
Saat Fandi sudah jatuh tersungkur di kaki Indy. Ayah Fandi mendekati Fandi. Ia menatap tajam Fandi.
''Kalau kamu ingin meminta maaf, meminta maaflah pada wanita yang ada di hadapan kamu, bukan pada ayah,'' ucap Ayah Fandi dengan serius dan tegas.
''Papa, kenapa papa membuat Fandi tunduk dengan Indy?'' sahut Ibu Fandi, dengan mendekati Fandi dan membantunya bangun.
''Mas, bangun. Jangan seperti ini,'' ucap Indy dengan membangunkan Fandi, namun saat Ayah Fandi menghentikan Indy dengan mengambil pisau dan menaruhnya di pergelangan tangannya.
''Indy, kalau kamu sampai membantu Fandi sebelum Fandi meminta maaf ke kamu, maka aku tidak akan segan segan memotong pergelangan tangan ku, supaya kamu menyesal seumur hidup kamu,'' ancam Ayah Fandi.
Indy yang saat itu ingin membantu, Fandi seketika terdiam. Ia melepaskan tangannya dan menjauhi Fandi dengan perlahan.
Fandi yang melihat hal itu, mau tak mau meminta maaf kepada Indy. Dia bahkan berjanji dengan Indy kalau tidak akan mengulanginya lagi, namun janji itu hanya manis di bibir saja.
Hal itu membuat Ayah Fandi kembali percaya dengan Fandi.
Satu minggu setelah perdebatan itu Fandi dan Ayahnya baik baik saja, namun tidak dengan Fandi dan Indy.
Hari itu, mereka berada di dalam kamar, terlihat Fandi berdiri di depan cermin dan bersiap diri untuk pergi bekerja. Beberapa saat kemudian, Indy datang dan memeluk Fandi dengan erat.
''Makasih ya sayang, karena kamu sudah baik dengan aku. Maafkan aku, jika aku berbuat salah dengan kamu,'' ucap Indy dengan lirih dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Indy, Fandi hanya diam. Dia mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan. Tanpa banyak bicara, Fandi yang tidak suka dengan Indy. Dia memegang tangan Indy dengan sangat erat hingga membuat Indy merintih kesakitan.
''Aku sudah katakan ke kamu Indy, jangan pernah kamu menyentuh aku lagi, kalau sampai kamu menyentuh aku, aku tidak akan segan -segan menyiksa kamu. Paham!'' ujar Fandi dengan nada tegas dan serius, kemudian dia menghempaskan tangan indy dengan kasar.
Fandi pun pergi dari hadapan Indy, namun saat baru beberapa langkah Fandi menghentikan langkahnya dan kembali berbalik mendekati Indy. Ketika dia sudah berdiri di hadapan Indy, Fandi menetap tajam Indy dan memegang kedua lengan Indy dengan kasar.
''Kamu jangan pernah beri tahu apapun tentang hubungan kita, kalau sampai mereka tahu sikapku ke kamu kembali seperti ini, maka aku tidak akan segan segan menyiksa kamu lebih kejam dan mengusir kamu dari rumah ini,'' ancam Fandi pada Indy.
Mendengar ancaman itu Indy hanya diam dan terus menangis. Dia menatap suaminya dengan penuh air mata.
''Kenapa kamu melakukan ini ke aku Mas? Apa yang membuat kamu bisa sekejap mencintai aku, lalu membenci aku? Apa salah ku ke kamu, hingga kamu tega melakukan ini ke aku? '' ucap Indy dengan derai air mata.
''Kamu ingin tahu kanapa aku bisa berubah-ubah seperti ini, aku beri tahu kamu.. AKU TIDAK PERNAH MENCINTAI KAMU, TUJUAN KU MENIKAHI KAMU KARENA INI ADALAH PERMINTAAN AYAH KU, KALAU INI BUKAN PERMINTAAN NYA. AKU TIDAK AKAN MUNGKIN MENURUTINYA, DAN MENIKAH DENGAN KAMU. PAHAM!.'' Fandi mendorong Indy dengan kasar, kemudian dia pergi dari kamar.
Melihat kepergian Fandi, Indy hanya bisa menangis. Dia sangat terluka dengan apa yang di katakan oleh Fandi, namun dia berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya di hadapan orang tua Fandi.
Di ruang makan, Fandi berjalan keluar kamar dengan sendiri. Ketika sampai di ruang makan, Fandi langsung mendapatkan pertanyaan tentang Indy dari ayahnya, namun waktu itu Fandi di selamatkan Indy karena di waktu Ayah Fandi akan memarahi Fandi, Indy datang dengan senyum kecil di bibirnya dan menyembunyikan rasa sakitnya.
Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa antara suami dan dirinya.
''Papa, aku dan Mas Fandi baik baik saja, iya kan mas? '' ujar Indy dengan senyum kecil.
__ADS_1
''Iya, sayang. Silahkan duduk, sayang, '' jawab Fandi dengan bersikap baik kepada Indy.
Melihat hal itu, Ayah Fandi tampak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya. Menyadari anaknya sudah berubah menjadi lebih baik, Ayah Fandi terlihat sangat bahagia dengan hal itu. Dia mendekati Fandi dan memeluk Fandi dengan erat.
"Papa bangga dengan kamu, karena kamu bisa mengubah diri dan sikap kamu. Dan, papa juga bahagia kalau kamu bisa bersikap baik dengan Indy. Papa mohon, segera lah kalian memberikan kabar baik, papa ingin segera menimang cucu."
Mendengar ucapan itu, senyum paksa di berikan Indy kepada Ayahnya, tidak hanya Indy, Fandi pun terlihat tidak bahagia dengan perkataan ayahnya. Namun, dia tetap bersikap baik dan mengiyakan apa yang di inginkan oleh ayahnya.
Waktu berlalu begitu cepat, Indy mengantarkan suaminya selayaknya istri pada suami, hal itu di lakukan oleh Indy dan Fandi, agar orang taunya tidak curiga.
"Pah, Mah, Fandi pamit dulu ya, Fandi akan kerja," ujar Fandi dengan baik.
"Iya Fandi, '' jawab Ayah Fandi.
Beberapa saat kemudian, Fandi mendekati Indy dan memeluk Indy dengan erat di hadapan orang tuanya. mereka berjalan berdampingan, bak sepasang kasih yang saling mencinta.
Ketika mereka sudah jauh dari orang tua Fandi, ekspresi muka Fandi berubah marah.
" Jangan kamu pikir, dengan kamu melakukan ini aku bisa menerima kamu. Aku melakukan hal ini karena aku tidak ingin membuat ayah dan ibu ku curiga, paham." Tegas Fandi kepada Indy. Indy yang mendengar hal itu, hanya diam seribu bahasa dengan mata menahan kesedihan.
Bersambung.......
__ADS_1