
Lelaki muda itu mengamati gadis yang kini menunduk itu. ia tau ada sesuatu yang begitu mengganjal di hati gadis itu. ia mengerti, tentu ada sebuah peristiwa yang terjadi, sehingga gadis itu ta lagi membalas pesan WhatsAppnya.
"Alivia ...."
"Ya?"
"Ma'afkan aku. Mungkin ta terlalu ramah aku menyambut pertemuan ini. Tapi benar-benar aku ta menduga pertemuan ini. Apalagi aku memang belum pernah menyimpan fotomu. Kamu pasti ingat, disaat aku meminta foto itu, yang kamu kirim adalah gugusan bintang. Gambar bintang pagi yang begitu sepi bergayut di langit. Nah bagaimana aku dapat mengenalmu dengan baik tadi?"
"Taa apa, aku senang dengan pertemuan ini..."
"Bagaimana kamu dapat pastikan kalau tadi adalah aku?"
"Aku sudah satu Minggu berada di kota ini. Juga sudah tau rumahmu. Tapi aku memang sengaja untuk tida menyambangi kamu. Aku tau, Kamu jarang berada di rumah. Aku juga tau kebiasaanmu berdiri di depan toko kosong itu. Menghitung pejalan kaki dan penonton bioskop ini ..."
"Ahh, Sudah sejauh itukah kamu tau tentang diriku?"
"Aku juga tau, kamu cukup dikenal oleh anak-anak jalanan di sekitar tempat ini. Bahkan mungkin kota ini mengenalmu semua ..."
"Jangan ngeledek. Tapi kadang justru aku merasa kesepian, " desah Satrio. Lelaki muda itu mengambil bungkus roko. Menawarkan kepada Alivia. Gadis itu mengambilnya sebatang.
"Bagaimana penilaianmu dengan gadis yang mengenal roko semacamku?"
"Meroko bukan suatu ukuran sebuah pribadi. Tapi peroko jelas manusia yang sering tenggelam dalam problematika kehidupan dirinya. Apakah kamu mau cerita sedikit, mengapa sekarang kamu berada di kota ini, setelah setahu lebih gak ada kabar sama sekali?"
Gadis itu tersenyum sendu. Dalam keburaman ruang bioskop, Rio menangkap semua itu. ia menarik nafas panjang.
"Dimana tempat yang enak, untuk kita merayakan pertemuan kita ini?"
"Sebuah Cafe?"
"Oke ..."
"kamu udah tau belum Cafe "Wolles"?
"Maksudmu rumah makan yang di depan taman itu?"
"Ya, persis, Hemmm, nama pondok Gizi itu. Kita dapat melanjutkan perbincangan ini di sana, oke?"
"Baiklah, aku juga sudah tauu tempat itu ..."
"Sekarang?"
"Nanti saja, kalau sudah habis. Sayang, kan?"
"Baiklah ..."
Mereka kemudian menikmati alur cerita film itu sampai tuntas. Meski pikiran mereka sudah gak lagi dapat menyatu dengan film tersebut. Tenggelam dalam pertemuan yang terasa aneh itu. Bagi Rio sendiri, ini adalah kejadian yang gak pernah di duganya sebelumnya. Alivia Rachma F, nama yang sebetulnya lama di kenalnya. Akan tetapi tiba-tiba terasa menghilang. Setelah itu, hampir ia lupakan sederetan mungil nama itu. ia gak perna membayangkan, seperti apa wajah di balik nama itu. karena Alivia gak pernah mengirim foto seperti apa yang pernah di mintanya. Untuk datang kesana, rasanya ia masih enggan. Alivia pernah menolaknya, tatkala ia menyampaikan niat itu. Nah, siapa duga, tiba-tiba kini ia berada di kota kecilnya? perkenalannya tida begitu istimewa. Biasa-biasa aja. Saat itu, salah satu cerpenya di muat di sebuah majalah remaja, di ibu kota. beberapa pesan melayang ketempatnya. ia hanya membaca pesan dari tiga email untuk di balasnya. Bukan dirinya sombong, tapi memang ia paling enggan untuk membalas email. Justru pesan dari Alivia, enggak ia baca. ia biarkan tersusun rapih di arsip WhatsApp. Barulah pada pesan suara kedua, Rio mendengarkan suara Alivia. Pendek dan sederhana. suara itu berucapkan keritikan untuk cerpanya. ia hanya tersenyum waktu itu. Dan ia tida lebih hanya kerkata satu buah kalimat. Terima Kasih, hanya itu yang ia tulis. Dan ia kirimkan pada Alivia. Gadis itupun membalas dengan kalimat yang pendek. Namun? Hanya itu. pesan singkat dari sebuah WhatsApp, hanya terketik sebuah kalimat pendek yang hanya terdiri dari sebuah kata. Rio tau, gadis itu tentu menginginkan namanya yang komplit. Justru dalam pesan yang pendek itu, ia menjawab panjang lebar. Sejak itulah, Rio menyukai perhatian yang diberikan oleh Alivia kepadanya. Gadis itu begitu setia mengirim pesan kepadanya. Namun selalu saja menolak, kalau ia meminta fotonya. Bahkan kemudian ia menghilang, setelah sekian lama mereka saling mengirim pesan. Padahal Alivia sudah memiliki foto dirinya.
