi hatimu, bukan?"


"Kan masih ada orang tuamu, Mun ?"


"Enggak bakal cukup Yoo ..."


"Lalu, kamu akan begitu terus?"


"Apa boleh buat Yoo, biarlah mereka menyelesaikan sekolahnya. Soalnya mereka punya cita-cita tinggi. Siapa lagi yang akan membantu mereka kalau buka aku? Aku gak ingin mereka seperti aku yang gak memiliki keahlian apa-apa Yoo. Kasihan mereka ..."


Rio takjub. Hatinya yang getir berubah jadi haru. Sepupunya yang satu ini benar-benar luar biasa. Bukan saja ia manis. Akan tetapi sikapnya menunjukkan seorang intelektual meski masih begitu sederhana. Mumun menunduk. ia menarik nafas panjang. " Kamu mengorbankan diri sendiri, Mun ..."


"Sebuah keluarga yang akan jadi harus ada yang berani berkorban untuk kesuksesan itu. Dan aku tau, akulah yang harus berkorban untuk adik-adikku. Aku tau itu ..."


"Apakah bukan karena kamu patah hati?"


Gadis itu tersenyum sendu. Kemudian menggeleng.


"Aku gak pernah ngerasain jatu cinta Yoo. perasaan dan rasa cintaku telah kupendam dalam-dalam demi adik-adikku.Kalaupun aku jatuh hati, itu juga harus kubuang jauh-jauh. Karena lelaki itu gak mungkin dapat aku miliki, " kata perempuan itu lirih.


"Kenappa ?"


"Status kami berbeda jau Yoo, gak mungkin menyatu ...."


"Siapa laki-laki yang beruntung itu Mun ?" Mumun menunduk. ia menggigit bibirnya. Pipinya memerah. Kemudian ia melangkah meninggalkan Rio sendiri. Lelaki itu terbengong. Kemudian geleng-geleng kepala. Hatinya trenyuh melihat gadis cantik yang selama ini tenggelam di belakang keluarganya, sebagai sepupu di keluarganya. Hati yang putih dan jiwa yang tulus, itu yang didapat dari gadis Mumun yang mulai beranjak dewasa.


Hati Rio terasa begitu sunyi. Rumah itu seakan-akan lautan sepi yang begitu menghimpit. papa dan mama telah mengambil jalan sendiri-sendiri. Mereka lebih memilih berpisah ketimbang menyatu dengan segala kesadaran kembali. Dengan malas lelaki muda itu masuk ke kamarnya. Dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Membuang segala kemelut perasaanya. satu-satunya bayangan wajah Alivia dan wajah Anastasia silih berganti menggoda kelopak matanya. Kemudian berganti wajah Siska, penjaga karcis Bioskop yang manis itu. Lalu wajah Mumun. Semua kemudian memudar. Untuk kemudian lenyap dari alam pikirannya. Gak terasa ia tertidur. Pulas sekali. Dan itu entah berlangsung berapa lama. Hingga suatu kali tubuhnya terasa digoncang-goncang oleh seseorang.


"Yoo ...., Yoo ....,Rioo !"


Suara itu begitu lembut. Rio dengan malas membuka matanya. Dan Waduhh ? ia melihat wajah Mumun begitu cantik. Rambutnya terpotong pendek . Wajahnya yang terpoles Puput tipis dengan sedikit lipen stips warna jingga. Dan mata ituh, hemmm, begitu bening menyusup kerongga hatinya.


"Kamu Mumun ?"


"Ya, Yoo ..."


"Kenappa?"


"Rio tertidur lama sekali hingga lupa mencopot sepatunya. Tuh, Yoo udah sore nih.


Aku udah nyiapin air hangat buat kamu mandi, Mandi dulu Yoo, nanti airnya keburu dingin. Setelah itu kamu makanlah. Aku udah nyiapin dari tadi siang. Sekarang mungkin makanannya udah dingin. Biar aku angetin dulu ...."


"Hadehh, jam berapa sekarang, Mun?"


"Jam empat sore Yoo ..."


"Udah berapa lama aku tidur, Mun ?"


"Hampir enam jam Yoo ..."


"Hadeh, lama juga !"


