Kugenggam Rasa

Kugenggam Rasa
Tiga


__ADS_3

Alivia menyusut bening yang tiba-tiba mengembang di kelopak matanya. Ada sesuatu yang membuat dia begitu bersedih. Sesuatu yang begitu sulit untuk diungkapkannya. Begitu mengganjal dalam kerongkongannya. Yang ia jelas rasakan adalah nyeri yang begitu menggigit perasaannya. itu menyakitkan.


"Alivia ..."


Desah laki-laki muda di depannya.


Gadis itu tergagap. ia menyusut bening yang tersisa. Dan berusaha memberikan senyum itu.


Meski nyaris sebuah lengkungan yang patah.


"Ya?...


"Mengapa kamu menangis?"


"Aku sedih ..."


"Mengapa?"


"Aku mencintaimu Rio ..."


"Hei, apakah yang kamu ucapkan itu kata hatimu?"


"Ya, dan itu sudah kupikirkan selama hampir satu Minggu aku berada di kota kecil ini. Memang begitu sulit memulai. Tapi aku harus menyampaikan hal ini, bukan?"


"Bagaimana dengan laki-laki itu?"


"Itulah yang sebetulnya selalu mengganggu pikiranku Rio. itulah sebabnya aku datang ke sini. itulah sebabnya aku menemui, tolonglah pecahkan semua ini Rio, karena hanya kepadamu aku percaya untuk ikut memecahkan persoalan yang membelitku ..."


"kamu ingin lepas dari laki-laki itu?"


"Rasanya gak mungkin aku melepaskan begitu saja, " Desah Alivia getir. Oo, mengapa begitu sakit kenyataan yang kurasakan ini? Mengapa? Desis Alivia dalam hati. Begitu sedih. Begitu nyeri.


"Mengapa begitu?"


"Kamu harus tau, papaku gak terbiasa buat menipu orang lain. Laki-laki itu telah menolongnya. Dan keluargaku berhutang Budi padanya. itu gak bisa ditinggalkan begitu saja..."


"Mengapa kamu gak mencoba untuk mencintainya?"


"Itu gak mungkin. Dihatiku telah terisi dirimu.


Aku tau. Mungkin ini keterlaluan. Tapi itulah kenyataanya. Sejak fotomu datang kekamarku , aku menyukaimu. Aku benar-benar mengharapkanmu ..."


"Lantas maumu apa?"


Rio menarik nafas panjang. Hatinya begitu getir. Begitu sakit. Tapi ia juga melihat di mata Alivia ada luka. Dan luka itu tampak begitu dalam. ia menarik nafas panjang.


"kamu mencintaiku Rio?"


"Hatimu dapat menjawabnya ..."


"Aku ingin mendengarnya!"


"Kurasa Marina telah cerita banyak, karena akupun telah menceritakan semua yang ada di hatiku pada ibos ..."


"Aku ingin mendengarnya sendiri, " Desah Alivia.


Dua bening jatuh kembali tanpa sadar. Beruntung Cafe itu agak sepi. Agaknya memang itu jam-jam sepi bagi Cafe tersebut.


Rio menarik nafas panjang. ia genggam tangan Alivia dengan lembut.


"Mungkin aku lelaki sentimental Alivia. Tapi kamu boleh percaya padaku, aku jatuh cinta dalam pesan. Perasaan itu kucoba pertahankan, meski hampir dua tahun kamu gak pernah berkirim pesan kembali. Kamu seperti menghilang begitu saja ..."


"Mungkin seorang laki-laki mampu bertahan selama itu?"


Rio tersenyum getir.


"Aku memang lelaki gak bersih Alivia. itu kurasa kamu telah tau. Selama satu Minggu ini aku yakin banyak yang kamu dapat tentang diriku.


Bahwa selama dua tahun memang silih berganti datang gadis lain dalam hari-hariku. Mereka manis. Mereka Cantik. Mereka menggemaskan. Namun harus kuakui pula, gak satupun mampu menyentuh perasaanku. Mereka gak mampu menggoyahkan diriku dari bayang-bayangmu. Jadilah hubunganku dengan mereka begitu hampa dan hambar. Dan aku dapat bayangkan apa yang terjadi? Hubungan itupun berantakan begitu saja. itu menyiksaku, karena sebetulnya aku ingin melupakan dirimu. Benar-benar ingin melupakan dirimu. Tapi aku gak pernah mampu untuk itu. Seakan bayang-bayangmu hadir. Meski gak pernah membentuk..."


"Mengapa kamu ingin melupakanku?"


"Kamu tau ..."


"Karena aku gak pernah membalas pesanmu selama dua tahun ini?"


