
Seperti biasa, tiap malam minggu Nadia dan ibunya pergi berdua untuk sekedar makan malam di luar. Semenjak ayah Nadia meninggal ia memang hanya tinggal dengan ibunya. Ia memiliki dua kakak laki laki yang kini tinggal di Jakarta mengikuti istri istri mereka. Sebenarnya daridulu hubungan Nadia dengan ibunya tidak pernah baik. Namun semenjak ayahnya tiada, seakan Nadia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga ibunya sepenuh hati. Bahkan Nadia rela untuk melepas kebahagiaan dirinya demi melihat sang ibu bahagia. Ini pula yang pada akhirnya membuat Nadia sampai detik ini belum juga menikah. Ibunya memasang kriteria tinggi untuk calon yang akan meminang Nadia. Ibu Nadia ingin sekali Nadia memiliki suami seorang TNI. Sampai suatu ketika Nadia pernah dijodoh jodohkan dengan anak teman ibu Nadia yang menjadi TNI di daerah rumah Nadia. Baru sebulan kenalan, sang TNI memperlihatkan watak aslinya yang sering kumpul dengan temannya dan mabuk bersama. Semenjak saat itu Nadia menghilang dari circle sang TNI. Ibu Nadia marah pada Nadia hingga mendiamkannya berhari- hari. Bahkan sempat ada pertengkaran hebat diantara mereka. Namun pada akhirnya Nadia lagi lagi yang mengalah. Ia memilih untuk memendam sakit hatinya.
Sampai pada saat ia memutuskan untuk menerima cinta Bian. Bian adalah aktifis di Lembaga sosial Masyarakat untuk urusan bantuan hukum. Sebagai salah satu orang lulusan hukum, ia memiliki kecakapan berinteraksi terhadap banyak orang. Wawasannya pun luas dan setiap yang mengobrol dengannya selalu tertarik padanya.
Akhirnya Nadia memberanikan diri untuk bercerita pada ibunya bahwa ia sedang dekat dengan seseorang lelaki yang saat ini mengisi hatinya.
"Bun, aku mau cerita,"ujar Nadia mencoba santai. Pandangan Ibu Nadia beralih ke Nadia."Aku lagi dekat sama lelaki."
"Siapa ?"tanya ibu Nadia terdengar girang. Nampaknya ibu Nadia bahagia akhirnya anaknya menemukan tambatan hatinya yang baru.
"Namanya Bian. Dia orang Magelang juga,bun."cerita Nadia ikut girang melihat tanggapan ibu Nadia senang.
"Di satuan mana ?"tanya ibu Nadia. Seketika Nadia malas menjawab. Kembali lagi ibu Nadia mematahkan semangat Nadia. Lagi lagi ibu hanya berharap jika Nadia harus mendapatkan seorang TNI. Nadia sendiri memiliki slogan yang hijau yang menyakitkan, walaupun tidak semuanya. Namun apesnya yang dikenal Nadia memang banyak yang seperti itu.
"Orang biasa. Tidak berseragam. Dia bekerja di sebuah lembaga hukum."jawab Nadia datar sambil mengunyah makanannya dengan kasar.
"Kalau cari jodoh itu yang bisa untuk masa depan. Yang kerjaannya sudah mapan."ujar ibu Nadia menanggapi.
Nadia menghentikan obrolan dengan ibunya. Ia tahu betul jika diteruskan yang terjadi adalah pertengkaran.
"Kemarin ada yang nyari kamu ke rumah,"ujar ibu tiba tiba.
"Siapa ?"
"Satria."
"Hahhh. Ngapain ?"Nadia terkejut bukan main. Setelah ia memblokir akses dengan mas Satria dan fokus ke Bian, justru Satria datang ke rumahnya. Nadia sedikit kagum karena keberanian mas Satria datang ke rumah. Harus ia akui bahwa Bian tak seberani mas Satria. Waktu itu Nadia pernah mengajak Bian datang ke rumah. Namun karena Bian selalu mendengar cerita dari Nadia bahwa ibu Nadia sering tak sefrekuensi dengan Nadia, Bian mengurungkan niatnya untuk menyanggupi permintaan kekasihnya itu.
