
Hanna segera menyiapkan makanan untuk Zafran dengan semangat. Dia menata semua makanan yang dibawa tadi ke atas meja, tidak lupa dengan piring dan juga sendok yang sudah disiapkan.
"Makanannya sudah siap, Tu- eh Zaf," ucap Hanna dengan tergagap. Dia masih merasa canggung memanggil laki-laki itu dengan sebutan nama saja, rasanya sangat tidak pantas sekali.
Zafran menganggukkan kepalanya dan segera beranjak menuju dapur. Senyum tipis terbit dibibirnya saat melihat makanan sudah tersaji di atas meja, persis seperti seorang istri yang sedang melayani suaminya.
"Ayo, kau harus makan juga! Kita makan sama-sama," ucap Zafran.
Hanna menganggukkan kepalanya dan duduk tepat di hadapan Zafran. Dengan sigap dia mengambilkan makanan untuk laki-laki itu, membuat Zafran menatapnya dengan mata berbinar-binar.
Mereka lalu menikmati makanan itu sambil bercerita mengenai lukisan tadi. Terlihat Hanna sangat antusias menjelaskan teknik-teknik yang digunakan dalam melukis, benar-benar terlihat berbeda seperti biasanya.
Setelah selesai, Hanna dan Zafran sama-sama membereskan bekas makan mereka.
"Biar aku saja yang mencucinya, kau bisa kembali ke apartemenmu. Terima kasih untuk makanan enaknya, Hanna," ucap Zafran, dia lalu membawa piring kotor itu dan meletakkannya ke westafel.
Lagi-lagi ucapan Zafran membuat hati Hanna berdesir hebat. Dari dulu dia masak dan menyajikan makanan, tidak ada yang pernah berterima kasih. Jangankan berterima kasih, memuji masakannya enak pun tidak pernah.
"Kenapa malah melamun?"
Hanna terkesiap saat mendengar ucapan Zafran, tanpa sadar tiba-tiba air mata menetes dari kedua matanya membuat Zafran menatap dengan bingung.
"Kenapa kau menangis?" tanya Zafran dengan tajam, membuat Hanna langsung mengusap air mata yang ada diwajahnya.
Hanna sendiri merasa terkejut karena tiba-tiba saja air matanya keluar, tetapi hatinya memang sedang merasa sedih sekarang.
"Terima kasih karena sudah membuat saya senang, em ... Mas," ucap Hanna dengan ragu, lebih baik dia memanggil Zafran dengan panggilan yang sopan dari pada langsung memanggil namanya.
Zafran mengernyitkan kening heran. "Makasih untuk apa?" Dia merasa bingung, apalagi saat mendengar panggilan wanita itu untuknya.
"Terima kasih karena Mas sudah membuat saya merasa dihargai. Mungkin bagi orang lain semua itu biasa saja, tapi semua pujian yang Mas berikan membuat saya merasa senang dan terharu," jawab Hanna dengan lirih.
__ADS_1
Zafran terdiam saat mendengar ucapan Hanna. Kedua tangannya terkepal erat karena menahan gejolak perasaan yang sedang menyeruak di dalam dada, ingin sekali dia menghapus air mata yang ada diwajah wanita itu saat ini.
"Ka-kalau gitu saya permisi dulu. Selamat istirahat, Mas. Assalamu'alaikum," pamit Hanna. Dia lalu berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu.
Zafran menghela napas berat saat Hanna sudah keluar dari unit apartemennya, dia lalu mendudukkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa Hanna sama sekali tidak berpikir ingin pisah dengan suaminya?" gumam Zafran. Dia lalu menggelengkan kepalanya supaya pikiran aneh yang bersarang di dalam pikiran bisa menghilang.
Hanna sendiri berjalan ke arah unit apartemennya dengan senyum lebar. Hatinya terasa berbunga-bunga dengan apa yang sedang dirasakan saat ini, sampai dia tidak melihat jika suaminya sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau senyum-senyum kayak gitu?"
Hanna terlonjak kaget saat mendengar ucapan seseorang, sontak dia menoleh ke arah belakang dan terkejut saat melihat keberadaan Leo.
"Ka-kau sudah pulang?" tanya Hanna dengan tergagap. Dia segera mengambil tas yang ada ditangan Leo.