"Menghilangnya dirimu membuat aku putus asa. Harapan yang sempat berkembang, pupus begitu saja. Aku mencoba menerima kehadiran perempuan lain. Akan tetapi keindahan pesan-pesanmu membuat aku masih berusaha bertahan mengenangmu, meski semua itu justru menciptakan nyeri yang panjang. Menciptakan sepi yang menggigit. Penantian itu seperti tanpa ujung ...."


"Lantas apa yang mendorongmu mendekatiku, padahal kamu belum mengenal diriku dengan baik?" Hati Alivia terharu. ia tersenyum, sekaligus menahan bening keharuan yang hampir jatuh.


"Entahlah, secara naluri aku tertarik kepadamu sejak kamu memasuki gedung bioskop itu tiga hari yang lalu. Seakan aku merasa pernah dekat dengan senyummu yang samar. Aku gak tau, kalau kamulah sebetulnya gadis yang hadir dalam mimpi-mimpiku itu. benar-benar gak tau..."


"Andaikata aku bukan Alivia?"


"Aku gak tau, tapi hati nuraniku gak bisa kubohongi. Aku merasa begitu dekat dengan kehadiranmu. " desah laki-laki itu.


"Aku sebenarnya tau bahwa laki-laki yang berdiri di depan toko kosong depan bioskop itu adalah kamu. Aku sengaja ingin tau tentang dirimu lebih jauh. Tapi kamu memang anak sableng. mengapa begitu betah kamu berdiri di tempat itu?"


Rio tertawa getir.


"Aku sedang berfikir tentang siapa dirimu..."


"Kamu temukan, jawabnya?"


"Enggak....."


"Tapi kenapa esok sore kamu berdiri kembali di tempat itu?"

__ADS_1


"Naluriku mengatakan kamu akan muncul lagi.."


"Kamu begitu yakin?"


"Ya, kenyataanya begitu, bukan?"


"Aku juga menduga kamu tentu masih berdiri di situ...."


"Kita punya perasaan yang sama, " desah Rio.


"Tapi ....."


"Aku mengerti apa yang ingin kamu ucapkan.


Sudahla, gak perlu kamu risaukan. Aku gak pernah berfikir tentang gadis lain. Aku justru sedang memikirkanmu...."


"Benarkah itu?"


"Ya...."


"Kamu bisa menolongku?"


"Kapan kamu bermaksud pulang ke Nganjuk?"


"Entahlah...."


"Kamu harus mengambil keputusan!"


"Jika aku pulang ke Nganjuk cepat, itu berarti aku mempercepat pernikahanku. Aku ingin menikmati hari-hari bersamamu dulu..."


"Benar-benarkah gak bisa terurai tali ikatan itu?"


Alivia menggeleng dengan sedih.


"Lantas apa artinya kamu datang padaku?"


"Inilah yang sulit kukatakan padamu Rio. Aku mencintaimu, tetapi aku gak bisa membiarkan orang tuaku dibelit kesulitan yang gak menentu. Apakah kamu mengerti hatiku?"


Rio terhempas.


"Bagaimana aku harus mengerti dirimu, sedangkan kamu sendiri berusaha membuat aku benar-benar gak mengerti..."


Alivia menunduk.


"Rio ..."


Laki-laki itu hanya mendesah. Namun taa urung ia menatap bola mata Alivia sembab. Sekali lagi ia melihat duka itu begitu merejam gadis itu. Oo, apa yang sebetulnya terjadi padamu kucing gemas? Desah Rio dalam kediamannya.


"Kamu membenci aku?" Tanya Alivia tersendat.


"Gak mungkin aku membenci orang yang kucintai ..."


"Aku membutuhkan kehangatanmu Rio, sekaligus pengertianmu..."


"Tapi taukah kamu, sikapmu justru membuatku sakit?"


"Aku menyadarinya ..."


"Oo, Alivia, apa artinya pertemuan kita ini sebetulnya?"


Alivia menunduk. Dua bening menetes begitu saja.


"Berilah aku kehangatan hatimu Rio"


Alivia bergetar. ia genggam tangan Rio dengan seluruh kerinduan yang dimiliki. Rio mengerti, gadis itu tentu berada di ambang kebimbanngan. ia mengerti Alivia tentu begitu sulit mengambil keputusan yang terbaik baginya. Oo, inikah gadis yang selama ini begitu mesra dalam pesan-pesannya itu? inikah gadis yang begitu lembut dalam setiap kalimat yang di ucapkanya dalam pesan itu? Mengapa begitu sendu? Mengapa begitu luruh?


"Alivia ...."


