
Dalam kamar, Indy duduk menghadap cermin, matanya terlihat berkaca-kaca melihat dirinya sendiri yang hidup penuh siksa setelah menikah.
Kala itu, Indy menyeka air matanya yang menetes membasahi pipi. Tanpa henti dirinya terus memandang wajahnya di cermin.
''Kenapa? Kenapa kamu bisa melakukan hal ini? Apa kesalahan ku hingga kamu tega melakukan hal ini? Apa salah ku? '' ujar Indy dengan air mata terus berderai membasahi matanya.
''Indy.. '' panggil Ibu Fandi dengan sesekali mengetuk pintu kamar.
Mendengar kedatangan ibunya, Indy menenangkan diri dan menyeka air matanya. Sesaat dirinya terdiam, memikirkan cara menyembunyikan kesedihannya di hadapan orang tua suaminya.
Indy pun keluar kamar dengan senyum kecil di bibirnya, saat pintu terbuka, Ibu Fandi menyambut Indy dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.
''Maafkan mama menganggu kamu, '' ucap Ibu Fandi.
''Tidak papa mah, ada apa memangnya? '' jawab Indy dengan lirih.
Mendengar jawaban Indy, Ibu Fandi mengangkat sebuah kotak makan. Dia meminta Indy mengantarkan kotak makan itu pada suaminya. Indy hanya diam menerima permintaan itu, dia tahu kedatangannya ke kantor akan membuat Fandi marah dan merasa terganggu.
Melihat Indy hanya diam setelah mendengar permintaan darinya, Ibu Fandi mencoba memecah dengan menggerakkan tangannya di hadapan Indy.
''Hey Indy.. ada apa? '' tanya Ibu Fandi.
''Tidak mah, aku tidak papa. Aku hanya tidak tahu di mana keberadaan kantor Mas Fandi,'' jawab Indy degan berbohong agar tidak mengantarkan makanan itu ke suaminya. Namun apa yang di lakukannya tidak membuahkan hasil yang indah karena Ibu Fandi sudah merencanakan kedatangan Indy ke kantor.
''Ayolah Indy, kamu jangan khawatir . Mama sudah siapkan kamu supir untuk kamu pergi ke kantor Fandi, jadi kamu jangan khawatir. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri kamu , dandan yang cantik dan tentunya makanan ini,'' ucap Ibu Fandi dengan baik mencoba mendekatkan Indy dengan Fandi.
Indy hanya terdiam, dia berpikir sejenak, namun pada akhirnya dia menuruti ibunya dan pergi menuju ke kantor Fandi.
Beberapa saat kemudian, Indy keluar dari kamar dengan gaun yang sangat cantik, tidak hanya gaunnya, wajahnya pun terlihat sangat cantik dengan gaun itu.
__ADS_1
''Nah, gini dong. Kamu itu cantik, mantu mama itu cantik,'' puji Ibu Fandi dengan sesekali membelai dengan penuh kasih sayang.
''Makasih Mama, '' jawab Indy dengan senyum kecil di bibirnya.
Indy pun pergi ke parkiran bertemu dengan supir yang sudah menunggu dirinya. Dia masuk ke dalam mobil dengan nafas berat, karena dia mengetahui kalau akan konsekuensi datang ke kantor Fandi. Dia pasti sangat marah dengan kedatangannya.
''Jalan Pak,'' perintah Indy pada supir paruh baya yang duduk di kursi pengemudi.
Di sepanjang perjalanan, Indy terus melamun. Dia membayangkan setiap tamparannya yang di dapatnya dari Fandi, hingga tanpa di sadarinya air mata Fandi menetes dan membasahi matanya.
''Non, kenapa Non Indy menangis?'' tanya supir saat melihat Indy meneteskan air mata.
Indy seketika tersadar dari sedihnya. Dia menyeka air matanya yang membasahi pipi.
''Enggak papa kok Pak, saya baik baik saja,'' jawabnya dengan lirih. Dia mencoba untuk menutupi kesedihannya.
Di kantor, seorang wanita berjalan dengan seksinya membawa beberapa berkas yang di antarkan ke salah satu di kantor itu. Senyumnya sumringah terlihat di wajah wanita itu. Ketika berada di depan pintu, ia menganggam ganggang pintu dan membukanya dengan perlahan.
Fandi yang menyadari hal itu, dia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri wanita itu. Tatapan matanya terlihat tajam ke arah wanita itu.
Tanpa banyak bicara dan memperhatikan keadaan sekitar, Fandi menarik bahu wanita itu dan memeluk nya dengan erat. Dia menetap wanita itu dengan penuh hasrat dan cinta di matanya.
"Kamu berani menggoda ku, maka aku berani menyakiti mu!" ucapnya dengan nada serius dan berbisik di telinga wanita itu.
Di waktu yang bersamaan, Indy sampai di kantor Fandi. Dengan rasa ragu, dia turun dari mobil dan meminta supir untuk memarkirkan mobil.
Ketika sang supir sudah pergi, Indy menghela nafas berat. Ia melihat ke arah kantor yang terlihat sangat jauh.
"Tidak papa, Indy. Mas Fandi tidak mungkin marah dengan kedatangan kamu, kamu kan istrinya," ucapnya untuk meyakinkan diri.
__ADS_1
Indy pun melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Fandi. Dengan senyum kecil, dia berjalan menyusuri setiap ruang hingga dirinya tiba di ruang Fandi.
Wajah bahagia, mengiringi setiap langkah Indy. Ketika dirinya tiba di ruang Fandi, seorang wanita berpenampilan cantik menghampiri dirinya dan menghadang dirinya masuk ke dalam ruangan Fandi.
"Maaf Bu, apa ibu ingin menemui Pak Fandi?" tanya nya.
"Iya Mbak, saya istrinya. Indy."
"Maaf Bu Indy, bukanya saya lancang, sesuai dengan instruksi Pak Fandi beberapa saat lalu, beliau tidak ingin di ganggu. Beliau sedang ada urusan penting dengan seseorang di dalam," jawab wanita itu dengan lirih.
Mendengar hal itu, Indy terdiam sesaat.
"Kalau saya boleh tahu, dia siapa ya mbak?" jawab Indy.
"Maaf Bu, saya tidak bisa memberi tahu. Mohon Bu Indy menunggu Pak Fandi di sini saja."
Indy pun menunggu Fandi di luar ruangan. Waktu berlalu begitu cepatnya, hari semakin sore terlihat wanita yang menghampiri Indy beberapa saat lalu, kembali menghampiri Indy dan membangunkan Indy yang terlelap dalam tidurnya.
"Bu bangun.. Hari sudah sore," ucap wanita itu.
Indy seketika terbangun dari tidurnya, dia bangun dari duduknya dan bergegas membuka ruangan Fandi. Merasa Fandi tidak di kantor, dengan wajah khawatir Indy pergi ke parkiran dan dia sangat khawatir kalau ibu mertua nya akan marah. Setelah mengetahui kalau Fandi tidak mendapatkan kotak makan.
Di sepanjang perjalanan, wajah panik dan gelisah tergambar jelas di raut muka Indy. Dia merasa sangat bersalah karena bisa lalai dalam memberikan makanan kepada suaminya.
"Pak, tolong lebih cepat lagi. Saya mohon, supaya Mas Fandi tidak marah dengan saya," pinta Indy dengan nada lirih dan khawatir.
"Baik Bu."
Supir menambahkan kecepatan, agar bisa sampai di rumah sesegera mungkin.
__ADS_1
BERSAMBUNG....