
Indy sampai di rumah, wajahnya terlihat gugup karena dia takut dengan kemarahan ibu mertuanya, karena dia tidak memberikan makanan itu pada Fandi.
Ketika dirinya baru akan memegang gagang pintu, pintu terbuka dengan lebar, membuat Indy terdiam dan terpaku.
Plak..
Tamparan keras di dapat Indy dari Ibu Fandi. Menyadari hal itu, Indy hanya diam dengan wajah berkaca-kaca, dia memalingkan wajahnya dengan salah satu tangan yang memegangi pipinya.
''KAMU ITU IBU TUGASKAN TUGAS KECIL, TUGAS SEORANG ISTRI. TAPI APA? KAMU TIDAK BECUS MELAKUKAN HAL ITU. WAJAR KALAU FANDI SUKA MARAH DENGAN KAMU, JADI ISTRI AJA KAMU GAK BECUS, KEMANA AJA KAMU DARI TADI?'' ucap Ibu Fandi dengan nada tinggi dan lantang.
''Mah, tolong dengarkan Indy terlebih dahulu. Indy melakukan tugas yang mama perintahkan kok mah, hanya saja waktu Indy sampai di kantor Mas Fandi sedang bertemu dengan seseorang,'' jawab Indy dengan lirih dan mata yang seakan menahan kesedihan.
''BOHONG MAH!!!'' sahut Fandi, kemudian dia keluar dari belakang ibunya dengan menatap tajam Indy. '' Bohong Mah, dari tadi aku di kantor, aku tidak meeting dengan siapapun. Aku bahkan sampai menunggu kamu berjam-jam, tapi kamu tidak ada kabar sekali. Kamu ke mana aja, hah?''
''Mas, aku serius. Aku memang datang ke kantor kamu, kalau mas tidak percaya, mas bisa tanya ke Pak Supir yang mengantar aku tadi,'' jawab Indy mencoba meyakinkan ibu mertuanya, namun apa yang di katakan oleh Indy tidak di percaya oleh ibu mertuanya.
''Kamu gak usah bawa bawa pak supir, dari bau badan mu saja sudah tercium perbuatan yang sudah kamu lakukan. Tega kamu kamu.. Apa isi otak kamu, kamu itu udah nikah masih aja kecentilan sama cowok lain. Ingat Indy, kamu itu punya suami, jangan jadi cewek murahan. Paham?'' ucap Ibu Fandi dengan marah dan terus mengomel.
''Mah, Indy tidak melakukan apapun. Indy benar-benar datang ke kantornya Mas Fandi, Indy enggak bohong Mah ,'' jawab Indy dengan berderai air mata.
''Mama, udah Mah. Biar Fandi yang mengurus semua ini, Fandi akan hukum dia sampai dia kapok keluar rumah,'' sahut Fandi, kemudian dia menarik tangan Indy dengan kasar dan penuh dengan amarah
__ADS_1
Tak berselang lama, Indy dan Fandi sampai di dalam kamar. Tanpa banyak bicara, Fandi melepaskan tangan Indy dengan kasar hingga Indy terjatuh ke lantai.
''Kenapa kamu melakukan ini ke aku Mas? Apa salah ku ke kamu, hingga kamu tega melakukan hal ini? '' ucap Indy dengan air mata terus berderai membasahi matanya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Indy, dengan perlahan Fandi menghampiri Indy dan menarik rambut Indy dengan kasar.
''Kamu gak usah banyak bacot, ngapain kamu ke kantor tadi, hah? NGAPAIN?!!'' bentak Fandi tepat di muka Indy. Indy yang menerima bentakan itu, dia ketakutan. Air matanya terus mengalir membasahi pipi.
''Kamu tidak usah bersikap seolah menjadi istri yang baik di hadapan ku, aku tidak butuh dengan semua itu. AKU SUDAH KATAKAN KE KAMU INDY, SAMPAI KAPAN PUN, AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGANGGAP KAMU ISTRI KU, WALAUPUN KAMU BERSIKAP BAIK ATAU TENGAH MENGANDUNG ANAK KU!'' tegas Fandi pada Indy.
Indy yang mendengar hal itu, dia hanya menangis dengan nasibnya yang tidak beruntung setelah menikah.
Kala Itu Ayah Fandi menyadari kalau sikap Fandi dengan Indy sudah berubah, namun dia tidak ingin ikut campur karena bagi nya, ini adalah kesalahan Indy.
''Maafkan ayah Indy, Ayah tidak bisa membantu kamu kali ini, maafkan ayah menjadi ayah yang burk buat kamu,'' ucap Ayah Fandi dalam hatinya dengan mata yang seolah menahan kesedihan.
Beberapa saat kemudian, ia pergi meninggalkan kamar Indy dan menuju ke kamarnya.
Ketika berada dalam kamar, Ibu Fandi tengah duduk di depan cermin tengah berias diri, melihat kedatangan suaminya dengan wajah sedih, Ibu Fandi bergegas bangun dari duduknya dan menghampiri suaminya.
''Ada apa Mas? '' tanya istrinya dengan baik pada Ayah Fandi.
__ADS_1
''Mah.. Fandi bersikap tidak baik lagi dengan Indy,'' jawab Ayah Fandi.
Ibu Fandi memalingkan wajahnya, ketika mendengar alasan suaminya bersedih. Ia seolah tak peduli dengan Indy, dia tidak menyadari bahwa wanita yang di siksa oleh Fandi adalah anak kandungnya sendiri.
''Oh.. Jadi, papa sedih karena wanita itu. Papa ini apa apaan sih, kenapa bisa kasihan dena wanita yang berbuat salah seperti Indy? Indy mendapatkan hukuman dari Fandi itu wajar, mau Fandi itu menampar, memukul, atau apapun itu, apa yang dilakukan Fandi itu wajar,'' jawab Ibu Fandi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Ayah Fandi menatap istrinya dengan tatapan tajam. Dengan perlahan, ia menghampiri istrinya dengan penuh emosi, ketika dirinya berada di hadapan istrinya, Ayah Fandi memegangi lengan istrinya dengan sangat erat.
''Kenapa Mama mengatakan hal itu, hah? '' tanya Ayah Fandi dengan tegas.
''Pah, Papa menyakiti Mama.. Lepaskan tangan Mama, Pah.'' Rintih Ibu Fandi ketika dirinya mendapatkan perlakukan tidak baik dari suaminya.
Ayah Fandi pun melepaskan istrinya dengan kasar. Dia berdiri di hadapan istrinya dengan tatapan mata yang tajam ke arah istrinya.
''Mah, Mama ini seorang wanita, tapi kenapa? Kenapa Mama tidak mengerti sakitnya di sakiti oleh suami sendiri? Kenapa mama seolah sudah tidak peduli dengan Indy? Kenapa?'' ucapnya dengan marah pada istrinya, namun saat itu sang istri hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
''Aku benar -benar kecewa dengan mama,'' lanjutnya dengan marah kemudian dirinya pergi dari hadapan sang istri tanpa berpamitan dengan istrinya.
Melihat kepergian suaminya, Ibu Fandi hanya diam tanpa berbicara. Dia terus memandang ke arah suaminya yang pergi menjauhi dirinya.
Bersambung......
__ADS_1