"Bagaimana jika kamu kerumahku dulu?"


"Aku malu ...."


"gak ada yang bakal mengolokmu. Aku punya sebidang kebun dari rumah. Disana ada dangau, aku ingin mengajakmu kesana. indah tempat itu. kamu pasti akan merasa senang melihatnya. Marilah, kamu ketempatku. Aku akan meletakkan motorku lebih dulu ...!"


"Hari sudah sore Rio ...!"


"Apa kamu tergesa-gesa pulang?"


Gadis itu menunduk. ia menarik nafas panjang. Kemudian akhirnya berdiri. Mengikuti langkah Rio, setelah laki-laki itu membayar apa yang mereka minum di kassa Cafe itu.


"Kita kemana?"


"ke rumahku dulu, ada baiknya kamu mengenal keluargaku, meski tengah mengalami suatu goncangan. Tapi itu lebih baik, daripada enggak, oke?"


Alivia mengangguk.


Rio masuk dalam mobil Fortuner hitam itu. Mereka menuju tempat parkir depan bioskop itu.


Motor Rio memang tertinggal di tempat itu tadi.


Sementara senja mulai turun. Langit tampak mulai buram.


"Kamu sudah tau rumahku, bukan?" Tanya Rio.


Alivia mengangguk.


"Jalan raya bebengan?"

__ADS_1


"Ya ...."


Rio mengambil sepeda motonya. Dan melarikan di depan mobil itu. ia mendahului kerumahnya. Dan ketika ia sampai di halaman rumahnya, ia tertegun. Rumah itu tampak berantakan. Sementara terdengar suara orang bertengkar begitu seru. Hati laki-laki muda itu begitu nyeri. Seperti tercabik-cabik. ia menunduk. Namun masih berdiri di halaman itu. Hingga mobil Hitam itu datang di belakangnya.


"Ada apa, Rio?"


"Perang dunia ketiga, " desah Rio getir. ia menunduk. Kemudian melangkah ke mobil Alivia. Dan masuk dengan lesu. Sementara mereka mendengar keributan itu tampaknya makin seru aja. Dan Rio tau benar, siapa pelaku-pelaku perang dunia di rumah itu.


"Kita pergi saja Alivia ...!"


"Kemana?"


"Ya, kemana aja kamu ajak aku sore ini, " desah getir laki-laki itu.


"Bagaimana kalau kita cari hiburan di kota aja?"


"Terserah kamulah ..........!"


"Besok pagi aja kita ke dangau milikmu, oke?"


Rio mengangguk dengan lesu.


Mereka akhirnya meninggalkan kota kecil itu. Tentu saja setelah Alivia pamit pada keluarga Marina. Karena ia gak ingin kepergiannya harus menjadi pikiran keluarga yang begitu baik menampungnya selama ini. Karena di rumah itulah Alivia mulai mengenal keadaan laki-laki muda yang selama ini begitu dirindukannya itu.


Mereka meluncur ke kota Bandung. Jarak antara kota kecil itu dengan ibukota Jawa barat sekitar dua puluh lima kilometer. Dan itu di tempuh Alivia dengan waktu setengah jam. itupun dengan kecepatan yang sedang-sedang aja.


"Udara kotamu sejuk, " desah Alivia.


"Ya, udara rumahku yang terlalu penuh polusi, " getir sekali suara itu. Bagai jerit hati laki-laki di kedalaman sebuah lembah yang gak berbatas. Hanya terdengar begitu lirih. Namun Alivia cukup mengerti kesedihan macam apa yang tengah merejam hati laki-laki itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi atas keluarga mu...."


"Ya, gak pantas untuk sebuah contoh Alivia, "


desah laki-laki muda itu kembali. Sudah lama ia gak merasa betah tinggal di rumah. papa dan mamanya adalah birokrat-birokrat yang telah berebut pengaruh di rumah itu. Entah apa pula yang menjadi penyebab. Dan dia sendiri gak berniat untuk menjadi penengah. Terlalu bosan ia mendengar pertengkaran-pertengkaran itu setiap hari. Seperti lokomotif yang gak pernah berhenti.


"Kamu sepertinya gak berniat menengahi mereka?'


"Ah, itu urusan mereka-mereka disana, Alivia. Gak bakal ada pengaruhnya aku hadir di tengah-tengah. karena mereka tetap saja menganggap aku adalah anak kecil yang masih pantas disusui. itulah sebabnya aku lebih suka meletakkan mesin koilku dirumah ibos. Aku lebih suka cari uang itu sendiri. Aku enggan untuk masuk kerumah itu kembali....."


