Lagu Untuk Kamu

Lagu Untuk Kamu
Mungkin Hari Ini Esok Atau Nanti


__ADS_3

Dengan hati hati Nadia menjawab telpon dari Bian. Ia mengatakan bahwa Sabtu pekan depan ia akan pulang ke Jakarta, namun akan ia sempatkan untuk mampir ke Magelang.


"Are you happy, honey ?" tanya Bian penuh dengan semangat.


Mendengar Sabtu pekan depan, suara Nadia tercekik kenyataan. Bahwa itu artinya kepulangan Bian adalah bersamaan dengan pertunangannya dengan Satria.


"Hah.. Kenapa pulang ?"Nadia menjawab dengan ketidaksadaran.


Bian terkejut dengan jawaban kekasihnya. Tak biasanya Nadia tidak semangat ketika mendengar kekasihnya pulang. Namun Bian belum mengerti apa yang terjadi pada kekasihnya.


"Aku kangen kamu dong, makanya aku pulang. Kamu ngga happy ?"


"Bi, jangan pulang."Nadia tidak menjawab pertanyaan Bian.


"Kamu kenapa sih. Aneh." Bian terdengar kesal dengan jawaban Nadia.


"Maaf ya, Bi. Sabtu pekan depan aku ngga bisa ketemu sama kamu."ujar Nadia akhirnya


"Ada kerjaan di sekolah ? Lembur lagi ? Atau apa ?"


"Bi, aku minta maaf."lagi lagi Nadia tidak menjawab pertanyaan Nadia, membuat Bian semakin geram dibuatnya. Namun ia tak pernah sampai hati untuk marah dengan kekasihnya.


"Aku ngga tau ada apa dengan kamu kalau kamu pun hanya bisa minta maaf tapi ngga ngasih tau alasan kamu minta maaf. Untuk kali ini aku ngga kasih kamu maaf karena keambiguanamu itu. Namun aku bisa kasih maaf kalau kamu ngomong ada apaaaaaaaa,"Bian gemas


Tiba tiba saja Nadia menangis pelan, namun Bian masih bisa mendengar rintihan Nadia


"Astaga naga Nadia Danela, whats wrong with you ?"tanya Bian pasrah dengan tingkah kekasihnya yang semakin kesini semakin tidak jelas.


"Bi, setelah ini kamu boleh benci aku. Aku ikhlas."ucap Nadia kali ini suaranya agak sengau pasca tangisnya reda.

__ADS_1


"Sabtu pekan depan aku tunangan, Bi"akhirnya Nadia mengatakan kenyataan itu pada Bian.


Suara hening. Hanya terdengar nafas dari keduanya. Setelah itu belum ada yang berani memulai kembali pembicaraan. Sampai beberapa menit kemudian nafas Bian terdengar mendengus panjang.


"Katanya sudah tidak dekat, kenapa besok justru tunangan. Nggak masuk di akalku, Nad." suara Bian menahan amarah dan tangis yang rawan pecah.


Nadia sendiri masih merangkai kata kata yang tepat untuk ia sampaikan ke Bian.


"Dan kenapa bisa sekebetulan itu ya, Nad. Kenapa pertunanganmu itu waktunya sama saat aku juga akan pulang. Aku menaruh harapan besar ke kamu. Berencana banyak melakukan berbagai hal baru dengan kamu. Apakah aku harus menundanya atau meniadakannya ?" Bian seakan sudah kehilangan arah. Ia tak tahu harus berjalan ke arah mana, namun yang pasti ia sedang berada dalam kebingungan yang bundar.


Tangis Nadia sudah dulu pecah. Mendengar Bian sakit hati membuatnya lebih sakit. Seakan hatinya tertusuk banyak senjata. Dan senjata itulah yang nyatanya membuat Nadia menjadi jahat pada Bian. Entah sengaja ataupun tidak, namun hidup yang dipilih oleh Nadia menjadikan manusia baik seperti Bian tersakiti.


"Aku minta maaf, Bi. Semuanya begitu cepat dan mudah. Dan akupun tidak bisa merubahnya."


"Kenapa tidak bisa merubahnya ? Kenapa semuanya cepat dan mudah ? Apakah kamu hamil dengannya ? Kamu juga tidur dengan lelaki itu ?"teriak Bian dengan kasar. Air matanya juga tergenang bersama dengan emosinya yang meledak. Hingga ia tak bisa mengontrol emosinya.


"kamu boleh berpikir apa saja tentangku, Bi. Barangkali itu membuatmu lega dan memaafkanku."


Nadia buru buru mematikan telponnya. Ia menenggelamkan wajahnya di balik bantalnya. Lalu menangis sejadi jadinya.


Keeseokan harinya saat di tempat kerja, ia mulai mengemasi barang barang yang berkaitan dengan Bian. Entah itu foto, atau topi yang Bian berikan pada Nadia. Tasya yang satu meja dengannya terheran dengan sikap Nadia.


