
Junior segera menganggukkan kepalanya dan menyuruh resepsionis untuk mengantar laki-laki itu ke ruangan Zafran, dia lalu pamit pada laki-laki itu untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Abbas lalu menunggu kedatangan Leo dengan tenang, entah kenapa perasaan kesal yang sedang dia rasakan berubah menjadi semangat.
Leo yang sudah berada di depan ruangan Zafran segera mengetuk pintu itu, lalu dia membukanya dan berlalu masuk ke dalam saat mendengar ucapan dari dalam.
Leo berdecak kagum saat melihat betapa besar dan megahnya ruangan Zafran. Awalnya masih ada keraguan dalam hati saat laki-laki itu berkata bahwa dia adalah pewaris Sky group, tetapi saat datang ke perusahaan, dia baru benar-benar yakin jika apa yang Zafran katakan adalah benar.
"Selamat siang, Tuan," sapa Leo saat sudah selesai mengagumi kemewahan ruangan itu.
Zafran menganggukkan kepala, lalu menyuruh Leo untuk duduk disofa yang ada di hadapannya.
Dengan cepat, Leo mendudukkan tubuhnya di tempat itu dengan senyum lebar yang nyaris sampai ke telinga. "Maaf jika saya mengganggu Anda, Tuan." Dia berucap sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak papa. Bukankah aku memang menyuruhmu untuk datang?" tanya Zafran, membuat Leo langsung mengangguk.
"Benar, Tuan. Saya langsung kemari saat sudah menyelesaikan pekerjaan, karena tidak sabar akan bertemu dengan Anda."
Zafran langsung tergelak saat mendengarnya. Pintar, sangat pintar sekali. Ternyata Leo sangat pintar sekali bersilat lidah.
__ADS_1
Leo menundukkan kepalanya saat mendengar gelak tawa Zafran. Dia tidak mengerti kenapa laki-laki itu tertawa, tetapi ingin bertanya pun tidak berani.
"Kenapa kau tidak sabar bertemu denganku, apa kau ingin memberikan pekerjaan dengan gaji besar seperti apa yang pernah kau katakan?" ucap Zafran dengan penuh sindiran.
Leo menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan Zafran. Dia merutuki kebod*ohannya sendiri yang telah berkata seperti itu. Memangnya gaji berapa lagi yang bisa dia berikan pada laki-laki kaya raya seperti Zafran?
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya benar-benar tidak tahu," ucap Leo dengan lirih. Dia merasa gugup dan gelisah, takut jika Zafran menolak apa yang dia inginkan.
Zafran menganggukkan kepala dengan raut wajah mengejek. Dia harus menampar laki-laki itu yang sudah bersikap sombong di hadapannya. Namun, bukan menampar dengan tangan dan menyebabkan kekerasaan, tetapi membalasnya dengan ucapan.
"Baiklah, kita tidak perlu membahas sesuatu yang sudah menjadi masa lalu. Sekarang katakan, kenapa kau ingin bertemu denganku." tanya Zafran dengan tajam sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
Zafran mengambil berkas yang Leo beri dan membukanya. Dia lalu tersenyum tipis saat membaca proposal itu. Mungkin jika papanya yang membaca, proposal itu akan langsung melayang ke tong sampah.
"Apa kau pernah mendengar istilah tidak semuanya harus dicoba, apalagi tidak sesuai dengan resikonya?" tanya Zafran. Dia meletakkan proposal itu ke atas meja, lalu menatap ke arah Leo dengan tajam.
Leo terdiam, mencoba untuk memahami apa yang Zafran katakan padanya. Namun, kepalanya malah berdenyut sakit saat ini.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengerti apa maksud ucapan Anda," ucap Leo, dia memilih untuk mengatakan secara langsung karena malas untuk berpikir.
__ADS_1
"Orang yang hebat adalah orang yang bertindak dengan hati, bukan dengan ego," lanjut Zafran, membuat Leo mulai paham ke mana arah bicara laki-laki itu saat ini.
"Maaf, Tuan. Saya sudah menyiapkannya dengan sepenuh hati, bahkan sudah sebulan yang lalu saya mempersiapkannya.
Zafran mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi semua itu harus diwujudkan dalam tindakan. Begitu juga dengan bisnis, tidak hanya memberikan proposal pada seseorang. Tapi harus menarik garis yang jelas dulu dalam bisnis itu."
Leo kembali diam. Dia kini paham dengan apa yang Zafran katakan, tetapi harus bagaimana di bertindak? "Maaf, Tuan. Tindakan apa yang harus saya lakukan agar engkau menerimanya, apakah saya harus menjalankannya lebih dulu?"
Zafran kembali tergelak sambil menggelengkan kepala. "Tidak juga. Mungkin kau bisa belajar dari hal yang sangat mudah, contohnya istrimu." Dia berucap dengan lirih.
Leo mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Kenapa Anda mengatakan istri saya?" Dia merasa heran.
"Perlakukan istri Anda dengan hati, bukan dengan ego. Dengan begitu Anda akan mengerti tindakan apa yang harus dilakukan, baik dalam dunia bisnis juga."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.