"Tapi kenapa kamu tadi seperti sengaja mengajakku kesana?"


"Agar kamu mengenal keadaan rumah tangga keluarga sekalian. agar kamu berfikir jauh untuk berdekatan denganku...."


"Kamu menyesalkan kedatanganku?"


"Enggak, aku telah lama menantikan pertemuan seperti ini. Sudah kuduga sejak awal, kamu tentu gadis yang lembut, cantik dan mengerti tentang hati serta perasaanku. Dugaanku gak pernah meleset, bukan?"


"Tapi kamu salah ..."


"Maksudmu?"


"Aku sama sekali bukan jodohmu, " Lirih suara itu.


"Karena kamu gak mencintaiku?"


"Bukan, bukan itu. Kamu tau benar hatiku. Kamu tau benar perasaanku.


Itulah sebabnya aku datang ke kota kecilmu yang sejuk itu. Akan tetapi kamu tau, betapa sulit aku mengambil keputusan itu. Aku gak ingin keluargaku berantakkan kembali dan mendapat cemo'ohan. Tapi dilain sisi, aku juga gak ingin kehilanganmu. Apakah aku salah jika memutuskan untuk datang ke tempatmu lebih dulu sebelum semua berakhir dengan menyakitkan? Katakanlah padaku Rio!"


"Kamu gak salah. Tapi kenyataanlah yang mungkin terlalu menyakitkan bagi kita. Ah, tiba-tiba Aku ingin mengenal keluargamu Alivia, " desah Rio. ia menarik nafas panjang. Hatinya tiba-tiba merasa begitu hambar. Entah mengapa. Mungkin karena apa yang diharapkannya selama ini terasa begitu sia-sia. Terasa begitu hampa. gak ada harapan apa-apa.


"Apakah aku harus lari dari keluargaku, Rio?"


"Jangan, kamu bisa menemuiku kapan aja, tanpa kamu harus melarikan diri dari kenyataan itu. Jodoh abadi tangan Sang Pencipta Alivia.


Aku gak berfikir tentang jodoh. Tapi gak ada buruknya aku katakan padamu, bahwa segala sesuatu itu bukan kita yang menentukan. kamu mengerti itu, bukan? Tuhanlah yang mengatur segalanya. Mungkin pertemuan kita ini dialah juga yang menentukan. Kalau memang kelak kita ini berjodoh, tentu akan bertemu kembali. Dalam situasi apapun...."


"Tapi aku merasakan kehidupan ini terlalu menyakitkan bagiku, " kata Alivia lirih. ia mengemudikan mobilnya dengan pelan. Mereka mulai memasuki halaman sebuah diskotik bar. Alivia pernah mengunjungi tempat itu. Dulu, ketika ia masih sekolah di kota itu. Dan itu sudah sekitar empat tahun yang lalu. Tapi hanya sekali itu. Setelah itu ia begitu takut memasuki tempat ini. Entah mengapa sore itu ia ingin mengajak Rio ke tempat itu. Mungkin suasana sendu itulah yang membuat ia berfikir ke arah itu.


"Tapi kamu terima keadaanmu dengan penuh kesadaran, bukan?"


"Bukankah kamu gak ada niat sedikitpun untuk menentangnya?"


Alivia menarik nafas panjang.


"Mungkin memang inilah cara terbaik kami semua membalas Budi. ia terlalu baik. Terlalu mencintaiku. Kamu lihat, yang kupakai ini pun mobil yang diberikan olehnya. ia juga memberikan kebebasan untukku....."


Hati Rio kembali merasa terhempas.


"Aku gak akan sanggup membelikan kamu sebuah mobil...."


"Bukan begitu Rio, aku gak bermaksud membandingkan kamu dengan Hani. Berbeda nilainya. Yang menjadi permasalahan justru karena aku harus melakukan semua itu tanpa aku mencintainya. itu sebabnya aku membutuhkan datang ke kota kecil ini..."


"Hanya sekedar ingin menyampaikan selamat tinggal padaku?"


"Ah, sudahlah. Kita lupakan itu. Biarlah malam ini berjalan sebagaimana adanya. Aku gak ingin merusak dengan segala kesenduan dan ke bimbangan. Marilah kita memasuki tempat itu?"


Mereka masuk ketempat itu. Dan suasana di ruang tengah ternyata begitu banyak pengunjungnya. Beberapa pasangan sudah mulai tampak turun melantai, mengikuti suasana moderen yang sengaja di ciptakan. Suara bass bergetar dengan lembut.*


...****************...


......................


...----------------...


Lumayan migren juga nih, Antonim sinonim.

__ADS_1


__ADS_2