
Tidak ada yang bisa ia harapkan kepada sahabatnya. Dukun beranak tidak akan membantu sama sekali. Dalam kasus percintaan yang sering ditolak mentah-mentah membuat Lili mengerang frustrasi.
Berapa kali dia mengajak Alex untuk keluar, tetapi pria itu menolak. Ditambah kehadiran princess kecil Rahardian yang memonopoli Alex.
Ia berdiri penuh tekad. Matanya memancarkan binar semangat. Ia mengganti pakaiannya. Mengenakan pakaian casual remaja.
[Xa, mau ke rumah lo.]
Dia mengirim pesan kepada Alexa, sahabatnya. Sahabat yang kadang polosnya kambuh tak tahu waktu. Ingin dia menendang Alexa saat mengingat saran tak logisnya.
***
Perjalanan ke rumah Alexa memakan waktu kurang lebih satu jam. Ia tiba di rumah menjulang tinggi di mana salah satu penghuninya telah merampas hatinya.
Dia mengirim pesan kembali kepada sahabatnya. Selang beberapa menit datang Alexa dengan piama tidurnya.
“Masuk, Li,” ajak Alexa.
“Enggak keluar malam mingguan, Xa?” tanya Lili.
“Ngapain malam mingguan jauh-jauh. Al dekat di sini,” ujarnya membuat Lili memutar bola matanya.
Mereka masuk ke dalam dan disambt hangat oleh Arland dan Maya. “Mom, Dad, ini teman Alexa. Namanya Lili,” ujar Alaxa.
“Lili, Aunty, Uncel.” Lili memperkenalkan dirinya dan ikut bergabung.
“Kakak lo mana, Xa?” tanya Lili berbisik kepada Alexa.
“Lagi keluar pacaran,” jawab Alexa cuek.
“Apa?! Huwaaa pacaran sama siapa?! Padaha aku rajin stalking akunnya enggak pernah liat dekat sama cewek mana pun. Di sekolah juga gak dekat sama siapa-siapa. Huwaaa pacarnya siapa?” tanya Lili panik. Melupakan keberadaan Arland dan Maya.
“Meisie,” jawab Alexa tanpa merasa bersalah.
Lili melempar bantal ke arah Alexa. Bersamaan dengan suara obrolan terdengar mendekat. Ia melihat batang hidung pria yang ditunggunya. Alex bersama Sie terlihat berdebat.
“Wah, Kak Lili ke sini,” ujar Sie ceria melihat Lili. Dia mendekat membuat Lili menatapnya sebal.
“Ya ke sini. Kenapa?” sewot Lili.
“Kayak enggak punya tujuan hidup saja ke sini,” ujar Sie membuat Lili ingin mutilasi bocah kecil itu.
“Idih, kamu juga ngapain ke sini?” tanya Lili kesal.
“Aku ke sini karena ada hubungan keluarga. Lah, Kakak Lili siapa?” tanya Sie skatmat Lili.
Lili terlihat ingin membalasnya, tetapi gadis kecil itu memang pandai membuat lawannya mati kutu. Alexa terbahak melihat Lili tidak berdaya.
“Sie,” tegur Maya.
“Hehehe, enggak, deh, Mom. Sie tahu, kok, dia ada hubungan,” ujar Sie dan tersenyum manis, “Teman kelasnya Kak Alex sama Kak Alexa.”
__ADS_1
Lili menekuk wajahnya. Membuat Alex menahan tawa. Ia bergabung di sana, tetapi Arland dan Maya izin keluar. Mereka mengajak Sie keluar.
“Yuk, Sie ikut Mommy sama Daddy keluar. Kita ke rumah kamu dulu. Sudah janjian sama Ayah dan Bunda kamu,” ajak Maya.
“Yey! Sie ganti baju dulu,” ujar Sie meraih tangan Maya.
***
Alexa meninggalkan Lili dan Alex. Ia ke atas saat Alden datang. Membuat Lili bahagia karena bisa berduaan dengan orang yang dicintainya.
Alex menatap datar Lili. Gadis ini terang-terang sekali menunjukkan rasa sukanya. Bahkan blak-blakan mengatakan cinta. Pantas saja dia betah bersahabat dengan adiknya, mereka sama-sama over bucin.
Ia membiarkan Lili berceloteh tanpa niat membalasnya. “Kenapa enggak mau jalan, sih?” tanya Lili kesal.
“Harus jalan sama kamu?” tanya Alex.
“Ya! Kita jalan, yuk, Lex. Bosan di rumah,” ajak Lili.
“Jalan sendiri.” Alex mengacuhkan Lili.
Lili mengalihkan tatapannya. Terlalu berat setiap Alex menolaknya. Berapa banyak lagi ia harus lakukan perjuangan? Kadang ia merasa harus berhenti, tetapi cintanya terlalu kuat.
