
Ada satu anak laki-laki yang bernama Rio dan dua anak perempuan yang bernama Ayane dan Kotone sedang mencari anak anjing yang hilang, mereka mencarinya kemana-mana namun tidak ketemu juga hingga tidak terasa hari sudah mulai gelap, ketika hendak pulang, mereka di ajak oleh seorang paman-paman ke gang yang sepi dengan berkata "anak anjing yang kalian cari berada sana". Tanpa ragu-ragu merekapun mengikuti seorang paman tersebut, sesampainya di gang, mereka langsung ditangkap dan di ikat oleh orang-orang asing yang ternyata, orang-orang itu adalah kawanan paman tadi yang diduga penculik anak-anak. Sontak Rio pun berteriak meminta pertolongan dengan suara yang kencang, namun karena digang sangatlah jauh dari jalan dan sangat sunyi, sampai tidak ada seorangpun yang datang menolong, merekapun menyerah dan dibuat pingsan oleh kawanan penculik itu.Ketika mereka hendak dimasukkan ke dalam mobil, ada seorang anak laki-laki yang bernama Kirigaya Shoyo datang dengan membawa pistol di belakang punggungnya, Shoyo pun menodongkan senjatanya ke arah kawanan penculik dengan suara dan wajah yang dingin dan berkata, "hei paman,lepaskan mereka jika tidak akan ku lubangi tubuhmu". Mereka hendak tidak percaya dan menganggapnya sebagai gertakan atau lelucon. Tanpa ragu-ragu Shoyo pun menembak sang pemimpin penculik itu,sontak para penculik langsung ketakutan, mereka yang hendak menyerang balik tidak cukup cepat untuk mengimbangi tembakan pistol Shoyo. Hingga tidak disengaja Shoyo menembaki sampai tak tersisa seorangpun, beberapa menit pun berlalu. Rio,Kotone dan Ayane yang ditangkap pun sudah terbangun. Ketika mereka sudah sepenuhnya terbangun Kotone dan Ayane langsung berteriak ketakutan karena banyaknya darah yang berceceran di bawah. Rio menenangkan Ayane dan Kotone hingga rasa ketakutan Ayane dan Kotone hilang,dan Rio pun menghampiri Shoyo yang sedang mengambili uang dari orang yang ditembaknya sambil ketakutan Rio mengucapkan, "terima kasih" kepada Shoyo. Shoyo menjawab tanpa menoleh "sama sama", Rio bertanya kepada Shoyo "hei namamu siapa aku Rio salam kenal", Shoyo pun menjawab dengan suara yang dingin dan mata yang mengerikan "eh, em, anuuu, aku Kirigaya Shoyo salam kenal juga Rio". Rio pun bertanya Kepada Shoyo
"hei Shoyo kau itu siapa, dan kenapa kau berani menembaki mereka tanpa ragu-ragu". Shoyo pun menjawab " yah anu a-aku itu emm aku hanyalah anak yang kebetulan lewat disini, mungkin menurut mu itu tidaklah benar ,namun itulah kenyataanya. Kalian baik-baik saja kan?, jika iya bergegaslah untuk pulang karena disini adalah wilayahnya preman yang kejam,oh iya anak anjing yang kalian cari berada di dalam kotak ini!." .Rio pun menjawab perempuannya, "eh masa, terima kasih ya," Ayane dan Kotone kembali ceria mendengar anak anjing yang mereka cari telah ketemu, Rio menjawab peringatan dari Shoyo dengan wajah tersenyum "baiklah kami baik baik saja kok, terima kasih peringatannya aku akan lebih berhati hati lagi kedepannya". Shoyo pun mengantarkan mereka hingga ke rumah dimana Rio dan saudarinya tinggal, sesampainya mereka di depan rumah Orang tua Rio, Rio dan dua saudarinya mengucapkan terima kasih sambil menundukkan kepalanya "terima kasih Shoyo aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu", Shoyo pun menjawab dengan suara dan wajah yang dingin "anu eem iya sama sama". Ayane dan Kotone bertanya kepada Shoyo, "hei Shoyo, mau mampir untuk mandi biar tidak terlihat darah yang ada di bajumu? dan biar aku perkenalkan dengan orang tua