Kutikung Kau Di Sepertigaan Malam

Kutikung Kau Di Sepertigaan Malam
Menunggumu


__ADS_3

Alex bernapas lega karena kegiatan MOS sudah dibuka dan hari in merupakan MOS hari pertama untuk siswa-siswi baru di sekolahnya. Ia berdiri di samping Abian dengan wajah daftarnya.


Alex yang merupakan wakil ketua OSIS sejujurnya banyak mencuri perhatian siswi di sini karena wajah blasterannya, ditambah mata birunya menghipnotis. Sayang, pria itu jarang memberikan senyum kepada siswi yang terang-terang menunjukkan rasa suka kepadanya.


“Selamat datang di sekolah tercinta kita, sekarang kalian harus membentuk kelompok sesuai yang disebutkan panitia dan masing-masing panitia silakan dampingi sesuai kelompok yang sudah diatur,” ucap Abian.


Semua mulai riuh mencari kelompok yang disebutkan panitia. Alex memilih mundur duduk di batas lapangan dan menatap sekeliling sekolah. Hari ini ia tidak melihat Lili, padahal gadis itu selalu datang melihatnya menyiapkan kegiatan di sekolah.


“Apa dia pergi ke rumah,” gumamnya pada diri sendiri. Kemungkinan itu terjadi karena mengingat Lili dan Alexa sangat lengket.


Apalagi Alexa akan menikah, tetapi tidak mungkin juga gadis itu absen untuk melihatnya. Eh! Alex tersentak sendiri karena mulai kesal tidak melihat Lili.


Hingga ia melihat seorang gadis yang mengenakan cardigan hijau bersama pria yang merupakan teman kelasnya sendiri, Veno. Pria itu sudah sering ia lihat begitu mesra kepada Lili.


“Kalau dilihat-lihat, Veno mungkin naksir sama Lili. Sikapnya jadi uwwu begitu belakangan ini. Apalagi di kelas, Veno sering ngajak Lili kerja kelompok dan keluar bareng buat mengejerkannya.”


Alex teringat dengan ucapan teman-temannya. Ia tidak bisa melihat secara langsung karena ia akan terjebak lama di ruang OSIS daripada di kelasnya sendiri. Waktu untuk melihat Lili sangat kurang, apalagi ia begitu punya ego besar.


Ia tidak melepas tatapannya dari Lili. Ingin rasanya dia meninggalkan lapangan dan menarik gadis itu. Namun, yang ia lakukan hanya mengeraskan rahangnya.


***


Lili yang ingin menghampiri Alex mengurungkan niat saat Veno datang dan memintanya untuk menemani ke ruang guru. Mereka sepanjang jalan bercanda karena Veno selalu mengejeknya bermuka asam.


“Veno, ingin ke kantin, lapar!” rengek Lili menarik tangan Veno. “Wajib teraktir!” ucap gadis itu membuat Veno menurutinya karena Lili sudah membantunya tadi.


“Pilih mojok, Li. Bayak siswa baru di sini,” ajak Veno. Ia menarik tangan Lili dan duduk dengan jarak dekat dengan Alex. Lili tidak menyadari Alex di belakangnya, berbeda dengan Veno hanya menatap Alex biasa.


“Bu! Baksonya dua!” teriak Lili. Ia kemudian memainkan gawainya sebelum geng Raka datang.


“Eh, Kak Lili.” 

__ADS_1


“Iya, kalian mau makan juga?” tanya Lili.


“Mau, Kak. Boleh gabung?” tanya Denis semangat saat melihat Lili. Kakak kelas yang ia idolakan sejak gadis itu duduk makan bersama dengannya.


“Iya.” Veno menatap dengan alis terangkat kepada Lili. Lili menggerakkan bibirnya tanpa suara mengatakan bahwa mereka siswa baru. Vwno hanya mengangguk sambil menunggu bakso pesanan mereka.


“Lo duduk di sini saja,” ujar Lili menepuk bangku sebelahnya karena melihat pria yang tidak ia ketahui namanya mencoba duduk berimpitan dengan teman-temannya.


Mata Lili bergulir menatap name tak pria itu. 


Raka Alaskar.


Pria itu yang paling banyak diam dan tidak bertanya banyak hal tentang Lili. Lili terus mencuri pandang ke arahnya apalagi pria itu duduk tepat di sampingnya.


Diimpit dua pria tampan membuat Lili banyak dilirik siswa dan siswi. Termasuk pria yang sedang menatap punggungnya dengan tajam.


“Kalau cemburu hampiri saja.”


Alex mendelik.


“Alex!”


Lili yang mendengar nama Alex disebut menoleh dan membuat matanya bagaikan sceanner yang mencari cepat objek pemilik nama itu. Ia membulatkan mata melihat Alex di belakangnya.


“Gue boleh duduk di sini, gak?” tanya Arlita. Alex mengangguk kaku. Gosip belakangan ini banyak tentang hubungan Arlita dan Alex memiliki hubungan rahasia.


“Ish!” Lili mulai kesal dan berbalik badan. Ia menggigit baksonya dengan perasaan kesal. 


Arlita primadona sekolah yang merupakan sekretaris OSIS yang menarik juga. Apalagi gadis itu begitu baik dan ramah. Kalem dan tidak sama sepertinya yang terlalu agresif. 


Dan, paling penting berprestasi. Namanya sering disebut di podium saat upacara karena berhasil mewakili sekolah sebagai juara satu, sementara dia? Dia sama sekali tidak pernah mewakili sekolahnya.

__ADS_1


Di kelas pun ia malas berpikir dan lebih suka menyalin semua jawaban temannya. Uhg, tentu saja ia kalah akan hal itu dibandingkan dengan Arlita.


***


Veno sudah pulang membuat Lili sendiri duduk menunggu Alex. Ia sudah bersiap bila pria itu menolak untuk pulang bersama.


Ia segera bangun dari duduknya melihat banyak sisa-siswi mengenakan trening sedang berhambur menuju parkiran. Ia memasang senyumnya saat melihat Alex.


“Lex, gue nebeng pulang, dong.” Ia sudah bersiap merengek, tetapi ia tidak menyangka Alex mau.


“Iya.” Walau hanya tiga kata, tetapi mampu membuat Lili merasa semangat. 


“Alex, gue bisa pulang bareng lo, gak? Sekalian nanti mampir di rumah Bu Dera.” Arlita muncul bagai bisul bagi Lili karena gadis itu merasa sakit hati sekarang.


“Anak-anak juga pada gak bisa karena masih sibuk. Boleh, ya, lo antaerin gue. Cuma nganter sampai di sana,” pinta Arlita dengan memasang mata memohon.


“Huwek!” Lili muntah dalam hari melihat gadis itu bersikap imut di depan Alex.


“Gue diberikan tanggung jawab ini. Gue mohon, Lex.”


Alex mengangguk membuat Lili merasa kecewa.


“Lo tunggu di sini.”


Lili mengangguk.


Ia menahan perasaan kecewa yang sedang ia telan. Ia kira Alex akan memberi saran kepada Arlita untuk naik ojek atau taksi untuk ke sana. Namun, justru malah mengambil pilihan yang melukai hatinya.


Ia kembali duduk dan melihat sekolah mulai gelap karena hari semakin sore. Ia menunggu Alex begitu lama sampai rasanya ia mulai takut sendiri di sana.


Ia bisa saja tadi memesan ojek atau taksi, tetapi ini pertama kali dalam hidupnya Alex mau pulang dengannya tanpa paksaan. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

__ADS_1


***


Bersambung ....


__ADS_2