Leo menganggukkan kepalanya sambil masuk ke dalam apartemen. "Apa kau sudah menyiapkan makan malam untuk tuan Zafran?" Dia menghentikan langkahnya dan menatap Hanna dengan tajam.
Leo langsung tersenyum lebar saat mendengarnya. "Itu baru istriku." Dia mengusap puncak kepala Hanna dengan lembut, membuat wanita itu mengkerut takut. "Ayo, mandikan aku! Aku sangat lelah hari ini." Dia kembali melangkah masuk dan segera berjalan ke kamar, tentu saja dengan diikuti oleh Hanna yang harus selalu memberikan pelayanan terbaik untuknya.
***
Tepat pukul 8 malam, Zafran beranjak pergi dari apartemen menuju salah satu restoran yang telah diberitahu oleh sang papa. Dia sengaja datang terlambat supaya tidak menghabiskan waktu terlalu lama dengan seseorang yang akan dia temui.
Tidak berselang lama, sampai juga Zafran ke tempat tujuan. Dia segera memarkirkan mobilnya dan berlalu keluar untuk segera masuk ke dalam restoran.
Zafran melangkah kakinya menuju ruang pribadi nomor 3, dia segera membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya.
"Maaf saya datang terlambat," ucap Zafran saat sudah masuk ke dalam ruangan itu, terlihat kedua orang tuanya beserta yang lain melihat ke arahnya.
"Anda sudah datang? Silahkan duduk," ucap lelaki paruh baya bernama Samuel dengan senyum lebar, sambil mempersilahkan Zafran bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Zafran menganggukkan kepalanya pada Samuel dan juga keluarga laki-laki paruh baya itu, kemudian dia menyalim tangan kedua orang tuanya dan duduk di tempat yang tersedia.
"Kenapa terlambat, Zaf? Kami sudah hampir satu jam menunggumu," ucap Vano dengan suara tertahan, dia tahu jika putranya itu pasti sengaja datang terlambat.
"Maaf, Pa. Tadi sore aku makan sampai kekenyangan, jadi langsung tidur dan bangun terlalu lama," jawab Zafran. Dia tidak bohong tentang makanan kekenyangan, juga sempat tidur di apartemen.
"Tidak apa-apa, Tuan. Semua itu biasa terjadi, apalagi putra Anda tinggal sendirian di apartemen," seru Samuel yang merasa tidak masalah tentang keterlambatan Zafran.
Zafran kembali menganggukkan kepalanya pada Samuel sambil melirik ke arah wanita yang ada di hadapannya, dia lalu mengernyitkan kening karena merasa mengenali wanita itu.
"Kita bertemu lagi, Zafran. Aku tidak menyangka bahwa kau adalah putranya Tuan Vano," ucap Bella, dia adalah salah satu wanita yang Zafran temui di apartemen Leo.
Samuel langsung menyenggol lengan Bella saat putrinya itu berucap tidak sopan pada Zafran, sementara Vano dan Via mengernyitkan kening karena wanita itu ternyata mengenali putra mereka.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya pernah bertemu dengan putri Anda," ucap Zafran, tetapi dia tidak ingat siapa nama wanita itu.
Samual menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar yang hampir mencapai telinga. "Wah, tidak disangka kalau Bella dan Anda sudah saling kenal, Tuan. Sepertinya tidak akan susah lagi jika Anda ingin dekat dengannya, atau jangan-jangan kalian memang berjodoh?" Dia tergelak dengan apa yang baru saja diucapkan.
Vano dan Via langsung melirik ke arah Zafran saat mendengar ocehan laki-laki itu, mareka sudah merasa gelisah saat melihat wajah putra mereka yang memerah.
"Jodoh atau tidak itu ada ditangan Tuhan, Tuan. Mungkin mereka bisa berteman terlebih dahulu," ucap Vano, dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin saja mereka memang berjodoh, Tuan. Lihat, mereka sangat serasi," tambah Luna, ibunya Bella.
Zafran tersenyum sinis saat mendengar ucapan mereka. "Saya juga pernah bertemu dengan seorang wanita sebelum dia bekerja sebagai pembantu di rumah mama. Apa itu artinya saya dan dia juga berjodoh?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.