kami", Rio menyetujuinya dan Shoyo menjawab dengan suara yang dingin dan muka yang datar "eem anu nanti merepotkan orang tua kalian dan kalian". Ayane menanggapinya dengan wajah gembira,"tidak apa-apa kok ayok masuk kerumah". Shoyo pun hendak pergi,namun dia di tarik oleh Ayane dan Kotone, sesampainya di pintu belakang rumah mereka berempat pun membuka pintu belakang dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan oleh orang tua Rio, namun yang mereka lihat bukanlah ruangan yang kosong, ibu Rio telah menunggu mereka di pintu belakang karena mendengar suara langkah kakinya. Ibu Rio terlihat marah karena mereka pulang terlalu malam, mereka pun meminta maaf kepada ibu, dan Ayane memperkenalkan Shoyo kepada ibu, "Ibu dia adalah penyelamat nyawa kami Kirigaya Shoyo, Shoyo dia adalah ibuku cantik kan!. Shoyo menundukkan kepalanya sambil berkata salam kenal Tante. Ibu pun menyuruh Shoyo untuk mandi duluan dan Rio,Ayane beserta Kotone di panggi untuk menceritakan tentang darimana mereka selama ini kepada ayah dan ibu. Shoyo pun mandi, selesainya Shoyo mandi Shoyo mengenakan pakaian yang diberikan oleh ibu Rio dan menghadap ke orang tua Rio sedangkan Rio dan saudarinya di perintahkan untuk mandi. Orang tua Rio Sangat berterima kasih karena telah menolong ketiga anaknya, Ayah menundukkan kepalanya sambil berkata "terima kasih, terima kasih Shoyo aku tidak tahu harus berbuat apa, aku telah gagal menjaga anakku berarti aku juga gagal menjadi orang tua, sungguh terima kasih banyak!". Shoyo pun menjawab dengan suara yang dingin "ti-tidak apa apa paman, aku juga kebetulan lewat di sana mungkin itu adalah takdir, sudahlah angkat kepalamu paman aku jadi merasa tidak enak karena anda menundukkan kepalamu!. Ayah pun mengangkat kepala dengan wajah tersenyum dan menangis didampingi oleh ibu yang menangis gembira karena anaknya baik-baik saja. Kedua orang tua Rio pun mengajak Shoyo untuk makan malam bersama dan Rio menerima ajakan dari orang tua Rio, mereka pun makan malam bersama namun, karena di atas meja banyak makanan yang dianggapnya mewah dia jadi ragu untuk memakannya, ibu bertanya kepada Shoyo " hei nak Shoyo kenapa tidak makan? apakah tidak enak?". Shoyo menjawabnya dengan bingung "tidak, eeem anu, aku bingung mau makan yang mana karena makanan disini terlihat enak semua". Ibu bertanya kembali kepada Shoyo " emang kamu biasanya makan apa nak Shoyo?", Shoyo menjawab pertanyaan tersebut " roti, makanan ku setiap hari hanyalah roti!", Rio sekeluarga pun terkejut karena mendengar bahwa Shoyo hanya memakan roti setiap harinya. Ibu pun memerintahkan Shoyo memakan makanan yang ada dimeja dengan alasan karena telah menyelamatkan ketiga anaknya, beberapa menit pun berlalu,dan mereka semua telah selesai makan malam Rio dan ayahnya bertanya kepada Shoyo dimana rumahnya,dimana orang tuanya, Shoyo berkata tidak ada sambil menggelengkan kepalanya, mereka pun terkejut dan ibu bertanya kepada Shoyo "terus kamu tinggal di mana nak Shoyo kalo kamu tidak punya rumah?". Shoyo menjawab dengan wajah yang datar " di rumah tua yang ada di pinggir sungai tempat pemancingan umum!". Rio langsung menawarkan untuk tinggal bersama keluarganya karena masih ada kamar yang tersisa, saat Rio meminta pendapat kepada ayah dan ibu mereka langsung menyetujuinya Ayane dan Kotone pun ikut setuju, namun Shoyo bingung sambil berkata " eh eemm, anu sebelumnya terima kasih banyak, tetapi aku telah banyak merepotkan kalian semua sampai aku makan malam bersama dengan kalian