"Apa yang kamu fikirkan?" Gadis itu menyentak kan lamunan Rio.
"Ah, tentu saja dirimu ..."
"Kamu merasa aneh dengan pertemuan ini?"
"Tentu saja, " desah Rio.
"Sebaiknya kamu tunggu di Cafe itu ...?"
"mengapa kita gak sama-sama aja?"
"Kamu bawa motor, kan?"
"Biar aja di tempat parkir. Aku ikut mobilmu ..."
"Oke kalau begitu. yuk, lihatlah, film hampir habis!"
Mereka melangkah keluar lebih dulu, sebelum yang lain bubar karena film selesai. Mereka kemudian melangkah ke mobil hitam itu. beberapa orang yang mengenal Rio, ber suit-suit. Tetapi lelaki muda itu tenang melangkah masuk ke mobil Alivia.
"Gila tuh Rio, darimana ia sabet cewe cakep itu?" Celetuk salah seorang tukang parkir. Rio hanya tersenyum. sementara Alivia menghidupkan mesin mobilnya. mereka kemudian gak peduli dengan suit-suitan itu.
"Banyak teman kamu di kota ini Rio ..."
"Itulah duniaku, " desah Rio.
"Mengapa kamu gak betah dirumah?"
"Entahlah, mungkin terlalu bosan mendengar pertengkaran demi pertengkaran, yang sepertinya tapernah mengenal ujungnya itu. Entahlah, mengapa kedua orang tuaku, seperti sulit menemukan titik temu dalam kehidupan mereka. Aku gak betah tinggal di rumah ..."
"Itukah yang membuat tulisan-tulisanmu begitu sinis dengan orang tua sekarang?" Desah Alivia sambil membawa mobilnya ke timur. Melewati sepanjang jalan pemuda. Untuk kemudian memasuki jalur khusus menuju ketaman. Didepan taman. Didepan taman yang indah itu memang ada sebuah Cafe yang bertuliskan nama MAKNARASA. Di situlah mereka masuk.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Rio?"
"Kehidupan keluargaku mendekati berantakan Alivia ..."
"Lantas kamu diamkan begitu saja?"
__ADS_1
"Mau apalagi?"
"Kamu anak keberapa?"
"Pertama ...."
"Anak pertama? seharusnya kamu dapat mencegah untuk gak lebih parah lagi. Aku yakin kamu punya rencana dalam keluargamu , " kata Alivia lebih lanjut. ia menatap langsung mata Rio yang redup. Akan tetapi lelaki muda itu hanya tersenyum getir.
"Aku pernah mencoba mendamaikan mereka, tetapi gagal ..."
"Ma'af, aku gak bermaksud membangkitkan kesedihanmu, " desah Alivia menyesali perubahan wajah Rio.
"Gakpapa, aku senang dengan perhatianmu. itu yang membuat aku betah chattingan sama kamu. Ah, lupakan dulu semua itu. Aku ingin mendengar ceritamu. Rasanya pertemuan ini, gak akan berkesan, jika kamu gak cerita. Oke?"
"Ceritaku gak ada yang menarik Rio ..."
"Ceritakanlah, aku ingin mendengarkannya!"
"Nanti dulu, aku ingin tau, apa kamu suka dengan pertemuan kita ini? Maksudku, hatimu? jawablah dengan jujur!"
Rio menatap wajah dan kening seolah-olah ingin menyentuhnya yang sangat menarik perhatiannya itu. Kemudian ia tersenyum dengan tulus.
"Aku bahagia dengan pertemuan ini ..."
"benarka?"
"Tentu saja. Hal yang mengharukan dan suatu kejutan yang membahagiakan, bukankah begitu, Alivia?"
