
Semenjak hubungannya dengan Bian semakin intens, Nadia tidak terlalu menanggapi kehadiran mas Satria. Tak jarang mas Satria di maki maki Nadia ketika mas Satria terus saja menghubungi Nadia untuk mengetahui kabarnya. Sampai pada saat mas Satria datang ke rumah Nadia, ia selalu memasang muka masam tanda ia tak suka mas Satria datang ke rumahnya. Namun tidak dengan malam ini ketika mas Satria datang dan ia meminta untuk bertemu dengan ibu Nadia.
"Ibu, kedatangan saya malam ini bermaksud untuk meminta izin ibu untuk melamar Nadia..."ujar mas Satria di depan Nadia yang didampingi ibunya.
"Kalau mas Satria dan anak ibu sudah yakin, ibu menerimanya dengan senang hati,"jawaban ibu Nadia membuat Nadia seakan akan langsung melotot ke arah ibunya. Tanpa bertanya padanya, ibunya menerima lamaran mas Satria. Namun entah mengapa saat itu Nadia tak bisa berkata apa apa. Mungkinkah karena ibunya sudah mengiyakan, karena pada dasarnya ia hanya mengharap kesediaan hati ibunya dengan senag hati saat ia akan menikah.
Wajah mas Satria berbinar binar. Hal itu kontras dengan Nadia. Nadia hanya menunduk lemah. Sesekali wajahnya didongakkan ketika mas Satria menyebut namanya ketika ngobrol dengan ibu. Lalu mas Satria meminta izin untuk membawa Nadia ke rumah mas Satria.
Minggu pagi mas Satria sudah sampai di depan rumah Nadia. Seperti janjinya, ia akan mengajak Nadia u tuk ke rumahnya bertemu dengan keluarga mas Satria. Perjalanan menuju rumah mas Satria memakan waktu dua setengah jam. Maklum, jalanan Magelang Jogja akan padat ketika hari libur.
Sesampainya di rumah mas Satria, Nadia disambut oleh kakak perempuan mas Satria. Ia mengenalkan dirinya.
"Oh ini yang bikin adikku jadi rajin sholat ?"ujar perempuan di depan Nadia."Saya Sekar, kakaknya Satria."
Nadia sedikit malu dan canggung ketika mendengar ujaran dari mbak Sekar tentang Nadia. Sebenarnya selama kenal dengan mas Satria, Nadia tidak pernah mengajarkan ataupun mengajak mas satria sholat. Ia hanya bilang bahwa ia suka dengan lelaki yang bisa menjadi imam untuk keluarga kecilnya kelak. Tidak perlu yang paham betul dengan agama, namun yang pasti lelaki yang bisa menjaga sholatnya. Mas Satria pun waktu itu hanya menjawab bahwa ia selama ini sedang belajar untuk tekun ibadah. Nadia pun menganngap bahwa mas Satria memang sudah mulai belajar mendekatkan pada Allah sebelum mengenal Nadia.
__ADS_1
Mbak Sekar mempersilakan Nadia untuk duduk di ruang tamu ditemani mas Satria. Lalu mbak Sekar masuk ke dalam rumahnya dan kembali ke ruang tamu bersama satu pembantu rumahnya, membawa jamuan berisi sejumlah minuman dan beberapa cemilan dalam toples.
"Dimakan, dek."kata mbak Sekar menawarkan.
"Iya, mbak. Terima kasih,"jawab Nadia sungkan.
Tiba tiba sepasang suami istri yang sudah paruh baya datang. Wajahnya langsung sumringah ketika melihat Nadia.
"Alhamdulillah, jadi beneran ini mau mantu"kata lelaki paruh baya yang ternyata adalah ayah mas Satria.
"Hush, bapak. Pamali. Wong mbaknya aja belum ditanyain kok" si ibu mengingatkan.
Sedangkan wajah mas Satria nampak sedikit tegang. Ia takut jika pada akhirnya Nadia mengatakan bahwa ia tidak mencintai dirinya. Sebenarnya Satria pun juga sudah paham dengan hati Nadia yang berat pada kekasihnya. Namun entah mengapa Satria tidak ingin berhenti berusaha mendapatkan hati Nadia. Padahal sebelum bertemu dengan Nadia, ayah dan ibunya juga sudah menyodorkan beberapa calon untuk mas Satria. Sedang sikap mas Satria justru acuh terhadap calon yang di sodorkan oleh orang tuanya.
