Kutikung Kau Di Sepertigaan Malam

Kutikung Kau Di Sepertigaan Malam
Keluarga Baru


__ADS_3

“Dia siapa, Pa?” tanya Lili berusaha menahan getaran dalam suaranya. Ia sudah punya asumsi sendiri saat matanya juga menilai pria yang duduk di samping wanita yang seharusnya berperan banyak untuknya.


“Lili, kamu duduk dulu.” Lili membuang napas kasar dan duduk di tengah mereka.


“Lili, malam ini Papa sama Mama kamu memanggil kamu untuk memberitahu kamu kalau kami sudah pisah.”


Deg.


Lili tersenyum hambar melihat orang tuanya membawa fakta mengejutkan untuknya. Itu bagai granat yang meledak dalam hatinya.


“Sejak kapan, Ma, Pa? Apa satu tahun itu menjadi alasan kalian hilang tanpa kabar?” tanya Lili. Ia tidak menyangka setahu lebih ini tanpa kabar mereka menghilang untuk membina keluarga baru. Bahkan baru mengatakan saat sudah memiliki anak!


“Sayang, dengarkan Papa dulu. Papa dan Mama memang sibuk bekerja—“ Lili menggeleng kecewa.


“Sibuk bekerja atau sibuk mencari kebahagiaan kalian sendiri?” tanya Lili marah.


“Lili!” tegur mamanya. Lili membuang pandangan. Tidak sanggup menatap mamanya yang tengah berbadan dua.


“Inikah yang Mama dan Papa sebut bekerja untuk membuatku bahagia, hiks? Inikah yang kalian katakan yang terbaik untukku? Kalian sebut semua akan kalian lakukan demi kebahagiaanku, tetapi yang ada hanya kebahagiaan kalian,” batin Lili.


Ia meremas tangannya kuat.


“Lili, kami harap kamu mau mengerti, Nak.” Mama Lili mencoba mengelus rambut Lili. “Sekarang, kamu bisa meminta apa pun yang kamu mau,” ujarnya.


Lili menatap mama dan papanya dengan tatapan berkaca-kaca. “Aku---“


Tiba-tiba seorang pria datang. Pria yang mengenakan stelan jas formal. Lili menatap kebingungan.


“Selamat malam Pak Ari dan Bu Dien dan juga Nak Fadel.”


Hanya Lili yang tidak mengerti di sini. Ia diundang mengira mama dan papanya akan meminta maaf karena menghilang selama setahu, meski walaupun pulang dalam beberapa bulan hanya sekali dan sangat singkat, tetapi Lili tetap bersyukur. Namun, sekarang hilang setahun dan membawa keluarga baru masing-masing.


Segala tindakan mereka atas namakan kebahagiaan Lili, tetapi anak itu sama sekali tidak merasa bahagia. Justru ia merasa orang tuanya telah menghancurkan kebahagiaannya.


“Kenalkan ini anak kami Liliana. Dia masih SMA. Tetapi tahun ini dia sudah naik kelas 3.” Lili menerima kode agar mengenalkan diri.

__ADS_1


“Liliana,” ucapnya pelan.


“Anak kamu cantik sekali. Memang cocok dengan Fadel.” Lili merasa kupingnya tidak bermasalah mendengar perkataan Bu Dien.


“Iya, mereka memang terlihat cocok.”


Lili sudah tidak tahan membuka suara. “Maksud Mama dan Papa apa?” tanya Lili.


“Lili, Mama dan Papa sepakat menjodohkanmu dengan Fadel. Pria itu bisa menjamin dan memenuhi kebutuhanmu. Kamu tidak akan kekurangan uang.”


Uang! Uang dan uang!


Lili hampir berteriak meluapkan perasaan marah dan kecewanya.


“Ma, Pa, apa di mata kalian hanya uang yang bisa membuat Lili bahagia?” Lili sudah tidak bisa membendung air matanya.


“Lili!” tegur papanya.


“Ma, Pa, kalian bertanya Lili minta apa? Lepaskan Lili karena Lili yakin kalian tidak membutuhkan Lili. Kalian sudah punya keluarga dan Lili tidak masalah hidup sendiri.” Lili berdiri membuat kursinya sedikit berderit.


“Benar kata Mama kamu Lili. Kamu tidak bisa hidup sendiri dan Fadel akan membiayaimu. Kamu pikir kamu sekolah pakai apa?”


“Lili, kamu selama ini hidup karena kerja keras Mama dan Papa!”


Cukup!


Perkataan mereka meruntuhkan dinding pertahanan Lili. Lili merasa tidak berpijak pada bumi saat ini.


‘Terima perjodohan ini atau kamu Mama coret dari kartu keluarga.”


“Sejak Mama dan Papa membuat keluarga baru, sejak itu nama Lili tidak ada tempat di dalam keluarga kalian.” Lili berlari keluar dari restoran.


“Lili! Kamu mau ke mana?!”


Ia mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang di dekatnya menoleh saat ia lewat karena ia menangis.

__ADS_1


Hiks ... Lili terus terisak.


Lili berusaha untuk mencari taksi. Ia kembali ke rumahnya. Tangisnya pecah dengan kenyataan pahit yang baru ia ketahui.


***


Sejak kejadian di restoran, Lili mengalami guncangan batin sekali. Apalagi Mamanya mengancamnya sampai menyita rumah dan mengusirnya. Ia berjalan luluh lantah menyusuri kota dengan koper miliknya.


“Kak Lili!” Lili menoleh dan melihat Raka. Ia tersenyum kepada pemuda itu.


“Lo mau ke mana, Kak?” tanya Raka yang mulai akrab dengan Lili sejak ia mengantar Lili pulang.


Mata raka melirik koper Lili. Ia penasaran dan menebak gadis di depannya memiliki masalah.


“Gu—gue—“ Lili tidak mau menceritakan masalahnya kepada siapapun.


Raka yang seolah mengerti mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Lili merasa tertekan.


“Gua ada kos-kosan dekat sini kalau lo mau, Kak.”


“Gue—“ Raka yang paham memotong ucapan Lili.


“Kos milik gua, Kak. Bayarnya belakangan.” Lili menggigit bibir bawahnya merasa tidak enak dengan Raka yang sering menolongnya.


Ia sebenarnya tidak enak, tetapi ia tidak tahu harus tidur di mana. Dengan terpaksa ia mengikuti Raka.


“Kos ini enggak terlalu mewah, Kak. Hanya Kos seadanya untuk perantauan.” Lili malah bersyukur mendapatkan Kos seperti ini. Ia tidak membutuhkan kemewahan.


“Makasih, ya, Rak. Gue jani bayar secepatnya.”


“Jangan sungkan, Kak.” Raka menarik koper Lili masuk ke dalam kamar yang dipilihkannya. “Gua tinggal di sini juga dan kamar gue di sebelah kamar lo, Kak. Kalau butuh apa-apa langsung bilang,” ujar Raka.


Lili mengangguk. Ia tidak menyangka pria yang irit bicara itu hangat. Ia mulai masuk ke kamarnya dan menyimpan kopernya.


***

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2