
Lili sama sekali tidak ingin menangis meratapi nasibnya, tetapi ia tetaplah gadis yang akan merasakan sakit luar biasa bila dihadapkan kenyataan bahwa orang tuanya tega menelantarkan dan masih bersikap egois.
Ia menghapus air matanya setelah mengerjakan shalat. Tidak ada tempat ia berpulang untuk memanjakan diri, tidak ada tempat untuk dirinya mengadu selain mengadu kepada yang di atas.
Lili keluar dari kamarnya karena pagi ini ia memutuskan untuk jogging. Ia merasakan udara di sekitar kosnya sangat sejuk.
“Kak Lili!”
Lili menoleh. Alisnya tertaut. Ia kemudian tersenyum menyadari siapa yang memanggilnya. Raka, pria yang tengah mengenakan sepasang baju olahraga.
“Mau lari pagi?” tanya Raka bas-basi. Sejujurnya ia terjaga saat mendengar lantunan suara mengaji Lili saat selesai shalat dan tidak lupa saat malam panjang, ia masih membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, terbangun karena lantunan mengaji Lili,
Gadis itu membuat Raka terbangun dan tersadar jika ia telah lama meninggalkan kewajibannya. Perlahan hati pria itu terenyuh untuk melaksanakan kewajibannya.
“Iya, Raka. Kamu sendiri mau jogging juga?” tanya Lili diangguki Raka.
Lili menoleh seolah ada orang yang sedang memerhatikannya. Ia mencoba mengabaikannya dan menganggap hanya ilusi.
***
“Besok kalau mau lari pagi, jangan lupa saja, Kak Li.” Lili hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya. Pupilnya membesar saat melihat sebuah amplop terjatuh.
“Siapa yang menyimpannya di sini?” Ia kemudian membuka amplop itu. Matanya semakin membulat melihat isinya.
“Uang siapa ini?” Lili cemas luar biasa. Ia takut ada pencuri dan menyimpannya di kamarnya untuk menuduhnya. Namun, ia menemukan surat di dalam amplop.
[Dear Bunga Liliku
Pakailah uang ini untuk memenuhi kebutuhanmu dan membayar sewa kosmu. Bila kamu tidak menyukai tempat itu maka katakan padaku, 08********.]
Lili merasa kepalanya berdenyut sakit. Ia tidak mungkin salah, kan?
__ADS_1
“Siapa yang memberiku uang? Apa Alexa? Hanya dia yang memanggilku bunga Lili?” gumamnya, tetapi ia tahu sahabatnya tidak tahu-menahu soal kehidupannya apalagi masalah yang terjadi padanya saat ini.
Karena merasa bingung dan lapar, akhirnya Lili memutuskan mandi dan membeli sarapan. Ia berjanji akan menggantikan uang pria itu karena ia sendiri tidak mau memberi harapan palsu kepada Raka.
Lili bukan gadis polos yang tidak tahu arti tatapan Raka kepadanya. Ia tahu adik kelasnya itu menaruh hati padanya, tetapi ia juga tidak tega menyakiti hati Raka yang telah menolongnya.
“Ayolah, Lili, sadar. Cinta itu bukan rasa kasihan, tetapi cinta itu adalah rasa yang ada dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.”
***
Lili sudah memberikan uang bayar sewa kosnya kepada Raka untuk satu tahun ke depan. Ia tidak mau terlalu banyak hutang budi kepada Raka. Meski Raka sempat menolak, tetapi Lili tetap memaksanya.
Usai itu, Lili ke toko buku untuk membeli beberapa perlengkapan sekolahnya. Lagi-lagi Lili merasa ada orang yang menguntitnya. Ia mengedarkan pandangannya, tetapi ia tidak menemukan orang itu.
“Arghhhh! Sebenarnya siapa dia?” batin Lili frustrasi.
Bruk! Lili mengelus dahinya dan siap memerahi orang di ditabraknya. Moodnya sedang kacau.
“Gunakan matamu.” Lili hanya mengangguk saat Alex berkata ketus kepadanya dan melayangkan tatapan tajam.
“Kam—“ Dan ucapan Lili terpotong. “Alex, aku sudah—“ Lagi-lagi Lili harus menelan rasa pahit itu sendiri.
Ia berbalik arah meninggalkan dua sejoli yang membuat hatinya mendidih. Ia segera menyelesaikan belanjanya dan saat ia ingin membayarnya, justru Lili malah diberikan uang.
“Maaf, Mbak. Saya belum membayarnya,” ujar Lili menatap penjaga kasir itu bingung.
“Anda sudah dibayarkan dan ini uang kembaliannya.” Lili terpaksa menerimanya karena sudah banyak berdecak kesal antre terlalu lama.
“Hugh, sebenarnya siapa, ih, orang yang repot-repot memberiku uang?” gumam Lili,
***
__ADS_1
Akhirnya hari libur telah habis dan Lili terpaksa harus duduk di bangkunya sendiri karena sahabat tercintanya belum bisa naik sekolah.
Lili tersentak kaget saat Alex menyimpan tasnya di dekatnya. Ia padahal ingin menjaga jarak dengan pria itu karena rasa cemburu di dadanya masih membara.
“Untuk apa kamu duduk di situ. Itu tempat kembaranmu, apa kamu sudah lupa namamu Alex bukan Alexa,” ketus Lili berusaha menyembunyikan rasa senangnya dibalik wajah marahnya.
“Aku tahu.” Alex hanya duduk tenang tanpa peduli jantung gadis di sampingnya sudah berdisko ria.
“Cepatlah ke tempatmu.” Lili mengusirnya meski hatinya sedang tidak rela.
Alex menahan tangan Lili. “Robi izin untuk tiga hari karena ia keluar negeri,” ucap Alex membuat Lili menatapnya polos.
“Apa hubungannya?”
“Kita sama-sama duduk sendiri, jadi gua akan duduk di sini.”
Lili berdecak kesal, “Bangku kita sama-sama kosong, tetapi hati kita tidak sama kosongnya.”
Alex awalnya akan bersiap untuk membuka buku mengurungkan niatnya. Ia malah melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Kepalanya menoleh kepada Lili.
Tatapannya begitu tajam membuat Lili menelan ludahnya sendiri takut. Ia tahu Alex selalu ketus kepadanya, tetapi ia tidak bisa pungkiri jika Alex sangat menyeramkan jika sudah marah.
“Ke—kenapa menatapku seperti itu?” tanya Lili terbata-bata.
“Dengan siapa kamu tinggal?”
Deg.
***
Bersambung ....
__ADS_1