Dengan perasaan kecewa dia pulang ke rumahnya. Tanpa ditawarkan untuk diantar pulang. Air mata Lili meleleh. Ia membuka gerbang dan berniat mencari taksi.
“Hiks ... Tono rese!” kesalnya.
Merasa ada yang memperhatikannya, Lili mengedarkan pandangan. Ia melihat seorang pria menjulang tinggi menatapnya dengan tenang.
Perlahan ia bangkit bersamaan dengan langkah pria itu mendekat. Dia seorang remaja, tetapi sialnya tubuhnya yang bugar menipulasi. Apalagi tatapan matanya yang menusuk dan dingin.
“Gu—gue teman Alexa,” jawabnya terbata-bata.
“Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya pria itu.
“Ah, gue sudah mau pulang.”
“Nama lo siapa?” tanyanya.
“Liliana.” Pria itu mengangguk dan menggumam samar.
“Ternyata ini Liliana yang sering diceritakan Sie,” batin Galen.
***
Dalam perjalanan pulang Lili meremas tangannya kuat. Ia tidak menyangka pria di sampingnya adalah sepupu Alex dan kakak dari gadis usil yang menganggunya.
Lili takjub dengan gen keluarga Rahardian. Semua tampan-tampan dan cantik-cantik. Sedikit ia mulai membandingkan Alden dan Galen. Meski ia baru pertama kali melihat Galen, ia merasa pria ini mewarisi sikap dari Ken.
Walau dingin, tetapi bertanggung jawab. Ia menawarkan diri mengantar Lili. Didikan Ken kepada putranya agar menghargai wanita dan menjaganya. Galen hanya melakukannya karena memikirkan posisi Bunda, kakak dan adiknya. Bagaimana jika dia saat masa sulit dan tidak ada yang mengantarnya?
Sikap Galen selalu menjadikan dirinya sebagai ibarat. Makanya langkah ia pilih selalu tepat. Walau tak banyak yang bisa memahaminya karena dia terkesan dingin dan tertutup.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Lili diangguki Galen.
Lili melihat Galen pergi. Dia menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang terasa sepi karena orang tuanya sibuk dan tidak mengurusnya.
***
“Kalian bisa memilih teman untuk kerja kelompok,” ujar guru mereka.
Alexa mengajak Lili bergabung di kelompoknya. Lili tidak seperti biasanya semangat. Ia hanya menggelengkan kepala. Membuat teman-temannya mengerut dahi heran. Termasuk Alex yang diam-diam heran.
“Gue kerja kelompok bareng Veno,” ujar Lili.
Ia melewati Alex. Sebenarnya ia mati-matian menahan diri untuk menatap ke arah Alex. “Yakin sekelompok bareng gua?” Veno mengangkat alisnya membuat Lili mengangguk.
“Gue mau tulis, kalian yang kerjakan,” ujarnya.
“Li, lo mendingan ikut kerja. Otak lo nanti membeku,” ujar Veno membuat Lili memukulnya buku.
“Ck, gue gini-gini pinatr, cuma malas saja mikir,” elaknya membuat teman kelompoknya tertawa.
“Ya, sudah. Biarkan olang cuantik menulis,” timpal Yuni membuat Lili tertawa.
“Gue cantik, yekan?” tanyanya dengan senyum menggoda kepada Veno.
“Iya, cantik,” ujar Veno sambil mengacak rambut Lili.
Alex menatap Lili sejak tadi karena dia masih heran dengan sikap Lili. Mukanya berubah masam melihat Lili tertawa karena Veno. Ditambah rambutnya diacak.
“Gua kenapa juga enggak suka liatnya?” batin Alex. Dia membuang napas dan berdiskusi dengan teman kelompoknya.
“Beratnya segunung mencintai Hartono,” batin Lili.
Selesai mengerjakan tugas, mereka bergilir persentasi di depan kelas.
“Ok, cukup hari ini. Kalian boleh istirahat. Guru mata pelajaran mereka keluar. Siswa dan siswi berhambur keluar.
Alex tertegun saat ia lewat begitu saja. Tidak seperti tahun-tahun yang ia lewati. Lili akan menjadi pagar menghalanginya keluar.
“Tahan, Li. Jual mahal dikit,” batin Lili.
Alex keluar tanpa melihat Lili. Membuat gadis itu merasa sia-sia kembali. Ia membenamkan wajahnya di meja.
“Li,” panggil Alexa.
“Hiks ... kembaran kamu jahat banget hiks. Aku gak suka dia giniin aku hiks.” Alexa mengusap punggung sahabatnya.
“Hiks aku cintanya dari dulu hiks. Enggak bisa apa dia berikan aku kesempatan? Bagaimana caranya buat dapatin dia?” Lili mengangkat wajahnya dan menatap sendu Alexa.
“Eum ... kata Bunda cari di google,” jawab Alexa polos.
“Alexaaaaaa,” kesal Lili.
__ADS_1
***
Bersambung ....