Nadia langsung mengambil hape dari tas selempang kecilnya. Ia langsung membuka whatsapp dan membuka blokir mas Satria. Saking penasarannya dengan maksud mas Satria, ia langsung wa mas Satria saat itu juga.
Ngapain kemarin ke rumah ..
5 menit kemudian mas Satria membalas whatsapp Nadia.
Akhirnya dibuka juga blokirannya. Kamu baik baik aja kan ?
Nadia sedikit jengkel. Pertanyaannya tak terjawab. Ia pun membalas lagi wa mas Satria dengan menggunakan huruf besar semua.
NGAPAIN LOE KE RUMAH GUE !!!!
Setengah jam berlalu. Mas Satria tidak membalas pesan dari Nadia. Nadia justru menjadi kepikiran karena merasa sesuatu yang salah telah ia lakukan. Karena sudah larut akhirnya Nadiapun mengajak ibunya pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak biasanya Bian menghilang tanpa kabar seharian seperti ini. Namun tiba-tiba hape Nadia berdering nyaring menandakan ada panggilan masuk. Tanpa melihat layar Nadia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Kamu kemana aja. Kok baru telpon ?"tanya Nadia dengan orang di sebrang.
"Oh, jadi kamu nunggu aku. Ya ampun jadi malu."ujar seseorang di sebrang sana. Nadia pun menjauhkan layar hapenya. Ia sadar bahwa yang telpon bukanlah kekasihnya, tapi mas Satria
__ADS_1
"Hish.... ngapain sih telpon malam malam ?" geram Nadia pada mas Satria.
"Hahaha.. Lucu kamu. Tadi seperti orang khawatir, sekarang marah - marah. Oke aku paham, kalau orang kangen emang bawaannya marah marah ya ?"ledek mas Satria dengan nada girang.
"Please deh, ga usah GR. Ngapain ?"tanya Nadia malas
"Nggak GR, cuma berharap besar. "ujar mas Satria menggoda.
"Ngapain ?"tanya Nadia lagi dengan nada meninggi. Seketika mas Satria menjauhkan layarnya dari telinganya setelah mendengar nada tinggi Nadia yang mengganggu telinganya
"Malam mingguan sama kamu dong,"jawab mas Satria santai.
"Bukan itu. Tapi yang "ngapain datang ke rumah?"Nadia mempertegas pertanyaannya dengan sebal.
"Oh, ga sengaja nyasar sampai rumahmu aja sih."
"Basi deh. "
"Diangetin dong biar ngga basi" canda mas Satria.
"Serius mas Satria. Ngapain datang ke rumah ?"tanya Nadia lagi menahan emosi. Namun kali ini dengan nada pasrah.
"Datang aja ke rumahmu. Mau ketemu ibumu. Cari tahu kabarmu. Sudah dua minggu kamu menghilang. Di wa ga bisa, inbok lewat facebook ngga bisa, di telpon biasa juga ngga bisa. Jalan ninjaku satu satunya ya datang ke rumahmu."ujar mas Satria menjelaskan.
"Lantas ?"
"Alhamdulillah dengan cara itu kamu bisa menghubungi aku lagi."girang mas Satria.
______
Hari ini Nadia harus datang ke acara pernikahan teman kerjanya yang bernama Friska.Ia mengajak salah satu sahabatnya yang bernama Tasya menemaninya kondangan. Friska menghambur ke pelukan Nadia ketika tahu Nadia datang.
"Kok siangan mba, ngga daritadi ?"tanya Friska agak kecewa.
"Iya. tadi kerjaan di sekolah lumayan banyak. Maaf." sesal Nadia," by the way selamat yaaa, akhirnya menikah."
"Hehe. Iya mba, terima kasih. Mba Nadia segera nyusul ya !"perintah Friska.
"Doain, Frisk".jawab Nadia penuh harap.
" Nggak cuma doain. Aku ada sesuatu buat mba"ujar Friska membuat Nadia penasaran. Friska menarik pelan tangan Nadia untuk duduk di dalam rumah Friska. Beberap keluarga Friska nampak mempersilakan Nadia dan Tasya dengan sangat ramah. Sedang Friska masuk ke dalam kamar sekitar tiga menitan dan datang membawa sesuatu.
