
Hanna membalas uluran tangan Zafran dengan senyum lebar, setelah itu mereka saling melepaskan jabatan tangan itu dengan perasaan canggung yang tiba-tiba terjadi.
"Ka-kalau gitu saya akan menyiapkan bahan-bahannya dulu," ucap Hanna sambil menunduk untuk menyiapkan alat-alat melukis mereka.
Zafran menganggukkan kepalanya lalu ikut memperhatikan apa yang Hanna lakukan, terlihat wanita itu sangat bersemangat mempersiapkan alat tempur mereka.
Hanna lalu memberikan alat lukisnya pada Zafran beserta kanvas juga, dan mereka mulai melukis pemandangan yang ada di hadapan mereka saat ini.
Beberapa kali Zafran melirik ke arah Hanna yang fokus memainkan kuasnya di atas kanvas. Entah kenapa wajah wanita itu tampak bersinar di matanya, apalagi dihiasi dengan senyum tulus dan tatapan polos yang selalu terlihat diwajah Hanna.
"Wah, kau seperti seorang pelukis profesional, Hanna," ucap Zafran sambil kembali memalingkan wajahnya ke arah kanvas, dan mencoba untuk mencoret-coretnya.
Wajah Hanna tersipu malu saat mendengarnya. "Saya tidak seperti itu kok, saya hanya suka melukis saja. Bagi saya, melukis sama dengan mencurahkan apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Baik itu sedih, senang, tangis, tawa, semua saya curahkan ke dalam lukisan yang saya buat. Walau hasilnya tidak seberapa, tapi perasaan saya akan langsung lega setelahnya."
Zafran terdiam saat mendengar ucapan Hanna. Sepertinya melukis adalah sarana untuk wanita itu mencurahkan perasaan yang sedang dirasakan, apakah Hanna tidak punya sahabat atau keluarga yang bisa dijadikan tempat berbagi cerita?
"Bagaimana, apa kau bisa?" tanya Hanna sambil melihat ke arah kanvas Zafran yang menampakkan pemandangan luar biasa jeleknya.
Zafran langsung menarik kanvas itu agar Hanna tidak melihatnya, tetapi terlambat. Hanna jelas sudah melihatnya, dan wanita itu langsung tergelak.
"Haha, kenapa gambarnya bulat-bulat seperti itu?" tanya Hanna dengan gelak tawa, membuat wajah Zafran memerah malu.
"A-aku 'kan tidak bisa melukis, memangnya semua orang bisa melakukannya," gumam Zafran sambil mencebikkan bibirnya, dia membuang kanvas yang ada ditangannya ke dalam tong sampah.
Hanna menutup mulutnya yang sudah kelepasan tertawa. Habisnya lukisan Zafran sangat lucu sekali, bahkan lukisan anak sekolah dasar saja mungkin lebih bagus dari apa yang laki-laki itu buat.
__ADS_1
"Maaf, saya enggak sengaja," ucap Hanna dengan nada menyesal, membuat Zafran melirik ke arahnya. "Bagaimana kalau kita belajar pelan-pelan, dari dasarnya dulu." Dia memberikan penawaran sebagai permintaan maaf.
Zafran terdiam dan tidak memberikan reaksi apapun, tetapi Hanna dengan cepat mengambil kanvas baru dan meletakkanya di hadapannya.
"Ayo, kita akan mulai dengan teknik goresan ekspresif!" Hanna menarik tangan Zafran dan meletakkan pensil ke tangan laki-laki itu, lalu mengangkatnya ke kanvas. "Cobalah, ini teknik yang mudah."
Zafran menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan Hanna, membuat darahnya berdesir hebat.
"Baiklah, aku akan mengikutimu." Lirih Zafran.
Hanna mengangukkan kepalanya dan mulai mengajari Zafran sedikit demi sedikit. Dia tersenyum senang saat melihat laki-laki itu mau mengikuti apa yang dia ajarkan, membuat hatinya berbunga.
Tidak terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat. Sudah lebih dari satu jam mereka melukis, dan tidak sadar jika hari sudah mulai gelap.
"Kenapa bagian atasnya enggak bisa diratakan?" tanya Zafran sambil memalingkan wajahnya ke arah Hanna.
Zafran lalu memperbaikinya sesuai dengan arahan Hanna, tetapi tetap saja bagian atas dari lukisannya tidak rata dan rapi.
Hanna tersenyum saat melihatnya. Dia lalu kembali menggenggam tangan Zafran dan mengarahkannya ke kanvas. Dia menggerakkan tangan laki-laki itu agar bisa memperbaiki lukisan yang katanya belum rapi.
Zafran terus menatap Hanna saat tangannya berada dalam genggaman tangan wanita itu. Jantungnya berdegup kencang dengan perasaan yang membuatnya menjadi tidak tenang.
"Bagaimana, gampangkan?" tanya Hanna kembali sambil menoleh ke arah Zafran dengan tersenyum.
Zafran terkesiap saat mendengarnya, spontan dia menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Hanna. Matanya lalu fokus ke wajah Hanna yang terkena cet air.
__ADS_1
Zafran lalu beranjak dari tempat itu untuk mengambil tisu, membuat Hanna merasa kaget dan menatap dengan penuh tanda tanya.
"Lihat, sangking semangatnya melukis. Kau sampai mewarnai pipimu sendiri," ucap Zafran saat sudah kembali ke tempat itu dengan sekotak tisu, dia lalu menariknya sebanyak dua lembar dan mengusapkan langsung kewajah Hanna.
Tubuh Hanna langsung menegang saat melihat apa yang Zafran lakukan, apalagi saat tangan laki-laki itu menyentuh wajahnya membuat tubuh itu terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.
Zafran sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Namun, begitu dia menyadarinya. Tubuhnya juga langsung tegang dengan mata membulat sempurna.
Untuk beberapa saat mereka saling pandang dengan tangan Zafran masih berada di pipi Hanna, seolah-olah waktu di sekitar mereka sedang berhenti saat ini juga.
Satu detik, dua detik, dan didetik kesepuluh tiba-tiba terdengar suara bunyi keramat yang berasal dari perut Zafran, membuat laki-laki itu langsung menarik tangannya dengan wajah merah padam.
Hanna sendiri juga langsung duduk lurus ke depan dengan menahan rasa malu karena Zafran memegang wajahnya, karena selain Leo tidak ada laki-laki yang melakukan hal seperti itu.
"Se-sepertinya aku lapar, apa kau bisa menyiapkan makanan yang tadi?" ucap Zafran dengan pelan, membuat Hanna menganggukan kepalanya dan bergegas ke dapur.
Zafran menghela napas kasar saat Hanna sudah pergi dari tempat itu. Dia menyandarkan tubuhya dengan frustasi, sungguh semua ini terasa seperti boomerang untuknya sendiri.
"Ya Allah, aku mohon hilangkan perasaan ini. Aku tidak bisa menyukainya lebih dari teman, karena dia sudah menjadi milik laki-laki lain."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.