
Lili menatap jam di gawainya. Adzan magrib mulai menggema. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari sekolah dengan hati yang luar biasa remuk.
Mata beningnya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tidak mau menangis. Di sekitar sekolahnya juga tampak sepi. Tidak ada lagi ojek yang mangkal karena hanya di jam pulang sekolah mereka datang.
Ia hendak menelepon taksi, tetapi seorang pria dengan motornya berhenti di depan Lili. Gadis itu menyerit dan bertanya dalam hati tentang wajah di balik helm hitam itu.
“Lo mau pulang?” Lili mengangguk spontan.
“Bareng kalau begitu.” Lagi-lagi Lili hanya mengangguk. Namun, Lili tahu dari pakaian yang pria itu kenakan dengan celana training pasti siswa baru di sekolahnya.
Namun, ia merasa tidak asing dengan pakaian pria itu. Ah! Ia teringat Raka Alaskar!
Lili segera memakai helmnya dan naik ke atas motor raksasa Raka. Pria itu sedikit menoleh ke arahnya. “Pegangan.”
Tangan Lili terulur ragu sebelum memegang jaket kulit Raka.
***
“Sorry banget, ya, Lex. Gue enggak tahu, Bu Dera bakal nyuruh kita buat beli perlengkapan besok. Padahal gue sama Fera sudah sepakat beli bersama.” Arlita menatap bersalah Alex.
Pemuda itu hanya mengangguk. Ia tampak khawatir ketika memandang jam tangannya. Ia pamit tanpa menerima ajakan Arlita untuk mampir.
“Alex, mampir dulu—“ Arlita menatap Alex yang pergi tanpa mengidahkan tawarannya. Ia menghela napas, padahal gosip yang mulai hangat-hangatnya membuat ia sedikit memupuk harapan pada pria itu peka terhadap perasaannya.
***
Alex menatap sekolahnya yang sudah gelap-gulita. Ia tidak menemukan Lili. Bodoh! Ia mengumpati dirinya sendiri yang bisa-bisanya hanyut dengan obrolan selama membeli peralatan bersama Arlita, hingga ia melupakan Lili yang menunggunya di sekolah.
Alex merogoh ponselnya dan mencari kontak Lili. Kontak yang berada di grup kelasnya masih tertera deretan angka tanpa nama.
Ia tidak menyimpannya.
Perlahan ia menekan beberapa keybord hpnya untuk menyimpan nomor Lili.
__ADS_1
“Si Bodoh”
Ia menamainya si Bodoh, meski ia sekarang merasa paling bodoh meninggalkan Lili terlalu lama di sini. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Ah ... sudahlah.
Hampir saja ia menekan tombol untuk menelepon Lili, tetapi egonya jauh lebih menekannya untuk tidak menelepon.
Bisa saja dia pergi lebih awal dan tidak menunggunya, sisi jahatnya mulai berbisik. Alex membenarkan itu.
***
Alex pulang ke rumahnya dengan wajah tampak lesu. Ia disambut dengan perdebatan antara kembarannya dan juga Sie kecil.
“Tono! Kamu pulang tanpa mengucapkan salam!” tegur Sie berkacak pinggang.
“Assalamualaikum,” ucap Alex.
“Wa’alaikumsalam. Kenapa wajahmu sangat suntuk sekali?” Pertanyaan Sie mewakili pertanyaan Maya yang sedang ingin ia lontarkan.
“Aku capek, Sie.”
Alex melempar senyum terima kasih kepada mommynya dan berjalan ke kamarnya. Ia segera mandi dan berbaring di kasur.
Tatapannya mengarah pada langit-langit kamarnya. Pikirannya tidak bisa sinkron.
“Hufhhh ....”
***
Kedatangan Lili di rumah keluarga Sammuel membuat heboh, pasalnya gadis itu berantem dengan Sie ditambah Alexa yang berada dipihaknya.
“Li, gue hampir kawin dan lo baru menampakkan batang hidung lo. Padahal di rumah lagi butuh pelayan.” Lili langsung cemberut mendengar ucapan Alexa.
“Nikah, Xa,” ralat Lili. “Lagian gue itu sibuk mantau calon imam gue di sekolah.” Lili melempar tissu ke arah Alexa.
__ADS_1
“Terus lo ke sini tumbenan.”
“Gue hampir sekarat jadi butuh energi mengisi hati gue buat bertahan mencinta kembaran lo itu,” ucap Lili menggebu.
Ia mulai menceritakan tentang Arlita yang sedang hangatnya digosipkan berpacaran dengan Alex. Selama akun IG ******* Gosip yang entah siapa membuatnya belum memberikan informasi, maka Lili percaya itu hanya gosip belaka.
“Kalau lo tahu Alex lagi didekatin, kenapa lo justru ke sini. Lo itu menjauh?” Alexa memicingkan mata. Ia mengenal Lili sudah lama dan gadis itu tidak pernah mau berjauhan dengan Alex.
Lili diam saja.
“Wahai bunga Liliku tersayang. Lo kenapa?” tanya Alexa.
Wajah Lili berubah kesal. “Gue itu namanya saja yang bunga Lili, tapi gara-gara mencintai kembaran lo itu gue hampir jadi bunga bangkai.”
Alexa terbahak mendengar gerutuan sahabatnya. Sahabat memang paling depan menertawakan dan paling belakang care. Terbukti! Lili merasa sahabatnya lebih banyak tertawa daripada membantunya sekarang.
***
Lili segera pamit saat melihat jam hampir menunjukkan Alex pulang. Ia memang tengah menghindari pria itu. Ia tidak mau bertemu dengan Alex dalam jangka pendek ini.
Lili segera pulang ke rumahnya. Ia hanya mandi dan ganti baju lalu keluar kembali. Menemui seseorang yang mengirim pesan kepadanya. Pesan yang ia nantikan sudah setahun ini lenyap begitu saja.
Lili memasang wajah datarnya saat luka lamanya akan terbuka. Ia sudah menguatkan hati agar tidak menangis di sana dan bersikap biasa.
Sesampainya di sana mata Lili melemah menyaksikan pemandangan yang meremas jantungnya kuat. Ia melihat pria itu tengah memeluk seorang wanita dengan tatapan begitu lembut.
Pemandangan itu membunuh jiwa Lili sampai tulang-tulangnya terasa seperti jelly.
“Tidak mungkin ....”
***
Bersambung ....
__ADS_1
Tersedia di KBM apk dan Mangatoon apk dengan judul yang sama.