Suasanya perlahan mencair ketika mba Sukma ikut nimbrung dengan obrolan keluarga mas Satria. Dan pada akhirnya ketika ibu mas Satria masuk ke kamar dan kembali keluar dengan membawa sebuah kotak kecil.
__ADS_1
"Bapak, ayo lamarkan mba Nadia untuk mas Satria."ujar ibu mas Satria mempersilakan suaminya.
Si bapak langsung buru buru mempersiapkan diri untuk bicara pada Nadia.
"Mba Nadia, bapak mau tanya untuk pertama dan terakhir kalinya. Apakah mba Nadia bersedia menjadi calon istri anak bapak yang bernama Satria Wiguna Mughar ?
Jantung Nadia seakan berdetak lebih cepat. Dia tidak menyiapkan jawaban dan dia adalah type orang yang tidak akan mengecewakan orang lain jika orang lain itu memperlakukannya dengan baik. Dengan tidak melihat keberadaan mas Satria dan tak punya pilihan lain untuk menerima, akhirnya ia pun mengiyakan lamaran dari ayah mas Satria.
Satu langkah terpenuhi. Setelah obrolan mereka mengenai rencana pernikahan, akhirnya didapqtkan harinya. Seminggu kemudian, seluruh keluarga besar mas Satria akan menyambangi rumah Nadia untuk secara resmi melamar dan mengadakan tunangan. Hati mas Satria seketika lega dan berbunga bunga. Akhirnya perjuangan mendapatkan hati Nadia kini terbayarkan dengan Nadia yang menerimanya menjadi suaminya. Namun di sisi lain, ia juga merqsa bingung dengan jalan pikiran Nadia. Selama ini Nadia selalu menolaknya, namun ketika ia melamarnya justru Nadia tidak menolaknya. Pikiran itu tiba tiba buyar ketika mba Sekar mengagetkan mas Satriq dan mengingatkan untuk mengajak Nadia makan.
......................
"Apa yang harus kukatakan pada Bian ? Kemarin aku sudah berjqnji padanya untuk tidak berhubungan dengan Satria. Namun bagaiaman jadinya jika ia tahu bahwa minggu depan aku akan bertunangan dengan Satria ? Padahal yang ia tahu bahwa aku memang tak menanggapi Satria. Apa yang akan Bian fikirkqn tentangku jika aku mengkhianatinya ?" Nadia kebingungan dalam hati.
Ia tak punya tempat untuk berbagi cerita. Pada ibunya ? Sudah jelas bahwa ibu Nadiq sudah menerima lamaran Satria. Jika Nadia mengatakan jika ingin membatalkan pertunangannya dengan mas Satria, hal itu pasti akan menyulut adu mulut dengan orang tua satu satunya. Nadia pun juga tak menginginkan hal itu terhadi. Dia sangat sayang ibunya. Namun di sisi lain, dia juga mencintai Bian. Dia ingin Bian yang menjadi suaminya. Mereka sudah mempunyai banyak rencana yang harus segera terealisasi. Semua itu hanya akan menjadi angin lalu jika pertunangan ini terjadi. Sungguh Nadia sudah menemukan jiwa nya sefrekuensi dengan Bian. Namun entah mengapa Allah denga tega mematahkan niat mereka. Allah begitu tegasnya memperjelas hubungan Nadia dan Bian yang tak bisa sejalan.
__ADS_1
Tiba tiba beberapa bulir air mata Nadia jatuh perlahan hingga akhirnya deras. Namun ia buru buru menghapusnya ketika nada panggilan masuk berdering dari telpon genggamnya.
Nampak nama Bian di layar hapenya. Dia menghela napas panjang ketika hendak mengangkat telepon dari Bian. Seakan ia tahu Bian akan marah dengan apa yang akan Nadia beritakan, ia mempersiapkan dirinya untuk kuat. Sungguh ia tak ingin berpisah dengan Bian. Namun ia berusaha mencobanya sekarang.