
Semua orang tersentak kaget saat mendengar pertanyaan Via, terutama Hanna yang tidak menyangka jika akan ditanya seperti itu.
"Mama." Yara menajamkan tatapannya pada sang mama, bisa-bisanya mamanya langsung terus terang bertanya seperti itu, membuat suasana berubah menjadi tidak nyaman.
"Kenapa, mama kan hanya bertanya saja," ucap Via dengan bingung. Dia hanya ingin tahu apakah Hanna sudah punya pasangan atau belum, jika belum 'kan bisa didekatkan dengan Zafran.
"Sa-saya tidak punya pacar Nyonya, tapi saya punya suami,"
"Apa?" Via dan Yara memekik kaget saat mendengar jawaban Hanna, sampai membuat Zayyan yang sedang menyuguhkan makanan dan minuman ikut terlonjak kaget.
"A-anda sudah punya suami?" tanya Yara kembali dengan tidak percaya, dan dijawab dengan anggukan kepala Hanna. "Maaf kalau saya lancang, tapi apa saya boleh bertanya berapa umur Anda?"
Zayyan langsung menatap sang kakak dengan tajam. Dasar kakak dan mamanya sama saja, bisa-bisanya memperlakukan tamu dengan tidak sopan seperti itu. Akan tetapi, benar juga sih. Wajah Hanna terlihat sangat muda untuk ukuran wanita yang sudah menikah.
"Umur saya 21 tahun, Nona," jawab Hanna. Dia bingung kenapa mereka merasa terkejut, tetapi memang benar jika dia menikah muda.
Yara dan Via mengangguk-anggukkan kepala mereka saat mendengarnya. Ternyata benar jika umur Hanna masih muda, tetapi tidak ada salahnya juga jika menikah diusia seperti itu.
Yara lalu bertanya tentang hal lain tentang Hanna dan mengajak wanita itu mengobrol ria, walau Hanna lebih banyak diam dan hanya tersenyum saja.
"Aku Yara, kakaknya Zafran, dan ini adalah orang tua kami. Serta itu adik bungsu kami namanya Zayyan, panggil saja kami senyamanmu karena aku juga akan memanggil nama saja padamu," ucap Yara dengan ramah.
Hanna menganggukkan kepalanya. "Ba-baiklah. Sa- maksudnya aku akan memanggil Anda kakak, tidak masalah 'kan?"
Yara dan Via tertawa saat melihat sifat polos Hanna yang apa-apa selalu bertanya, padahal tidak ada larangan sama sekali. Wanita itu juga selalu gugup dan tampak takut, padahal mereka sudah mencoba untuk akrab.
__ADS_1
"Jangan merasa takut pada kami, Hanna. Kami berbeda dengan Zafran. Jika dia menakutkan dan dingin, maka kami sangat ramah dan hangat," seru Yara yang membandingkan sifatnya dengan Zafran, membuat Hanna tersenyum.
"Tuan Zafran juga baik kok, Kak. Dia sudah beberapa kali menolong saya," ucap Hanna dengan senyum hangat, dia masih ingat bantuan-bantuan yang laki-laki itu berikan padanya.
Via ikut tersenyum saat mendengarnya. "Benar. Walau Zafran laki-laki yang jarang bicara dan terkesan sombong, tapi dia sangat baik."
Yara juga ikut menyetujui ucapan sang mama, karena selama ini Zafran jugalah yang selalu melindungi dan menjadi tameng untuknya saat terlibat masalah. Dia lalu mengajak Hanna untuk membantu mereka menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Zafran, yang akan dilakukan malam ini.
Hanna langsung menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan ajakan Yara, dia sangat senang sekali membuat acara kejutan seperti itu.
Akhirnya mereka semua mulai menyiapkan acara kejutan untuk Zafran. Mereka menghias apartemen itu dengan balon hitam putih dan pernak-pernik lainnya, tetapi tidak banyak karena kejutan ini untuk laki-laki.
Pada saat yang sama, Zafran terlihat sibuk menyiapkan pekerjaan tentang proyek baru yang akan mereka kerjakan. Belum lagi dia disuruh oleh papanya untuk meninjau lokasi proyek yang sedang dikerjakan.
"Bos, Anda belum siap?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Zafran.
Junior menganggukkan kepala dan berlalu duduk di sofa. Dia mengambil ponselnya untuk melihat beberapa email yang masuk ke dalam benda pipih itu.
Beberapa saat kemudian, Zafran sudah menyelesaikan pekerjaannya dan berlalu pergi bersama Junior untuk meninjau lokasi proyek. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan mereka akan sekalian makan siang bersama dengan para pekerja yang ada dilapangan.
20 menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat beberapa orang menyambut kedatangan mereka, sementara yang lainnya tampak sibuk bekerja.
"Selamat datang, Tuan," sambut Diego, dia adalah kepala proyek yang menangani pekerjaan kali ini.
Zafran menganggukkan kepalanya. "Bagaimana, apa semua berjalan lancar?" Dia bertanya sambil memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja.
__ADS_1
"Semua lancar, Tuan. Hanya saja anak dari pemilik tanah yang akan Anda beli datang kemari, dan meminta untuk bertemu dengan Anda."
Zafran mengernyitkan keningnya. "Untuk apa, apa dia mau meminta tambahan harga?" Dia bertanya dengan tajam.
Diego menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Tuan. Tapi sepertinya dia ingin mengajukan proposal kerja sama dengan Anda, itu yang saya dengar dari para pekerja di sini."
Zafran menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memberikan kartu kreditnya pada Diego untuk membeli makan siang semua orang yang bekerja di tempat itu, termasuk dia dan Junior juga.
"Ma-maaf, Tuan. Anda mau makan makanan seperti apa?" tanya Diego. Dia merasa kaget saat diberi kartu kredit, apalagi saat disuruh untuk membeli makanan untuk Zafran juga.
Junior lalu menyebutkan makanan yang biasa dimakan oleh Zafran, serta makanan kesukaannya dan juga minuman untuk mereka.
Diego mengangguk paham dan segera pergi untuk membeli makanan, sementara Zafran dan Junior berjalan menyusuri tempat itu sambil memantau pekerjaan yang sedang berlangsung.
Dari kejauhan, seorang lelaki berjalan ke arah Zafran dengan membawa sebuah proposal ditangannya. Dia ingin mengajak laki-laki itu untuk bekerja sama, tentu saja dia harus memanfaatkan kesempatan ini.
"Maaf Tuan, bisakah saya bicara dengan Anda sebentar," ucap Leo saat sudah berada di belakang Zafran.
Zafran dan Junior segera membalikkan tubuh mereka dan melihat ke arah sumber suara, membuat Leo terkesiap.
"Ka-kau?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.