
Esok harinya, Fandi masuk ke rumah. Ia menuju ke kamarnya dengan wajah kakunya, menyadari hal itu Indy bangun dari tidurnya di lantai.
''Mas, kamu dari mana saja? Kenapa kamu pergi kemarin, kamu kan tahu kalau kemarin adalah malam pertama kita,'' ujar Indy dengan wajah sedih.
Mendengar hal itu Fandi hanya diam, dirinya tidak menoleh sedikit pun. Dia hanya melakukan kegiatannya dan bersiap untuk pergi ke kantor.
''Mas, aku sedang bicara dengan kamu , tapi kenapa kamu diam aja?Jawab Mas, apa aku ada salah sama kamu hingga kamu.. kamu tidak ingin berbicara dengan aku,'' ucap Indy dengan sedih, namun dia tetap tidak di pedulikan oleh Fandi. Fandi justru pergi dari hadapan Indy.
Melihat suaminya pergi tanpa menjawab dirinya, Indy mengejar Fandi berharap mendapatkan jawaban baik dari suaminya, namun hal mengejutkan di dapatkannya. Dimana, Indy yang saat itu menghentikan Fandi dengan memegang salah satu tangannya, dengan kemarahan yang tak terbendung, dia berbalik menghadap Indy.
PLAK ...
Tamparan keras di dapatkan Indy dari suaminya, Indy terkejut ketika mendapatkan tamparan dari suaminya. Dia hanya memalingkan wajahnya dengan tangan memegangi pipi yang mendapatkan tamparan.
Fandi mendekati Indy, dia memegangi wajah Indy dengan kasar dan penuh kemarahaan.
''Jangan pernah kamu menyentuh aku lagi, kalau kamu melakukan hal itu lagi.. aku tidak akan pernah segan segan melakukan hal yang lebih kejam ke kamu. Ingat itu!'' ancam Fandi lalu dengan kasar dia melepaskan wajah Indy.
Indy hanya bisa menangis ketika mendapatkan ancaman itu.
''Kenapa Mas? Kenapa kamu bisa berubah seperti ini? Apa kesalahan ku hingga kamu melakukan ini ke aku ? '' ucap Indy dengan air mata berderai membasahi matanya.
Fandi mendekati Indy, dia menatap Indy dengan tatapan garang seakan ia ingin melahap Indy. Saat Fandi sudah berada di dekat Indy, Fandi memegang kedua lengan Indy dengan sangat erat hingga membuat Indy merintih kesakitan.
Fandi menetap tajam Indy, dan semakin erat memeganginya.
''Kamu ingin tahu, apa kesalahan kamu.. Aku kasih tahu ke kamu, kesalahan kamu adalah kamu menjadi istri ku. Yang mana.. sedikitpun aku tidak ingin menyentuh kamu, bahkan melihat wajah kamu pun aku tidak sudi, paham.'' Tegas Fandi pada Indy, Kemudian Fandi mendorong Indy hingga Indy jatuh ke lantai.
Indy hanya diam. Dia hanya bisa meneteskan air mata dengan sikap suaminya yang berubah 100% dari sebelum pernikahan.
''Kenapa Mas Fandi berubah seperti ini? Apa yang membuat Mas Fandi berubah?'' ujar Indy dengan air mata terus membasahi pipinya.
****
__ADS_1
Di ruang makan, Ayah Fandi sudah menunggu Fandi dan Indy di ruang makan. Melihat Fandi datang ke ruang makan tanpa Indy, Ayah Fandi bertanya keberadaan Indy dan keberadaan Fandi saat di malam pertama.
''Fandi, Indy dimana? '' tanya Ayah Fandi dengan baik, Fandi yang saat itu tengah makan dia menghentikan tindakannya dan menjawab ayahnya dengan dingin.
''Kamar!.'' Jawab Fandi dengan singkat.
''Fandi, kenapa kamu tidak ajak dia? Dan.. Kemarin kemana kamu? Kemarin itu malam pertama kamu,'' jawab Ayah Fandi.
''Terus kenapa, kalau kemarin malam pertama ku? Apa Papa ada masalah dengan malam pertama ku? ''
''Fandi, kamu ini kenapa sih? Papa ini orang tua kamu, kenapa kamu bisa bersikap seperti itu ke papa? '' jawab Ayah Fandi dengan nada bicara mulai meninggi.
BRUAKK..
Fandi memukul meja dan bangun dari duduknya. Dia terlihat sangat marah dengan ayahnya.
''Pah! Aku tidak akan seperti ini, kalau seandainya papa tidak menjodohkan aku dengan wanita itu. Aku seperti ini karena papa menjodohkan aku dengan wanita murahan itu.''