"Alivia tertawa kecil. ia mengambil secangkir kopi yang telah ada di mejanya. Pelayan Cafe itu begitu cekatan memberikan apa yang di pesan Alivia. Mereka kemudian menikmati minuman dan makanan kecil yang tersedia itu. sementara itu, beberapa pengunjung mulai berdatangan ke Cafe itu.
"Rio..."
"Katakanlah Alivia, aku merasa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku. Kamu tentu telah mengenal diriku dengan baik. Nah, katakanlah, mungkin aku dapat membantumu!"
"Kamu tentu terkejut dengan kedatanganku di kota ini, Rio ..."
"Kuakui, ya, " desah laki-laki itu.
"Karena aku merasa selama ini terlalu banyak membohongi dirimu. Terlalu banyak kepalsuan yang kukatakan padamu...."
"Aku gak ngerti ..."
"Kamu akan mengerti, " desah Alivia.
"Katakanlah semuanya Alivia, agar aku menjadi gak penasaran, " desah lelaki itu sambil menatap wajah Alivia yang cantik. Rio menangkap kesenduan di wajah itu.
"Ya, aku mengenal nama itu. bekas teman sekolahku di SMA dulu, entah kemana dia. Sudah hampir duatahun ini seperti menghilang dari kota ini. dimana kamu kenal gadis itu?"
"Bogor ..."
"Bagaimana kalian bisa berkenalan?"
"Nanti dulu, aku akan mulai dari depan Oke?"
"Aku udah gak sabar mendengarnya Alivia ..."
Gadis itu tersenyum sendu.
"Kamu tentu ingat sebuah cerpenmu yang berjudul DOGMA, bukan?"
"Ya tentang seorang gadis yang di jual ayahnya ..."
"Apakah kisah itu nyata?"
"Kau pernah menanyakan itu, bukan? Dan aku menjawabnya, bahwa itu hanya fiktif. Kamu penasaran sekali waktu itu, tapi apa yang dapat kujelaskan padamu, karena memang itulah kenyataan ..."
"Kamu tau mengapa aku tertarik dengan cerpen itu?"
"Karena tokohnya hidup?"
"Bukan, karena kisah itu begitu mirip dengan hidupku ...."
"Ah, benarkah? Tapi kisah itu hanya rekaan belaka?"
"Aku tau, aku hanya mengatakan bahwa kisah itu memang begitu mirip dengan kisah hidupku. Aku mulai, ya? Sejak kamu tulis cerpen itu, aku jadi ingin mengenalmu. ingin mengenal dirimu. Bukan apa-apa. Bagaimana kamu dapat menghidupkan tokoh Sumi sedemikian rupa?"
"Rio tersenyum, ia menerawang jauh kemasa lalu. gak sengaja sebetulnya menemukan kisah itu. Saat itu ia dalam sebuah perjalanan. Di sampingnya duduk seorang gadis dengan wajah kuyup. Begitu sendu. Rio merasa ada sesuatu beban yang memberi tarikan nafas gadis tersebut. ia mencoba mengurai dibalik kesenduan dalam perjalanan itu.
"Aku mengenal seorang gadis ..."
"Siapa namanya?"
"Entahlah, aku gak nyoba buat menanyakan. Namun yang jelas kuketahui adalah ia baru lepas dari mulut singa. Yang membuat pilu hatiku, adalah ketika ia mengatakan sendiri, bahwa yang menjual dirinya adalah ayah kandungnya sendiri. Ayah yang begitu di cintainya. Ayah yang begitu di hormatinya ..."
"Benar-benarkah itu ada?"
__ADS_1
"Kisah itu sendiri sebetulnya sudah sedemikian rupa kuubah, agar aku gak menyinggung perasaan siapapun. Namun begitu harus ku akui di depanmu, bahwa dibalik semua itu ada sebuah kisah nyata. Semula aku ingin menutupinya. Kepada siapapun, akan tetapi nyatanya kamu menginginkan aku mengatakannya ...."
"Alivia menarik nafas getir. Ada sesuatu yang sakit.
"Aku bukan saja tersentuh dengan kisah DOGMA yang kamu buat itu. tetapi kehidupanku terjamah. Mungkin berbeda status, akan tetapi kisah itu sendiri memang hampir sama. itulah sebabnya aku mengirim email padamu. Beberapa kali mengenalmu, aku masih ingin menyembunyikan identitasku. Akan tetapi lama kelamaan, aku gak kuat. ingin sekali mengatakan yang sebenarnya padamu..."
"Aku gak ngerti apa yang kamu katakan Alivia."