saja aku berterima kasih!". Ibu menanggapi perkataan Shoyo dengan tersenyum " apa, itu belum seberapa dengan yang kau lakukan untuk menyelamatkan anak kami!, Shoyo menjawab tanggapan ibu " anu eeem baiklah namun ada sesuatu yang perlu aku katakan kepada ibu dan ayah!". Rio dan saudarinya diperintahkan oleh ibu untuk bersih bersih kamar yang tersisa untuk kamar Shoyo, setelah Rio dan saudarinya meninggalkan ruang makan, Shoyo pun mulai berbicara dengan kedua orang tua Rio, " pertama-tama Om dan Tante apakah kalian tetap akan membiarkanku tinggal disini setelah kalian melihat ini!" , Shoyo membuka bajunya dan memperlihatkan tato dan luka luka yang ada di tubuhnya. Tato yang ada di tubuh Shoyo adalah tato pembunuh bayaran bergambar dewa kematian yang memiliki makna " Sang Pencabut Nyawa Yang Tak Berperasaan ". Shoyo pun melanjutkan ceritanya tentang sudah berapa orang yang dia bunuh selama ini, namun ayah dan ibu Rio tidak memperdulikan penampilan dan apa yang selama ini dia lakukan namun, ayah dan ibu Rio memiliki satu permintaan kepada Shoyo yaitu tetaplah bahagia di jalan yang menurutnya benar, Shoyo pun kebingungan sambil mengeluarkan air mata tanpa disadarinya, ibu Rio langsung memeluk Shoyo sambil menangis dan berkata " pasti kamu telah mengalami banyak hal yang menyakitkan ya, sekarang sudah baik-baik saja karena apa?, karena kami sudah ada untukmu nak Shoyo!, Shoyo menjawabnya dengan menangis " iya terima kasih Tante, Om!, setelah menceritakan itu semua dan kedua orang tua Rio tidak apa-apa, Shoyo pun memutuskan untuk tinggal bersama Rio dan saudarinya, namun sebelum itu Shoyo meminta kedua orang tua Rio untuk merahasiakan identitas Shoyo yang sebenarnya kepada Rio dan saudarinya, dan ayah Rio berkata " iya kami akan akan merahasiakan identitas nak Shoyo yang sebenarnya, namun dengan suatu syarat yaitu : jangan panggil kami Om dan Tante kami jadi tidak enak namaku Nishida Sakamura dan ini istriku Desta Olivia, jadi kami akan menyambutmu dengan sepenuh hati nak Shoyo!". Shoyo menjawab perkataan ayah Rio dengan muka datar " eem anu terima kasih namaku Kirigaya Shoyo untuk kedua kalinya salam kenal Pak Nishida dan Bu Olivia". Setelah itu Shoyo pun menghampiri Rio dan saudarinya untuk membantu, namun mereka telah selesai membersihkan kamar yang akan menjadi milik Shoyo, Shoyo pun berterima kasih kepada mereka bertiga karena telah membantunya dan mengijinkan dia untuk tinggal di rumah mereka, " terima kasih Rio, Ayane,dan Kotone untuk kedua kalinya izinkan aku memperkenalkan diri aku Kirigaya Shoyo tahun salam kenal", Rio dan saudarinya pun ikut memperkenalkan diri kepada Shoyo " aku anak pertama Ayamineka Nishida 15 Tahun, aku anak kedua Kotomineka Nishida 15 Tahun, dan yang terakhir adalah aku, anak ketiga Rio Nishida 14 salam kenal Shoyo! ", setelah perkenalan selesai Rio bertanya kepada Shoyo berapakah umur Shoyo, Shoyo menjawab " 14 Tahun ? " Rio dan saudarinya pun terkejut mendengar bahwa Shoyo seumuran dengan Rio, Rio pun menanggapi perkataan Shoyo " jadi kamu masih kelas 1 SMP ? " , Shoyo menjawab dengan wajah yang datar " iya kenapa ada yang salah? " ,mereka pun bercerita tentang dirinya masing-masing dan sampai mereka pun diperintahkan untuk tidur oleh ibu, setelah itu Rio dan saudarinya kembali ke kamar masing-masing dan bersiap untuk hari esok, setelah Rio dan saudarinya pergi Rio pun menutup pintu dan berbaring sambil menikmati kehidupan yang belum pernah di nikmati hingga tertidur pulas di atas kasur yang lembut.