Tamparan di berikan Ayah Fandi kepada Fandi. Dia terlihat sangat marah karena Fandi mengatakan kalau Indy adalah wanita murahan.
''DIA ITU ISTRI KAMU FANDI, TEGA-TEGANYA KAMU BILANG SEPERTI ITU PADA INDY, SUAMI MACAM APA KAMU, HAH?'' jawab Ayah Fandi dengan nada tinggi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, tanpa banyak bicara Fandi memukul meja, hingga suara dentuman itu terdengar di kamar pengantin. Indy yang mendengar dentuman itu, keluar dari kamar, dia berusaha menyembunyikan kesedihan yang di rasakannya tanpa dia sadari kalau masalah sudah terjadi di luar kamar.
Ketika dia berada di luar kamar, Indy melihat tangan suaminya berdarah dan dia tengah terlibat adu mulut dengan ayahnya. Melihat hal itu , Indy mendekati suaminya, ia mencoba menenangkan suaminya yang sudah naik pitam. Namun, usahanya untuk menenangkan Indy, tidak berjalan mulus. Dia justru mendapatkan perlakukan kasar di hadapan orang tua Fandi secara langsung.
''Mas udah, kamu harus ingat kalau dia adalah ayah kamu,'' ucap Indy menenangkan Fandi. Dia kembali memegang tangan Fandi.
Menyadari hal itu Fandi, berbalik dan dirinya tanpa banyak bicara Fandi mencekik leher Indy yang saat itu mencoba menenangkannya.
''SEMUA INI GARA - GARA KAMU WANITA BAJINGAN, MURAHAN, GAK TAU DIRI,'' jawab Fandi dengan mencekik Indy.
Melihat hal itu, Ibu dan Ayah Fandi sangat terkejut. Dia menghampiri Fandi dan mencoba memisahkan Fandi dengan Indy.
__ADS_1
Ketika Ayah Fandi sudah berpisah dengan Indy, Ibu Fandi menenangkan Indy, yang saat itu kesulitan bernafas. Sedangkan Ayah Fandi, dia menarik Fandi menjauhi Indy. Merasa sudah jauh dengan Indy, Ayah Fandi melepaskan tangannya yang menarik Jas Fandi. Kemarahaan nya terlihat tidak terbendung lagi.
Tanpa mempedulikan Fandi adalah anaknya, ia menampar Fandi berulang kali tanpa memberikan ampun kepada Fandi.
Plak...
''SIAPA YANG MENGAJARI KAMU SEPERTI INI, HAH? SIAPA? '' ucap Ayah Fandi dengan nada tinggi dan terus menampar Fandi tanpa henti.
Plak...
''AYAH TIDAK PERNAH MENGAJARI KAMU HAL INI, KENAPA KAMU MENJADI LAKI -LAKI SEPERTI INI, KENAPA? ''
Plak.. Plak.. Plak..
Ayah Fandi terus menampar Fandi, di saat itu Fandi hanya bisa diam tanpa melawan kepada ayahnya. Melihat Fandi di siksa habis-habisan oleh ayahnya, Ibu Fandi meninggalkan Indy dan menghampiri Fandi yang saat itu hanya tersungkur di lantai.
''Papa, sudah Pah. Papa boleh marah, boleh kecewa dengan Fandi, tapi Papa juga jangan seperti ini, papa harus ingat kalau Fandi adalah anak papa,'' ucap Ibu Fandi.
''ANAK SEPERTI APA, HAH? APA PRIA YANG KASAR DENGAN ISTRINYA PANTAS DI SEBUT ANAK, BANGUN KAMU.. '' ucap Ayah Fandi dengan marah besar, kemudian dia membangunkan Fandi dan memegang kerah Fandi.
''Siapa yang mengajari kamu seperti itu, hah? SIAPA?!! Siapa Fandi? '' lanjut Ayah Fandi dengan nada tinggi dan menatap Fandi.
''Ayah, aku minta maaf. Tolong maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Fandi mohon ayah, tolong lepaskan Fandi, '' jawab Fandi meminta belas kasih pada ayahnya, namun ayahnya yang sudah naik darah dia tidak menggubris permintaan Fandi.
''Maaf tidak pantas di berikan pada pria seperti kamu, Fandi. ''
''Papa, papa kenapa bicara seperti itu? Fandi ingin meminta maaf, '' sahut Ibu Fandi dengan sedih.
''Kalau aku bilang tidak, maka tidak Mah!'' tegas Ayah Fandi, kemudian dia mendorong Fandi hingga Fandi jatuh tersungkur di kaki Indy.
Menyadari hal itu Fandi hanya diam, dia hanya melihat ke arah kaki Indy dengan mata memerah menahan kesedihan.
Bersambung ...
__ADS_1