Desah Rio lirih. ia menatap langsung mata yang murung itu. Oo, ia melihat luka itu di kedalaman sana. Ada apakah yang terjadi padamu, kucing gemas? desah Rio. ia menarik sebatang roko. Menyulutnya. Dan menghempaskanya kuat-kuat, sehingga ruangan itu menjadi penuh dengan asap roko. Akan tetapi sebentar kemudian memudar dan lenyap di ketiadaan. Alivia menarik nafas getir menatap semua itu.
"Rio, sebetulnya aku adalah perempuan malang itu ..."
"Kamu gadis yang pernah kukenal dulu?"
Alivia menggeleng sedih.
"Bukan, tetapi tokoh Sumi itu berlaku dalam kehidupanku ....
"Ceritakanlah semuanya Alivia, agar aku jelas dan gamblang, " desah laki-laki muda itu. ia menatap redup bola mata bening yang mulai mengembang bening air mata itu. Alivia tertawa pahit.
"Oke, memang untuk itu aku datang. Semoga akan menjadi kisah yang menarik bagimu, " kata perempuan cantik itu lirih.
"Bukan begitu. Aku hanya berharap dapat menampung segala dukamu. Kamu tau, sejak kita berkirim pesan pertama dulu, sebetulnya timbul rasa simpati pada diriku. Apakah buruk jika kita saling berbagi kesedihan? Gak ada buruknya bukan?" kembali Alivia tertawa getir.
"Kamu benar, gak ada buruknya kita berbagi cerita. Meski cerita yang ingin kupaparkan padamu gak menarik. Sama sekali gak pantas untuk diceritakan padamu. Tapi aku memandang perlu kamu tau, karena dari Marina, aku tau. Bahwa kamu masih menantiku..."
"Bagaimana Marina tau kalau aku menantikan kabar darimu?"
"Bukankah kamu memiliki seorang sahabat dekat bernama ibos sitorus?
"Kamu kenal dia?"
"Dia calon suami Marina...."
"Ah, kenapa dia gak pernah cerita ya?"
"Kamu mengenal ibos dengan baik. ia gak suka berbicara sebelum semua menjadi kenyataan. ia memang laki-laki yang tertutup,'(Antonim.
bukan?"
"Ya, tapi juga sanggup menjadi sahabat yang baik, " desa Rio.
"Nah, kamu tentu ceritakan semua perihal diriku pada ibos. Dari sana sampai juga kepada Marina. Secara kebetulan kami mengenal dengan baik. Justru tatkala aku dan dia sama-sama menjadi duta-duta pelajar studi teknik engine. Di Bogor kami mengalami training center. Sebelum kami di berangkatkan sama-sama ke luar kota dengan bea siswa Bank Negara..."
"Kelihatanya perjalananmu mulus begitu?"
"kelihatanya memang begitu. Akan tetapi sebelum berangkat, aku terikat perjanjian gak tertulis orang tuaku ...."
"Maksudmu?" Alivia menarik nafas panjang.
"Usaha ayahku jatuh ...."
"Lantas?"
"Ada seorang dewa yang menolong. ia berhasil meminjami modal yang gak sedikit. Seseorang duda dengan anak satu.
Membangkitkan gairah ayah yang hampir hancur. Hampir jatuh dalam kemiskinan dan keputusasaan. Ayah sangat bersyukur dan berterima kasih dengan laki-laki itu..."
"Lantas?"
Kembali Alivia tersenyum getir. ia menyibak rambutnya yang hitam lurus. Merapikannya kebelakang dengan jari lalu mengikatnya.
"Ayah menjodohkan diriku kepadanya..."
"Ah....?!"
"Kamu pasti terkejut, bukan?"
"Kamu menyayanginya?"
"Kalau aku menyayanginya, aku gak perlu berkirim pesan sama kamu. Gak perlu susah-susah datang ke kota kecil ini setelah pulang dari training Center di luar kota. kamu tau, aku yakin itu mengapa aku datang padamu. Aku gak pernah bisa melupakanmu ...."
"Aku juga mengharapkan kamu, " desa Rio bersungguh-sungguh.
"Benarkah itu?"
Rio gak ngejawab. Akan tetapi dari cahaya matanya Alivia dapat menangkap makna lebih dalam lagi. Mata gadis itu berkaca-kaca.
...****************...
......................
...----------------...
Terkadang khayalan itu bisa terwujudkan, meskipun terlepas hanya sebuah ketikan.
__ADS_1
meskipun nyatanya tida nyata tetapi aku merasa lega setelah melepaskan walaupun hanya sekedar ketikan.