"Kamu banyak mengigau tadi ..."

__ADS_1


"Mengigau ? Apa yang kukatakan ?"


"Aku kurang dapat mendengar dengan jelas Yoo, aku gak berani masuk kamar. Sekarangpun kalau enggak saat kamu mandi, belum tentu aku masuk. Tapi yang aku dengar kamu sering menyebut nama seorang gadis. Kalau gak salah ......Kalau gak salah .....!"


"Siapa, Mun ?"


"Alivia .... ya, kamu menyebut nama itu. Ah, siapa itu, Yoo ?"


Pasti gadis yang cantik, ya kan?"


"Ya, cantik ...."


"Kamu sayang sama dia ?"


"Lho, kenapa itu kamu tanyakan, Mun ?"


Mumun menarik nafas getir. Entah apa yang dipikirkannya. Terlihat mukanya menjadi murung. Sesaat matanya yang bening berkerjap beberapa kali. Ada sesuatu yang luruh dari kedalaman hatinya paling dalam. Namun ia gak berani mengungkapkannya.


"Kenapa kamu diam, Mun ?"


"Ah, Enggak papa Yoo, hanya tanya saja ..."


Gadis itu beranjak pergi. Akan tetapi dengan cekatan Rio memegang lengan gadis itu. Mereka saling berpandangan. Hanya sesaat. Kemudian Mumun menunduk kembali. Gak berani menatap mata tajam itu. Namun ia gak mencoba untuk menarik lengannya yang ada dalam genggaman tangan laki-laki itu.


"Mun ...."


"Ya, Yoo ?"


"Aku gak Mao dibilang saudara yang kurang ajar sama sepupunya. Tapi mau gak kamu duduk di sampingku sini ? Aku mau bicara banyak sama kamu. Ada sesuatu yang kurasa berubah sama kamu, " kata lelaki itu datar. ia menatap gadis yang terlihat begitu muda dari usianya itu. ia tau Mumun sebetulnya sudah berusia hampir dua puluh enam. Akan tetapi sore ini ia terlihat begitu muda dan cantik. Wajahnya yang jauh lebih muda dari usianya. ia memakai celana panjang yang manis. Juga kaos sweater yang menarik.


Gadis itu menunduk. Karena hanya itu yang berani dilakukannya.


"Boleh kutau sesuatu tentangmu ?"


Mata gadis itu berbinar sesaat. Namun kemudian luruh kembali. ia menarik nafas getir. Merasakan kenyataan yang terlalu menyakitkan. Bagaimanapun ia adalah saudara meskipun saudara jauh. Dan sudah bertahun-tahun ia tinggal bersama keluarga itu. Memang hanya Rio yang di kenalnya selama ini. Tetapi sepupunya terlalu sopan kepadanya.Terlalu menghormatinya. gak pernah memperlakukan dirinya dengan lebih dari pada sekedar sapa yang menghormat. Namun justru itu, ia menjadi kagum kepada sepupu mudanya. Kagum dari hati seorang yang mulai tumbuh kematangannya kepada seorang laki-laki. Tapi selalu saja ia berusaha memupus perasaanya. Karena gak mungkin.


"Mun ...."


"Ya, Yoo ?"


"Kenapa kamu diam aja ?"


"Apa yang harus aku lakukan, Yoo ?"


Rio menarik nafas panjang. ia tau, ada sesuatu yang sedang berkembang di hati gadis itu. Dan ia harus mengakuinya, bahwa sebetulnya Mumun bukan gadis yang buruk. ia memiliki sepasang mata yang indah. Sebentuk hidung yang bagus. Dan memiliki sepasang bibir yang tipis. Wajahnya bersih. Meski tanpa make up yang menonjol, ia tetap perempuan yang cantik. Sayang nasibnya kurang baik. Namun begitu, adik nya Yahya, jelas gadis yang cantik.


"Apa boleh kutau perasaanmu ?"


"Maksud kamu ?"


tanpa sadar Rio memeluk gadis yang cantik yang sedang diam itu. Tanpa sadar pula tangannya. menyentuh sepasang gunung kembar yang padat itu. Mumun merasakan getaran yang hebat. ia menunduk. Menggigit bibirnya.