"Ini untuk mba Nadia"ujar Friska sembari menyodorkan buket bunga mawar putih cantik.
"Ya Allah cantik banget bunganya. Kenapa dikasih ke aku, Frisk ?"tanya Nadia
"Harapanku nih mba, biar mba Nadia segera dapat jodoh"jawab Friska penuh dengan kehangatan.
__ADS_1
Mereka pun berpelukan. Di sisi lain, Nadia mengaminkan doa Friska untuknya agar segera menikah. Entah dengan siapa, namun Nadia yakin cepat atau lambat semua akan terwujud.
Seusai kondangan, Nadia dan Tasya memutuskan untuk pergi ke cafe dekat kota. Nuansa cafenya untuk ukuran cafe di Magelang terbilang bagus, walaupun Nadia tahu cafe di Magelang berbeda dengan cafe yang ada di Jogja dari segi harga. Di Jogja banyak sekali cafe keren yang memasang harga wajar. Beda dengan Magelang yang mematok harga tinggi.
Di pertengahan Nadia dan Tasya makan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 Adzan magrib berkumandang. Tampak dari raut wajah Tasya sedikit gusar.
"Nad, nanti aku pulangnya gimana ?"tanya Tasya tiba tiba.
"Aku antar sampai rumah, dong!"jawab Nadia santai.
"Jangan, Nad. Bahaya."ujar Tasya ketakutan.
"Why ?"
"Akhir akhir ini banyak rampok di daerahku. You know kan, daerah rumahku masih banyak hutan hutan."Tasya begidik ngeri. Melihat Tasya yang ketakutan, Nadia pun ciut nyalinya. Tiba tiba hapenya berdering. Ia terlonjak kaget.
"Apaan sih nih telpon" ujar Nadia berbicara sendiri.
"Halo, lagi apa ? "tanya orang di seberang.
"Ngapain telpon ?" Nadia tidak menjawab pertanyaan orang di sebrang
"Kangen"jawab mas Satria santai. Seketika Nadia berubah menjadi ilfil. Entah mengapa daridulu jika ada yang tertarik padanya justru Nadia langsung menghindar. Mungkin karena dia sudah terbiasa mencintai bukan dicintai. Jadi ketika ada orang yang terang terangan menggodanya, dirinya seakan merasa jijik. Namun tiba tiba ia mempunyai ide untuk memberi pelajaran pada mas Satria yang akhir akhir ini mengganggu hidupnya.
"Buktiin kalau kangen !"tantang Nadia
"Are you serious, babe ?"tanya mas satria senang dan terkejut.
"Yaaaa...."
"Minta bukti apa ?"
"Detik ini juga datang ke Magelang !"
"Serius ? Berarti kita bisa bertemu langsung dong"
"Yaa.... aku tunggu 2 jam lagi harus sudah di hadapanku. Setelah ini aku share location"
"Hah ? Ini kamu beneran serius ?"
"Kalau ngga yakin ngga usah datang. Dua jam ngga sampai lokasi yang aku tentukan, kamu ngga boleh hubungi aku lagi !"tegas Nadia menantang keberanian mas Satria.
Satu setengah jam berlalu. Kini sudah pukul 19.40 artinya 15 menit lagi mas satria tidak ada di hadapan Nadia, dia akan benar benar kehilangan kesempqtan untuk dekat dengan Nadia. Tiba tiba seorang pelayan cafe mengahmpiri meja Nadia.
"Permisi kak, bolehkah ke meja kasir sebentar. Ada kesalahan pembayaran ?"ujar si mbak kasir.
"Oh, oke."Nadia mengikuti mbak kasir. Ia berjalan membuntuti sambil sesekali melihat layar hapenya untuk melihat jam. Sesampainya di meja kasir ia dikejutkan dengan sosok mas Satria yang sudah berdiri di depan meja kasir. Mas Satria seakan mengisyaratkan ucapan terima kasih dengan menganggukan kepala dan tersenyum pada pelayan itu. Setelah itu pandangannya beralih ke Nadia yang memasang wajah terkejut melihat mas Satria di hadapannya tepat jam 19.55.
__ADS_1