"mau pindah Kalimantan apa Jogja miss Nadia ?"goda Tasya


Nadia beralih ke hadapan Tasya. Ia memperlihatkan matanya yang sembap akibat menangis semalaman.


"Kok nangis ?"tanya Tasya dengan nada sedikit menggoda. Bian, ya ?"


Nadia mengangguk. Dengan mimik yang innocence dan meminta pembelaan bahwa apa yang ia lakukan ke Bian adalah sebuah kesalahpahaman yang ia pun juga tidak tahu harus berbuat bagaimana.

__ADS_1


"Butuh cafe buat ngobrol ?"Tasya mencoba menghibur Nadia.


Nadia lagi lagi hanya mengangguk.


"Nanti ya, kalau udah pulang kerja. Sekarang cari duit dulu buat ke cafe..."goda Tasya disambut toyoran Nadia ke kepala Tasya. Ia pun sibuk kembali membereskan barang barang dan memulai untuk bekerja.


...----------------...


Satu hari ini menjadi hari yang sangat berat untuk Nadia. Tidak ada kabar dari Bian. Di ujung sana juga terjadi hal yang sama dengan Bian. Ia menyibukkan diri dengan bekerja. Namun hatinya terlalu hancur untuk menghadapi kenyataan hidupnya. Mengetahui Nadia akan bertunangan dengan lelaki lain membuatnya merasa rendah di hadapan Nadia. Bahwa ia tak seberuntung dua kakaknya yang sudah menikah, memiliki pekerjaan mapan dan memiliki keluarga yang harmonis. Sedangkan ia, serasa hidup sebatang kara menghidupi dirinya sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal.


Seusai kerja ia pergi ke kolam renang apartemen yang difasilitasi oleh bos yang juga teman dekatnya saat kuliah. Ia menenggelamkan diri sangat lama. Hingga salah satu teman kantor yang tinggal satu apartemen dengannya pun panik melihatnya mengambang dan berteriak minta tolong untuk menarik badan Bian ke tepi kolam.


Dada Bian ditekan tekan oleh salah satu dari mereka agar air yang tertelan pada tubuh Bian bisa keluar. Beberapa detik kemudian Bian terbatuk batuk sembari mengeluarkan sedikit air dari mulutnya.


"Akhirnya sadar juga. Kenapa sih,lo ?"tanya salah satu teman se apartemennya.


Sebelum Bian menjawab seorang cewek bertubuh ramping dan tinggi itu lari ke arah Bian dengan wajah cemas. Dia adalah Ditta.


"Lo kenapa, Bi ?"tanya Ditta dengan memasang wajah cemas. Beberapa kali tangannya mengelap rambut dqn pelipis Bian yang basah.


Sedang Bian yang ditanya hanya diam tak menanggapi. Ia pun dipapah oleh beberapa orang temannya untuk masuk ke dalam. Ditta tak lupa mengintilinya dari belakang dengan sigap.


Di belahan bumi lainnya, Nadia memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia mengendarai motor maticnya yang selalu ia bawa kemana mana. Pikiran dan hatinya sedang kacau balau memikirkan Bian. Namun ia juga gengsi untuk mencari tahu keadaan Bian sekarang. Keadaan sungguh sedang tidak berpihak padanya. Padahal Bian selalu bilang padanya, bahwa semesta selalu mendukung hubungan mereka. Terbukti ketika mereka akan melakukan berbagai kegiatan bersama, semesta selalu memudahkan untuk keduanya. Namun, tidak dengan sekarang.


Sepanjang perjalanan Nadia hanya mengikuti kemana takdir akan membawanya. Sampai pada terminal Jombor ia menghentikan motornya. Ia tak sadar jika ia sudah jauh mengendarai terminal Jombor Yogyakarta. Tiba tiba hujan sangat deras mengguyur kota Yogya siang itu. Nadia memutuskan untuk menepikan motornya di bawah terminal jombor. Ia duduk di tempat duduk dari semen. Ia beranjak dari duduknya dan mulai membasahi badannya dengan air hujan. Barangkali menenagkan.Ah, hatinya perih lagi jika mengingat Bian. Seketika air matanya tumpah ruah dengan riuhnya jalanan kota Yogya dan gemericik air hujan yang terus mengguyur dengan derasnya.


Bagaimanapun juga mereka tidak menyadari bahwa air pun menjadi saksi bahwa kesedihan sedang menyelimuti hati mereka. Bahwa Bian nekat menenggelamkan diri dan hanyut di air. Sedang Nadia membiarkan tubuhnya terguyur hujan deras.


Tiba tiba air hujan berhenti menghujaninya. Ia pun berhenti menangis dan melihat dengan lamat lqmat seseorang ternyata memayungi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2