"Ehh, ma'af aku gak sengaja ...!


Rio dengan cepat melepaskan pelukan itu. Baru disadarinya bahwa mereka sebetulnya gak pantas berada di kamar berdua seperti itu. mereka sudah dewasa. Orang akan mengira yang bukan-bukan.


"Aku mau mandi, airnya masih hangat, kan ?"


Mumun mengangguk. ia melihat lelaki itu melangkah meninggalkannya. Kemudian gadis yang lembut itu mengatur kasur yang kusut itu. ia menarik nafas panjang. Sayang sekali, dirinya gak bisa menyalurkan perasaan hatinya. desis gadis itu dalam hati.


Sementara itu Rio masuk kamar mandi. ia mengamati dirinya di muka cermin. Apa yang ia sentuh tadi ? huff, sesuatu yang indah. ia memang baru menyadari bahwa Mumun tentu menyimpan perasaan terhadapnya. Gadis itu cantik dan lembut. Sayang nasibnya kurang baik. Desis Rio. ia baru menyadari kalau Mumun sebetulnya lebih pantas menjadi adiknya ketimbang sepupunya. Gadis itu halus budinya. ia mencoba membandingkan Mumun dengan Alivia, Siska dan Anastasia. Bagi Rio, Mumun gak kalah dengan mereka. Bahkan Mumun terlihat lebih luruh. Matanya lembut. ia tau gadis itu tentu menyimpan suatu perasaan terhadapnya. Tapi, Rio belum mampu menghilangkan sebentuk wajah Alivia. Gadis itu sebetulnya adalah segalanya. Sayang sekali, kejadian di tempat itu begitu mengecewakannya. Begitu rapuhnya kehidupan gadis itu.


"Yoo ...."


Terdengar sebuah suara dari luar kamar mandi.


"Yaa ?


"Ada telvon Yoo ..."


"Dari siapa itu ?"


"Mama ...."


"Okelah, sebentar !"


Dengan malas Rio membalut tubuhnya dengan handuk. ia melangkah keluar dari kamar mandi. Kemudian ia menuju handphone. ia mengangkatnya.


"Hallo ..."


"Rio ...?"


"Ya, Ma....."


"Mumun tentu telah cerita banyak sama kamu apa yang terjadi antara papa dan mama. Menyedihkan memang. Akan tetapi apa boleh buat. Hal itu gak dapat di hindari lagi. Kamu tentu menilai mama sama papa mementingkan diri sendiri. Kamu gak usah menyalahkan siapa-siapa, Rio. Kamu gak dapat menyalahkan papa atau mama. Keadaan memang mengharuskan begitu mau apa lagi.


Tapi itu bukan berarti Papa sama Mama gak menyayangi kamu. Kami sepakat kamu tetap Bagian dari kami. untuk itu, kalau kamu membutuhkan kami, datanglah ketempat mama atau Papa. ini menyedihkan memang, tapi aku yakin kamu cukup dewasa untuk menelan semuanya ...."


"Aku sendiri, Ma ..."


"Kita semua sendiri Rio. Tapi kamu masih ada Mumun. ia gadis yang baik. Anggaplah benar-benar dia adikmu. Karena dialah yang kuserahi untuk merawat tempat itu. Kamu jangan terlalu banyak pergi. Suruh keluarga Mumun untuk menempati bagian dari rumah itu ....!


"Jangan salah paham Rio. Justru mereka akan banyak membantu merawat tempat itu. Jangan khawatir. Mama akan menyediakan dana untuk mereka. Atau papa tetap akan mengirim uang buat kamu. Bagai mana kesibukanmu ?" Kamu masih berniat meneruskan kariermu, itu?


"Mama tau, aku gak bisa terpisahkan dari itu..."


-koneksi terputus---


ia kemudian masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian ia keluar lagi dengan pakaian malam.


"Kita makan bersama Mun ...!"


"Aku malu Yoo, " desa Mumun ...!"


"Heyy, kamu harus membiasakan diri, " dasah Rio sambil menggandeng tangan Mumun ke meja makan. Gadis itu hanya menunduk saja.**


...****************...


......................

__ADS_1


...----------------...


Hadehh,Rumit.


__ADS_2