Kutikung Dengan Bismillah

Kutikung Dengan Bismillah
Bab 7. Setidaknya Hargai Diri Sendiri.


__ADS_3

Kedua wanita itu tergelak saat mendengar ucapan Zafran. Tidak disangka ternyata laki-laki itu lucu juga, padahal wajahnya sangat datar dan kaku.


"Ma-makanannya udah siap, suamiku," ucap Hanna yang berdiri di belakang Leo, membuat semua orang langsung melihat ke arahnya. Termasuk Zafran juga.


Leo lalu mengajak mereka semua untuk menikmati makanan yang sudah tersaji, setelah itu baru menikmati wine bersama.


"Wah, seharusnya kita barbequean saja, Leo," ucap Claudia sambil duduk di kursi makan dengan kasar.


"Iya benar, makanan seperti ini tidak cocok untuk perutku," sambung Bella.


Hanna yang mendengarnya jelas merasa tersinggung. Susah payah dia menyiapkan semuanya, tetapi kenapa malah harus mendengar semua itu?


"Kamu gimana sih?" ucap Leo dengan nada membentak pada Hanna, membuat wanita itu terkesiap. "Sudah aku katakan untuk masak yang enak, kenapa masak makanan kampung seperti ini?" Dia membanting salah satu makanan yang sudah susah payah dimasak oleh sang istri.


Hanna terdiam dengan kepala tertunduk. Kenapa sejak awal suaminya tidak mengatakan masakan apa yang harus dia masak? Jika sudah seperti ini, malah dia yang disilahkan.


"Kenapa kau diam?"


Hanna kembali terkejut saat mendengar bentakan Leo. "Ma-maaf. Aku, aku akan siapkan makanan yang lain." Dia berucap dengan takut, tetapi juga kesal.


"Sudahlah, Leo. Kenapa kau harus emosi sih?" ucap Baim, dia lalu berjalan mendekati Hanna dan memegang lengan wanita itu. "Tidak usah dengarkan mereka, oke?"


Hanna langsung memundurkan tubuhnya agar menjauh dari laki-laki itu, dia mengusap tangannya sendiri yang tadi di sentuh oleh Baim.


"Udah sana, ambil makanan yang lain," perintah Leo dengan tajam, membuat Hanna langsung berbalik dan pergi ke dapur. Saat ini mereka sedang makan di ruang depan sesuai dengan keinginannya.


Zafran yang sejak tadi diam memperhatikan mereka tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia merasa kesal dan emosi, bisa-bisanya mereka memperlakukan orang lain seperti itu. Terutama laki-laki bajing*an bernama Leo itu. Bukankah Hanna itu istrinya sendiri? Tetapi kenapa diperlakukan seperti pembantu?

__ADS_1


"Kenapa kau bisa menikah dengan wanita kampung sepertinya sih, Leo? Lihat dia, ngomong aja gak bejus," ucap Claudia dengan sarkas. Dia melirik ke arah dapur dengan sinis, tentu saja dia sangat tidak suka dengan Hanna.


"Kayak kau gak tau seleranya Leo aja. Dia 'kan, sukanya yang polos-polos kayak gitu," cibir Baim membuat Leo langsung meninju lengannya.


Mereka semua lalu tergelak bersama, kecuali Zafran tentunya yang sejak tadi menatap mereka dengan tajam.


"Kau sendiri bagaimana, Zaf? Gadis seperti apa yang kau sukai?" tanya Bella, dia menarik gaunnya ke bawah agar semakin menampakkan belahan dadanya yang terbuka.


Zafran tersenyum tipis saat mendengarnya. "Aku suka wanita yang pintar, dan tidak banyak omong." Dia lalu beranjak dari kursi dan berlalu permisi ke kamar mandi.


"Dasar brengs*ek!" umpat Zafran dengan kesal. Andai saat ini mereka sedang berada di luar, dia pasti akan melawan mulut-mulut tajam mereka itu. Lagian kenapa masih saja ada manusia yang luar biasa sombong sih? Benar-benar tidak habis pikir.


Zafran lalu segera ke dapur karena ingin ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti saat melihat punggung Hanna yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu.


"Kenapa dia tidak bilang? Hiks. Dasar jahat, mulut mereka sangat jahat," ucap Hanna dengan terisak. Beberapa kali dia mengusap wajahnya yang basah karena air mata, tetapi tetap saja air mata itu tidak mau berhenti keluar.


"Awas saja mereka. Aku sudah capek-capek masak tapi enggak dihargai," gumam Hanna lagi, membuat Zafran menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada gunanya kau bicara di sini."


Hanna tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia berbalik dan membulatkan matanya saat melihat keberadaan Zafran.


"A-apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Hanna dengan tergagap. Dia merasa malu, karena laki-laki itu mendengar ucapannya.


"Kalau ingin marah dan memaki, marahlah di hadapan orang yang sudah membuatmu marah. Bukan di belakang mereka," ucap Zafran, memperjelas ucapannya tadi.


Hanna terdiam dengan tatapan tajam, tetapi dia langsung menunduk saat ditatap dengan tajam pula oleh Zafran. "Kenapa dia mengatakan hal seperti itu?"

__ADS_1


"Kenapa diam?" tanya Zafran dengan tajam, membuat Hanna kembali terkesiap.


Dengan cepat Hanna menggelengkan kepalanya. Dia terlalu takut jika harus marah pada mereka, terutama Leo, dan pasti dia juga nanti yang akan kena imbasnya.


"Setidaknya kau harus menghargai dirimu sendiri, dengan tidak membiarkan orang lain menginjak-nginjak harga dirimu," ucap Zafran kemudian, dia lalu melangkah cepat menuju kamar mandi tanpa melihat ke arah Hanna.


Hanna mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tahu apa laki-laki itu sehingga bisa bicara seperti ini padanya? Selama ini dia sudah berusaha untuk melawan, tetapi apa yang dia dapatkan? Yang dia dapatkan hanyalah rasa sakit yang sangat dalam, bahkan kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh siapapun.


Zafran sendiri mengusap wajahnya dengan kasar di dalam kamar mandi. Dia jadi merasa kesal sendiri, dan kenapa dia harus merasa seperti ini?


"Bukan urusanku mereka mau melakukan hal buruk pada wanita itu atau tidak, toh dia bukan istriku," gumam Zafran, dia lalu membasuh wajahnya dengan air agar bisa berpikir jernih. Namun, tetap saja hatinya merasa kesal.


Setelah selesai membasuh wajahnya, Zafran keluar dari kamar mandi dan tidak melihat keberadaan Hanna. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk bergabung dengan yang lain, tetapi tiba-tiba dikejutkan dengan apa yang terjadi di depan matanya saat ini.


Plak.


Wajah Hanna memerah karena tamparan yang baru saja Claudia layangkan padanya, sementara Claudia sendiri merasa sangat kesal karena kakinya tersiram kuah panas yang wanita itu bawa.


"Dasar wanita kampung, apa kau mau membuat aku cacat dan jelek sepertimu?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2